
Semua orang di ruangan itu bertepuk tangan meriah. Saat pembawa acara dengan sopan namun bersemangat memanggil kedua bintang utama acara pesta pertunangan ini untuk naik ke atas panggung.
Lana berdiri tak jauh dari panggung, jadi dia bisa melihat dengan jelas saat Kyoya memegang erat tangan Hana untuk membantu gadis itu agar tidak tersandung saat naik ke atas panggung.
Ethan berdiri menempel disebelah Lana, ikut bertepuk tangan. Lana dengan lesu hanya menepuk-nepuk pelan jemarinya.
Kyoya dan Hana kini berdiri di tengah panggung, tersenyum, lebih tepatnya Hana yg tersenyum paling lebar tampak sangat berseri.
Pembawa acara menyebutkan akhirnya tibalah juga acara penting yg ditunggu-tunggu yaitu pertukaran cincin. Seorang petugas eo berpakaian resmi dengan kabel earphone hitam menempel ditelinga dan HT disaku belakang berjalan mendekat membawa nampan beludru berwarna merah dengan kotak kecil hitam.
Lana tercekat, apalagi saat pembawa acara menjelaskan dengan detil berapa karat, berapa gram serta harga yg fantastis dari kedua cincin yg berkilau bahkan dari kejauhan itu.
Perhiasan indah itu disponsori oleh Nakayama Diamond, dikerjakan dengan teliti dan merupakan pesanan khusus dari kedua calon mempelai.
Lana memperhatikan Kyoya menarik keluar cincin yg lebih kecil, seluruh hadirin mendadak diam fokus memperhatikan. Ruangan jadi sunyi.
Kyoya menatap Hana yg terlihat sumringah. Laki-laki itu lalu menunduk, menyorongkan dengan lembut cincin bermata berlian ke jari manis kiri Hana yg sudah siap bertengger di udara.
Hana pun demikian. Dengan gestur sopan Kyoya menurunkan posisi tangannya agar sesuai dengan tinggi Hana agar gadis itu mudah memasangkan cincin itu ke jari manis Kyoya.
Pembawa acara berseru terlalu nyaring memberi selamat saking gembira dan bersemangatnya, lalu meminta keduanya untuk berpose karena sekarang waktunya sesi berfoto.
Kyoya dan Hana mengangkat kedua jemari kiri mereka. Lampu blits langsung berkedip-kedip menyilaukan, berebutan mengabadikan gambar sebagus-bagusnya.
Tiba-tiba Hana berjinjit dan mengecup pipi Kyoya, disambut reaksi para wartawan yg berseru girang karena mendapatkan foto serta bahan berita yg bagus, lampu blitz semakin cepat berkedip. Mendadak ruangan itu bergema oleh gemuruh tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Kyoya tampak terkejut dengan ciuman Hana. Lalu untuk menyembunyikan kekagetannya, Kyoya hanya bisa tertawa kecil sambil menepuk pelan kepala gadis itu. Hana melingkarkan tangan mesra ke sekeliling pinggang Kyoya, wajahnya terlihat sangat bahagia. Orang-orang berseru serasi sekali, para wartawan meminta mereka untuk sekali lagi berpose.
Lana memutar tumit, berbalik lalu berjalan pergi. Ekspresi wajahnya tak bisa disembunyikan, terlihat sangat kecewa dan sedih.
Lana meraih gelas kecil berisi orange jus dari meja, menenggaknya habis dalam sekali teguk. Lalu berjalan menuju kamar mandi.
Di depan wastafel panjang abu-abu mengkilap, yg sepi karena semua orang sibuk mengagumi pasangan pemeran utama di hall Ballroom, Lana menatap bayangan dirinya di cermin.
Apa sih yg dia harapkan dari datang ke pesta ini? Jelas-jelas ini pesta pertunangan Kyoya, sudah pasti ia akan menyaksikan Kyoya bertukar cincin. Lalu mengapa sekarang Lana sedih? Kan dia sendiri yg mau datang ke sini.
Lana menepuk-nepuk pipinya. "Nikmati saja pesta ini, lalu pulang dan selesai." tekad Lana.
Sekarang dia mengerti dengan jelas, hubungannya dengan Kyoya sudah berakhir. Tamat, the end. Tidak mungkin bisa ia disandingkan dengan laki-laki itu, jika ada gadis sesempurna Hana. Dibandingkan dengan Hana, Lana ibarat butiran upil yg menempel di kotoran kucing. Sangat jomplang.
Mengapa dia masih berharap pada Kyoya, toh laki-laki itu sudah berkata kasar padanya pada malam perpisahan itu, Lana pun sudah menyakiti Kyoya karena tidak bisa mengatakan yg sebenarnya.
Terbayang wajah Kyoya yg tertawa dan tersenyum di atas panggung tadi. Laki-laki itu sudah bertunangan, Lana. Jika Kyoya masih mencintaimu, tidak mungkin laki-laki itu berdiri disana, menerima dengan tersenyum acara pertukaran cincin ini.
Sudah, lupakan saja,
Kyoya sudah tidak mencintaimu lagi.
Tapi.. hati kecil Lana masih berusaha memberontak, mengapa gestur Kyoya saat menyapa Lana tadi sebelum acara dimulai tampak seperti dejavu. Lana teringat hari dimana ia baru mengetahui kalau Kyoya adalah CEO. Seperti itulah, meski Kyoya terlihat sopan dan menjaga jarak, tapi tatapan matanya masih sama seperti ketika mereka memadu kasih di sungai Yan. Itu yg Lana rasakan.
Kyoya tampak masih ingin berbasa-basi dengan Ethan terutama dengan Lana, tapi petugas even organizer berbisik memberitahu kalau acara sebentar lagi akan dimulai. Kyoya dan Hana pun berpamitan, menjauh.
Lana mengerjap, bayangan dirinya di cermin balik menatap tak tahu malu.
Dia pasti hanya berhalusinasi, tidak mungkin Kyoya masih mengharapkannya. Tidak mungkin. Jangan menyakiti dirimu sendiri dengan harapan palsu, akal sehatnya memperingatkan.
Lana merapikan rambut dan gaunnya, setelah yakin semua sudah perfect, Lana keluar dari kamar mandi.
Menyadari ruangan itu berdengung ramai lagi, ternyata acara pertunangan dan sesi foto sudah selesai. Sekarang adalah acara ramah tamah. Band pengiring mengalunkan musik yg lebih ceria.
Lana menoleh ke sana kemari mencari sosok Ethan. Tapi orang-orang yg tersebar mengobrol di seluruh bagian ruangan besar ini, serta pelayan yg hilir mudik membawa nampan ditangan membuat Lana tidak bisa menemukan dimana sosok Ethan berada.
Lana akhirnya bersandar di pilar besar dekat meja desert. Sambil memperhatikan lelehan coklat yg berjatuhan di mesin pembuat buah celup, Lana merogoh tas kecil yg tergantung di bahu, mengeluarkan ponsel.
Ketika jemarinya hampir saja menekan nomor Ethan, Lana mengangkat wajah karena merasakan seseorang mendekat.
Ternyata itu adalah seorang pelayan membawa nampan berisi cupcake yg tinggal satu.
"Ini nona." Pelayan itu dengan ramah dan sopan menawarkan cupcake. Lana mengangguk, mengucapkan terimakasih lalu menerima kue itu.
Pelayan itu mohon diri lalu pergi.
Demi melihat betapa lucu dan lezatnya cupcake itu, Lana jadi melupakan tujuannya menelepon Ethan. Ia malah asyik menggigiti cupcake penuh krim dan butiran gula warna-warni itu hingga tak terasa hampir habis.
Lana mengangkat kue itu dari piring kecil sebagai alasnya, hendak menggigit bagian terakhir ketika menyadari ada sesuatu di atas piring. Lana mengerjap, ada kertas kecil yg terlipat terselip di antara piring dan pembungkus kertas cupcake.
Lana meletakkan piring itu ke atas meja disebelah wadah tumpukan buah yg ditata cantik. Lalu meraih kertas kecil itu dan membukanya.
Temui aku sekarang di taman air mancur.
Tanpa ada nama ataupun keterangan apapun. Lana mengernyit. Cepat-cepat ia melahap habis kue terakhir, mengunyahnya sambil berpikir.
Siapa yg mengirim pesan ini? Apa Ethan? Jangan-jangan laki-laki itu hendak mengerjai Lana. Makanya dia menghilang tidak tampak dimanapun.
Awas aja.
Lana meremas kertas itu dengan kesal, lalu berjalan menghampiri seorang pelayan yg sedang menata cup eskrim di meja di dekat Lana.
"Maaf, taman air mancur ada disebelah mana ya?" tanya Lana sambil tersenyum ramah agar tidak terlihat mencurigakan.
Gadis pelayan itu menunjuk ke luar gedung ke arah selatan sambil memberitahukan detilnya. Lana mengucapkan terimakasih lalu bergegas menuju pintu keluar.
Lana menginjakkan kaki memasuki area taman. Sepanjang jalan berisi paving abu-abu yg diapit deretan bunga-bunga indah dengan lentera-lentera menyala warna merah marun di sela-sela tanaman. Indah sekali. Apalagi hari ini langit malam cerah berbintang. Bulan sabit menggantung temaram di atas kepala Lana.
Taman ini ternyata luas dan seperti labirin, jalanan memecah menjadi berbelok-belok dengan gundukan dedaunan yg dipangkas rapi setinggi pinggang di sebelah kanan kiri Lana.
Lana terus melangkah mengikuti instingnya. Tak berapa lama terdengar suara gemericik air. Lana baru menyadari kalau taman ini sepi. Pasti tidak ada orang atau pengunjung yg kemari karena sedang ada pesta mewah di gedung di belakang sana. Ada banyak minuman dan makanan lezat di dalam sana, mengapa ada orang yg repot-repot kemari, karena itu disini sepi, batin Lana.
Awas aja kamu Ethan, main-main seperti ini, seperti anak kecil saja. Lana mulai bisa melihat semburan air mancur di ujung sana. Suara air menciprat-ciprat terdengar semakin keras.
Lana mengedarkan mata mencari-cari dimana Ethan kira-kira bersembunyi. Dia sudah menyiapkan diri jika sewaktu-waktu Ethan melompat muncul untuk mengagetkan Lana.
Tapi, tidak ada siapa-siapa.
Tunggu, ada seseorang yg sedang duduk di kursi putih panjang di depan air mancur. Sosoknya yg tersembunyi di balik gundukan bunga kekuningan hampir saja tidak kelihatan.
Lana menghampiri orang itu, sudah bersiap-siap marah ketika menyadari siapa sosok itu sebenarnya.
...***...