Between

Between
Bab 42 Pertemuan Tak Disengaja



Satu minggu kemudian,


Lana sedang bingung memilih antara mie instan fire noodle atau seafood noodle di rak tinggi berwarna putih penuh dengan berbagai macam mie instan. Menimbang enaknya cuaca gerimis begini makan mie yg mana ya.


Saat ini pukul enam petang, Lana sedang berada di minimarket yg tak jauh dari pusat pembangunan kota Naruyama. Hari ini dia bertugas meninjau kembali proses pembangunan jembatan minggu ke dua, mewakili MT Corporation dan PT. NaThan.


Ethan menghubungi Bu Yuni menjelaskan permintaan maaf tidak bisa ikut datang meninjau karena harus kontrol ke rumah sakit. Mendengarnya, Lana jadi merasa tidak enak.


Lana tidak tahu kabar Ethan lagi sejak mengantarnya pulang minggu lalu. Mereka belum bertukar nomor telepon karena saat Lana turun dari mobil, suasana canggung dan jengah.


Lana juga tidak tahu kabar Kyoya lagi. Semakin jarang dan renggang hubungan mereka. Isi pesan singkat yg dikirim Kyoya hanya bertanya pertanyaan sepele, apa kabar, sedang apa, sudah makan. Mereka belum saling mendengar suara satu sama lain.


Lana mencoba menghilangkan pikiran-pikiran buruk tentang Kyoya, kekhawatiran tentang entah akan jadi bagaimana hubungan mereka. Lana berusaha mengalihkan pikirannya yg resah itu agar fokus pada kesibukan di kantor. Toh Kyoya juga sangat sibuk, Lana tidak berkutik menghadapi kesibukan lelaki itu. Semua kendali pada hubungan ini Kyoya yg memegangnya.


Lana akhirnya tidak bisa memilih, dia memasukkan kedua mie itu ke dalam keranjang belanjaan, lalu berjalan ke lorong minuman.


Lana bingung lagi, soda atau minuman manis ya. Akhirnya daripada pusing, dia mengambil keduanya.


Saat Lana akan ke meja kasir, ia mencomot dua cemilan keripik kentang dan snack rasa coklat kesukaannya. Lana tersenyum bahagia, makan malam hari ini bagai surga untuknya. Semua adalah makanan favorit Lana.


Sambil bersenandung Lana berjalan mengitari rak permen agar sampai ke meja kasir. Ternyata di depan meja ada seorang pria berkemeja putih yg sedang membayar.


Lana merasakan ponselnya bergetar lalu mengeluarkannya dari tas katun. Sambil mengecek ponsel, ternyata ada pesan masuk dari Bu Yuni, Lana berdiri di belakang untuk mengantri.


"Tidak ada tambahan kak?" tanya kasir kelewat ramah. "Jika membeli minuman soda ini dapat bonus biskuit loh. Atau minuman energi ini sedang diskon kak, biasanya 20ribu tinggal 10ribu saja."


Lana sibuk membalas pesan atasannya yg bertanya ttg pekerjaan. Lana hanya mendengar kasir dan pria di depannya sedang terlibat percakapan.


"Aku tidak minum soda maupun minuman energi. Ini saja, berapa?" Pria itu menolak sopan, mengeluarkan dompet kulit yg terlihat mahal.


Kasir yg adalah seorang remaja laki-laki (mungkin part time) menyebutkan total harga hand sanitizer yg dibeli pria itu. "Lima belas ribu kak."


Pria itu membuka dompet dan kosong. Hanya ada beberapa lembar mata uang asing. Akhirnya dia menarik keluar kartu debit dan menyodorkan nya ke kasir.


Kasir itu menolak sopan. "Maaf kak harus minimal 100ribu untuk pemakaian kartu debit bank xx."


Pria itu akhirnya mengeluarkan selembar mata uang asing dan menyodorkan ke kasir. Kasir itu terlihat bingung karena belum pernah melihat lembaran uang asing itu. Padahal uang itu jika ditukar senilai satu juta.


"Maaf kak, tidak bisa." Kasir itu mengembalikannya. "Atau kakak bisa ambil tunai di mesin atm di belakang sana." tunjuk kasir.


Pria itu menghela nafas panjang, tampak berusaha sabar. Hanya ingin membeli hand sanitizer satu biji saja karena dia baru sadar persediaan di mobilnya sudah habis. Ternyata tidak semudah dan secepat yg dia pikir.


Pria itu pun memasukkan uangnya ke dalam dompet lalu berbalik. Baru sadar ternyata ada seorang gadis berdiri mengantri di belakangnya.


Pria itu terkejut. "Lana?"


Lana, yg namanya disebut, mendongak dan terbelalak.


Tanpa sadar ia memekik. "Kyoya!"


"B-bagaimana anda- k-kamu bisa ada di sini?"


Kyoya tersenyum geli melihat Lana yg terkaget-kaget. Ia melihat isi keranjang Lana, tanpa bicara merebut keranjang itu dan menaruhnya ke meja kasir.


"Tambah ini." ujarnya pada si mas kasir.


Lana bergegas mendekat ke meja kasir, berdiri di sebelah Kyoya. Hendak protes kenapa barang belanjaannya Kyoya yg membayar.


"Ini makan malam mu?" Kyoya bertanya dengan nada tegas, menoleh ke arah Lana. Sambil menunggu kasir menghitung total semuanya.


Lana mengangguk takut-takut.


Kyoya menghela nafas lagi, "Selama aku tidak ada, kamu selalu makan seperti ini?"


Lana buru-buru menggeleng. "T-tidak. Baru hari ini saja kok. Suer." Lana menunjukkan dua jari sebagai tanda berjanji.


"Aku tadi tiba-tiba ingin makan mie, karena tidak bisa memilih jadi kubeli semuanya." jelas Lana pelan. Ia menjelma menjadi gadis berumur lima tahun yg ketahuan diam-diam makan permen dan bersiap dimarahi ayahnya.


Untung saja, sebelum Kyoya bisa menasehati nya ttg makanan sehat, kasir berkata, "Semuanya 110.000 kak." Kasir itu memasukkan semua barang ke dalam kantong plastik.


Kyoya mengeluarkan kartu debit dan kasir itu menerimanya.


Setelah melakukan transaksi dan berterimakasih ke mas kasir, Kyoya mengambil kantong itu dan berjalan ke pintu.


"Eh, eh, itu kan belanjaanku." protes Lana.


"Jika ingin makan ramen.." Kyoya melihat papan bertuliskan Ramen Nenek, Enaknya Bikin Nostalgia.


"..itu, di seberang sana ada kedai ramen." Kyoya menunjuk ke seberang jalan dari balik kaca pintu.


"Pastinya jauh lebih sehat daripada makanan instan ini."


Bibir Lana mengerucut. "Jika aku tidak boleh memakannya, kenapa kamu membelinya?"


Kyoya tersenyum. "Ayo, kutemani makan di sana."


Kyoya membuka pintu, angin dingin langsung berhembus masuk.


Cuaca sejak sore dingin dan hujan. Makanya Lana baru bisa pulang sekarang dari pusat pembangunan karena menunggu hujan deras reda. Sekarang hanya gerimis.


...***...


Lana memperhatikan Kyoya yg duduk di hadapannya. Kekasihnya yg tampan itu tidak berubah. Tetap tampan dan luar biasa.


Apalagi Lana suka jika Kyoya memakai kemeja warna putih, membuat lelaki itu semakin bersinar dan memukau.


Lana tersenyum sendiri, senang sekaligus tidak menyangka mereka bisa bertemu secara kebetulan di tempat seperti ini.


Kyoya sedang menunduk membalas pesan dari Roger yg mengabarkan meeting besok pagi digeser ke jam makan siang. Setelah selesai mengirim balasan, Kyoya meletakkan ponsel di meja dan mendapati Lana yg sedang menatapnya sambil senyum-senyum.


Kyoya balik menatap kekasihnya itu dengan penuh sayang. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu secara langsung seperti ini. Kyoya benar-benar bersyukur mereka bisa kebetulan bertemu.


Lana masih tetap cantik, meski lingkar matanya agak menggelap di bagian bawah. Kyoya menduga apa kekasihnya itu tidak cukup istirahat, atau apa pekerjaan nya terlalu padat.


"Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kyoya, menyadarkan Lana dari lamunannya mengagumi pesona pria itu .


Lana mengangguk. "Kalau kamu? Tumben pukul enam kamu tidak sibuk." Lana tidak bermaksud apa-apa saat mengatakannya, tapi Kyoya merasa bersalah.


"Aku benar-benar minta maaf, Lana." Kyoya berkata sungguh-sungguh. "Sejak kejadian di Cleaning Room itu aku sedikit menjaga jarak dan membuatmu merasa tidak nyaman. Aku ceroboh dan kurang perhitungan. Semua murni karena kesalahanku."


Kyoya menggenggam tangan Lana. Terasa hangat dan menenangkan.


"Selain aku sangat sibuk, lebih dari biasanya. Aku juga tidak bisa menyesuaikan jadwal bertemu denganmu untuk meminta maaf dan menjelaskan secara langsung. Bahwa aku pribadi merasa bersalah atas kejadian itu."


Kyoya terlihat sedih. "Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu, tapi ibarat granat sudah dilempar, seingin apapun aku menelepon, mengirim pesan atau bertemu denganmu, reaksi dan balasan antara kita menjadi canggung dan terasa berjarak."


"Syukurlah kebetulan kita bertemu di sini. Ini kesempatanku memperbaiki semuanya. Aku benar-benar minta maaf."


Lana tersenyum menenangkan. "Sekarang yg terpenting aku sudah melihat dan mendengar suaramu langsung. Itu mengobati semua kerinduan dan prasangka buruk. Aku sekarang percaya, hubungan kita akan baik-baik saja."


Kyoya mengaminkan nya. Lalu mereka saling tersenyum.


Datang pelayan membawa pesanan. Satu porsi ramen, nasi goreng dan segelas lemon tea untuk Lana serta seafood udon dan air putih untuk Kyoya.


Setelah meletakkan semua makanan dan minuman di atas meja, pelayan itu pergi.


Tanpa banyak bicara, Kyoya mempersilahkan Lana makan. Seperti tahu kalau gadis itu sudah kelaparan. Lana langsung melahap nasi goreng nya dengan nikmat. Lalu menyeruput ramen dan meneguk lemon tea nya.


"Pelan-pelan." Kyoya menasehati. Mulai menyeruput udonnya.


Lalu setelah menunggu agar Lana bisa makan beberapa suap, Kyoya bertanya "Apa seharian ini kamu belum makan apa-apa?"


Lana mengangguk. "Iya tadi pagi aku agak kesiangan jadi hanya sempat makan roti. Lalu saat makan siang, ternyata tidak ada yg menjual makanan di sekitar area pembangunan jadi aku makan roti lagi. Untung roti tadi pagi masih ada."


Kyoya menatap Lana khawatir. "Apa kamu cukup tidur?"


Lana tersenyum. "Aku baik-baik saja. Kedepannya aku akan cukup tidur, karena kita sudah bertemu."


"Oh iya, apa udonnya sesuai seleramu? Aku sempat terkejut saat kamu juga memesan makanan. Aku kira kamu tidak.. mm, tidak mau makan di tempat seperti ini." Lana bertanya mengingat sifat kekasihnya yg terlalu perfeksionis terhadap makanan.


Kyoya hanya tertawa kecil. "Bertemu denganmu membuatku jadi lapar."


Sambil makan mereka mengobrol banyak. Tentang kesibukan Kyoya, tentang perkembangan jembatan gantung, Lana bercerita ttg kunjungannya meninjau pusat pembangunan. Lana meng-skip bagian Ethan tertimpa balok besi.


Tak terasa semua peralatan makan telah bersih. Lana meminum tehnya. Ia kenyang sekali.


"Kenapa kamu baru pulang sekarang? Dan dimana supir perusahaan? Harusnya dia yg mengantarmu pulang." Kyoya mendadak teringat.


Lana meletakkan gelas kosong ke meja lalu menjawab, "Setelah mengantarku tadi pagi, aku menyuruhnya pergi. Aku tidak tega dia menungguku berjam-jam. Apalagi aku tidak tahu kapan selesai. Toh aku bisa naik taksi atau bis."


"Harusnya tadi jam 3 sore aku sudah selesai. Bu Yuni menyuruhku langsung pulang saja, tidak usah kembali ke kantor. Tapi karena hujan deras, jadi aku menunggu di sana sampai hujan reda. Ternyata lumayan lama juga." Lana cemberut.


"Akhirnya baru jam 5 hujan reda. Mungkin karena hujan deras tadi juga, tidak ada taksi yg lewat. Jadi aku memutuskan berjalan ke halte bis. Karena tiba-tiba lapar, aku mampir ke minimarket dan bertemu kamu." jelas Lana panjang lebar.


Kyoya tampak muram, wajahnya terlihat bersalah. "Kenapa kamu tidak menghubungiku? Aku bisa menyuruh Roger mengantarmu pulang. Kamu jadi tidak perlu menunggu di sana selama itu."


Lana menggeleng. "Aku tidak mau mengganggumu. Lagipula, karena itu kita jadi bisa bertemu kan."


Kyoya menggenggam tangan Lana erat. "Lain kali jika kamu menghadapi situasi seperti tadi, jangan sungkan menghubungiku, okay?"


Lana mengangguk.


"Sangat berbahaya seorang gadis berjalan sendirian di jalanan yg tidak ia kenal. Apalagi gadis itu secantik kamu." Ucapan Kyoya sukses membuat Lana tersipu.


"Aku akan ke kasir." Guna menutupi salah tingkahnya karena dipuji Kyoya, Lana bangkit dari duduk.


"Duduk Lana. Selama kamu pergi denganku, tidak ada kata 'kamu yg membayar'." Kyoya menyuruh Lana duduk.


Lana terpaksa menurutinya. "Aku akan mencari cara agar bisa mentraktirmu suatu hari nanti."


Kyoya tertawa kecil. "Good luck."


Kyoya bangkit dari kursi lalu berjalan menuju meja kasir. Lana memandangi punggung laki-laki itu yg semakin menjauh.


...***...