
Lana berjalan dengan langkah cepat dan lebar.
Di belakangnya, Ethan berusaha mengejar. Mereka keluar dari resto dan berada di sepanjang trotoar dengan toko-toko yg masih buka di sisi kirinya.
"Lana. Tunggu, Lana." Ethan berhasil menyusul, menahan lengan Lana. Gadis itu berhenti, menatap Ethan masam.
"Kamu marah, ya kan?" Ethan menatap manik mata gadis itu. Berusaha mencari tahu kenapa Lana tiba-tiba pamit dan bergegas pergi.
Melihat Lana tidak menjawab, Ethan berdiri semakin dekat.
"Aku minta maaf Lana, aku hanya tak tahan orang-orang itu bicara buruk tentangmu. Aku tidak akan bertanya skandal apa itu dan kenapa bisa berhubungan denganmu, tapi aku sungguh tidak bisa.." Tatapan Ethan berubah murka. "..kata-kata mereka melewati batas." Rahang lelaki itu mengeras.
Lana menatap wajah Ethan. Demi melihat amarah yg menyelimuti pria itu, Lana berkata, "Aku tidak apa-apa. Terimakasih sudah menolongku."
Lana melepaskan pegangan Ethan pada lengannya, lalu kembali berjalan.
Ethan buru-buru mengejar.
"Kita sudah lama tidak bertemu, tidak bisakah kita duduk sebentar.. mengobrol?" tanya Ethan penuh harap. Menjajari langkah Lana.
Lana tetap melangkah, dengan tidak menoleh dia menjawab dengan nada suara lemah. "Maaf aku lelah, Ethan. Aku hanya ingin pulang".
Ethan mengacak rambutnya yg cepak. Berusaha keras berpikir harus bagaimana agar bisa menarik perhatian Lana.
Mendadak, ide itu datang.
"Aku tahu ini tiba-tiba, maukah kau jadi pacarku lagi Lana?" sahut Ethan tanpa basa-basi.
Dan berhasil.
Langkah Lana terhenti.
Dengan mata membelalak dia menatap Ethan tak percaya. Apa yg didengarnya barusan sungguh konyol dan tak masuk akal. Seolah Ethan baru saja mengutarakan keinginan untuk menjadi balerina.
"Jangan bercanda, aku sama sekali tidak suka lelucon ini." Lana memperingatkan dengan nada tajam yg menusuk.
Ethan tersenyum, manik matanya menatap Lana lembut. "Bagaimana kalau ini bukan lelucon?"
Lana memutar bola mata dengan tampang bosan dan lelah.
Lalu saat hendak berbalik untuk melanjutkan langkah pulang, mata Lana terpaku pada layar televisi besar di hadapannya.
Mereka ternyata berhenti di depan ruko elektronik yg menjual berbagai macam televisi. Kaca etalase besar menampilkan televisi berbagai macam ukuran.
Mengabaikan Ethan, Lana tanpa sadar berjalan mendekat ke arah layar yg menampilkan seorang pria berjas sedang dalam acara wawancara.
Melihat sosok yg sangat dikenalnya, Lana menghentikan langkah tepat di depan kaca etalase. Matanya tak berkedip sedikitpun.
Ia berdiri mematung di depan kaca itu, menatap balik mata Koijima Kyoya yg tersenyum. Mantan kekasihnya itu muncul di televisi.
"Lana-" Ethan hendak bicara tapi lalu sadar siapa yg membuat Lana mengabaikan dirinya.
Ethan ikut melihat sosok CEO MT Corporation di televisi. Dia pun berdiri di sebelah Lana.
".. itu adalah saya. Foto yg tengah viral itu bisa saya pastikan .. memang benar adalah saya." Suara Koijima Kyoya terdengar tegas.
Rupanya wawancara konferensi pers sudah setengah berjalan. Saat ini Kyoya dengan wajah ramah tersenyum pada para hadirin namun Lana tahu mata lelaki itu menatap siaga dan tajam.
Belum usai mulut Kyoya menutup, suara para wartawan sahut menyahut. Terdengar berebutan bertanya.
Siapa gadis itu? Mengapa Anda menggendongnya? Apakah dia Anna Chloe Hankam? Benarkah dia karyawan Anda? Pak Koijima, tolong jelaskan tentang gadis itu! Mengapa baru sekarang Anda mengadakan konferensi pers?
Roger yg duduk di sebelah kanan Kyoya terlihat berusaha menenangkan audiens yg mulai memanas.
Koijima Kyoya dengan sabar menunggu para wartawan itu berhenti mencecarnya.
Dari wajahnya yg tenang, tak ada yg tahu padahal jantung Kyoya berdetak sangat kencang, pikirannya sangat kalut. Inilah yg paling ia takutkan, sangat ingin ia hindari.
Dia masih belum menemukan cara berkelit dari semua pertanyaan ini. Dia harus menjawab apa. Kyoya benar-benar tidak ingin mengungkap keberadaan Lana.
Melihat Kyoya yg tak kunjung menjawab, para wartawan semakin memanas dan melontarkan pertanyaan pedas dan kelewatan.
Roger yg duduk di sebelah Kyoya, tiba-tiba bangkit. Hendak menghentikan kericuhan para wartawan. Kyoya mengangkat tangan untuk menghentikannya. Roger duduk kembali.
Para wartawan itu pun terdiam.
Mereka semua menunggu Kyoya menjawab, begitu juga dengan Lana. Tanpa sadar gadis itu sampai menahan nafas dan tidak berkedip.
Kyoya terlihat menatap ke seluruh ruangan, hening beberapa detik lalu,
"Sangat membuat penasaran, bukan?" lelaki itu tersenyum menyindir.
"Dengan begitu banyak prestasi yg menjadikan MT Corporation perusahaan nomor satu, just because of my negligence, all those achievements are worthless."
Kyoya terlihat membulatkan tekad. Dengan pandangan meminta maaf, entah hanya perasaan Lana atau memang benar, Kyoya seolah menatap layar berharap Lana ada di sana.
"Memang saya akui, malam itu adalah sebuah kelalaian kecil bagi seorang Koijima Kyoya yg terbiasa terkontrol dan penuh pengendalian diri. Dan siapa sangka, kelalaian kecil itu kini berubah jadi bom yang siap meledak kapan saja."
"Kalian pasti sudah sangat tidak sabar mengetahui siapa wanita itu, bukan?" Kyoya tersenyum menyindir lagi, rahangnya mengeras.
Lana memperhatikan buku kedua tangan pria itu mengepal erat.
"Wanita itu adalah.."
Suara Kyoya disambut bunyi gedubrakan kursi kosong di sebelah kirinya. Seorang wanita tiba-tiba memasuki area konferensi pers dan seenaknya duduk begitu saja di sebelah Kyoya.
Kyoya sontak menoleh dan langsung membelalak.
Wanita itu mengabaikan reaksi kaget Kyoya, ia menatap ke depan layar dan memasang senyum manis.
Sebelum Kyoya maupun Roger bisa berkata sepatah katapun, wanita itu telah lebih dulu bicara,
"Halo.. Saya Nakayama Hana. Wanita yg ada di foto itu.. adalah saya."
Agak terbata, gadis itu bicara dengan aksen orang asing yg baru belajar bahasa negara ini. Meski begitu sorot matanya tampak percaya diri dan mendominasi.
"Saya adalah calon istri CEO MT Corporation Koijima Kyoya. Salam kenal." Gadis itu membungkuk sopan beberapa detik, lalu menegakkan badan dan memasang senyum manis.
Bukan hanya Lana, Kyoya maupun Roger, bahkan Ethan juga sama-sama membelalak terlihat sangat terkejut.
...***...