Between

Between
Bab 47 What happened with you



Kyoya mengernyit, berusaha memahami apa yg sedang terjadi.


Beberapa menit lalu kekasihnya baik-baik saja, menawan dan bergairah. Gadis yg dilihatnya sekarang sama sekali berbeda.


Lana terus menjerit ketakutan seakan sedang melihat hantu. Matanya terpejam dan tangannya meremas sprei erat-erat.


Kyoya mencoba menenangkan kekasihnya itu meski tahu akan sia-sia lagi.


Entah kerasukan apa, Lana mendadak histeris setelah Kyoya mengeluarkan benda tumpulnya. Padahal biasanya benda tumpul itu lah bagian yg paling disukai para wanita karena sangat nikmat dan memuaskan. Kenapa reaksi Lana malah seperti ini?


"Lana .. hei, Lana, tenanglah. What happened with you?" Kyoya menepuk pipi Lana. Wajah pria itu terlihat sangat cemas.


Lana akhirnya membuka mata, terengah. Mimik wajahnya masih menyiratkan rasa ngeri.


Setelah manik mata gadis itu fokus menatapnya, Kyoya bicara lembut.


"Aku tidak akan menyakitimu. Kita bisa berhenti jika itu maumu."


Kyoya menatap cemas. "Kamu kenapa sayang?"


Lana tidak menjawab. Ekspresi ngeri di wajahnya perlahan berubah menjadi rasa bersalah.


"Kyoya.. Maaf.. a-aku tidak apa-apa. Lanjutkan saja."


Kyoya menatap Lana, "Kamu serius? Tapi tadi kamu.. "


"Lanjutkan saja." Lana bersikeras.


Kyoya menghela nafas panjang dan bicara, "Baiklah kalau itu yg kamu mau."


Kyoya mencium lembut bibir Lana, mencoba menyalakan kembali hasrat yg mendadak padam.


Tapi saat ini terasa berbeda. Cara Lana membalas ciuman nya, gestur tubuh gadis itu, Kyoya tahu ada yang tidak beres. Kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja. Saat ini Lana menyembunyikan sesuatu dan mencoba membuat semuanya kembali normal.


Lana berusaha mengalihkan pikirannya pada ciuman Kyoya, yg lembut dan perlahan mulai memanas.


Sadar, Lana. Semua itu sudah terjadi lima tahun yg lalu. Sekarang yg menciummu adalah Kyoya, bukan si bajingan itu. Ini Kyoya, kekasihmu. Ini Kyoya..


Lana menahan nafas, lehernya mulai terasa tercekik. Pikirannya mendadak kalut lagi. Pemandangan yg dilihatnya berganti antara Kyoya dan kejadian lima tahun lalu.


Kyoya sedang menelusuri lehernya..


Perawat dengan kedua tangan penuh darah..


Kyoya mengecup mesra dadanya..


Laki-laki berkulit coklat dengan senyum lebar sedang menduduki tubuh Lana yg telan*jang..


Kyoya meremas lembut..


Laki-laki berkulit coklat berbisik, "Tahan, aku akan bergerak lebih cepat. Oh Lana, ini sungguh enak. Aku mencintaimu Lana."


Lana terengah, dadanya sesak. Amarah dan rasa takut menggelegak membakar hati dan pikirannya.


Lana meremas seprei, berusaha menahan agar tidak lepas kendali lagi.


Kyoya setengah berdiri menghadap Lana, dengan benda tumpul yg siap disatukan. Lelaki itu menatap Lana ragu-ragu.


Akhirnya Kyoya memutuskan melakukannya. Saat laki-laki itu membungkuk dan mencoba menyatukan mereka, tiba-tiba Lana berteriak histeris, matanya membelalak tidak fokus. Lana lepas kendali lagi.


Kyoya segera berpindah ke sisi tubuh Lana. Gadis itu masih menjerit dan memberontak.


Kyoya bergerak mendekat. Ia menepuk-nepuk pipi Lana tapi tidak berhasil. Kyoya pun mengguncang-guncangkan bahu Lana sambil memanggil-manggil nama gadis itu.


"Lana, ada apa denganmu? Sadarlah, Lana. Lana!"


Kyoya mengguncang terlalu keras saking cemasnya. Syukurlah itu membuat Lana sadar.


Lana mengerjapkan mata, nafasnya terengah. Gadis itu tampak sedang memfokuskan pandangan.


"Lana, kau benar-benar membuatku cemas. What wrong with you?"


Lana menyadari dia lepas kendali lagi. Dan itu berarti Kyoya gagal melakukan penyatuan untuk kedua kalinya.


Lana langsung dilanda perasaan bersalah yg teramat besar. Lana tidak bisa memberikan apa yg kekasihnya itu inginkan.


"Kyoya, maaf.. kumohon, jangan berhenti. lanjutkan saja.. " Lana berkata pelan.


Mata Kyoya membelalak. "Are you kidding me?"


"Aku hampir sakit jantung dua kali karenamu. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Kyoya, berusaha menahan rasa kesal. Ia kesal kenapa Lana masih bersikeras padahal reaksinya sangat menakutkan seperti itu.


Lana tidak menjawab. Dia hanya menatap Kyoya dengan tatapan memohon.


Melihat Lana yg hanya diam, rahang Kyoya mengeras. "Kamu tidak mau memberitahuku?" tuntut laki-laki itu.


Lana mengatupkan bibir rapat.


Melihat gadis yg dicintainya bersikap tertutup dan tetap bungkam, Kyoya berkata pelan, "Kukira kita sedekat itu, ternyata aku salah."


Kyoya menegakkan tubuh, menjauh. Sorot matanya terluka. Ada nada gusar dalam suaranya.


"Kyoya.. maafkan aku.. "


Lana bangun, sudut matanya mulai berair. Melihat kekasihnya mengalami penolakan atas hal yg sangat diinginkannya, juga tidak mendapat jawaban dari pertanyaan yg ingin diketahuinya, membuat Lana dihujam rasa bersalah yg besar.


"Kyoya, ini belum selesai. Aku baik-baik saja, kumohon.. " pinta Lana memelas.


Kyoya menatap Lana sekilas, lalu mengibaskan tangan. "Lupakan saja. Aku sudah tidak ingin."


Lelaki itu menutup resleting celana dengan kasar lalu bergerak menuruni kasur.


Lana berusaha menahan airmata, sambil menatap kekasihnya yg memungut kemeja lalu memakainya dengan memunggungi Lana.


Setelah kemeja itu terpakai, laki-laki itu keluar kamar tanpa bicara apapun. Suara pintu yg menutup dengan keras terasa begitu nyaring di dalam kamar yg mendadak sunyi.


Lana menatap pintu yg tertutup itu dengan pandangan nanar.


Lana membenci dirinya sendiri. Kenapa dia seperti ini? Kenapa dia tidak bisa memberikan apa yg kekasihnya itu mau? Kenapa dia tidak bisa menjawab pertanyaan Kyoya? Kenapa Lana tidak bisa memberi tahu Kyoya semuanya? Kenapa mulutnya seakan terkunci? Kenapa??


Lana membekap wajah dan menangis tersedu. Air matanya jatuh bagai hujan deras. Di dalam kamar sunyi itu, hanya terdengar suara tangisan yg menyayat hati.


...***...