Between

Between
Bab 75 Pria Bersepatu Mengkilap



Karena itu disinilah Lana berada sekarang. Menangis memohon ampun pada foto ayahnya.


Sebentar lagi aku akan menyusul ayah. Apa ayah senang karena akan bertemu denganku akhirnya? Apa di surga indah, ayah?


Lana yakin ayahnya pasti berada di surga saat ini, karena ayahnya adalah orang baik. Selama hidupnya ayah tak pernah marah, selalu lembut pada ibu dan anak-anaknya. Sayang kecelakaan maut itu merenggut ayahnya, satu-satunya laki-laki di hidup Lana yg baik dan tulus.


Tidak seperti laki-laki itu, Ethan si brengsek. Apa pria itu akan tahu kalau aku sudah mati? Apa dia akan menyesal? Apa dia akan datang ke pemakamanku? Itupun.. Jika jasadku ditemukan, Lana menelan ludah susah payah. Meloncat ke dalam sungai paling besar di kota Grandcity ini, dengan arusnya yg deras, apa aku langsung mati atau dimakan hewan penunggu sungai?


Lana tiba-tiba bergidik, ia ngeri membayangkannya. Tapi tekadnya sudah bulat. Buat apa lagi dia hidup sekarang. Semuanya sudah hancur. Harga dirinya, masa depannya. Sudah tidak ada lagi yg bisa dipertahankan.


Lana masih sesenggukan, larut dalam kepedihan menyadari dia hanya akan hidup di dunia ini sebentar lagi saja. Ia menyesal kenapa dulu dia tidak banyak menikmati semuanya, kehidupannya yg dulu, sahabatnya yg baik, tugas-tugasnya di kampus, walau itu berat dan merepotkan, tapi Lana merindukan semuanya sekarang. Ketika maut datang hanya tinggal menghitung tiap menitnya.


Lana tidak menyadari sedari tadi seseorang telah berdiri di sebelahnya. Pria muda memakai setelan jas hitam resmi. Pria itu sangat tampan namun wajahnya terlihat muram dan tak bersemangat. Pria itu menatap lurus ke rak di sebelah rak ayah Lana.


Di dalam rak bersekat itu terdapat dua guci besar dari porselen putih. Tak ada foto, hanya dua plakat kecil dari kayu bertuliskan 'Alexander Jose' dan 'Alexander Keiko'. Sebuah buket penuh bunga Krisan yg indah tergeletak menutupi hampir sebagian ruang di rak kecil itu.


"Ayah, ibu.." Pria itu berbisik lemah. Kedua tangannya mengepal di sisi paha. Ia sedang bersikeras menahan luapan emosi yg tiba-tiba menderanya. Pria itu tampak berusaha keras menahan tangis. Entah apa yg sedang dialaminya, pria itu terlihat terpuruk tak berdaya.


"Aku harus bagaimana sekarang? Perusahaan itu terlalu besar, aku bahkan belum berpengalaman, mereka menempatkanku di sana untuk mati perlahan-lahan, aku tahu. Aku tidak punya cukup kekuatan bu, sejujurnya saat ini aku takut, yah. Bagaimana caraku menghadapinya.."


Pria itu kembali berbisik. Ia susah payah menelan ludah. Pikirannya yg sedang kalut membuatnya tidak menyadari bahwa di sebelahnya, ada seorang gadis menyeramkan sedang tersedu sedan.


Lana yg belum menyadari ada seorang pria disebelahnya, menyedot ingus keras-keras.


Pria itu nyaris terlonjak saking kagetnya mendengar suara keras yg tiba-tiba itu dari samping. Refleks dia menoleh dan hampir saja berteriak.


Tampak seorang gadis dengan rambut hitam panjang terjulur ke depan menutupi wajah. Gadis itu terlihat gemetar dan mengeluarkan suara aneh.


Pria itu mengerjap, sepersekian detik ia mengira telah bertemu hantu di rumah abu. Tapi setelah memperhatikan kaki bersepatu kets itu menapak lantai marmer, pria itu menghela nafas lega.


Ia mencoba menelisik mungkin saja dia bisa melihat wajah si gadis dari sela-sela rambutnya tapi pria itu tidak bisa melihat apa-apa selain rambut hitam panjang yg awut-awutan.


Pria itu diam mendengarkan, sepertinya suara aneh yg gadis itu keluarkan adalah suara tangis. Ada apakah gerangan dengan gadis ini, kenapa dia menangis sampai sebegitu nya?


Pria itu jadi melupakan keluh kesah yg detik lalu mendera bagai bongkahan batu besar. Tiba-tiba dia jadi sangat penasaran dengan gadis itu.


Lana berusaha menenangkan diri. Sudah waktunya. Sampai jumpa ayah, sebentar lagi kita akan bertemu. Lana mengusap pipi dan matanya sehingga matanya yg sedari tadi terhalang airmata kini kembali bersinar jernih.


Detik itulah Lana yg menunduk menyadari ada sepasang sepatu hitam mengkilap berdiri tak jauh di sebelah kakinya yg memakai celana jins lusuh. Lana mengerjap, siapa itu.. sejak kapan ada orang di sebelahnya?


Lana mengintip dari sela-sela rambutnya, sesosok pria muda berjas rapi. Lana tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu karena wajah Lana yg terus menunduk tertutup rambut. Lana tiba-tiba dilanda malu yg luar biasa, menyadari betapa lama dan keras suara tangisannya tadi.


"Ma-maaf.." Dengan tetap menunduk, Lana bersuara. Ia bermaksud meminta maaf karena mungkin saja suara tangisannya menganggu pria itu.


"Oh tidak apa-apa." Pria itu menjawab ramah, suaranya berat namun merdu sekali di telinga Lana, terdengar menenangkan.


"Kita semua pasti pernah melalui hal yg berat, kadang menangis itu memang diperlukan." Pria itu terdengar bijaksana, padahal dari suaranya kelihatan masih muda, mungkin berumur dua atau lima tahun lebih tua dari Lana.


"Terima-kasih.." Lana terbata-bata bicara. Baru kali ini setelah sekian lama terkurung dan terpuruk, Lana akhirnya bicara secara langsung dengan orang lain. "T-tapi masalah saya tidak bisa diselesaikan hanya dengan menangis." Lana tanpa sadar mengelus perutnya yg sedikit membuncit dari balik hoodie hitamnya yg tipis.


Pria itu mengamati gerakan tangan Lana, menebak apa masalah yg dialami gadis itu. Gadis disampingnya itu terlihat mungil, rapuh, suaranya terdengar serak sepertinya karena terlalu banyak menangis.


"Kalau begitu... mungkin kamu bisa membaginya denganku?" Pria itu bersuara.


Lana mengerjap tak percaya, mengapa di dunia ini ada suara yg begitu ramah dan menenangkan seperti ini.


Kenapa pria asing ini begitu peduli padaku? Aku, yg sebentar lagi akan mati, kenapa harus berbasa-basi dengan pria asing ini?


Lana mulai sesenggukan lagi. Mungkinkah ini pertanda dari ayah, mungkinkah pria ini dikirim oleh ayah untuk menyadarkanku? Untuk menenangkanku?


Melihat gadis mungil itu tampak menangis lagi, pria itu menjulurkan tangan hendak menghibur tapi mengurungkan niat dan kemudian menarik tangannya kembali. Dia sama sekali tidak mengenal gadis itu, bisa-bisa maksud baiknya malah membuat gadis itu takut.


"Hei.. tenanglah.. Semua pasti akan baik-baik saja." Pria itu iba mendengar Lana yg tersedu-sedu, dimatanya Lana tampak seperti anak kecil yg mengetahui hewan peliharaan yg teramat disayanginya mati.


Lana menggeleng keras-keras. "Tidak.. Tidak ada jalan keluarnya, sudah buntu, semua sudah hancur.. huhuhuu.." Lana terisak tak terkendali. Beberapa detik setelahnya ia tampak berusaha keras untuk menenangkan diri.


"Coba ceritakan apa yg terjadi nona, bisa saja itu tidak seburuk yg kamu pikirkan." Pria itu bersuara lagi.


"Maaf kalau aku terkesan ikut campur. Aku tidak bermaksud mengganggumu, aku juga tidak akan memaksa." Pria itu cepat-cepat menambahkan takut Lana salah paham.


"Tapi terkadang, ibarat semangka besar, masalah terasa berat saat kita hanya menanggungnya sendiri. Dan saat semangka itu kita potong, kita bagikan ke orang lain, semangka itu tidak akan lagi terasa berat."


Lana terdiam. Pria ini adalah orang asing, dia sama sekali tidak mengenalnya. Mungkin saja orang asing ini tidak akan menjudge Lana, seperti kalau Lana bercerita pada Cika atau orang yg ia kenal. Kata-kata pria itu juga ada benarnya. Baiklah, toh aku juga akan mati sebentar lagi.


Lana menarik nafas, lalu berkata dengan nada berat, "Saya hamil, sedangkan pacar saya menghilang tanpa kabar. Sekarang saya tidak punya apa-apa lagi. Kuliah saya hancur, hidup saya, masa depan saya juga, padahal... sebelumnya semua baik-baik saja." Lana terisak lagi.


Pria itu terdiam. Tatapannya berubah iba dan simpati. Jadi begitu ceritanya. Seberat itu masalah gadis ini, mungkin saja ia berniat bunuh diri, batin pria itu.


"Sudah tidak ada jalan keluarnya. Saya sudah berusaha mengeluarkan bayi ini, tapi entah kenapa... huhuhuu..." Lana tersedu-sedu, "...dia tak mau keluar juga.." Lana refleks mencengkram perutnya.


"Nona, tenanglah.." Suara ramah dan mendominasi pria itu membuat Lana tenang. Setelah memastikan Lana berhenti menangis, pria itu melanjutkan, "Setelah kamu tenang, coba pikirkan baik-baik. Jawab pertanyaanku,"


"kenapa kamu berniat membunuhnya? Memangnya.. apa salah bayi itu?"


Deg, hati Lana tertampar mendengar pertanyaan pria itu. Benar, bayi ini salah apa? Bukankah yg membawa bayi itu ke dalam rahim adalah kamu sendiri, Lana? Kamu dan Ethan lah yg sesungguhnya bersalah, kenapa malah bayi ini yg kamu bunuh? Dengan obat, nanas, pepaya, soda, aborsi..


Melihat Lana yg diam saja, pria itu berkata dengan hati-hati, "Benar kan, bayi itu suci, sama sekali tidak berdosa. Dia sedang memberi tanda padamu, ibunya, bahwa dia ingin hidup, ingin tumbuh.."


Tes, airmata Lana menetes tanpa sadar.


"Terserah apa keputusanmu untuk menghukum dirimu sendiri karena kesalahan itu, tapi tolong jangan ikutsertakan bayi malang itu nona."


"T-tapi.." Lana terbata-bata mencoba membantah. "Kalau aku melahirkan bayi ini, bagaimana nanti.."


"Aku percaya setiap bayi yg terlahir di dunia ini telah membawa rezeki dan garis hidupnya masing-masing." potong pria itu. "Seperti aku, yatim piatu, toh aku bisa hidup juga sampai detik ini." Pria itu tersenyum tapi lalu sadar gadis itu terus menunduk, tidak melihatnya.


Lana menelan ludah, kata-kata pria itu merasuk ke relung-relung terdalam hatinya. Menyadarkan Lana yg selama ini gelap mata.


"Percayalah padaku, bayi itu punya takdir sendiri. Sekuat apapun kamu menyingkirkannya, jika dia ditakdirkan hidup, dia akan terus tumbuh."


"Dan asal kamu tahu, menjadi yatim piatu sangatlah tidak menyenangkan. Setidaknya aku iri pada bayi itu, dia masih punya ibu." pria itu berkata.


"Padahal..." Lana bergumam, "Aku sudah berniat bunuh diri."


Pria itu kaget, tebakannya benar.


Sebelum pria itu membuka mulut untuk bicara, Lana berkata pelan, "Aku sudah tidak punya alasan lain untuk hidup."


Pria itu menatap dua plakat kayu di rak, "Aku pernah mendengar seseorang berkata, jika kehilangan satu alasan untuk hidup, maka carilah alasan lain agar kamu tidak berhenti dan menyerah." Pria itu menambahkan, "Aku pikir kata-kata itu ada benarnya."


Lana terdiam. Alasan lain untuk hidup. Ibunya. Dan.. sahabatnya.


Benar, Lana melupakan mereka. Ibu dan Cika pasti akan sangat sedih mengetahui Lana mencoba bunuh diri. Jika dia benar-benar mati, ibu dan Cika akan menanggung kesedihan itu seumur hidup, tanpa tahu bahwa bunuh diri ini adalah karena kesalahanku. Tapi mereka akan menerima berita kematian ku dengan persepsi lain, mereka pasti akan menyalahkan diri karena tidak begitu peka sampai aku memilih jalan kematian, pikir Lana.


Dan bayi ini.. Benarkah kamu ingin hidup? Lana berbisik di dalam hati, seolah-olah bayi itu bisa mendengarnya. Apa kamu pikir aku bisa jadi ibu yg baik? Apa kamu ingin punya ibu seperti aku, seorang gadis lemah, gadis payah?


"Bagaimana?" Pertanyaan tiba-tiba pria itu membuat Lana tersadar dari lamunan. Lalu detik berikutnya Lana bingung apa maksud dari pertanyaan itu.


"Setidaknya aku berhasil mengubah sedikit persepsimu kan?" Pria itu bertanya, "Tidak lagi terasa begitu berat bukan?"


Tanpa sadar Lana meringis. Mau tak mau ia mengakui, ya, sedikit berkurang, rasanya memang sedikit lebih ringan.


Pria itu menambahkan dengan nada yakin, "Aku percaya kamu bisa. Kamu pasti bisa melalui ini, dan bayi itu.. akan tumbuh jadi anak yg nantinya akan kamu banggakan."


Lana mengangguk, semoga saja..


"Terimakasih banyak.. Anda sangat baik." Lana berkata jujur. "Sebagai gantinya, mungkin anda bisa membagi masalah anda dengan saya. Meski saya tidak yakin, saya bisa membantu."


Pria itu tersenyum samar, "Setelah bicara denganmu, permasalahan ku tidak ada apa-apanya nona. Jauh, sangat jauh lebih berat beban yg kamu sangga. Sejujurnya aku jadi malu, beberapa menit lalu aku sempat mengeluh."


Lana mau tak mau tersenyum, "Terimakasih." bisik Lana.


Pria itu melirik jam tangan yg melingkari pergelangan tangan kirinya, sudah waktunya pergi. Ternyata dia sudah cukup lama meninggalkan kantor.


"Sama-sama, tapi sepertinya aku harus pergi. Senang berbicara denganmu." Pria itu berkata. Lana menunggu, pria itu tidak bertanya siapa nama Lana, juga tidak memperkenalkan diri.


Lana menganggap, memang lebih baik begini. Pembicaraan dengan orang asing akan lebih terasa santai dan tidak menghakimi.


"Saya juga senang berbicara dengan anda. Terimakasih." jawab Lana tulus.


Pria itu tertawa, "Tahu tidak, kau sudah mengucapkan kata itu sebanyak tiga kali, satu kali lagi maka akan berhadiah kulkas."


Lana refleks tertawa juga. Tawa pertamanya setelah sekian lama.


Pria itu pun pamit. Lana ingin mengangkat wajah, melihat sosok pria itu. Tapi Lana malu, saat ini dia dalam kondisi berantakan dan buruk. Matanya pasti bengkak, hidungnya pasti merah dan meler, apalagi rambutnya..


Karena itu Lana hanya bisa membungkuk sedikit dan mendapati sepatu hitam mengkilap itu berbalik lalu berjalan pergi. Suara taktok taktok semakin menjauh lalu sunyi.


"Semoga kita bisa berjumpa lagi." bisik Lana.


Lana mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan tatapan jernih ayahnya.


Lana tersenyum, "Sepertinya ayah tidak memperbolehkan aku pergi menemuimu hari ini ya."


Lana mengusap bingkai pigura berwarna coklat itu penuh sayang, "Terimakasih ayah."


...***...