
Kyoya menemukan Hana sedang duduk dengan wajah manyun di meja bundar di bawah payung besar warna warni, tak jauh dari panggung.
Gadis itu sudah melepas topengnya, digeletakkan begitu saja di atas meja.
Untunglah posisi meja tempatnya duduk agak tersembunyi, tertutup dedaunan yg dipangkas bentuk lonceng.
Kyoya duduk di sebelah Hana. Ikut melepas topeng yg dipakainya dan menaruh topeng itu di sebelah topeng Hana.
"Astaga Hana, umurmu sudah lewat untuk sekedar ngambek gara-gara kalah."
Kyoya berusaha menghibur dalam bahasa Jepang. Laki-laki itu mengusap kepala Hana lembut.
"Aku bukan ngambek gara-gara kalah." Hana memalingkan wajah, tidak mau menatap Kyoya.
"Lalu kenapa? Ayolah jangan marah lagi. Ya?" bujuk Kyoya.
Hana bersedekap, melayangkan lirikan maut. "Aku kesal karena kau tidak menuruti perkataanku Kyoya-kun. Aku kan sudah bilang hentakkan kakimu. Kenapa kau tidak melakukannya?"
Kyoya terdiam.
Ia ingat kalau tadi ia lupa segalanya karena melihat seorang panitia laki-laki tersenyum genit setelah menyentuh Lana. Lana yg berputar-putar lalu berjalan ke pinggiran tentu tak tahu hal itu. Kyoya geram sekali melihatnya.
Lalu Lana malah mendatangi kursinya. Kyoya sama sekali lupa dengan instruksi Hana.
"Tadi mc nya kan bilang kami tidak boleh memberi kode apapun." jawab Kyoya mengeles.
Hana memutar bola matanya ke atas. "Ya ampyun hari gini masih saja patuh peraturan. Sebel ih."
Kyoya tersenyum, Hana tampak menggemaskan merajuk seperti ini. Walaupun sedikit menyebalkan sih, tapi gadis ini mengingatkannya pada Lana yg merajuk juga akan menggemaskan seperti ini.
"Kenapa senyum?" sahut Hana. "Aku tidak suka melihatmu tersenyum."
Kyoya hendak membujuk tunangannya itu lagi, ketika..
"Hana!"
Sebuah suara mendekat.
Hana memutar tubuhnya, tampak Lana dan Ethan berjalan ke arah mereka. Ethan sudah kembali memakai jaketnya.
Hana mengatupkan bibir rapat, masih bersedekap kesal. Sementara Kyoya terlihat ingin tahu kenapa mereka berdua berjalan kemari.
Lana berhenti di depan meja. Melihat gestur Hana, Lana membatin, apa gadis ini sedang merajuk? Kekanakan sekali.
Tanpa basa-basi Lana menyodorkan gundukan putih ke depan hidung Hana.
"Ini hadiahmu ketinggalan." Lana memasang senyum ramah.
Hana mengerjap, melihat benda putih yg ternyata adalah boneka kelinci seukuran 30 senti itu membuatnya lupa kalau sedang marah.
Hana menerima boneka itu lalu memeluknya gemas.
"Thanks Lana." Hana mendadak tersenyum cerah. Ia pun mempersilahkan Lana untuk bergabung di meja mereka.
Kyoya, Lana maupun Ethan langsung memasang gestur canggung.
Lana hendak menolak tapi Hana menarik tangannya agar duduk di kursi di depan Kyoya. Mau tak mau Lana pun mengiyakan.
"Kenapa kau meninggalkan hadiahku?" Hana bertanya dengan cemberut pada Kyoya dalam bahasa Jepang. Gadis itu memeluk bonekanya lagi.
Kyoya menghela nafas. "Aku khawatir kamu tadi tiba-tiba menghilang. Jadi sebelum panitia membagikan hadiahnya, aku sudah turun panggung untuk mencarimu."
Lana mengerjap, memperhatikan dua orang di depannya sedang bicara bahasa asing yg sama sekali tak ia mengerti.
"Mau minum sesuatu?" Ethan membuyarkan lamunan Lana. "Atau mau pesan makanan?"
"Kyoya-kun, aku mau jus semangka dan salad sayuran." Hana malah yg menjawab. Tapi kali ini dia memakai bahasa negara Lana.
Lana menoleh ke Ethan, "Kopi dingin dan toast rasa keju saja." Pesanan dua gadis itu berbanding terbalik.
"Okey madam." Ethan tersenyum.
"Biar aku saja yg belikan."
Kyoya berdiri. Dia menatap Ethan dan Lana. "Kopi dan toast. Bagaimana dengan anda Pak Ethan Arkam?"
Ethan menepuk kepala Lana pelan, "Terimakasih Pak Koijima. Lain kali saya pasti akan terima traktiran anda. Saya pastikan makanannya lebih mahal."
Lana langsung melayangkan cubitan di pinggang Ethan.
Ethan berkelit sambil tertawa, mereka pasti tahu dia hanya bercanda.
Langit telah berubah warna dari oranye semburat ungu kini menjadi biru gelap. Sudah lewat pukul enam petang. Lampu-lampu oranye putih sudah beberapa menit lalu dinyalakan, bergoyang pada tali yg diikatkan di atas di sepanjang jalan.
Suasana semakin semarak dan ramai. Kelap-kelip lampu hias dari deretan kedai, juga lampu lilit warna-warni menghiasi pepohonan dan tanaman di area sungai Yan.
Akhirnya Ethan dan Kyoya pergi untuk memesan makanan masing-masing. Sebelum menjauh, Kyoya tampak menaikkan syal yg dipakainya sampai menutupi hidung.
Lana pura-pura melihat ponsel karena bingung kalau harus memulai obrolan dengan Hana.
"Hadiahmu juga sama?" Hana terdengar penasaran.
Lana mengangkat wajah dan melihat Hana sedang menatap ke arahnya sambil mengusap-usap bonekanya.
Lana mengangguk. "Pemenang pertama dapat uang dan kalung couple. Juara dua dan tiga boneka kelinci."
Lana memandangi boneka kelinci lucu itu. Lalu tanpa Hana perlu bicara, Lana menjawab rasa penasaran gadis itu karena tidak melihat dimana boneka Lana berada.
"Tadi ada anak kecil yg merengek ingin boneka seperti itu. Akhirnya kuberikan saja padanya."
Alis Hana mengernyit, ia tampak tak habis pikir Lana bisa dengan mudah memberikan barang miliknya begitu saja.
"Kalau itu aku, aku tidak akan memberikan barang kepunyaanku. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut milikku." sahut Hana dalam bahasa Inggris.
Lana tertawa. "Astaga Hana, itu kan hanya boneka. Lagipula aku sudah terlalu tua untuk bermain dengan boneka."
Hana cemberut. "Memang benar ini hanya boneka, ada banyak boneka seperti ini di toko, kau bisa membelinya berapapun."
"Tapi .. kenangan dan momen saat mendapatkan boneka ini lah yg tidak bisa kau ganti. Apalagi kau mendapatkan ini setelah berusaha keras, juga bersama orang yg kau cintai, boneka ini nanti akan jadi semacam pengingat momen itu."
Lana terdiam, benar juga. Hana sepertinya sangat mencintai Kyoya, dan agak seperti terobsesi.
"Aku tidak akan semudah dirimu menyerahkan barang yg sudah jadi milikku."
Hana mendekap boneka kelinci itu erat-erat. Lana bisa merasakan ada maksud tersirat dari kalimat Hana itu.
"Aku tidak akan merebutnya. Kecuali barang itu datang sendiri kepadaku." ucap Lana santai.
Kata-kata itu membuat Hana kesal. Ia hendak mencecar Lana ketika Ethan tampak berjalan mendekat.
Ethan meletakkan nampan ke atas meja.
Lana mengambil secangkir kopi dingin dan toast berlumur keju yg dialasi kotak kertas. Sementara pesanan Ethan adalah kopi panas dan croffle.
Kyoya muncul tak lama kemudian. Ia menaruh gelas besar berisi jus semangka dan kotak transparan berisi salad. Lalu botol air putih untuk dirinya sendiri.
Lana melahap toastnya, sambil berpikir apa sebaiknya dia bermanis-manis mulut menawari tiga orang di sekelilingnya ini.
Ah tapi kan makanan ini sama sekali bukan tipe kesukaan Kyoya, Hana si pemakan makanan sehat juga tidak akan mau, kalau Ethan sih .. kayaknya akan langsung menggigit dalam suapan besar. Mending kumakan sendiri saja lah.
Hana juga diam menikmati saladnya. Ethan pun sama, menggigit croffle nya bagai singa kelaparan melahap daging empuk. Kyoya memperhatikan mereka bertiga bergantian.
Suasana di meja itu sangat tenang dan damai.
Lana mengulurkan tangan hendak mengambil tisu di atas nampan ketika tangannya malah tak sengaja menyenggol cangkir Ethan yg ada di pinggir meja.
Kopi panas itu terjatuh, isinya tumpah mengenai rok dan paha Lana.
"Aah!"
Lana melempar rotinya ke meja, langsung berdiri sambil meringis kesakitan. Kopi itu sangat panas, bahkan cangkir kertas itu tadi masih berasap.
Dua laki-laki itu gedubrakan secara bersamaan.
Ethan mengeluarkan saputangan untuk mengelap noda kopi di kaki Lana.
Sementara Kyoya dengan sigap berlutut di depan Lana yg diminta Kyoya untuk duduk kembali. Laki-laki itu membuka botol air mineralnya, meminta ijin untuk menaikkan rok Lana lalu mengucurkan air dengan hati-hati ke paha kanan Lana yg mulai memerah.
Hana melirik tingkah kedua laki-laki itu dengan ekspresi tidak suka.
"Aku tidak apa-apa."
Lana canggung menerima perlakuan kedua laki-laki ini.
Didepannya, Lana bisa melihat perubahan wajah Hana. Gadis itu seperti ingin menumpahkan secangkir kopi panas lagi ke kaki Lana.
"Kompres dengan ini."
Kyoya menarik sapu tangan yg dipegang Ethan, membasahinya dengan air dari botolnya yg tinggal separuh lalu menempelkan saputangan basah itu ke paha Lana yg luka. Ethan diam memperhatikan.
"Tolong belikan salep luka bakar." instruksi Kyoya.
Tanpa banyak bertanya, Ethan langsung pergi untuk membeli obat.
"Masih sakit?" tanya Kyoya lembut.
Lana menggeleng. "Terimakasih."
"Dia bisa mengompresnya sendiri." sahut Hana, kentara sekali tidak suka Kyoya begitu perhatian pada gadis lain selain dirinya.
Lana menekan saputangan yg basah kuyup itu sendiri.
Kyoya kembali ke tempat duduknya. Tampak baru sadar kalau dia barusan sepanik itu.
"Kamu gak apa-apa kan Lana?" tanya Hana datar. Bertanya hanya sebagai basa-basi agar dianggap beretika baik.
Lana mengangguk. "Terimakasih."
Dia menatap Kyoya, merasa bersalah. "Aku jadi membuat minumanmu habis. Aku akan membelikannya lagi."
Lana hendak berdiri tapi Kyoya berkata tegas,
"Tetap disitu Lana. Duduk."
Lana mengerjap, ia menurut dan duduk lagi. Sudah sangat lama Lana tidak mendengar Kyoya memberi perintah seperti ini padanya.
Kyoya yg kelepasan, terlihat menyesal. "Maksudku tidak perlu membeli minum lagi. Kau duduklah disitu sampai pacarmu datang membawakan salepnya."
Lana tidak berniat protes. Kyoya yg control freak barusan membuat Lana bernostalgia ke masa-masa lalu. Membuatnya dejavu.
Hana memperhatikan mereka berdua. Dia tidak pernah melihat Kyoya sepanik dan setegas itu saat bersamanya. Apa jika Hana yg terkena kopi panas, reaksi Kyoya akan sama seperti ini ataukah laki-laki ini hanya bereaksi pada Lana seorang?
Tak lama Ethan datang, langsung membuka kotak salep dan dengan hati-hati mengoleskannya ke luka memerah di paha Lana.
Lana merasakan sensasi dingin di kulitnya yg panas dan perih.
Kyoya memperhatikan mereka dengan cermat, memastikan Ethan memberikan obat itu dengan benar. Setelah luka itu sudah diolesi, gestur Kyoya mulai rileks.
Ethan menutup salep dan menaruhnya di atas meja. Lalu ia melepas jaketnya dan melilitkannya ke pinggang Lana.
"Sepertinya jaket ini sangat menyukaimu. Dia kembali terikat di sini." gumam Ethan.
"Nanti jaketmu ikut kotor kena kopi." Lana menolak tangan Ethan yg hendak mengikat lengan jaket ke perutnya.
"Its ok darling." Ethan tersenyum.
"Masa sih kalian tidak pacaran?" Tiba-tiba Hana nyeletuk.
Ethan kembali duduk. Lana menggigiti bibirnya, bingung mau berkomentar apa.
"A-"
"Jawabannya tergantung Lana." Ethan menyahut.
Lana memalingkan wajah menatap langit di perbatasan sungai yg kini gelap gulita, hanya ada beberapa bintang dan bulan sabit kecil menggantung di sana.
Aku harus menjelaskan apa, perasaanku sendiri saja aku tidak tahu dengan jelas, batin Lana.
Suasana jadi canggung.
"Para pengunjung festival sungai Yan yg berbahagia,"
Terdengar suara pengumuman dari corong di deretan gerai, "Sebentar lagi acara kembang api akan dimulai pukul tujuh sore. Mohon untuk tidak terlalu dekat dengan lokasi peletusan di area barat sungai."
"Selamat malam, selamat menyaksikan. Terimakasih."
Hana langsung sumringah. "Ada hanabi ya?" (Hanabi artinya kembang api dalam bahasa Jepang)
Kyoya mengangguk. Laki-laki itu melirik jam tangannya, sebentar lagi pukul tujuh.
Sambil mendekap bonekanya, Hana berdiri lalu setengah berlari menuju pagar pembatas sungai yg berada tak jauh dari meja mereka.
Gadis itu berbalik lalu melambai dengan riang pada tiga orang lainnya yg hanya melongo melihat tingkah tiba-tiba Hana.
"Come here guys, let's see it together." Hana melambai memanggil mereka untuk ikut berdiri di pagar pembatas.
"Cepat, sebelum hanabi nya dimulai." seru Hana dalam bahasa negara Lana.
Lana yg pertama beranjak, disusul Kyoya lalu Ethan.
Mereka akhirnya berdiri berjejer. Dari kiri ada Hana, disebelahnya Kyoya, lalu Lana dan Ethan.
Tak butuh waktu lama pagar pembatas itu sudah penuh sesak dengan pengunjung yg berjejer untuk melihat acara kembang api.
Ethan terdesak dari kanan, mau tak mau tubuhnya menempel pada Lana. Lana pun terdorong ke samping, ia canggung berdiri begitu dekat dengan Kyoya.
Duar!!
Lana terlonjak kaget.
Sebuah ledakan jingga melejit ke atas lalu pecah menjadi semburat kerlap-kerlip warna-warni.
Duar!!
Ethan menutupi telinga Lana dengan kedua tangan saat satu kembang api meletus lagi menjadi bunga raksasa warna emas.
Kyoya melirik mereka dengan ekspresi tak suka.
Lana berbisik di telinga Ethan, "Sudah gak papa. Tadi aku cuma kaget aja kok."
Ethan melepas kedua tangannya. Lalu berdiri disamping Lana, berpegangan pada besi pagar.
Tiga kembang api meluncur ke langit lalu pecah berentetan menjadi tiga hati merah raksasa.
Lana mendongak ke langit, terkesima. Indah sekali kembang apinya.
Ethan melirik dari sudut matanya, Lana tampak cantik sekali.
Melihat kembang api ini, pikiran Lana melayang ke waktu lalu saat Kyoya membawanya kencan singkat untuk melihat kembang api di sungai Yan.
Tiba-tiba Lana merasakan hangat di jemari kirinya yg tersembunyi di bawah, di sela-sela jaket Ethan yg dipakainya di pinggang. Gadis itu menunduk dan mendapati tangan kanan Kyoya menggenggam jemarinya erat.
Lana berusaha menarik tangannya lepas tapi laki-laki itu menggenggam semakin erat.
Lana menoleh, wajah Kyoya lurus menatap langit. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Akhirnya Lana pasrah, kembali memandang depan.
Melihat Lana yg tak lagi berontak, jemari laki-laki itu bergerak menjalin jari-jari Lana dengan erat. Ibu jari Kyoya mengusap-usap lembut punggung tangan Lana.
Lana jadi tidak bisa berkonsentrasi pada apa yg sedang dilihatnya, padahal kembang api sedang menyala dengan indahnya di langit.
Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Rasa hangat dari ujung jari kirinya menjalar ke seluruh tubuh. Membuat Lana tanpa sadar menahan nafas.
Langit hitam berubah menjadi terang benderang, penuh dengan semburat warna-warni yg indah.
Tak ada yg tahu, Kyoya dan Lana terus berpegangan tangan dengan erat.
...***...