
Lana memeluk kakak perempuannya erat, Ega juga balas memeluk adik bungsunya itu sambil mengusap sudut matanya yg mendadak berair. Mereka berpelukan beberapa detik.
Saat itu pukul sembilan malam. Rumah duka sudah sepi.
Lalu Lana ganti memeluk kakak laki-lakinya, memang tidak selama Ega tapi Lana maupun Arga tahu pelukan singkat itu mengandung penuh makna.
Kak Arga mengusap kepala Lana sekilas.
"Hati-hati di jalan. Kabari kalau sudah sampai di rumah." pesan Ega.
Lana mengangguk.
Lana berdiri menghadap Cika yg langsung memasang senyum menenangkan.
"Benar, tidak ikut pulang bersamaku?" tanya Lana memastikan dan sedikit berharap Cika berubah pikiran.
"Aku kan sudah bilang tadi, aku besok cuti jadi aku di sini saja bantu-bantu kakakmu. Lagipula aku sudah lama tidak mengunjungi keluargaku, toh sudah sampai sini tiba-tiba jadi kangen rumah." Cika nyengir.
Lana memeluk sahabatnya itu,
"Titip keluargaku ya, kalau ada apa-apa hubungi aku."
Cika mengangguk.
Kyoya juga berpamitan dengan kedua kakak Lana. Mereka mengucapkan terimakasih sambil membungkuk sangat dalam.
Cika menyalami Kyoya secara resmi seperti sedang bersalaman dengan presiden saja.
Lalu Roger juga ikut berpamitan pada semuanya. Saat bersalaman dengan Cika, gadis itu tampak terpesona beberapa detik.
Lana melambai ke belakang sambil berjalan keluar halaman rumah duka. Kyoya dan Roger sudah berjalan lebih dahulu.
Lana sempat mengira mereka akan naik helikopter untuk kembali pulang. Ternyata sebuah mobil hitam mengkilap sudah terparkir di depan Lana. Lana mengenali itu bukan mobil Kyoya dari plat nomornya yg berbeda.
Roger membukakan pintu belakang mobil untuk Lana. Lana bersiap masuk, dia melihat lagi ke belakang. Kak Ega, kak Arga dan Cika sedang melambai sambil tersenyum padanya. Lana melambai untuk yg terakhir kalinya lalu masuk ke dalam mobil.
Kyoya sudah duduk santai di sebelahnya, di kursi penumpang.Sementara Roger menutup pintu dengan sopan lalu setengah berlari memutari depan mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
Lana melihat ke jendela dan refleks melambai lagi. Mobil perlahan melaju.
"Mereka tidak bisa melihatmu, kaca itu tidak tembus pandang."
Kyoya memberi instruksi agar Roger membukakan jendela tapi Lana buru-buru menolak.
Lana hanya diam melihat ke arah keluarganya sampai mobil melaju dan berbelok di tikungan.
Sementara itu, begitu mobil hitam mewah itu berbelok di tikungan, Cika langsung berbisik ke telinga kak Ega.
"Apa kakak tahu mereka punya hubungan apa?" Kak Ega mengernyit bingung.
"Lana dan Pak Koijima Kyoya." Cika menambahkan karena sepertinya kak Ega tidak paham.
Kak Ega cuma mengangkat bahu.
"Lana tidak memberitahuku, dia hanya bilang teman. Memangnya ada apa?"
Cika mengelus-elus dagunya.
"Teman? Bagaimana bisa Lana berteman dengan Pak Koijima Kyoya. Tapi aku menduga mereka lebih dari itu kak."
Cika membatin, melihat bagaimana sang CEO menatap Lana, bagaimana nada suara nya berubah lembut, bagaimana gestur dan caranya memperlakukan Lana, mustahil tidak ada apa-apa diantara mereka.
Saat Cika sedang sibuk dengan pikirannya, kak Ega mendadak bertanya, "Ngomong-ngomong kenapa kau memanggilnya sangat resmi? Memakai Pak segala. Dia tidak setua itu, pasti umurnya .. yah seumuran Arga."
Cika agak heran kak Ega menanyakan pertanyaan itu. Cika menjawab santai, "Dia CEO MT Corporation. Kalau bukan Pak, lalu aku harus memanggilnya apa? Tuan muda?"
Mata Ega membelalak. "CEO MT Corporation?!" Lalu dengan terbata-bata, ia melanjutkan.
"Lana b-bukannya bekerja di sana?"
Ega mengangguk.
"Yah, dia atasan Lana dan secara tidak langsung atasan ku juga karena aku bekerja di anak perusahaan MT Corporation."
Melihat Ega masih syok, Cika mendadak tersadar.
"Jangan-jangan kak Ega tidak tahu??" pekik Cika tidak percaya.
Ega menggeleng polos.
"Heee?? Mustahil!" Cika menjerit.
...***...