
Sehun membawa Yoo Ran ke bioskop pada sore hari, lalu makan malam di restorant di tempat yang berbeda setiap harinya dan melanjutkan mengobrol di café didekat tempat tinggal mereka.
Secara rutin mereka melakukan hal itu.
Permasalahan yang membuat Yoo Ran ingin mundur untuk sementara dia abaikan. Seperti yang Sehun katakan, itu hanya akan berjalan sampai 1 bulan. Dan dalam rencana satu bulan itu Yoo Ran berpikir tidak akan sampai melakukan hal-hal di luar batas. Berciuman oke, selebihnya jangan, yang terlanjur terjadi, dia bisa melupakannya.
Awalnya dia yakin bisa mengontrol dan mengendalikan pikirannya yang terlalu dewasa, tapi pada akhirnya dia selalu jatuh dalam kata-kata Sehun yang terlalu manis tapi tidak cukup romantis.
Tapi pada akhirnya setelah berkencan selama satu minggu, Yoo Ran akhirnya terbangun di atas tempat tidur bersama Sehun. Hal itu mengejutkan Yoo Ran karena dia sudah benar-benar meyakinkan dirinya untuk tidak bertindak gegabah, tapi dia sekali lagi sudah melewati batas. Kali ini mereka melakukannya di rumah Yoo Ran. Kabar baiknya, sebagai seseorang yang akrab dengan kontak fisik semacam itu, Yoo Ran terlalu biasa saat menyadari kesalahannya.
Kai beberapa kali mengorek informasi dari Yoo Ran, bersikap seperti seorang ayah yang begitu peduli terhadap masa depan putrinya. Meskipun begitu Kai tetaplah adalah orang luar, jadi seberapa banyak dia mengoceh — meminta Yoo Ran untuk berpikir matang-matang — Yoo Ran tetap akan mengambil tindakan sesuai keinginannya.
Sore itu Yoo Ran di datangi oleh seorang pria tidak di kenal saat pulang dari tempat kerja. Mengatakan bahwa seseorang ingin bertemu dan panggilan di telpon pria asing itu di teruskan kepada Yoo Ran.
Suara seorang wanita langsung menyebut nama Yoo Ran yang membuat Yoo Ran mengerutkan dahi sebelum memberi salam dengan sopan. Percakapan itu singkat, tidak lebih dari 20 detik dan itu hanyalah sebuah undangan pertemuan. Yoo Ran tidak tahu siapa tapi karena undangan itu terdengar sopan, Yoo Ran menghormati untuk menerima undangan itu.
Yoo Ran menempati satu meja yang membuatnya duduk lebih sopan dari sebelum-sebelumnya. Dia tidak pernah bersikap begitu hormat kepada orang lain, tapi wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Sehun dan Yoo Ran mengingat bahwa wanita itu adalah orang yang sama yang pernah dilihatnya di dalam lift, di gedung tempat tinggalnya.
"Aku terkejut saat mengetahui bahwa putraku memiliki teman dekat seorang wanita. Sebelumnya aku tidak pernah mendengar dia dekat dengan wanita manapun."
"Kami bertemu secara kebetulan dan Sehun adalah pemuda yang baik. Dia memiliki pandangan tentang beberapa hal yang sama sepertiku, karena itu kami sering bertemu dan secara kebetulan tinggal di lingkungan yang sama."
Yoo Ran bukanlah pembicara yang baik, terutama ketika dia berhadapan dengan orangtua dari teman yang baru dikenalnya. Dia ingin menunjukkan sikap yang jujur tapi bingung sikap jujur seperti apa yang harus dia tunjukkan. Terlalu memaksakan diri hanya akan berujung pada sikap canggung, dan Yoo Ran akan menjadi seorang pendiam kalau sudah seperti itu.
Nyonya Oh tersenyum, tapi juga tidak terlihat tersenyum dalam waktu bersamaan.
"Aku hanya tidak menyangka bahwa dia tidak mengatakan apapun pada kami. Dia memang orang yang tidak mau berbagi hal apapun tentang hidupnya. Bahkan tidak banyak orang yang tahu tentang kami, yang adalah orangtuanya sendiri. Dia memang orang yang tidak mau menyusahkan keluarga, sekaligus membuat kami cemas dengan cara hidupnya."
Nyonya Oh mengambil cangkir tehnya, meminumnya sedikit, lalu meletakkannya di atas meja dengan cara yang membuat orang berpikir 'ah, jelas-jelas levelnya sangat berbeda'.
Hal ini membuat Yoo Ran terserang perasaan gugup yang membuatnya mengambil minuman dan menyegarkan mulutnya dengan rasa dingin dari es yang meleleh. Dia juga bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba ibu Sehun ingin mengajaknya bertemu, tapi sebelum itu, Yoo Ran ingin memuji kecantikan yang tidak ia duga-duga. Sebelumnya juga dia tidak menyangka kalau ibu Sehun akan terlihat semuda ini. Semakin dilihat semakin cantik saja.
Seseorang yang terlahir dalam keluarga kaya itu memang berbeda. Dalam sekali lihat saja Yoo Ran sudah bisa menilai, tapi itu jelas berbeda dari penampilan Sehun yang biasa—walaupun pada awalnya dia menilai Sehun sebagai anak mama.
"Kau pasti terkejut karena aku memintamu datang secara tiba-tiba," katanya. Wajah Nyonya Oh terlihat ramah tapi Yoo Ran menangkap maksud lain dari setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. "Aku sebenarnya bukan orang yang kolot, yang selalu mengkhawatirkan anaknya karena kami sudah tidak tinggal bersama. Tapi terkadang ada beberapa hal yang aku khawatirkan, apalagi Sehun jarang menghubungi kami, dan dibeberapa kesempatan dia menolak menjawab panggilan dariku.
"Aku selalu bertindak dengan hati-hati, tapi sebagai orangtua —sebagai seorang ibu— seharusnya itu tidak perlukan? Hanya saja Sehun berbeda dari kebanyakan orang, dia secara tidak langsung ikut bertanggung jawab di dalam keluarga ini. Aku tahu dia tertekan, dan dia pun menolak dengan jalan yang kami pilih untuk masa depannya, mungkin karena itu dia memilih untuk meninggalkan rumah, tapi dia sudah setuju dengan sebuah persyaratan, jadi aku pikir seharusnya dia menepati janjinya."
"Persyaratan?" Yoo Ran mengulang dengan rasa penasaran.
"Kami membiarkannya hidup mandiri, memilih karirnya sesuai keinginannya, juga tidak mengekspos namanya di depan publik, tapi sebagai gantinya dia harus menjaga sikapnya, menjaga nama baik keluarganya."
" ... " Yoo Ran terdiam, tapi ada beberapa hal yang tidak Yoo Ran mengerti.
"Selain itu, kami mengharapkan tidak adanya scandal. Suamiku adalah seorang wali kota dan tahun ini suamiku akan mencalonkan dirinya lagi."
Ayahnya adalah seorang walikota? Bagaimana aku tidak tahu hal ini? Yoo Ran benar-benar terkejut setengah mati. Yoo Ran jadi berpikir apakah keputusannya untuk menyetujui permintaan Sehun itu salah. Salahkah?
"...baik aku maupun suamiku berharap tidak adanya kabar yang merugikan kami. Aku pikir nona Im bisa membantu untuk menjaga baik-baik Sehun, kalau anda adalah temannya aku pikir anda pasti bisa membantuku mengawasinya, benarkan?"
Ayahnya adalah seorang walikota, dan tentu saja scandal apapun bahkan kalaupun itu disebebkan anaknya, hal itu pasti akan mempengaruhi reputasi ayahnya. Kenapa aku bisa tidak mengetahuinya?
.
.
.
Siapapun yang melihat Yoo Ran sekarang ini pasti tidak akan tahan, bahkan makhluk hidup sekecil apapun yang tinggal di apartemennya.
Yoo Ran mondar-mandir membuat garis horizontal di rung tengah sambil menggigiti kuku jarinya. Dia bingung, cemas, khawatir, dan masih banyak hal yang dia khawatirkan tentang hidupnya, tentang Sehun.
Tiba-tiba saja ibu Sehun datang seperti itu dan sudah jelas bahwa maksud kedatangannya adalah untuk memperingatkannya. Meskipun dari kalimat itu tidak memperjelas maksudnya, meskipun Ibu Sehun memintanya untuk mengawasi Sehun, tapi jelas kalimat itu ditunjukkan agar Yoo Ran bisa menjaga sikap. Sampai disini, Yoo Ran merasa tersinggung dan begitu rendah dengan cara berpikirnya selama ini.
Selain itu dia juga melihat sisi betapa arrogantnya ibu Sehun. Beberapa percakapan saat Ibunya menyudahi pertemuan itu jelas sekali kalau Ibunya tidak mengharapkan Yoo Ran berada di sekeliling Sehun. Belum lagi kalimat yang memperjelas bahwa Sehun sudah memiliki seorang calon.
Yoo Ran mendadak berhenti ketika datang sebuah keputusan.
"Bagaimanapun aku harus mengakhirinya sekarang. Setidaknya kami sudah melakukan beberapa hal. 1 bulan itu terlalu lama, satu minggu aku rasa sudah cukup," gumam Yoo Ran.
Dia kemudian mondar-mandir lagi. Mengukur seberapa besar keberaniannya, mengukur seberapa besar alasan yang dia buat agar tidak dicurigai. Tapi pada akhirnya keputusan Yoo Ran selalu berubah-ubah. Terkadang dia ingin segera mengakhiri, terkadang rasa ingin tahunya membuat dia ingin bertahan dan mencaritahu lebih banyak lagi.
"Kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya? kenapa dia menutupi status sosialnya? Kenapa dia tidak bilang ayahnya adalah seorang wali kota?"
Yoo Ran meratap sampai ingin menangis ketika mengetahui kabar itu sekaligus mengingat apa yang sudah dia lakukan dengan Sehun. Belum lagi ketika dia berpikir ingin memiliki seorang anak dan tidak mempermasalahkan siapa pria yang ingin memberinya keturunan. Betapa rendahnya dia, betapa tidak tahumalunya dia, dan kenyataannya orang sepertinya menjalin hubungan dengan anak baik-baik seperti Sehun. Yoo Ran benar-benar merasa bersalah.
Yoo Ran mengambil ponsel lalu mulai menghubungi Kai.
Dia tidak menunggu sebuah sapaan, begitu tahu panggilannya di jawab dia langsung membuat perintah.
"Hei, ayo temani aku minum."
Jadi karena pikiran Yoo Ran seperti benang kusut, dia menghabiskan dua botol minuman keras di kedai pinggir jalan. Anehnya dia masih cukup sadar untuk mengingat hal apa yang dia alami. Yoo Ran membuka botol ketiga dan Kai segera menghalangi.
"Kau sudah menghabiskan dua botol," katanya. Lalu menghabiskan isi gelas Yoo Ran dan merebut botol minuman di tangan Yoo Ran.
Tapi hal itu tidak menghalangi Yoo Ran. Dia mengangkat satu tangannya, meminta Bibi penjual kedai mengantarkan minuman lagi. Betapa keras kepalanya dia.
"Apa-apaan kau ini?" Kai protes dan tiba-tiba Yoo Ran menampar sisi kepalanya sampai Kai mengaduh dan mengoceh tidak karuan.
"Diam!" Yoo Ran hanya memberi perintah seperti itu dan Kai yang dibuat jengkel menutup mulut lalu merogoh ke dalam saku untuk mengambil ponsel.
"Dimana kau?! Kenapa lama sekali?! Anak ini membuat ulah lagi, aku benar-benar akan menyeret dan mengikatnya dengan paksa, kalau perlu aku akan mengaraknya ke jalan kalau kau tidak juga segera datang!!" Kai memutuskan panggilan, mengomel tidak karuan kepada Chanyeol di seberang sana yang tidak tahu apa-apa.
Yoo Ran sudah menghabiskan setengah botol ketika Kai menelpon, dia ingin merebut botol yang Yoo Ran pegang tapi tiba-tiba Yoo Ran menyalak dan mengejutkan Kai yang sudah bertindak hati-hati.
"SIALAN! Seharusnya aku tidak gegabah mengambil keputusan."
"Apa maksudmu?"
"..."
"Hey, kalau ada masalah itu bicara, jangan seperti ini," kata Kai. Dia sudah menggeser tempat duduknya, menjauhi meja, menjauh dari jangkauan Yoo Ran yang kapanpun bisa tiba-tiba menampar kepalanya lagi.
Yoo Ran tidak mendengar, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sibuk menyalahkan dirinya sendiri.
"Dari awal yang kulakukan itu memang sudah salah. Sepertinya ini memang sebuah kesalahan." Yoo Ran menghela nafas kemudian menelan minumannya lagi.
Kai melihat Chanyeol memasuki tenda. Dan perasaan lega menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Ada apa?" tanya Chanyeol, dia melihat Yoo Ran yang tidak fokus lalu Kai yang sudah angkat tangan.
"Dia sudah seperti ini sejak aku datang. Berbicara seorang diri, marah-marah tidak jelas." Kai mengambil gelas lalu menenggak minumannya sampai habis.
Chanyeol menempatkan tangannya di bahu Yoo Ran, bertanya dengan hati-hati. "Yoo Ran, kau baik-baik saja?"
"Tidak bisa. Aku harus segera mengakhirinya. Harus!"
Mendadak Yoo Ran berdiri. Dia bahkan tidak menganggap Chanyeol dan Kai yang ada di sebelahnya. Dia terfokus dengan masalahnya sendiri dan pergi begitu saja tanpa pamitan.
Kai dan Chanyeol yang tertinggal dan dibuat bingung oleh ulahnya.
"Anak itu sudah gila. Benar-benar gila." Kai menghabiskan minumannya, memesan botol yang lain dan mengabaikan Chanyeol yang masih berdiri mengawasi Yoo Ran pergi.
.
.
Dengan pikiran yang setengah sadar, Yoo Ran berjalan kembali ke rumah. Menekan lift, mengulang setiap kata dalam pikirannya tentang keputusan bulat yang ingin ia sampaikan ke Sehun. Dia berpikir begitu pulang dia akan menekan bel pintu apartemen Sehun dan mengatakan semuanya, tapi sebelum pikiran itu terlaksana Yoo Ran melihat Sehun berdiri di depan pintu apartemennya, membawa tas kertas bertuliskan 'sushi'.
"Aku baru saja berpikir kalau kau mungkin belum pulang," kata Sehun yang tiba-tiba membawa suasana hangat dan menghancurkan rencana Yoo Ran.
" ..." Aku seharusnya mengatakannya sekarang.
"Aku membawa makanan," Sehun menunjukkan paper bag kepada Yoo Ran.
"..." Aku seharusnya tidak termakan ucapannya, jadi aku akan mengatakannya sekarang.
"Kau pernah bilang ingin makan sushikan? Tiba-tiba aku kepikiran dan langsung membelinya."
"..." Aku harus mengatakannya sekarang tapi kenapa dia beraikap begitu manis seperti ini. Yoo Ran mengerutkan wajahnya, terlihat bingung tapi juga menyayangkan.
"Aku akan menemanimu saat makan. Aku tahu kau tidak suka makan sendirian."
"..."Aku harus mengatakannya sekarang tapi dia begitu baik. Mungkin besok saja aku mengatakannya.
Menyerah. Yoo Ran menyerah. Dia berpikir ini terlalu buruk untuk menghancurkan suasana dan usaha Sehun untuk menyenangkannya. Yoo Ran akan mengatakannya besok, mencari waktu yang pas dan tidak akan menundanya.
Yoo Ran memutuskan seperti itu tapi keesokan harinya ketika Yoo Ran menekan bel pintu apartemen Sehun dan dia melihat penampilan Sehun yang muncul seperti model sedang melakukan pemotretan di kamar mandi, Yoo Ran melupakan tujuannya dan di seret masuk untuk sarapan bersama.
Dia tidak bisa mengatakannya. Dia tidak ingin menghancurkannya.
"Perutmu sakit lagi?" Kai bertanya saat menghampiri Yoo Ran yang setengah tubuhnya terjatuh di atas meja di kantin perusahaan.
"Tidak. Aku baik-baik saja." dia mengatakan begitu tapi diakhir kalimat dia meghela nafas panjang yang membuat Kai melirik penuh curiga.
.
.
Satu bulan berlalu dan tidak ada salah satu dari mereka yang membahas tentang hubungan yang mereka jalani. Sehun masih sering mengetuk pintu apartemen Yoo Ran, dan Yoo Ran masih sering memanggil Sehun kalau dia memerlukan bantuan di rumahnya. Mereka terbiasa melakukan itu dan kebiasaan semacam itu sangat sulit untuk dirubah.
Sore itu Yoo Ran tidak memiliki kegiatan apapun setelah kembali dari toko reparasi, jadi dia hanya duduk dan bersantai sambil menonton tivi. Kebetulan saat itu muncul berita kampanye, dan Yoo Ran melihat seorang wanita yang dikenalnya sebagai ibu Sehun. Pria yang berdiri disebelahnya, yang memiliki sedikit lesung pipi pasti adalah ayah Sehun.
Mereka terlihat mirip, kenapa aku tidak menyadarinya?
Yoo Ran sudah beberapa kali melihat pria itu muncul di tivi, pada saat itu dia tidak mengetahui kalau dia adalah ayah Sehun. Jadi saat melihat kemunculannya diberita, dia terlihat mengamati baik-baik sosok orangtua Sehun.
Mendadak Yoo Ran teringat pertemuannya dengan ibu Sehun, dia juga teringat dengan kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak dia lakukan. Melihat Sehun yang kenyataannya jauh lebih muda seharusnya membuat Yoo Ran sadar bahwa dia tidak seharusnya merahu seorang pemuda sampai seperti itu. Dia juga tidak seharusnya berpikiran untuk memiliki anak tanpa menikah. Tapi kecenderungan hidup seorang diri membuat Yoo Ran tidak berpikiran untuk memiliki seorang pedamping, disisi lain, dia disudutkan dengan keadaan bahwa dia harus memiliki keturunan untuk memberikan seorang cucu kepada ibunya.
Semakin dipikirkan, Yoo Ran semakin merasa pusing. Karena hal itu beberapa kali Yoo Ran tidak berselera makan, tapi di lain waktu dia juga akan makan seperti orang gila. Keadaan yang tidak stabil semacam itu membuat pencernaannya memburuk. Memikirkan hal yang menjijikkan saja membuat dia ingin muntah. Dan Yoo Ran benar-benar lari ke kamar mandi saat memikirkan masalahnya yang tidak kunjung selesai.
Ponsel dalam sakunya berdenting dan Yoo Ran yang berjongkok di depan toilet merogoh saku untuk mengecek pesan masuk.
'Kau tidak lupakan kita punya janji?'
Itu adalah isi pesan yang Sehun kirim untuk menagih janji yang mereka buat kemarin. Yoo Ran lupa kalau dia sudah membuat janji dengan Sehun untuk makan malam bersama, dan janji itu dibuat berdasarkan keputusan Yoo Ran yang ingin mengatakan tentang hal yang sebenarnya.
Tidak ada banyak waktu untuk mengulur-ngulur lagi. Mungkin nantinya tidak akan ada kesempatan seperti ini, dan dengan pemikiran seperti itu Yoo Ran bangkit dari posisinya dan menuju kamar untuk mengganti pakaian.
.
.
Sehun menatap tidak puas pada hidangan yang dia buat. Sebagai perayaan karena itu adalah hari pertemuan pertama mereka, Sehun menginginkan makan malam yang benar-benar istimewa. Tapi steak yang dia buat terlihat tidak menarik seperti dalam contoh menu, dan dia juga meragukan rasaya meskipun Yoo Ran sudah mengatakan bahwa rasanya baik-baik saja.
Yoo Ran tiak mengatakan apapun lagi dan Sehun melihat perilaku aneh Yoo Ran yang terlihat tidak berselera makan. Dia menduga kalau makanannya benar-benar tidak enak.
"Sepertinya aku harus memesan makanan." Saat mengatakan itu Sehun sudah berdiri dan memegang ponsel, tapi Yoo Ran buru-buru menghentikannya.
"Sehun, ada yang ingin kukatakan."
Sehun menatap, menunda untuk memesan makanan dan kembali duduk dengan perasaan aneh karena perilaku Yoo Ran yang tidak biasa.
"Hari ini kau terlihat serius sekali," kata Sehun. Dia mencoba memecah suasana tegang dengan tawa ringan, tapi itu tetap tiak membuat Yoo Ran terlihat santai.
Tiba-tiba Sehun sadar bahwa apa yang ingin Yoo Ran bicarakan mungkin mengenai kesepakatan mereka. Wajahnya yang ceria berubah dalam hitungan detik, dia khawatir Yoo Ran benar-benar memutuskan akan mengakhiri ini.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Sehun, apa kau ingat yang kau katakan padaku dihari kita pertama kali bertemu?"
"Kau orang pertama yang mengatakan tidak ingin menikah tapi menginginkan seorang anak." Sehun tertawa berpikir kalau Yoo Ran hanya bercanda saat itu. "Setelah ini apa mungkin kita bisa bertemu lagi?"
"Kenapa?"
"Aku merasa kita akan benar-benar cocok."
Yoo Ran mengingat hari itu dan melanjutkan, "Saat itu, aku berpikir kalau kau mungkin memiliki pemikiran yang sama sepertiku. Karena alasan itu aku setuju untuk bertemu lagi denganmu."
"Itu sudah beberapa tahun, dan orang bisa saja berubah pikiran."
"Kau juga seperti itu?"
"Apa kau tidak?"
"..." Apa aku benar-benar harus mengatakan ini?
Yoo Ran bingung dengan perasaannya sendiri. Yoo Ran tidak mempermasalahkan jika harus bersama Sehun tapi jarak 5 tahun masih membayanginya belum lagi dengan status sosial Sehun dan komitmentnya untuk tidak terikat sebuah pernikahan. Dia menyayangkan hubungan mereka yang hanya sampai sebatas ini.
"Sehun, ini tidak benar, aku pikir—"
"Menikah juga bukan ide yang buruk. Kalau kau mau kita juga bisa melakukannya."
"Bukan begitu...." Bukan itu masalahnya.
Kalau dipikirkan sekali lagi, menikah memang bukan ide yang buruk. Dia juga bisa saja mengesampingkan perbedaan umur mereka. Masalahnya, dia sudah berjanji untuk tidak membuat masalah di keluarganya. Dan itu adalah apa yang dia simpulkan ketika berbicara dengan ibu Sehun.
Sehun meraih tangan Yoo Ran yang ada di atas meja, menggenggamnya seperti dia adalah masa depannya, mengenggamnya seperti dia adalah satu-satunya pegangannya.
"Aku berjanji akan menjagamu dengan baik."
Yoo Ran menarik tangannya dengan hati-hati, menyembunyikannya di bawah meja. Dia menunjukkan seberapa besar keinginannya itu, seberapa besar keputusan yang sudah dia buat.
"Ini sudah satu bulan. Seperti perjanjian di awal, kita berpisah setelah satu bulan."
Sampai pada sebuah keputusan itu, Sehun tahu bahwa dia tidak akan bisa merubah pemikiran Yoo Ran lagi.
.
.
.
Chanyeol mengenakan kaca mata ketika berdiri di samping mobilnya yang terparkir. Di bawah matahari yang terik sosoknya begitu mencolok. Sekelompok wanita yang mengenakan seragam menoleh dan saling berbisik, tersenyum ketika mencuri pandang dengan wajah memerah. Tidak ada yang lebih menyegarkan dari penampilan sempurna seperti itu. Chanyeol hampir membuat para pria merasa iri dengan penampilannya yang super eye catching.
Dari arah lain Gayoung yang menyeret koper mengerutkan wajahnya. Sudah berapa kali dia mengatakan kalau dia tidak ingin melihat Chanyeol berkeliaran di bandara? Setidaknya kalau Chanyeol ingin menjemput, dia tidak perlu dandan maksimal seperti itu.
Ga Young melepas scraf yang melilit di lehernya dan berjalan cepat kearah Chanyeol yang berpose seperti seorang model. Begitu Gayoung mendekat, dia segera melebarkan scraf dan menutupi wajah Chanyeol yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba Gayoung.
"Kau ini kenapa sih? Mau membunuhku?"
Chanyeol protes dan menarik scraf dari wajahnya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Gayoung yang cemberut, bibirnya maju dan sorot matanya seperti mengobarkan api cemburu.
"Bearapa kali aku bilang? Jangan muncul didepan umum dengan penampilan seperti ini. Setidaknya jangan keluar dari mobil. Apa kau ini sedang pamer?!"
Gayoung memprotes sambil menunjuk-nunjuk kearah wajah Chanyeol.
"Dua minggu aku tidak melihatmu, seperti ini sambutanmu padaku?"
Chanyeol pikir dia akan mendapat sambutan baik, setidaknya kalau bukan ciuman, berpelukan juga sudah cukup baginya. Dia tidak menyangka kalau kedatangannya dianggap menganggu.
"Dua minggu aku tidak melihatmu dan kau semakin, semakin, semakin sok pamer." Gayoung memperhatikan sekitar dan dia melihat beberapa rekannya lewat. "Lihat, mereka melihatmu seperti barang bagus yang ingin mereka dapatkan."
Chanyeol menahan senyum lalu begitu saja menarik Gayoung dan membuat wanita itu jatuh ke dalam pelukannya dengan wajah saling berhadapan.
Gayoung mencoba untuk mendorong Chanyeol pergi tapi usahanya tidak berhasil, dia malu setengah mati karena beberapa rekannya sedang memperhatikan dan terlihat berbisik-bisik. Gayoung yang tidak memiliki lebih banyak kekuatan pada akhirnya hanya menunduk dan menyembunyikan wajahnya dari orang-orang.
"Jangan khawatir. Kalaupun ada wanita yang seratus kali lebih cantik darimu, aku tetap tidak akan pernah meninggalkanmu." Chanyeol menunduk dan berbisik di dekat telinga Ga Young saat berkata, "hanya kamu yang aku inginkan" dan membuat Ga Young dengan sekuat tenaga mendorong Chanyeol mundur lalu kabur untuk masuk ke dalam mobil.
.
.
"Bagaimana disana?" Chanyeol bertanya dalam perjalanan.
"Baik. Yoo Ran juga terlihat lebih bahagia dari sebelumnya."
"Aku khawatir Negara asing membuatnya kesepian."
"Dia orang yang mudah berbaur. Aku terkejut saat dia memiliki lebih banyak interaksi dengan orang asing. Dia cukup terkenal di daerahnya. Aku mendengar banyak yang naksir dia karena wajahnya yang cantik."
"Jadi apa dia tertarik?"
Gayoung menoleh dan meledek pemikiran Chanyeol yang seperti tidak tahu saja watak Yoo Ran. "Dia tidak secara sembarangan mencari ayah baru untuk Ga Eul."
Chanyeol menghela nafas sebelum berkata, "apa kau tidak berpikir kalau Yoo Ran itu terlalu egois. Bagaimana bisa dia hidup menyendiri dengan anaknya seperti itu. Sudah lima tahun berlalu dan dia tidak berpikir untuk kembali ke Korea."
"Kau harus paham, hati seorang wanita itu tidak sekuat baja."
"Ini bukan masalah hatinya kuat atau tidak, ini masalah berani atau tidaknya dia menunjukkan dirinya dihadapan Sehun dan mengatakan 'aku memiliki seorang anak denganmu, namanya Ga Eul'. Apa kau pikir dia bisa melakukannya?"
"Tidak mungkin semudah itu. Sehun sudah menikah."
"Benar, tapi dia sudah bercerai sebulan yang lalu dan bagusnya lagi dia tidak memiliki anak dengan mantan istrinya. Kau bisa bayangnya betapa leganya aku mendengar itu."
Gayoung memukul bahu Chanyeol dan membuatnya mengaduh. "Kenapa memukulku sih? Kau juga legakan akhirnya mereka bercerai."
Gayoung melipat kedua tangannya, membenarkan ucapan Chanyeol tapi juga tidak ingin terlihat begitu jelas dengan pemikiran jahat itu.
"Tunggu saja, kalaupun bukan kita yang merencanakan akan ada waktu ketika mereka akan bertemu lagi."
Chanyeol yang berhasil berbelok di tikungan melirik Gayoung sebentar. Tersenyum bangga dengan pemikiran pacar kesayangannya.
"Tapi dia tidak akan kembalikan?"
"Dia akan kembali," kata Gayoung. Dia menoleh kearah Chanyeol sebelum kembali berkata, "Dia akan kembali. Pasti."
.
"Ga Eul, duduk yang benar, jangan berlari-lari."
Yoo Ran menempatkan Ga Eul di kursi sekali lagi, memberinya permen, lalu kembali menjawab telpon dari kakaknya.
Sementara Yoo Ran sibuk menelpon, memastikan bahwa apakah dompetnya benar-benar ketinggalan di rumahnya atau benar-benar hilng, Ga Eul sekali lagi melompat dari kursi dan berjalan berputar-putar. Dia berjalan kesana-kemari melewati orang-orang yang menggeret koper. Dia bergumam seorang diri sambil memegang mainan. Tanpa sadar dia sudah menjauhi Yoo Ran dan Ga Eul asyik dengan dirinya sendiri.
Dari arah lain, Ga Eul melihat seseorang yang cukup familiar. Pria tinggi, menenteng tas, dan ponsel di telinganya membuat Ga Eul tanpa sadar berdiri diam dan mengingat wajah itu sekali lagi.
Ga Eul menjatuhkan mainannya berlari tanpa merasa ragu sedikitpun ketika merentangkan tangannya.
Tubuh kecilnya memeluk kaki seorang laki-laki, memegangnya erat dengan wajah tersenyum.
"Papa, apa kau datang untuk menjemput kami?"
Sehun menunduk, menatap pada sepasang mata berbinar milik gadis kecil di bawahnya. Satu tangannya bergerak untuk mengelus bocah itu, berpikir kalau anak itu mungkin saja tersesat.
"Papa~"
"Im Ga Eul?"
Suara itu mengejutkan Sehun dan dia segera mencari objek dengan pemilik suara yang cukup familiar.
Dari arah lain Yoo Ran berlari untuk menghampiri, merasa lega bahwa anaknya baik-baik saja tapi dia tidak memperhatikan siapa pria dihadapan putrinya.
"Yoo Ran? Im Yoo Ran?"
Yoo Ran sama terkejutnya seperti Sehun yang begitu saja memutuskan sambungan telpon.
"Sehun...."
"Papa!"
Yoo Ran menatap pada Ga Eul, lalu Sehun secara bergantian. Dia sudah menduga bahwa pertemuan semacam ini pasti akan terjadi saat dia kembali ke Korea, tapi Yoo Ran tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya akan datang secepat itu ketika dia baru saja menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.
.
"Menurutmu, apa Ga Eul akan mengenali ayahnya kalau mereka kembali dan bertemu suatu saat nanti?" tanya Chanyeol.
Ga Young menoleh kearah Chanyeol dan terssenyum. "Tentu saja, Ga Eul akan mengenalinya. Pasti. Yoo Ran tidak pernah menyembunyikan siapa ayah Ga Eul. Dia selalu menunjukkan fotonya saat putrinya tidak mau tidur."
Dan Gayoung merasa yakin, akan ada kemungkinan bahwa mereka akan kembali bersama.
.
.
END