
Kembali ke masa sekarang..
Ruang tamu itu lengang. Dua orang yg duduk di sofa, satu menunduk menahan tangis, satu pucat pasi syok.
Selama beberapa detik tak ada yg bersuara, lalu..
"Setelah itu aku tak sadarkan diri selama hampir tiga hari."
Suara Lana lemah. Rasanya lelah sekali setelah menyelesaikan cerita panjang yg masih sangat jelas teringat di benaknya. Dirinya yg sekarat, bagai terjadi baru kemarin.
"Butuh dua minggu lebih untuk pemulihan cidera di kepalaku. Dan kakiku yg patah.. dua bulan."
Lana mengangkat kepala, menatap sosok laki-laki yg duduk didepannya yg hanya terdiam sejak Lana memulai kisah kilas balik lima tahun lalu.
Meski hanya diam mendengarkan, seiring cerita Lana bergulir, ekspresi laki-laki itu berubah, dari normal hingga pias, tampak sangat syok. Kini wajahnya sepucat tembok rumahnya.
Tak memberi ampun, Lana melanjutkan dengan nada tajam.
"Asal kau tahu, bahkan setelah lima tahun berlalu, sampai detik ini pun trauma itu masih membayangiku. Mungkin perlu seumur hidup.. untukku bisa menyembuhkan mental dan jiwaku yg sudah terkoyak ini."
Lana menghela nafas berat.
"Hari setelah kecelakaan, hari setelah bayiku meninggal, aku mengais-ngais sisa-sisa harapan terakhir, nyala kecil lilin terakhir... apa saja, agar aku bisa bertahan hidup. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, tidak akan semudah itu lagi berpikir untuk bunuh diri, tapi.. aku benar-benar menyerah."
"Saat itu yg selalu kupikirkan, kenapa mobil itu tidak menabrakku saja sampai mati? Kenapa aku harus terus hidup? Kenapa cobaan ini terus datang dan datang lagi menghantam hidupku? Kenapa?"
Lana sejak tadi meremas ujung blusnya yg berwarna krem hingga kusut. Lana berusaha sangat keras agar airmatanya jangan sampai jatuh. Dia tidak mau terlihat menangis, terlihat lemah di depan laki-laki brengsek ini.
"Lalu setelah lima tahun berlalu, tanpa adanya kabar satu kalipun... tiba-tiba kau muncul kembali. Dengan tersenyum, baik-baik saja, terlihat bahagia." Lana tertawa samar, mencela. Ia menatap benci wajah laki-laki didepannya itu. "Sementara aku??"
"Lana.." ucap Ethan lirih.
Lana menepis tatapan iba laki-laki itu. "Aku yg sekarang, yg tampak baik-baik saja ini, butuh waktu lima tahun untuk memendam semua luka itu. Usaha kerasku, malam-malam panjangku karena terjaga tak bisa tidur, mimpi-mimpi buruk yg terus menghantui, hari-hari berat yg tetap harus kujalani, setiap detiknya.. terasa bagai neraka. Masa lalu kelam itu tidak akan pernah bisa hilang."
"Lana-" Ethan berusaha bicara, tapi Lana dengan cepat memotong.
"Kenapa kau harus muncul lagi? Kehadiranmu mengorek kembali luka yg sudah kupendam rapat-rapat. Kenapa sekarang, setelah sekian lama, setelah hari-hari berat yg kujalani seorang diri. Kenapa? Kenapa kau baru muncul sekarang??"
"Lana please.." Ethan bergerak mendekat.
"Jangan mendekat. Jangan sentuh aku! Aku membencimu," Lana menepis tangan Ethan yg berusaha menggenggam jemarinya.
Tapi dengan gerakan cepat dan mantap, Ethan pindah tempat duduk disebelah Lana lalu mendekap gadis itu erat.
Gadis itu meronta dan menjerit-jerit histeris karena Ethan mencoba memeluknya. "Lepaskan! Beraninya kau menyentuhku! Lepaskan! Kau tidak dengar aku membencimu? Sangat benci. Amat sangat benci!" seru Lana.
Ethan memeluk Lana erat namun lembut. Kekuatan laki-laki itu membuat Lana tak bisa berkutik.
"Aku berjanji tidak akan bergerak lebih jauh lagi. Kumohon tenanglah.." ucap Ethan pelan. Suaranya terdengar sedih.
Ethan terkulai di sisi leher Lana. Wajahnya menunduk bersangga di belakang pundak gadis itu.
Lana tidak lagi berontak. Ia terdiam, terengah-engah meredakan emosi. Kedua tangannya mengepal di pangkuan.
Laki-laki itu menatap lantai. Aroma Lana yg khas, kehangatan gadis itu, tubuhnya yg kecil, apa sejak dulu Lana memang sekecil ini? Ethan tidak bisa membayangkan gadis mungil rapuh ini harus mengalami semua mimpi buruk itu sendirian.
Ia menunggu Lana sedikit tenang lalu berkata, "Aku benar-benar minta maaf Lana." bisiknya dari relung hati paling dalam, suaranya terdengar sungguh-sungguh menyesal.
"Aku tahu, meski seberapa kerasnya aku meminta maaf aku sangat tidak pantas menerima pengampunan darimu. Benar katamu, aku tak pantas ada di sini, menemuimu, menatap matamu. Seharusnya aku tahu diri."
Lana terdiam mendengarnya. Di leher Lana, hembusan nafas saat Ethan bicara terasa hangat.
"Maaf.. Aku sama sekali tidak tahu apa yg sudah kamu alami. Dengan sangat tidak tahu malunya, aku tersenyum, tertawa, muncul di hadapanmu."
"Aku tidak bisa membayangkan betapa ngeri dan beratnya semua itu kamu tanggung sendirian. Aku benar-benar minta maaf.." Mata Ethan mulai berkaca-kaca. "Aku.. Apa saja, kalau kamu menyuruhku untuk melompat ke sungai sekarang, atau menabrakkan diri ke depan mobil yg melaju, aku bersedia Lana."
Suara Ethan bergetar, juga tubuhnya. Terdengar suara menyedot ingus, apa Ethan sedang menangis?
"Apa saja.." Suara Ethan serak, pelan. "Asal bisa membuatmu merasa lebih ringan. Beban itu berikan padaku, limpahkan padaku. Harapanku, setidaknya setelah ini kamu bisa hidup lebih tenang dan bahagia. Nyawaku tidak sebanding dengan penderitaanmu selama ini."
Mendengar itu Lana melepaskan diri dan mendorong pelan tubuh Ethan. Hati Lana terasa teriris, terharu, dan seketika gunung penuh lahar kemurkaan itu perlahan padam.
Lana menatap wajah Ethan. Mata laki-laki itu merah dan sembab, bibirnya terkatup menahan tangis.
"Ethan.." Lana tanpa sadar berkata.
"Aku benar-benar minta maaf.." Ethan terisak lalu tertunduk. Bahunya bergetar, suara tangis yg menyayat memenuhi ruangan yg sunyi.
Mata Lana mulai tergenang. Sama sekali tidak pernah ia bayangkan, laki-laki semaskulin Ethan, akan menangis seperti ini, seperti anak kecil yg sedang memohon ampun pada ibunya, menanti hukuman apa yg akan diberikan.
Lana mengusap pipinya yg basah oleh airmata. Mengapa mereka berdua kini jadi menangis bersama? Ini tidak adil. Kenapa kamu bereaksi seperti ini Ethan, membuatku tidak tega, membuatku iba. Padahal harusnya aku lebih memaki-maki dirimu, seharusnya aku memukulimu, harusnya aku menjawab, terjun ke sungai atau dilindas mobil, dua-duanya tak sebanding, harus lebih kejam lagi.
Tapi apa, kenapa aku malah tidak bisa bicara. Airmata Lana mulai berjatuhan.
"Jangan.." Ethan mengangkat kepala, semakin sedih mendapati Lana yg juga ikut menangis. Ethan menjulurkan tangan untuk mengusap lembut pipi Lana.
Sentuhan laki-laki itu begitu lembut, hangat dan juga menenangkan. Kata-katanya terdengar sangat jujur.
"Kau mau aku melakukan apa?" Ethan ganti mengusap wajah dengan punggung tangan. Ia susah payah menelan ludah, berusaha menenangkan diri. "Kita harus impas. Harus tidak ada lagi hanya satu pihak yg tersakiti."
Lana mendorong bahu Ethan, kesal. Ethan mengernyit bingung dengan reaksi Lana yg tiba-tiba ini.
"Dasar bodoh! Kau kira, kalau kau mati, dosa-dosamu padaku akan hilang?" cecar Lana, ia mendorong bahu Ethan lebih keras.
"Kalau kau mati, gara-gara aku.. kau pikir, aku sudah pasti akan bahagia, begitu? Yang ada, aku jadi makin gila!"
Ethan membuka mulut, tapi Lana lebih cepat bicara,
"Aku juga tak tahu apa yg aku inginkan sekarang. Yg pasti aku tidak mau lagi melihat ada yg pergi."
Ethan menunduk, "Maaf, aku benar-benar bodoh. Kau boleh memakiku apa saja, silahkan, kau juga boleh memukuliku. Tapi jangan baik seperti ini Lana. Bisa-bisa aku jadi tak tahu malu lagi."
Ethan mengangkat wajah, menatap lembut manik mata Lana, "Seolah kamu memberiku kesempatan kedua."
Lana memukuli dada Ethan, awal pelan lalu semakin keras. Lana kalap, semua emosi dan amarah yg bertumpuk selama lima tahun ini keluar melewati buku-buku jari tangannya yg menghantam keras dada Ethan. Laki-laki itu tidak melawan. Dia hanya mengernyit, diam menahan sakit.
"Brengsek! Dasar brengsek!" Lana mengumpat pada setiap pukulan. Tak lama gerakan Lana melambat, ia kelelahan.
Ia memukul keras untuk yg terakhir kalinya, lalu kedua tangannya jatuh terkulai. Dada Lana naik turun, ia terengah-engah.
"Terimakasih." Ethan tersenyum samar. Sekujur dadanya sakit semua, tapi tentu tidak sebanding sedikitpun dengan rasa sakit yg pernah dialami Lana.
"Dasar gila." umpat Lana kesal.
Ethan menatap manik mata gadis yg cemberut itu. "Menurutmu.. Lebih baik mana, aku tidak mengganggumu lagi. Sekarang kita adalah orang asing yg tidak saling kenal. Atau.." Ethan melanjutkan dengan hati-hati, "Aku yg tak tahu malu ini meminta kesempatan kedua padamu. Kesempatan untukku bisa memperbaiki semuanya."
Lana tidak bisa lagi berpikir, dia sudah sangat lelah. Pembicaraan ini tak disangka sangat menguras energi dan emosinya.
"Kau pikir, setelah semua ini, aku masih berkenan memberimu kesempatan kedua?" sindir Lana.
Ethan mengangguk-angguk, "Benar, sudah pasti kamu akan memilih yg pertama."
Ethan lalu tampak bimbang. Setelah hati-hati memilih kata, ia bertanya, "Sebelum itu.. aku ingin bertanya-tapi jangan salah sangka dulu, kumohon jangan berpikiran buruk."
"Umm.. bagaimana bayinya? Maksudku, dia dikubur dimana?" tanya Ethan pelan, nyaris tak terdengar.
Lana terperangah. Dia menduga-duga apa alasan Ethan ingin tahu tentang hal ini.
Lana menghela nafas panjang, lalu, "Aku juga tidak tahu. Saat pihak rumah sakit bertanya, bagaimana dengan janin yg telah keluar ini, disana hanya ada Cika, Cika juga kalut karena aku belum sadarkan diri. Dia juga pasti sangat lelah, akhirnya Cika memberikan janin itu untuk diurus oleh pihak rumah sakit."
"Saat aku bangun, Cika berulang kali meminta maaf karena sudah mengambil keputusan tanpa bertanya dulu padaku. Disatu sisi, aku tidak benar-benar marah, aku pikir jika aku melihat kondisi bayi itu, menguburkannya sendiri, malah akan terasa semakin berat, bisa-bisa membuatku semakin drop."
"Tapi disisi lain, bayi itu benar-benar pergi rasanya seperti tidak pernah datang. Aku bahkan belum merasakan tendangannya, belum tahu dia laki-laki atau perempuan. Bayi itu hanya sebentar disini."
Lana mengelus perutnya. Wajahnya terlihat seperti akan menangis lagi.
Detik berikutnya, reaksi Ethan membuat Lana terperangah. Ethan menunduk lalu merangkul pinggang Lana. Laki-laki itu mengecup tangan Lana yg diletakkan di perut. Dengan lembut jemari Ethan juga mengelus perut Lana.
Lana jadi tak tahan untuk tidak menangis, sambil tersedu-sedu ia berkata, "Aku bahkan belum menyiapkan nama."
Demi mendengar Lana yg terisak, Ethan menegakkan tubuh. Ia mengusap lembut pipi Lana. Wajah Ethan juga terlihat seperti berusaha keras menahan tangis.
Lana tiba-tiba menunduk, mencari tas kecil di sampingnya.
Dengan Ethan yg menatap bingung, Lana mengeluarkan dompet lalu menarik secarik kertas.
"Hanya ini satu-satunya bukti dia pernah ada. Satu-satunya pengingat dia pernah hadir. Aku selalu membawanya kemanapun." Lana memberikan kertas itu pada Ethan.
Ethan menerima kertas itu, melihatnya sekilas lalu tertunduk tiba-tiba. Tangannya yg memegang kertas diletakkan dikening, bahu Ethan bergetar. Laki-laki itu menangis lagi.
Kertas itu adalah kertas hasil usg. Menampilkan gambar abstrak yg dominan berwarna hitam dan abu-abu. Ada gundukan kecil hitam ditengah dan beberapa deret tulisan di bagian atas.
"Meskipun dia masih sekecil stroberi, waktu itu dia sudah bergerak-gerak." jelas Lana.
Setelah beberapa detik tertunduk, Ethan mengangkat kepala, dia menurunkan tangan untuk melihat lagi gambar itu. Tatapannya tak bisa ditebak, Ethan mengecup penuh sayang pada kertas kecil itu.
Lana tak kuasa menahan tangis, airmatanya berjatuhan bagai tetes hujan. Tidak bisa dipungkiri, bagaimanapun juga Ethan adalah ayah kandung bayinya.
"Anakku.." bisik Ethan, terisak semakin keras. "Maafkan aku.."
Tanpa pikir panjang, entah apa yg membuat tubuhnya bergerak, Lana mendekat lalu memeluk Ethan erat. Ethan sempat terkejut. Lalu balas memeluk gadis itu.
Mereka berdua saling menangis dan berpelukan. Semata untuk saling berbagi akan rasa sedih dan kehilangan yg terasa nyata.
Dan walaupun hanya sejenak, bayi yg sudah hilang itu memberikan kehangatan dan perasaan istimewa sebagai orangtua di hati keduanya.
...***...