Between

Between
Bab 94 Chef Lana



Lana duduk diam di sebelah Kyoya yg fokus menyetir. Gadis itu masih tidak bisa percaya kenapa dia jadi terjebak di dalam mobil sang CEO yg sedang menuju kerumahnya yg kecil dan sempit untuk memasak spaghetti?


Hilang sudah rencananya tadi yg ingin bersenang-senang karena longgar sore ini. Lana menghela nafas panjang.


Mendengar Lana menghela nafas, Kyoya menoleh.


"Ada apa?" tanyanya cemas.


"Apa permintaanku ini membebanimu?" Kyoya ingin memastikan kalau Lana tidak merasa terpaksa berada disini.


Lana langsung memasang senyum manis. "Tidak pak, saya hanya gugup karena takut tidak bisa memenuhi ekspektasi anda."


"Memangnya seperti apa ekspektasiku?"


Lana menjawab dengan nada protes. "Selera anda kan sangat tinggi pak. Anda ingat kan, anda tidak mau makan di pojang macha karena menganggapnya tidak higienis. Saya takut lidah anda yg terbiasa dengan masakan buatan chef itu kaget menerima masakan saya."


Kyoya tertawa. "Kuharap tidak separah itu. Kata-katamu barusan membuatku jadi gugup juga. Aku jadi mengkhawatirkan perut dan kesehatanku."


Lana meringis. Benar, kalau nanti Kyoya sampai sakit perut setelah makan masakan Lana bagaimana?


"Lana."


Lana yg sibuk memikirkan kemungkinan terburuk apa yg bisa saja terjadi, menoleh mendengar namanya dipanggil.


Kyoya menatapnya lembut.


"Jangan terlalu dipikirkan berlebihan. Anggap saja kamu memasak untuk dirimu seperti biasanya. Okey?"


Memandang manik mata yg bersinar lembut itu, ekspresi yg menenangkan itu, Lana jadi merasa lebih rileks.


Ia mengangguk, tersenyum.


"Dan jangan panggil aku pak. Kita hanya berdua saat ini, kamu boleh memanggilku Kyoya."


Lana melirik cincin di jari manis Kyoya. Hatinya langsung disergap perasaan bersalah.


"Baiklah."


Mobil sudah meninggalkan gedung MT Corporation beberapa menit lalu.


Di lift, begitu mencapai kesepakatan, Kyoya mengajak Lana turun ke basemen. Mereka akan pergi ke rumah Lana dengan mobil Kyoya.


Lana merasa dejavu. Sepanjang perjalanan ke tempat parkir, Lana was-was takut jika ada yg memergoki mereka. Syukurlah aman-aman saja.


Sudah sangat lama Lana tidak masuk ke dalam mobil mewah Kyoya. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun yg lalu. Lana jadi bernostalgia.


"Kita belanja dulu di supermarket di depan sana." Lana menunjuk ke gedung merah di ujung belokan.


Tak lama kemudian, mobil hitam itu berhenti di area parkir di sebelah palang pemberitahuan batas troli.


Kyoya dan Lana turun dari mobil.


Lana memperhatikan Kyoya berjalan di sampingnya sambil memasang masker hitam di wajah.


"Jadi selebriti susah juga ya." celetuk Lana.


Kyoya terlihat tersenyum di balik masker.


(Kira-kira seperti ini, hanya saja pakaiannya jas hitam, kemeja putih dan dasi biru cerah).



Mereka pun masuk ke gedung supermarket. Di pintu masuk, Lana berhenti untuk mengambil troli dorong.


Kyoya mengambil alih troli itu lalu mulai mendorongnya di sebelah Lana.


Lana mengingat-ingat resep spaghetti bolognese yg biasa ia buat. Apa saja yg harus ia beli.


Mereka berjalan melewati lorong sayuran. Lana mencari dimana kacang polong dan wortel berada.


"Anda suka wortel dan kacang polong kan pak?" tanya Lana sambil menuju ke rak tumpukan wortel di tengah ruangan.


"Kyoya." Laki-laki itu mengkoreksi, mengikuti dengan trolinya.


Lana menahan gemas. "Maksudku Kyoya, kamu tidak alergi wortel atau kacang polong kan?" tanya Lana.


Kyoya tersenyum. "Lebih baik."


Lalu menggeleng. "Tidak, tidak ada alergi wortel atau kacang polong."


Kyoya melihat Lana mulai memilih-milih wortel gemuk dan memasukkannya ke dalam plastik.


Gadis itu lalu berjalan ke rak refrigerator dan mengambil satu kacang polong yg sudah dikemas per setengah kilo.


Lana mengelilingi area sayuran untuk melanjutkan perburuan mencari bawang bombay, cabai merah dan daun peterseli. Kyoya diam mengikuti gadis itu tanpa protes sedikitpun.


Setelah mendapatkan semua, Lana menuju petugas di meja timbangan. Lana meletakkan belanjaannya dan si petugas mulai memberi label harga sesuai berat sayuran Lana.


Lana teringat bahan paling krusial yg belum dibeli. Ia berjalan ke bagian perdagingan.


Lana menatap deretan daging merah muda dari balik etalase. Lalu bertanya pada Kyoya yg setia berdiri di sebelahnya dengan troli.


"Anda.. Maksudku, kamu suka daging ayam atau sapi?"


Kyoya mengangkat bahu. "Terserah chef Lana saja."


Lana geli sekali mendengarnya. Juga sedikit heran. Kyoya yg biasanya suka mengatur ini itu, semua harus sesuai dengan standarnya, kini mengucapkan kata yg sangat jarang terucap dari mulutnya. Ter-se-rah, selama ini kata itu pantang diucapkan oleh orang yg control freak seperti Kyoya.


Lana berkata pada si petugas untuk mengambilkan daging ayam bagian dada yg sudah difillet.


Oke, sayuran dan daging done. Ganti berburu pasta dan bumbunya.


Lana menuju ke lorong mie, dengan Kyoya mengikuti di belakangnya.


Lana mengambil dua bungkus spaghetti, juga bumbu bolognese. Memasukkan keduanya ke dalam troli.


Kyoya tampak menikmati berbelanja dengan Lana. Laki-laki itu terus memandangi gerak gerik Lana yg berjalan ke sana kemari sibuk memilih barang. Mereka seperti sepasang pengantin baru yg sedang belanja bulanan. Kyoya mengulum senyum memikirkan itu.


Lana membawa mereka ke lorong kopi. Lana ingat sejak Cika tinggal dirumahnya, beberapa persediaan hampir habis. Jadi sekalian saja Lana membelinya disini.


"Mau kopi?" Lana mengacungkan bungkus kopi favoritnya. Rasa cappucino yg ada bubuk coklatnya.


"Boleh." Hanya itu jawaban Kyoya.


Laki-laki itu lebih banyak diam. Lana jadi heran. Entah apa yg sedang Kyoya pikirkan.


Saat melewati lorong makanan ringan, Kyoya tiba-tiba berhenti.


Lana yg sudah berjalan duluan, berbalik dan menghampirinya.


"Cari apa? Aku tidak tahu kamu mau makan makanan penuh micin begini."


"Ini."


Kyoya menemukan apa yg dicarinya. Ia menarik keluar dari rak dua bungkus popcorn rasa karamel dan asin. Lalu memasukkannya ke dalam troli yg sudah hampir penuh.


Lana mengernyit heran. Untuk apa beli popcorn segala, ah mungkin Kyoya sedang ingin nyemil popcorn, batin Lana.


"Belilah jajanan yg kau suka juga." Kyoya berdiri menunggu.


"Benar nih boleh?" Lana ingin memastikan sekali lagi. Kyoya mengangguk.


Lana tampak senang. Ia segera menyambar snack coklat dan kripik rumput laut kesukaannya. Lalu melemparkannya ke dalam troli.


Lana pun tersadar, kan mereka sudah bukan sepasang kekasih. Kyoya tidak berhak melarang atau mengijinkannya membeli jajanan tidak sehat ini.


Lana jadi terbawa suasana.


Untuk menutupi salah tingkah, Lana segera menuju ke kasir. Si mbak kasir menyambut mereka dengan ramah.


Begitu melihat Kyoya, si mbak kasir menatap laki-laki itu terlalu lama, lalu tersadar Lana sudah memindahkan barang belanjaan ke meja pemindai.


"Biar aku yg bayar." Lana dengan sigap menahan tangan Kyoya yg sudah mau mengeluarkan dompet.


"Kamu yg masak, aku yg bayar." kata Kyoya tegas.


Lana menggeleng. "Ingat dulu aku pernah bilang, aku akan menemukan cara untuk mentraktir kamu yg sekalipun tidak pernah mau dibayari. Ini kesempatanku."


Kyoya tertawa kecil. Tapi ia menggeleng, bersikeras mengeluarkan dompet.


"Please.." Lana memohon.


Akhirnya Kyoya mengalah. Ia berjalan melewati Lana dan berdiri menunggu kantong belanjaan di ujung meja. Lana tersenyum jumawa.


"Totalnya 250.000." kata si mbak kasir. Sengaja berlama-lama menyerahkan dua kantong berukuran besar itu ke tangan Kyoya.


"Kamu duluan saja ke mobil. Aku akan menyusul." Lana menunjuk kartu debit yg akan ia gunakan untuk membayar.


Kyoya mengangguk lalu menurut. Laki-laki itu berbalik dan melangkah ke pintu keluar.


Lana tersenyum penuh kemenangan. "Oh iya mbak, ada kue ulangtahun gak ya?" tanya Lana.


"Ada mbak, di sebelah sana." tunjuk si mbak kasir, yg sedikit kecewa si mas ganteng sudah pergi duluan.


Padahal Kyoya sudah memakai masker menutupi wajah tampannya, tapi aura dan pesona nya masih saja menyihir gadis-gadis hingga terpukau.


"Sebentar ya, saya tambah kue sekalian." Lana buru-buru lari ke arah yg ditunjuk si mbak kasir.


Tak lama kemudian Lana kembali sambil membawa kue kecil rasa tiramisu dengan hiasan bola-bola emas.


Lana meletakkan kue itu dengan hati-hati ke atas meja pemindai.


"Semoga saja dia tidak marah." gumam Lana, memperhatikan kue cantik itu.


...***...


Lana menaiki undakan tangga menuju lantai dua. Dibelakangnya Kyoya mengikuti dengan menenteng dua kantong belanjaan ditangannya.


Lana menekan beberapa tombol di kotak password, terdengar bunyi klik lalu Lana mendorong pintu itu hingga terbuka.


Mereka melangkah masuk.


Lana bergegas melepas sepatu fantovelnya sembarangan lalu berlari ke dalam ruangan untuk bersih-bersih.


Kyoya meletakkan kantong belanjaan di lantai, melepas sepatunya lalu menunduk untuk menata sepatunya juga sepatu Lana agar berderet dengan rapi.


Lalu laki-laki itu melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan mata mencari-cari dimana Lana. Kyoya meletakkan kantong belanjaan di atas meja makan.


Rumah ini masih saja sama. Entah kapan terakhir kalinya Kyoya datang kemari, ia sampai tidak ingat lagi karena sudah sangat lama.


Lana sibuk mengelilingi rumah. Ia sesekali membungkuk untuk memungut semua pakaian dan beberapa bungkus snack yg berceceran di lantai. Juga menyambar handuk dan pakaian dalam yg berserakan di sofa dengan secepat kilat.


Kyoya mengulum senyum.


"Perlu bantuan?" tanya laki-laki itu. Melihat Lana berusaha menyembunyikan bra hitam berenda di dalam dekapannya.


"Tidak perlu!" Lana langsung menyahut histeris.


"T-tolong tunggu sebentar ya. Duduklah dimana saja yg membuatmu nyaman." Ia menambahkan agar tidak terkesan galak. Lana melempar masuk semua pakaian itu ke dalam keranjang kotor di ruang laundry.


Kyoya memilih duduk di kursi makan. Ia memperhatikan di atas meja menumpuk beberapa mangkok kotor bekas sarapan.


Kyoya mendorong menjauh tumpukan itu ke tengah meja. Lalu kembali memperhatikan Lana yg mulai menyalakan vacum cleaner.


Bunyi nguuung panjang terdengar menggema ke seluruh penjuru rumah. Secepat yg ia bisa, Lana menyedot semua remah-remah dan kotoran yg ada di lantai dan karpet dengan gerakan Flash si manusia kilat.


Lana bergerak ke meja makan, terkejut karena tumpukan mangkok kotor masih teronggok tak berdaya di meja.


Ia meringis canggung, lalu segera membereskan peralatan itu ke meja cuci piring, mengelap meja makan dan mengambilkan Kyoya minum air putih.


"Terimakasih. Sibuk sekali ya." ucap Kyoya, tersenyum melihat Lana yg tampak panik.


"Iya nih, beberapa hari kemarin Cika tinggal di sini. Tahu sendiri kan dia agak sembrono dan serampangan."


Lana kembali mem-vakum lantai di sekitar meja makan, yg kotor oleh remah-remah makanan. Ya ampun Cika, kamu makan sambil akrobat apa ya, kok bisa sampai jatuh-jatuh begini, batin Lana kesal.


"Baru tadi pagi dia akhirnya pindah ke rumah barunya. Jadi aku belum sempat bersih-bersih." jelas Lana mencari pembelaan atas rumahnya yg seperti kapal pecah.


Kyoya heran. "Ada apa sampai Cika tinggal disini?"


Oh iya sih, laki-laki ini kan tidak tahu cerita ttg Cika. Lana pun mulai menceritakan semuanya sambil terus beberes. Kyoya menyimak dengan serius.


"Haahh.. selesai."


Lana mengembalikan alat vacum ke tempatnya. Lalu menghempaskan pantat di kursi di sebelah Kyoya, tampak terengah. Lumayan capek juga ngebut bersih-bersih seperti barusan.


"Apa di rumah barunya yg sekarang lebih aman?" tanya Kyoya, ingin memastikan keselamatan sahabat Lana itu.


Lana mengangkat bahu. "Entahlah, aku belum ke sana. Cika melarangku karena takut aku capek. Juga dia sudah punya 'teman' yg membantunya."


Kyoya menangkap ekspresi cemburu dan kesal dari kalimat Lana barusan.


"Jika sudah waktunya, pasti Cika akan mengenalkan siapa teman itu padamu." kata Kyoya seperti bisa menebak isi hati Lana.


Lana mengangguk. "Ya." Gadis itu tiba-tiba terpikir. "Mungkin seperti ini kali ya yg dulu Cika rasakan saat aku tidak memberitahunya ttg Alex."


Lana jadi tersenyum mengingat masa itu. Alex yg ia bicarakan ada di sini sekarang.


"Oh iya, sebelum aku mulai memasak, aku ganti baju dulu ya. Kamu tidak buru-buru kan?" Lana bangkit dan menatap Kyoya.


Kyoya menggeleng. "Waktuku sekarang adalah milikmu. Santai saja."


Mendengarnya, muncul semburat merah di wajah Lana. Apa-apaan maksudnya waktu laki-laki itu adalah miliknya.


Untuk menutupi perubahan wajahnya, Lana cepat-cepat meluncur ke kamar mandi.


Terdengar suara air bergemericik.


Kyoya meminum air putihnya, lalu bersandar di kursi dengan santai. Ia mengeluarkan ponsel. Ada sepuluh pesan dan lima panggilan tak terjawab dari Hana. Kyoya menghela nafas panjang, tanpa membuka dan membaca pesan apa itu, ia mematikan ponselnya hingga layar berubah hitam.


Kyoya memandang pintu geser berkaca di samping dapur, langit berwarna oranye dengan semburat ungu biru mengintip dari sela-sela tirai. Pintu itu terhubung dengan balkon belakang sebagai tempat menjemur cucian.


Kyoya lalu mengedarkan mata ke sekeliling ruangan. Kangen juga dengan suasana rumah ini. Mata Kyoya berhenti ke kasur berseprei kotak-kotak warna warni.


Meski dulu ia sudah menjadi kekasih Lana, Kyoya belum pernah sekalipun tidur di atas ranjang kecil itu. Sayang sekali, batinnya.


Pintu kamar mandi terbuka. Lana melihat Kyoya sedang memandangi kasurnya. Lana menelan ludah, bertanya-tanya apakah laki-laki itu akan nekad menerjang dirinya meski kini ada cincin melingkar dijarinya. Sepertinya tidak akan, mudah-mudahan tidak.


"Oke." Lana berdiri di dekat meja makan, mulai mengalungkan celemek warna biru motif beruang ke lehernya.


Tercium aroma segar sabun dan harum stroberi. Kini Lana memakai kaos longgar warna pastel dan celana santai selutut.


"Mohon bersabar sedikit lagi ya tuan pelanggan. Restoran kami baru saja buka." Lana tersenyum sambil berusaha mengikat tali celemek di belakang punggung.


"Butuh bantuan mengikatnya?" Laki-laki itu menawari.


Lana menggeleng keras. "Terimakasih tapi sudah terpasang."


Gadis itu buru-buru mengeluarkan semua belanjaan, menata yg tidak diperlukan di lemari di atas kompor.


Lalu mulai memasak.


Ia mencuci sayuran, menyiapkan talenan dan pisau. Lana juga mulai menjerang panci berisi air untuk merebus pasta. Tak lupa Lana memasukkan sesendok garam ke dalam air, lalu mencetik kompor dengan mudah, api biru menyala meliuk di bawah panci.


Kyoya memperhatikan semua gerakan Lana. Gadis itu sangat fokus. Sekarang ia sibuk mengupas bawang bombay dan wortel. Lalu setelah mendengar air mendidih, Lana membuka bungkus pasta dan memasukkan gumpalan batang panjang itu dengan hati-hati ke dalam panci.


Lana menyadari suasana hening yg aneh. Diam-diam gadis itu menoleh dan mendapati Kyoya terus saja melihat ke arahnya.


Laki-laki itu tersenyum.


Lana jadi gugup dan salah tingkah.


"Ini."


Kyoya menatap bingung mangkuk berisi kacang polong yg diletakkan Lana di atas meja.


"Tolong kupas dan pilihkan yg bagus." perintah Lana demi agar laki-laki itu tidak terus memandanginya.


"Ok chef." Kyoya patuh. Dia menunduk dan mulai fokus mengupas kacang polong.


Lana kembali ke meja kompor, menghela nafas lega. Lana memotong kecil-kecil wortel dan bawang bombay sambil bersenandung tanpa sadar, lalu meletakkannya ke mangkuk lain.


Lana beralih ke plastik putih di dalam kantong belanjaan yg berisi kue, rahasia. Sambil mengamati Kyoya yg masih fokus dengan kacang polongnya, diam-diam Lana menyembunyikan plastik itu di belakang jerigen besar berisi minyak goreng.


Lalu mulai menangani daging ayam. Setelah mencucinya dan memindahkan ke nampan, Lana membagi daging itu dalam potongan-potongan kecil.


Terdengar suara kursi berderit. Lana mendengar langkah kaki Kyoya mendekat.


"Ini chef, sudah selesai." Kyoya meletakkan mangkuk berisi kacang polong yg layak makan dan plastik berisi kacang polong yg tidak lolos uji.


"Terimakasih." Lana mengusap pipinya dengan bahu untuk menghela rambut yg menempel. Lana lupa tadi sebelum masak tidak mengikat rambutnya terlebih dulu.


"Ada yg bisa kubantu lagi?" Kyoya memperhatikan gestur Lana.


"Sudah hampir selesai kok." Lana menepis helai rambut yg membandel di wajahnya dengan punggung tangan karena jari-jarinya kotor terkena ayam.


Kyoya melihat karet gelang tergantung di paku di deretan panci-panci. Ia mengambil satu lalu berdiri di belakang Lana.


Lana bingung kenapa laki-laki itu ada dibelakangnya.


"Diam dulu."


Kyoya menahan tubuh Lana yg menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat ada apa Kyoya berdiri disitu.


"Biar kubantu mengikat rambutmu."


Belum sempat Lana protes, tangan Kyoya bergerak menelusuri pelipis Lana. Menyapu kedua telinga gadis itu, membuatnya bergidik geli. Dengan hati-hati dan lembut, Kyoya mengumpulkan semua helai rambut Lana yg terjurai lalu mengikatnya kencang ke belakang dengan karet gelang.


Kyoya menatap leher jenjang nan putih yg terpampang di depannya. Menahan gejolak hasrat untuk memeluk erat gadis itu dan menelusup mencium leher menggoda itu.


Kyoya memutuskan berbalik dan duduk lagi di kursi meja makan. Lana yg menahan nafas dan tegang, menyadari laki-laki itu sudah selesai.


"Terimakasih." Lana tidak berani menoleh ke belakang. Wajahnya pasti semerah kepiting rebus.


Mereka tidak bicara lagi.


Ctik.


Lana memutar tombol kompor ke posisi off. Lalu mengangkat panci berisi spaghetti bolognese yg sudah matang.


Lana menaburkan peterseli dan mengaduknya perlahan. Asap putih menguar bersama aroma sedap yg menggugah selera.


Lana mengambil dua piring porselen besar dari laci dibawah meja. Menaruhnya di sebelah panci lalu menyendok penuh-penuh spaghetti ke atas piring.


"Silahkan dinikmati tuan. Maaf kalau tidak sesuai ekspektasi anda."


Lana meletakkan satu piring ke sisi Kyoya dan satu piring di seberang meja.


Lana melepas celemek, mencantolkannya ke samping kulkas lalu duduk di kursi di depan Kyoya.


Kyoya memejamkan mata untuk menghirup aroma dari piring yg lezat.


"Terlihat enak." puji laki-laki itu.


Tak menunggu waktu lama, ia meraih garpu dan menggulung mie itu dalam suapan besar.


Lana sangat degdegan, menunggu akan seperti apa reaksi Kyoya setelah merasakan masakan buatannya.


Lana benar-benar tegang, sampai lupa berkedip.


...***...