
Lana sampai di tempat tujuan.
Pusat Pembangunan kota Naruyama.
Melalui jendela mobil dia melihat banyak alat berat, crane, forklift dan lainnya. Juga pipa-pipa dan plakat besar. Serta orang-orang yg memakai helm safety sibuk hilir mudik.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering, ponsel milik pak supir. Pria paruh baya itu menjawab telepon, Lana menduga terjadi sesuatu. Dan benar saja.
"Maaf nona, kira-kira anda selesai pukul berapa? Maaf saya tidak bisa menunggui anda karena ada kabar kalau mobil yg mengantar Manajer Keuangan rusak di tengah jalan. Jadi saya yg ditugaskan ke sana menggantikan." Pria itu tampak merasa bersalah.
Lana tersenyum. "Tidak apa-apa Pak, nanti saya pulang sendiri saja. Karena saya juga tidak tahu akan berapa lama di sini." Lana bersiap-siap turun dari mobil.
Pak supir mengucapkan maaf sekali lagi. Lana tersenyum menenangkan.
"Tolong barang saya di bagasi ya pak." pesan Lana. Ia membuka pintu mobil, mengucapkan terimakasih pada pak supir lalu keluar.
Mobil itu pun melaju pergi, meninggalkan Lana sendirian dengan dua tumpuk kardus kecil di dekat kakinya.
Lana menghela nafas menatap mobil hitam yg semakin menjauh. Alamat pulang naik taksi nih.
Lana membungkuk, menaruh tas berisi berkas, ponsel dan dompet di atas kardus paling atas, lalu mengangkat kedua kardus itu.
Lumayan berat. Kardus paling bawah berisi air mineral, sedangkan kardus yg atas berisi nasi bento. Lana sengaja membelinya untuk para pekerja di sini.
Lana berjalan sempoyongan menuju bangunan semi permanen berwarna putih dengan atap dari asbes. Tidak ada yg membantu Lana karena orang-orang sibuk dengan pekerjaannya.
Tiba-tiba orang yg sangat Lana harapkan untuk tidak bertemu malah muncul.
Ethan sedang berbicara dengan mandor yg menunjuk ke lembaran kertas, ketika ia melihat sosok Lana. Awalnya Ethan terkejut mengapa Lana bisa ada di sini, lalu menyadari gadis itu tampak kesusahan. Ethan pun menghampirinya.
Lana melihat Ethan berjalan mendekat, langsung memasang wajah jutek. Belum juga lima menit udah ketemu dia, huh.
"Butuh bantuan?" Ethan berdiri menghadap Lana.
Tapi Lana berjalan melewatinya seolah tidak melihat siapapun.
Bibir Ethan tertarik ke atas. Sampai kapan amarah gadis ini tertuju padanya? Apa Ethan harus terluka parah dulu agar gadis ini mau memperhatikannya?
Ethan berjalan di belakang Lana. Memperhatikan gadis itu yg berpura-pura tegar padahal Ethan tahu seberapa berat barang bawaannya.
"Selamat pagi, saya Lana dari MT Corporation." sapa Lana pada mandor yg tadi berbicara dengan Ethan. Mandor itu memakai helm biru.
"Pagi, Bu. Silahkan memakai helm safety." Mandor itu mengambil helm oranye dari tumpukan helm di rak kecil.
Lana bingung bagaimana menerima helm itu sedangkan kedua tangannya sibuk membawa kardus.
Ethan menerima helm oranye itu dan berdiri menghadap Lana. Lana mengerjap, jangan-jangan..
Ethan memakaikan helm itu di kepala Lana, lalu mengunci talinya agar aman. Gerakan lelaki itu sengaja dibuat lambat. Ethan menatap Lana intens. Mata mereka sekejap bertemu tapi Lana langsung memalingkan wajah.
Kini gadis itu sudah memakai helmnya.
Ethan berkata pada mandor, "Panggil yg lain kemari, ada sarapan gratis."
Mandor itu mengangguk patuh lalu berlari ke arah segerombolan pekerja tak jauh dari sana.
Ethan hendak mengambil alih kardus di tangan Lana, ketika gadis itu bergerak mundur.
"Kau mau bawa kardus ini sampai kapan? Biar aku yg menaruhnya di sini." Ethan menunjuk meja kecil di samping rak.
Lana akhirnya diam saat Ethan mendekat dan memegang bagian bawah kardus. Sejenak jemari mereka bersentuhan. Hati Lana berdesir, tapi sebisa mungkin dia bersikap biasa.
Ethan menyembunyikan senyum melihat ekspresi wajah Lana yg datar. Lelaki itu mengangkat dua kardus dengan sangat mudah, terlihat enteng. Lalu menaruhnya di atas meja kecil.
Beberapa orang datang, Ethan mempersilahkan mereka untuk mengambil air mineral dan nasi. Lana mengangguk dan balas menjawab sama-sama dari beberapa orang yg mengucapkan terimakasih.
Semakin banyak orang yg datang, mereka terlihat sangat senang mendapat sarapan gratis. Ketika akhirnya tersisa satu nasi dan botol air, seorang pekerja yg memakai helm merah mengambilnya.
"Terimakasih Pak Ethan, Bu." Pekerja itu tersenyum sopan. Lalu menunjuk ke Lana, "Apa anda pacar Pak Ethan? Anda berdua terlihat serasi."
"Cocok ya Pak Aji? Besok saya kirim undangannya." Ethan tertawa. Pekerja itu ikut tertawa sambil mengacungkan dua jempol lalu pamit pergi.
Lana langsung bergerak menjauh. Apa-apaan tadi.
Ethan melirik Lana yg berwajah masam.
"Jangan marah, itu tadi hanya bercanda."
Lana tidak menggubris. Gadis itu berjalan pergi sambil mencangklong tas katun ke pundak. Ia menoleh ke kanan dan kiri. Bingung hendak kemana. Lalu memutuskan mengambil langkah ke arah kanan.
"Mau kemana? Proyek jembatan nya di sebelah sana." Ethan bicara ke telinga Lana lalu berjalan melewatinya. Ethan mengambil arah kiri.
Bibir Lana mengerucut sebal. Lalu mau tak mau berbalik dan berjalan mengikutinya.
...***...
Lana diajak Ethan berkeliling di sekitar area pembangunan. Cuaca sangat cerah serta area yg cukup luas, dalam sekejap saja keringat bercucuran di kening gadis itu.
Lana juga meninjau perakitan lempeng dan plakat untuk jembatan gantung yg mereka tangani. Sejauh ini semua berjalan baik dan tidak ada masalah.
Para pekerja sangat sibuk. Ada yg sibuk memindahkan plakat yg berat menggunakan forklift, ada yg mengemudikan crane mengangkat balok besi, balok itu bergoyang-goyang di udara. Ada beberapa orang yg memakai pelindung wajah sibuk mengelas, percikan api memancar dan suaranya sangat bising.
Lana memilih menjauh, mengamati pipa yg sudah tersambung dan mengambil dokumentasi untuk dilaporkan ke Bu Yuni.
Ethan sedang sibuk bicara dengan mandor penanggung jawab jembatan. Berada beberapa meter dari Lana. Ethan melirik gadis itu yg sedang asyik memfoto dengan ponselnya.
Tiba-tiba..
"Awass!!"
Sebuah teriakan mengagetkan semua orang.
Terjadi sangat cepat.
Lana menoleh ke arah suara itu dan terdengar suara CTASS kabel putus. Menyadari ada yg tidak beres, Lana mendongak ke atas dan sebuah balok besi terjun bebas kearahnya.
Semua orang terperanjat.
Lana memekik ngeri, melindungi kepalanya sambil memejamkan mata.
Detik berikutnya tubuh Lana didorong ke belakang. Ia jatuh terhempas ke tanah dan seseorang menindih nya.
BRUGH!
Krak.
Terdengar suara erangan dari atas kepala Lana. Hembusan nafas terengah-engah menerpa wajahnya. Ia membuka mata dan melihat wajah Ethan sangat dekat. Lelaki itu yg menindihnya.
Ekspresi Ethan tampak kesakitan. Lana menyadari balok besi itu menghantam bahu Ethan dan menindihnya dengan posisi menyilang ke punggung. Sementara kedua tangan Ethan menahan agar tubuhnya tidak jatuh menimpa Lana.
Beberapa orang langsung ramai mengerubungi Ethan dan Lana. Mereka membantu menggotong balok besi itu ke pinggir. Lalu dengan hati-hati membantu Ethan bangun, mendudukkan pria itu di tanah di samping Lana.
Ethan mengerang semakin keras saat mencoba menggerakkan tangan kanannya.
Lana bangun dan ikut duduk. Sementara orang-orang di sekelilingnya ramai bertanya apa mereka baik-baik saja, menyarankan untuk segera pergi ke rumah sakit, mempertanyakan kenapa bisa terjadi, bersyukur mereka masih hidup padahal bisa saja besi itu berakibat fatal dan menyebabkan mereka hampir mati.
Lana menatap Ethan yg memegangi bahunya, mengernyit kesakitan. Seseorang menyuruh lelaki itu berbalik.
Lana membekap mulut, kemeja Ethan terkoyak hingga robek dari bahu ke bagian punggung.
Lana menatap ngeri begitu mengetahui luka di bahu Ethan. Tampak luka memar yg cukup besar berwarna merah gelap dan beberapa luka tergores melintang ke arah tengkuk. Nyaris saja, balok itu menghantam kepala Ethan.
"Ethan.. " gumam Lana tanpa sadar.
...***...