Between

Between
#Rasa bersalah



Yoo Ran berjalan dengan langkah cepat ketika menuruni tangga, dan Sehun di belakangnya berusaha untuk mengejar dengan memanggil-manggil namanya. Tapi Yoo Ran bersikap seperti orang tuli, dia tidak berhenti melainkan menambah tempo untuk menuruni tangga sampai akhirnya dia tersandung dan Sehun yang berjarak dekat di belakangnya menahan lengannya.


"Kenapa kau tidak mendengarkanku? Hati-hati, kenapa kau begitu terburu-buru, aku sudah memanggilmu beberapa kali."


Sehun terlihat begitu khawatir.


Semalam Yoo Ran menolak menjawab telpon dan pesan yang dia kirim tidak mendapat balasan. Dia khawatir kalau sudah membuat kesalahan dan menyinggung Yoo Ran. Tapi pesan yang dia terima pagi itu ketika Yoo Ran mengatakan bahwa dia baik-baik saja membuat Sehun langsung keluar kamar dan berpikir untuk menghampiri Yoo Ran yang kebetulan saat itu sudah berdiri di depan pintu lift. Tapi anehnya Yoo Ran berbalik dan berjalan menuju tangga darurat.


"Kenapa semalam kau tidak mejawab telponku?"


"Ada banyak pekerjaan. Jadi aku tidur lebih cepat, tidak tahu kalau kau menelpon."


Ketika Yoo Ran menjawab, tidak ada nada mencurigakan yang membuat Sehun meragukan jawaban Yoo Ran. Sehun percaya begitu saja, lagipula Yoo Ran terlihat seperti mengatakan hal yang sebenarnya. Keculai bahwa Yoo Ran pergi dengan terburu-buru samapi mengabaikan panggilannya, semuanya tidak ada yang aneh.


"Kenapa kau terburu-buru sekali?" Sehun bertanya sekali lagi dan Yoo Ran tampak seperti aktris berpengalaman yang pandai berekting.


"Aku terlambat menghadiri pertemuan penting."


"Apa benar-benar penting?"


"Em." Yoo Ran mengangguk dengan penuh keyakinan. "Aku harus pergi sekarang. Sampai nanti."


Yoo Ran hanya melampaikan tangan sekali tapi ketika dia berpamitan matanya tidak menatap wajah Sehun dan hanya pergi begitu saja tanpa menoleh.


Sehun di belakangnya juga tidak mengejar, dia pun tidak mencurigai apapun. Dia hanya berpikir bahwa Yoo Ran benar-benar sibuk dengan pekerjaannya, jadi dia tidak berusaha menganggu Yoo Ran lebih banyak lagi.


.


.


.


Yoo Ran yang kehilangan semangat sudah menjatuhkan setengah tubuhnya di atas meja. Kai dari arah lain membawa dua kopi dan meletakkan salah satunya di depan wajah Yoo Ran yang kemudian bangun dengan ekspresi yang tidak bersemangat.


Beberapa hari yang lalu dia begitu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak punya waktu untuk mencicipi kopi dan beristirahat, tapi hari ini dia benar-benar menganggur. Semua pekerjaan dia selesaikan dengan cepat kemarin, bahkan hari ini dia sampai suka rela mengambil jatah pekerjaan temannya dan membantu sebisa mungkin. Pertemuan yang dia katakan tadi pagi kepada Sehun hanyalah sebuah alasan. Yoo Ran tidak memiliki pekerjaan yang mengharuskannya datang lebih pagi dari biasanya, dia hanya ingin menghindari Sehun yang sialnya dia begitu tidak beruntung karena harus bertemu Sehun.


Kai mendengar helaan nafas Yoo Ran yang terdengar berat dan matanya menatap penuh curiga.


"Kau terlihat sepuluh tahun lebih tua kalau melakukan itu," sindir Kai. Bibirnya menyentuh gelas dan rasa kopi yang kental menyebar ke dalam mulutnya. "Apa kau bertemu pria yang mengajakmu menikah? Karena itu kau terlihat sefrustasi ini?"


Yoo Ran di sebelahnya melirik dari sudut matanya, dia tidak suka kata-kata Kai yang kedengarannya seperti mengejek. Tapi Yoo Ran tidak bisa membalas kalimat Kai, kebenaran yang lebih menyakitkan itu tidak sampai di ujung lidah, dia masih tidak tahu bagaimana harus membagi cerita ini dengan Kai.


"Aku sedang banyak pikiran."


Hanya itu yang bisa Yoo Ran sampaikan dan Kai harus puas dengan penjelasan singkat itu karena Yoo Ran terlihat seperti tidak ingin diganggu.


"Sudah sarapan?" tanya Kai, karena dia melihat Yoo Ran seperti boneka kertas, yang begitu tipis dan rapuh.


Yoo Ran menggeleng lalu menjawab, "aku tidak berselera makan" sebelum mencicipi kopi pemberian Kai tadi.


"Kenapa tidak berselera makan?"


"Ya tidak berselera saja."


Kai berhenti mendesak dan teringat kata-kata temannya tadi. "Yoo Min bilang kau datang pagi-pagi sekali, tidak biasanya, memangnya apa yang kau lakukan sepagi itu di kantor?"


"Hanya ingin berangkat pagi saja," katanya. Dia melirik Kai sebentar sebelum melanjutkan. "Bus sangat penuh saat jam masuk kerja, jadi aku berusaha menghindari itu."


Dahi Kai membentuk lekukan karena penuturan Yoo Ran yang kedengarannya cukup aneh. Tapi dia tidak mau membuat alasan untuk Yoo Ran marah kepadanya lagi. Mereka baru saja berbaikan semalam. Jangan sampai kepergiannya untuk membeli mochi kemarin sia-sia.


"Kau sepertinya sedang tidak mau menceritakan masalahmu. Tidak masalah, tapi terlalu lama menyimpan makanan busuk itu akan menjadi penyakit dikemudian hari."


Mendengar kalimat itu membuat Yoo Ran tidak tahu harus merasa bangga atau kesal. Biasanya kalimat yang keluar dari mulut Kai satu pun tidak ada yang beguna, sepertinya masalah kemarin sudah membuat otaknya mengalami sedikit perubahan.


"Kau istirahatlah sebentar di sini, aku akan bilang ke manager kalau kau butuh istirahat."


"Terima kasih."


"Kalau kau begitu berterimakasih padaku, lain kali coba kau puji aku di depan Jenny."


"Bagaimana dengan Soo Jung?"


"Dengar, saat kau tidak berhasil mendapatkan ikan dengan satu umpan di pancing. Cobalah untuk melepaskan jaring, itu memungkinkan dirimu untuk mendapatkan banyak ikan."


"Wahh, kau benar-benar penjahat kelamin."


"Terima kasih." Kai menerimanya dengan senang hati. Itu bukan kalimat pujian, tapi Kai tetap tertawa dengan cara yang menyebalkan.


.


.


Langkah Sehun tidak terburu-buru tapi dia juga tidak terlihat santai saat memasuki sebuah restoran dan menaiki tangga menuju meja reservasi. Dia memiliki janji untuk makan siang bersama ibunya. Dan kabar bahwa semalam ibunya mengunjungi tempat tinggalnya membuat Sehun tidak bisa menunda pertemuan ini. Bahkan jika Sehun tidak ingin, dia masih tetap akan datang untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Sehun pindah secara diam-diam dari tempat tinggalnya dulu, bahkan orangtuanya pun tidak mengetahui dimana Sehun tinggal. Tapi kabar mengejutkan bahwa Ibunya baru saja mengunjungi tempatnya tanpa Sehun ketahui membuat Sehun bertanya-tanya darimana ibunya mengetahui itu. Dia memastikan kalau disekelilingnya tidak ada orang yang akan berani membocorkan hal ini, tapi alamat tempat tinggalnya tiba-tiba saja terekspos, dan ibunya datang berkunjung tanpa sepengetahuannya.


Sehun melacak beberapa temannya dan mendapat jawaban darimana ibunya tahu. Bahkan sebelum itu Sehun sudah bisa menebak karena sebuah telpon dari nomor yang begitu familiar tiba-tiba saja menganggu jam kerjanya kemarin.


Kemunculan Sehun disambut hangat oleh wanita yang sudah lebih dulu menempati meja. Senyumnya menarik kedua sudut bibirnya, membuat daging di kedua pipinya mengembang dan penampilan wanita itu lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya.


Tapi bukan berarti Sehun akan menunjukkan reaksi yang sama. Bisa dibilang reaksinya hampir tidak jauh bedanya ketika dia harus menghadapi seseorang yang menawarkan barang setelah dengan gigih menekan bel pintu di depan rumahnya. Sehun tidak menunjukkan senyuman tapi dia juga tidak menunjukkan sebuah penolakan.


"Nancy?"


"Lama tidak bertemu, kak. Duduklah."


Sehun menarik kursi dan duduk tanpa membuat lebih banyak komentar.


"Aku sudah memesan makanan. Masih seperti pesanan favoritmu, semoga kau tidak keberatan,"


"Aku pikir aku akan makan siang dengan ibuku."


Wajah Nancy yang tersenyum dengan malu-malu membuat alasan untuk ibu Sehun. "Ibumu mengatakan ada urusan, jadi dia pulang lebih dulu."


Nancy menuang air putih ke dalam gelas Sehun sebelum kembali berkata. "Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat."


"Kau terlihat baik. Itu bagus, tapi sepertinya kau lebih kurus dari sebelumnya. Ibumu juga mengatakan di telpon beberapa kali kalau kau jarang mengunjunginya. Apa pekerjaanmu begitu penting sampai melewatkan waktu untuk mengenjenguk orang tuamu sendiri?"


"Kau sendiri, bukankah seharusnya kau mengunjungi orangtuamu lebih dulu begitu kembali ke Korea? Empat tahun sudah berlalu."


Ucapan Sehun mengejutkan Nancy, tapi bertepatan dengan itu pelayan datang membawa pesanan makanan. Sehun terlihat begitu tenang, bahkan reaksi Nancy dia acuhkan begitu saja, seolah dia tidak menyadari hal itu dan tidak peduli kalau kalimatnya sudah menyinggung pihak lain.


Setelah pelayan itu pergi Sehun kembali berkata. "Ibumu menelponku, dia bertanya kenapa kau tidak pulang. Ternyata kau tinggal ditempatku."


Sepotong daging di masukkan ke dalam mulut dengan gerakan yang sangat halus. Sehun membuat gerakan setenang mungkin.


Setiap kalimat sudah memberikan tamparan kepada Nancy secara tidak langsung, tidak tahu kenapa kalimat-kalimat itu kedengarannya sangat tidak enak didengar.


Nancy yang canggung meletakkan sendoknya. Kedua tangannya terpangku di bawah meja, dia juga membuat senyuman yang sangat dipaksakan sebelum berkata, "Ibumu tiba-tiba ingin bertemu denganku. Lagi pula aku harus menempuh dua jam untuk kembali ke rumah. Aku pikir beristirahat sebentar di tempatmu tidak ada salahnya, lagipula memang Ibumu yang mengundang, aku tidak mungkin menolak."


Sehun memberikan senyuman sebagai tanggapan. Dia tidak mengatakan apapun, begitupun dengan Nancy yang paham bahwa suasana hati Sehun benar-benar buruk. Dia sadar kehadirannya tidak diterima begitu saja olh Sehun. Baik dulu maupun sekarang, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti yang dia harapkan dari Sehun.


Setelah 15 menit, dengan Sehun yang tidak menuntaskan makan siangnya, Sehun meninggalkan restoran dengan Nancy yang diam-diam mengikuti dari belakang tampa banyak tingkah.


Sehun berhenti ketika berada di depan restoran. Berkata, "Terima kasih untuk makan siangnya" sebelum berbalik lagi untuk meninggalkan Nancy.


Tapi Nancy segera menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.


"Kak... Aku masih boleh menelfonmukan?"


"Aku tidak masalah selama kau menganggapku hanya sebagai teman." Sehun mengamati sebentar sebelum melanjutkan dengan hati-hati. "Kau seharusnya tahu dan tidak bertindak lebih jauh lagi. Rencana pernikahan ini berawal dari ibuku tanpa persetujuan dariku. Jadi, aku tetap pada pilihanku sebelumnya. Aku hanya menganggapmu sebagai saudara, kau tumbuh dan besar bersamaku, seharusnya kau lebih tahu aku daripada siapapun. Aku tidak akan pernah merubah keputusanku."


"Tapi...kak,"


"Aku tidak akan mempermasalahkan mengenai tindakanmu yang mencaritahu dimana aku tinggal dan mengatakannya kepada ibuku, tapi tidak ada lain kali untuk kejadian seperti ini. Kau mengerti maksudku kan?"


Perubahan ekspresi Nancy sedikitpun tidak mempengaruhi keputusan Sehun. Dia tetap bersikap tegas sekalipun Nancy terlihat berkaca-kaca karena merasa sedih.


.


.


Kai lari pontang-panting saat menuju kantin. Dia melihat Yoo Ran duduk bersandar tembok bersama rekannya. Telpon yang dia terima beberapa saat lalu yang mengatakan kalau Yoo Ran seperti mau pingsan membuat Kai meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Yoo Ran saat ini.


"Apa yang terjadi?" Kai bertanya dengan raut wajah cemas. "Kau baik-baik saja tadi, kenapa sekarang seperti ini, hah?" Kai mengambil tempat duduk di sisi lain di samping Yoo Ran dan mencoba mencari tahu suhu tubuh Yoo Ran dengan memegang pipi, leher serta dahi Yoo Ran yang dirasa normal.


"Tidak panas, tidak demam kok," kata Kai, menatap kearah teman Yoo Ran dan menuntut sebuah penjelasan.


"Dia mengeluh perutnya sakit," kata wanita itu.


"Apa? Kenapa? Kenapa bisa?" pertanyaan itu menunjukkan seberapa bodohnya jika Kai dalam keadaan panik. Dia selalu tidak bisa berpikir dengan tenang dan cenderung menanyakan hal yang sama berulang-ulang.


"Tidak perlu, paling hanya magh saja." Yoo Ran menyela ditengah keadaan menahan rasa sakitnya.


"Ayo, ke dokter." Saat mengatakannya, Kai sudah jongkok di depan Yoo Ran dan siap memberikan punggungnya untuk Yoo Ran.


Yoo Ran yang risih dengan tindakan berlebihan Kai, menoleh kearah temannya sebelum berkata, "Jen, bantu aku berdiri."


Dengan begitu, Kai tertinggal dibelakang dengan posisi masih jongkok di lantai.


.


.


Itu benar-benar hanya masalah lambung. Yoo Ran tidak mengatur pola makannya, dan dia juga melewatkan waktu sarapan pagi ini dan malah mengkonsumsi kopi. Tentu saja itu akan menimbulkan reaksi penolakan di lambung. Tidak heran kalau Yoo Ran merasa perutnya begitu sakit sampai-sampai dia mau pingsan.


"Dengar, ibumu sudah mempercayakanmu padaku. Jadi kenapa kau tidak tinggal saja di rumah sakit sampai sembuh?"


Yoo Ran mendengus geli dan sengaja tidak menanggapi omongannya. Dia berpikir, kalau sampai orang tua yang lain begitu mempercayakan anaknya kepada Kai, mungkin ibu-ibu itu sudah mendapatkan begitu banyak cucu.


"Oke. Aku terima kalau kau tidak mau di rawat inap. Tapi kenapa kita harus ketempatnya Chanyeol? bukankah seharusnya kau pulang ke rumah?"


"Tempat Chanyeol lebih dekat dari tempatku." Yoo Ran sengaja beralasan. Dia hanya tidak mau kalau tiba dirumah nanti, Sehun menemukannya ada di rumah.


"Tapi ini berlawanan arah dengan rumahmu," Kai mengeluh.


"Hei, kenapa lagi kalian?" Chanyeol yang ada di dekat pintu segera menyambut dengan sebuah tanda tanya besar. Dia ingin bertanya alasan keduanya datang saat jam kerja tapi perdebatan yang ia dengar sepertinya lebih menarik.


"Coba kau nasehati dia. Kalau sakit sebaiknya istirahat dirumah bukannya keluyuran." Kai yang menyerah dengan sifat keras kepala Yoo Ran meminta bala bantuan.


"Kau sakit?" tanya Chanyeol.


"Perutku hanya sakit sedikit, jangan berlebihan." Kalimat itu ditujukan untuk Kai. Kemudian dia melihat Chanyeol yang masih menunggu sebuah penjelasan. Yoo Ran berkata dengan nada yang begitu tenang, "aku baik-baik saja. sepertinya hanya butuh tidur setelah minum obat. Aku pinjam kamarmu sebentar."


Setelah mengatakan itu, bahkan sebelum Chanyeol memberikan ijin, Yoo Ran sudah lebih dulu pergi menuju ruang belakang.


Kai yang ingin menyusul ditahan Chanyeol, dia meminta Kai menjelaskan apa yang terjadi karena Yoo Ran terlihat seperti tidak mau menjelaskan apapun.


.


.


Waktu berjalan begitu cepat. Dia hanya tidur sebentar dan begitu dia bangun untuk mengecek jam, itu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Yoo Ran bangun dalam kondisi tubuh yang lebih baik dari sebelumnya. Meskipun dia kehilangan begitu banyak tenaga karena kurangnya energy, dia masih memaksakan diri untuk berdiri dan keluar dari kamar.


Kai dan Chanyeol terlihat duduk menempati meja restoran yang sudah tutup. Kursi-kursi di tata dengan rapi, hanya meja yang di tempati Chanyeol dan Kai saja yang begitu berantakan karena botol Bir dan cemilan yang memenuhi meja.


Yoo Ran langsung mengambil Bir yang di pegang Kai, hampir meminumnya kalau Kai tidak menahan lalu menjauhkan minuman itu dan mengomel habis-habisan. Tapi omelan Kai hanya seperti angin lalu, karena Yoo Ran masih bisa duduk dengan santai dan menyantap cemilan yang ada di atas meja.


Chanyeol yang duduk di samping Yoo Ran terlihat lebih tenang, tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Sahabatnya terlihat seperti orang depresi tapi Chanyeol menahan diri untuk bertanya apa masalahnya.


"Mau kubuatkan makan malam?" tanya Chanyeol.


"Ya, tolong. Aku ingin makan yang pedas-pedas."


"Yaa! Kau baru saja keluar dari rumah sakit karena masalah lambung. Masih berani makan makanan pedas? Mau mati?"


Yoo Ran cemberut dan menunjukkan wajah sedihnya kepada Chanyeol. Dia berkata, "Chan, perlakukan aku dengan baik dimasa depan. Kau satu-satunya teman terbaikku."


Kai mendengus jengkel. "Cih! Omong kosong!"


Chanyeol meninggalkan jejak senyum di wajahnya lalu pergi menuju dapur untuk membuat makan malam.


Yoo Ran yang ditinggal masih bertahan dengan cemilan, diam-diam mengambil botol Bir, tapi reaksi Kai lebih cepat dari yang Yoo Ran duga. Pria itu bahkan memukul pergelangan tangan Yoo Ran karena bandel.


"Aku harus bagaimana lagi? Rasanya aku ingin mati tapi aku tidak mau mati dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Aku hanya ingin minum sebentar karena itu bisa sedikit menghiburku, kenapa kau pelit sekali."


Kai menatap Yoo Ran yang merajuk. "Ada apa denganmu hari ini, huh? Kau tidak terlihat seperti ini kemarin. Kalau ada masalah katakan kepada kami. Kau pikir kami hanya ada saat kau senang saja?"


Karena desakan itu pada akhirnya Yoo Ran mengatakannya kepada Kai, tapi Yoo Ran tidak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Dia memulai cerita dengan mengatakan menyukai tetangganya —Sehun— dan berkencan dengannya sebagai ganti dari kejadian dia sudah tidur dengan tetangganya itu. Dengan begitu dia tidak akan merasa rendah di depan temannya. Dengan begitu juga, Sehun akan selamat dari amukan temannya. Dan pokok penting dari masalah ini adalah Sehun sudah menikah, itu menurut obrolan yang Yoo Ran dengar.


"APA DIA SUDAH GILA? MAU CARI MATI? BOSAN HIDUP? WUAH... AKU TIDAK PERCAYA DIA SEBRENGSEK ITU! YAA!! PUTUSKAN DIA! SEKARANG JUGA PUTUSKAN! DETIK INI JUGA! WUAH... KEPARAT ITU MINTA DIHAJAR RUPANYA."


Kalimat Kai yang lantang membuat Chanyeol muncul dari dapur karena terkejut mendengar teriakan. Dia hanya mendengarkan umpatan Kai tanpa diberi kesempatan untuk mendengarkan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi.


.


.


Kejadian di restoran Chanyeol membuat Yoo Ran semakin kelelahan. Dia merasa kondisi kesehatannya semakin menurun karena itu dia menolak Chanyeol dan Kai mengantarnya pulang, kalau dia sampai membiarkannya keributan seperti itu tidak akan pernah berakhir.


Pintu rumahnya berhasil terbuka, bersamaan dengan itu, tetangganya tiba-tiba keluar dari rumah seolah sudah menunggunya datang.


Yoo Ran tidak terlihat terkejut. Dia melihat wajah Sehun yang begitu gelisah. Tebakan Yoo Ran, dalam perjalanannya pulang, Kai sudah melabrak Sehun melalui telpon.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Sehun. Dia masih menjaga jarak, terlihat begitu hati-hati agar Yoo Ran tidak begitu saja melarikan diri.


"Nanti. Nanti saja, aku butuh istirahat."


Sehun tidak begitu saja mengalah. Adakalanya dia orang yang begitu egois dan keras kepala. Dia berjalan mengikuti Yoo Ran yang masuk ke dalam rumah dan memutuskan untuk melanggar privasi meskipun ada tanda penolakan jelas dari ekspresi Yoo Ran.


"Sekarang, karena aku yakin kau akan melarikan diri lagi besok."


Karena Sehun begitu memaksakan diri dan Yoo Ran merasa harus menyelesaikan semua ini, dia akhirnya membiarkan Sehun masuk. Menempati sofa di ruang tamu dan memberinya segelas jus jeruk sebelum duduk dalam jarak sejauh mungkin.


"Ada apa?"


"Kau pasti bisa menebaknya." Kali ini Sehun tidak berbasa-basi. Dia berpikir kalau Yoo Ran cukup pintar untuk menebak maksud dari kedatangannya. "Aku sudah mendengarnya dari Kai."


"Kalau begitu langsung ke intinya saja. kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah punya istri?"


"Istri? Siapa yang mengatakan padamu kalau aku sudah memiliki istri?"


"Aku mendengarnya langsung dari ibumu."


Sehun tersenyum. "Ini salah paham. Aku belum menikah."


Yoo Ran tidak langsung membalas, dia berpikir, mencermati baik-baik ekspresi Sehun yang mungkin saja berbohong. Sehun mengatakan belum menikah, bukan berarti Sehun belum memiliki seorang wanita di sisinya dan mungkin saja wanita itu adalah wanitanya. Jadi meskipun Sehun belum mengatakan belum menikah, Yoo Ran tetap merasa sudah menjadi pihak ketiga.


"Kau mungkin belum menikah. Tapi kau pasti sudah memiliki rencana untuk menikah dengannya."


"Rencana itu di buat oleh ibuku dan orangtuanya. Aku sama sekali tidak berpikir untuk menikah dengannya."


"Sejak kapan?"


"Sejak kapan apanya?"


"Sejak kapan kau berpikir untuk tidak menikah dengannya." Karena kalau Sehun mengatakan sejak mereka tidur bersama, Yoo Ran semakin yakin untuk menendang Sehun keluar dari kehidupannya.


"Sejak awal. Sejak pertama Ibuku memiliki ide itu. Sejak aku lulus SMA."


Yoo Ran kembali diam dan berpikir. Itu artinya jauh sebelum dia mengenal Sehun. itu jauh sebelum pertemuannya secara tidak sengaja dengan Sehun. Jadi bukan salah Yoo Ran kalau suatu hari nanti Sehun menolak keras rencana pernikahan itu, karena memang sudah sejak awal Sehun tidak menyukai wanita itu.


Ketika Yoo Ran sadar dari lamunan, Sehun yang sudah pindah tempat di sebelahnya berkata, "Aku sebenarnya ingin mengatakannya dari awal. Tapi kau pernah bilang bahwa kau tidak memiliki rencanan atau bahkan berpikir untuk menikah. Jadi aku memutuskan untuk bertindak dengan hati-hati, termasuk permasalahan yang terjadi di keluargaku. Tapi kabar itu sudah lebih dulu kau dengar. Yoo Ran, kalau kau berpikir aku hanya ingin main-main denganmu, aku tidak akan sampai sejauh ini."


Yoo Ran menarik tangannya yang entah sejak kapan tiba-tiba saja sudah berada di genggaman Sehun.


"Aku tidak tahu," kata Yoo Ran. Dia benar-benar tidak tahu apa yang dia inginkan. Dia memang menyukai Sehun tapi tidak berpikir untuk menikahinya.


"Apa yang kau tidak tahu?"


Pertanyaan itu menyudutkan Yoo Ran yang tidak tahu harus menjawab apa.


Sehun menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan. "Bagaiama kalau kita coba dulu selama 3 bulan? Atau 1 bulan, aku rasa itu sudah cukup. Lakukan seperti apa yang sudah pernah kita lakukan, bertemu, makan, jalan-jalan, dan coba lihat apakah kau bisa berubah pikiran. Bagaimana?"


"..."


"Kau tidak perlu memikirkannya terlalu serius. Ini hanya 1 bulan. Kita bertemu seperti biasanya. Oke? Hm?"


Yoo Ran menatap Sehun yang masih menunggu jawaban. Dia pikir tidak ada salahnya mencoba. Ini bisa dikatakan sebagai rencana kencan selama 1 bulan. Lihat apakah Sehun benar-benar tulus dengan perasaannya, atau apakah dia sendiri serius dengan perasaannya kepada Sehun.


Yoo Ran mengangguk dan menyetujui rencana itu yang di balas dengan sebuah senyuman hangat dari Sehun. Yoo Ran juga menerima sedikit sentuhan jari di pipi sebelum sebuah kecupan dari bibir Sehun menghangatkan pipinya.


.


.


.


TBC