Between

Between
Bab 68 Life Must Go On



Lana meletakkan ponselnya dengan kesal. Membaca pesan dari Ethan untuk yg kesekian kalinya hari ini. Dan lelaki itu masih saja memanggilnya beiby atau by. Bikin badmood saja. Karena selain Lana merasa dijebak dan sama sekali tidak ada keinginan berpacaran dengan Ethan, panggilan beiby atau by adalah panggilan sayang Ethan saat mereka pacaran lima tahun lalu. Mengingat-ingat masa itu di situasi sekarang sangatlah tidak menyenangkan.


Lana melirik tulisan 'Kalau kamu ada waktu kapan saja, aku ingin sekali bertemu. Oia selamat bekerja ya by' di layar ponselnya.


Lana menghela nafas panjang. Memang sejak malam aneh pernyataan cinta itu, ia dan Ethan belum pernah bertemu lagi. Malam itu Ethan hanya berisik menggoda Lana sepanjang jalan saat mengantar gadis itu pulang. Lalu tanpa pamit, Lana buru-buru naik tangga masuk ke kamarnya dengan tidak menoleh ke belakang sedikitpun.


Dan sekarang sudah satu minggu berlalu. Ethan tidak pernah menelepon atau meminta video call, laki-laki itu hanya mengirim pesan berisi pertanyaan membosankan sedang apa, sudah makan dan kata-kata selamat tidur, selamat pagi.


Awal Lana kepikiran untuk memblokir nomor Ethan, tapi tangannya mendadak berhenti dan dia mengurungkan niatnya itu. Entah kenapa.


Mungkin itu sebagai bentuk ucapan terimakasih dari Lana karena berkat Ethan lah kini suasana di tempat kerja Lana terasa lebih baik dari sebelumnya.


Sudah tidak ada lagi bisik-bisik yg mengganggu. Rumor tentang Lana dan CEO MT Corporation perlahan memudar. Mungkin masih ada beberapa yg bergosip tapi itu tentang hubungan Lana dengan CEO PT. NaThan yg mendadak terungkap secara tidak sengaja. Lana tidak memberitahu pada siapapun kalau itu hanya kebohongan. Biarlah orang-orang mengira dia benar-benar pacaran dengan Ethan. Agar tidak ada lagi yg mengait-ngaitkan dirinya dengan Kyoya.


Di sisi lain, memudarnya rumor Lana sebagai gadis di berita skandal viral itu juga karena kemunculan sosok Nakayama Hana. Gadis cantik itu terang-terangan mengakui dan mendeklarasikan diri sebagai calon istri Koijima Kyoya.


Kini hampir seluruh warga di negara ini mengenal sosok Nakayama Hana yg sebelumnya bahkan tidak pernah muncul di televisi. Berbagai berita tentang sosok Hana, mulai dari profil keluarga, pendidikan, prestasi sampai awal mula dugaan kedekatan dirinya dengan Kyoya dikupas tuntas.


Nakayama Hana telah menjelma menjadi seleb paling diminati dan dicari. Foto gadis itu, mulai dari yg candid sendirian sampai berpose untuk wartawan bertebaran di sosial media. Kecantikan alami nya sangat dipuji, attitude nya juga bagus. Meski belum lancar berbicara bahasa negara ini, tapi Hana sangat sopan dan ramah pada siapapun.


Lana diam-diam memperhatikan foto candid Kyoya dan Hana yg hendak masuk ke dalam mobil. Hana tampak tersenyum, Kyoya tengah menundukkan badan hendak masuk ke mobil. Foto itu diambil setelah acara jumpa pers, dan menjadi foto satu-satunya yg memperlihatkan sosok Kyoya dan Hana bersama-sama selain di ruangan pers conference.


Mereka tampak serasi, batin Lana.


Reaksi orang-orang pada calon istri Kyoya itu sangat lah positif, mereka mendukung hubungan Kyoya-Hana. Lana mengakui, setelah mengetahui latar belakang keluarga, pendidikan dan prestasi Hana, gadis itu sangat lah pantas berada di sisi Kyoya. Lana diterpa perasaan rendah diri yg teramat besar jika dibandingkan dengan sosok Hana. Meski begitu, tiap kali melihat gadis itu bersama Kyoya muncul di berita, Lana tidak bisa menampik masih ada secuil rasa nyeri di hatinya.


Tapi dengan begini, kehidupan yg baru telah dimulai. Sejujurnya Lana kini merasa lebih damai dan tenang. Dia benar-benar menjalani hidupnya yg normal dan seharusnya. Bukan lagi kehidupan Cinderella dengan beban berat dan alur rumit.


Lana, karyawan biasa, sudah tidak ada hubungan dan ikatan apapun lagi dengan orang-orang yg levelnya berada jauh diatas dirinya. Jenjang perbedaan itu kini nyata.


Ya, life must go on..


...***...


Lana sedang berdiri di depan rumahnya, menunggu seseorang datang. Lana memakai celana kain warna krem dan blus panjang sepaha warna senada, tas kecil di bahu dan ponsel ditangan. Hari ini hari minggu, pukul empat sore. Cuaca yg bagus dan cerah.


"Lana!" Suara wanita memanggil dari kejauhan. Tampak Cika berlari mendekat sambil membawa kantung plastik putih. Melihat kehadiran sahabatnya itu, Lana tiba-tiba merasa was-was dan khawatir. Lana berusaha menutupinya dengan tersenyum ramah.


"Hai Cik, tumben hari minggu ke sini ada apa?" tanya Lana basa basi. Ia hafal jadwal berkencan sahabatnya itu, makanya Lana heran mengapa Cika datang kerumahnya.


Cika berhenti di depan Lana, "Aah aku sudah jauh-jauh ke sini jalan kaki, kau sepertinya mau pergi ya?" Bibir Cika mengerucut. Lalu tanpa menunggu Lana menjawab, Cika langsung nyerocos, "Padahal aku lagi bosan nih. Pengen curhat. Kenapa ya Marco akhir-akhir ini rasanya kurang greget? Boring, gak handsome lagi. Kayak aku udah gak tertarik lagi gitu sama dia."


Lana tersenyum simpul. Lalu memasang wajah menyesal. "Maaf aku sudah ada janji Cika." Lana tiba-tiba mendapat ide lain. "Atau gimana kalau nanti malam kamu nginap aja jadi bisa cerita sepuas-puasnya?"


Lana mengatupkan kedua tangan di depan dada, minta maaf. "Kalau kamu menelepon sebelumnya, aku bisa membatalkan janji hari ini. Salahmu tidak mengabariku dulu. Maaf ya."


Cika cemberut lagi. "Kamu ada janji dengan siapa sih? Kamu kan gak punya pacar."


Detik berikutnya sebuah mobil putih berhenti tepat di depan mereka. Sebelum mulut Lana bicara, pintu pengemudi terbuka dan keluarlah seorang pria.


Cika yg sedang mengamati mobil siapa itu, ternganga ketika melihat wajah sosok laki-laki itu. Detik berikutnya ekspresi Cika gelap, murka.


Dengan langkah lebar dan tegap, Cika berderap menghampiri pria itu dan tanpa disangka melayangkan pukulan bertubi-tubi ke segala arah yg bisa dicapainya.


"Heh brengsek, ngapain kau di sini? Berani-beraninya kau menginjakkan kaki, menunjukkan wajah bajingan mu ini ke Lana? Dasar tidak tahu malu! Cepat pergi sana! Sebelum aku menelepon polisi, cepat pergi dasar laki-laki brengsek!!" Cika mengumpat habis-habisan.


Laki-laki itu yg adalah Ethan hanya bisa menahan serangan brutal itu dengan terbata-bata berusaha menjelaskan. Tapi sangat wajar Cika bereaksi semarah ini. Sebagai sahabat Lana sejak dulu, Cika tahu perbuatan biadab apa yg telah Ethan lakukan pada Lana. Karena itu Ethan tidak bisa menyangkal pukulan dan makian ini memang pantas diterimanya.


"Cika, hentikan! Aku yang menyuruhnya ke sini, orang yg punya janji denganku hari ini adalah Ethan!" pekik Lana sambil berusaha menarik Cika mundur.


Gerakan Cika terhenti, dia menoleh heran ke arah Lana yg terengah. Sorot mata Cika tajam, alisnya mengernyit.


"Apa kau bilang tadi? Aku tidak salah dengar kan Lana?" tanya Cika dengan nada menusuk.


Lana menelan ludah. Lalu menjawab hati-hati, "Orang yg kutunggu adalah Ethan, Cika. Aku ada janji keluar dengannya."


Mata Cika membelalak, lalu dengan gusar dia menunjuk Ethan. "Apa kau lupa apa yg sudah dia lakukan padamu, Lana? Lima tahun lalu kamu bahkan mempertaruhkan nyawamu, sedangkan dia? Dimana si pecundang ini bersembunyi?!" jerit Cika sambil menghunuskan jarinya bagai pedang ke wajah Ethan.


"Kamu hampir mati, Lana, kamu ingat kan? Dan laki-laki brengsek ini penyebabnya." Cika mulai terisak. "Kenapa kamu memaafkannya, aku saja tidak akan pernah bisa melihat wajahnya lagi, kenapa Lana?"


Lana memeluk sahabatnya itu, airmata juga menggenang di pelupuk matanya. Dia menepuk-nepuk punggung Cika, berbisik, "Aku belum memaafkannya Cika, kami bertemu karena ada beberapa hal yg perlu diluruskan."


Cika mendadak melepas pelukan dan bertanya tegas, "Apa hubungan kalian? Kenapa kalian bisa saling bertemu? Mengapa aku baru tahu kalau Ethan ada di kota ini? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku Lana?"


Lana menggeleng, "Aku akan menceritakan semuanya saat aku pulang, aku janji." Lana memeluk Cika lagi sekilas, berharap pelukan singkat itu bisa menggantikan kata maaf dan perasaan bersalah yg menderanya.


"Ethan, ayo kita pergi." Lana berjalan melewati Ethan dan masuk ke mobil di sisi kiri. Sebelum Ethan sempat membukakan pintu mobil untuknya.


Cika yg shyok hanya terdiam terpaku. Sorot matanya terluka. Ethan mengendikkan kepala dan tersenyum samar pada Cika, lalu bergegas masuk mobil.


Mobil putih itu pun melaju.


...***...