Between

Between
Bab 85 Di Balik Pintu



"Sedang apa kamu disini, Lana?"


Lana tercekat, suara itu sangat familiar. Bahkan baru kemarin malam ia mendengar suara itu.


Gawat, bagaimana ini..


Ragu-ragu Lana berbalik dan mendapati Kyoya sedang menatapnya dengan wajah heran.


Ya, ada urusan apa sampai bawahan rendahan seperti Lana berada di lantai dewan direksi.


"Mm.. Itu, begini pak.." Lana terbata-bata menjawab. Dia benar-benar gugup.


Sosok Kyoya semalam maupun sekarang sama-sama mempesona dan menghipnosis jiwa raga Lana.


Melihat reaksi Lana, bibir Kyoya tertarik ke atas.


Kyoya melihat map hitam di tangan Lana dan meja sekretarisnya yg kosong, ia langsung paham situasinya.


Menyadari Mia, sekretarisnya sebentar lagi bisa saja kembali, Kyoya bergerak mendekati Lana.


Laki-laki itu memegang bahu Lana dan memutarnya menghadap ke pintu.


"Pak? A-apa yg anda lakukan?"


Lana bingung Kyoya berdiri di belakangnya lalu mendorongnya untuk bergerak maju.


Dengan tangan kirinya yg panjang, Kyoya dengan mudah membukakan pintu. Lalu mendorong Lana masuk.


Lana kini terjebak di dalam ruangan sang CEO. Ia mendekap map hitam itu erat-erat didadanya. Mulai panik.


Apa ini? Kenapa Kyoya melakukan hal ini?


Mereka berdiri berhadapan di balik pintu.


Kyoya menyunggingkan senyum. Lana menggigiti bibirnya, cemas.


"Sudah kubilang kan, jangan menggigit bibirmu." Kyoya memperingatkan.


Lana tersadar, tidak lagi menggigit bibir. Dia memandangi kenop pintu, berusaha memikirkan bagaimana caranya untuk kabur.


"Jangan coba-coba kabur." Kyoya seperti bisa membaca pikiran Lana. Lana mengernyit kesal.


"Pak, apa yg anda lakukan? Saya masih punya banyak pekerjaan yg belum diselesaikan." Lana memberanikan menatap mata Kyoya.


Kyoya tertawa kecil. "Maaf, tadi aku hanya bermain-main saja. Kamu marah?" tanyanya dengan sorot jenaka, berbinar seperti mata anak kecil.


Lana heran, apa Kyoya hari ini sedang dalam mood bagus? Kenapa laki-laki ini memperlakukannya seperti dulu saat mereka masih menjadi kekasih?


Seharusnya laki-laki ini bersikap serius, killer dan dingin seperti yg biasa dia lakukan jika bertemu karyawan lain.


Lana jadi penasaran.


"Pak, saya adalah karyawan anda. Mengapa anda bermain-main seperti ini dengan karyawan anda di kantor?"


Kyoya pura-pura terkejut. "Ah benar, aku lupa. Sedetik lalu kukira kamu adalah kekasihku yg datang karena ingin mengajakku makan siang bersama."


Lana menunjuk cincin di jari manis Kyoya. "Tidak lucu." Gadis itu cemberut.


Kyoya tersenyum samar. "Bagaimana semalam? Apa pacarmu masih marah?" godanya lagi.


Lana refleks memukul lengan Kyoya pelan. "Dia bukan pacarku."


Kyoya menatap Lana menuntut. "Lalu apa?"


Lana mengerjap, "Sudah kubilang itu bukan urusan anda kan pak."


Lana menyodorkan map hitam, "Saya kemari untuk menyerahkan ini."


Mata Kyoya memperhatikan di balik punggung Lana, kenop pintu bergerak turun ke bawah.


"Saya pergi-mmh-"


Tiba-tiba Kyoya membekap mulut Lana. Menarik gadis itu sampai menabrak dinding.


Kyoya memeluk Lana erat. Keduanya menempel tegak di dinding.


Tak disangka, detik berikutnya daun pintu itu mengayun terbuka. Mata Lana terbelalak.


Terdengar suara gaduh dua orang wanita di ambang pintu.


(Percakapan ini memakai bahasa Inggris)


"Dimana Kyoya?"


"Maaf nona Hana, tapi anda tidak boleh sembarangan masuk ke ruangan Pak Koijima."


Di balik pintu, bola mata Lana semakin membelalak.


Hana??


Lana membatin, jadi ini suara Hana dan.. sepertinya Mia, sekretaris Kyoya.


"Apa dia sedang rapat? Dimana ruang rapatnya? Aku ingin bertemu dengannya."


"Maaf nona Hana, saya akan teleponkan Pak Koijima dulu. Mohon anda keluar dahulu, anda bisa menunggu di kursi di sebelah sin-"


"Aku hanya ingin bertemu tunanganku, apa susahnya sih?! Aku sudah bertanya baik-baik ya, jangan sampai aku mengadu pada Kyoya tentang cara kerjamu yg seperti ini."


"Maafkan saya nona."


Lana menahan nafas. Gila, situasi saat ini benar-benar gawat. Bagaimana kalau kedua wanita itu tahu ada siapa di balik pintu ini. Bisa-bisa gempar seluruh dunia dan jagad raya serta seisinya.


Hana terdengar berusaha menahan kesal. "Kalau begitu cepat katakan, dimana Kyoya?"


Lana menelan ludah susah payah. Laki-laki yg dicari oleh Hana ada disini, dibalik pintu menempel erat bersamanya.


Mata Lana bergerak naik ke dada bidang yg dibalut jas hitam dan dasi biru tua. Lalu naik lagi, wajah Lana sangat dekat hingga hampir menyentuh bibir Kyoya yg terkatup rapat. Lana mendongak, mata mereka bertemu.


Kyoya pelan-pelan melepaskan bekapannya. Lana bahkan baru sadar kalau sejak tadi tangan laki-laki itu menempel di bibirnya.


Mia membungkuk lagi untuk meminta maaf. "Maaf nona Hana, Pak Koijima satu jam lalu pergi keluar untuk menemui klien dari Rusia."


"Bagaimana ini?" Mulut Lana bergerak tanpa suara. Matanya bersinar panik.


Kyoya tersenyum menenangkan. Lengan laki-laki itu semakin erat memeluk Lana.


Lana cemberut. Bisa-bisanya laki-laki itu malah aji mumpung.


"Dimana Roger, apa dia yg mengantar Kyoya?"


Si sekretaris lagi-lagi membungkuk. "Maaf nona, Pak Roger sejak pagi keluar karena instruksi dari Pak Koijima."


"Ck, menyebalkan." Hana berkata dalam bahasa jepang agar si sekretaris tidak mengerti.


Di balik pintu, kepala Kyoya menunduk ke dekat telinga Lana, berbisik. "Sudah kubilang jangan gigit bibirmu."


Lana mendelik kesal. Lalu bicara tanpa suara lagi, "Ini situasi gawat. Jangan bercanda."


"Kalau begitu pergilah. Aku akan menelepon Kyoya. Akan kutunggu disini." Hana hendak masuk ke ruangan.


Lana langsung mengernyit panik. Tanpa sadar ia menempelkan tubuhnya semakin erat ke tubuh Kyoya.


Laki-laki itu menahan nafas, tampak berusaha menenangkan diri dan mengalihkan pikiran dari apapun yg sedang melintas di benaknya saat ini.


Syukurlah Mia menahan Hana.


"Maaf nona, saya mohon anda jangan masuk. Pak Koijima berpesan untuk tidak membiarkan sembarangan orang masuk tanpa ijin dari beliau."


Hana tertawa mencela, "Tapi aku kan bukan sembarangan orang. Aku tunangannya." Hana melangkah hendak masuk lagi.


Lana refleks menempelkan tubuhnya semakin erat. Kini keduanya melekat hanya dibatasi map hitam tipis di dada Lana.


Kyoya memejamkan mata, memohon dalam hati, Lana please, berhentilah bergerak.


Mia tetap membungkuk, suaranya terdengar meminta dengan memelas. "Saya mohon nona."


Sepatu Hana terhenti.


Gadis itu bicara lagi, suaranya tepat di balik pintu dibelakang kepala Lana. "Kalau begitu biar aku menelepon Kyoya, mari kita dengarkan pendapatnya. Aku boleh masuk atau tidak." Hana mengeluarkan ponsel.


Tiba-tiba sesuatu terasa bergerak di dekat paha Lana. Mata gadis itu turun ke bawah, melihat jemari Kyoya masuk ke dalam saku celananya. Tampak sedang menekan sesuatu. Terdengar bunyi pip pelan.


Tuuttt..


Terdengar suara nada dering dari ponsel Hana di balik pintu. Lalu..


'Nomor yg anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar area. Silakan menghubungi kembali.'


Hana berdecak kesal. "Tidak biasanya Kyoya tidak bisa dihubungi." Hana memasukkan lagi ponsel ke tas kecilnya yg diselempangkan di bahu.


Bisa dibayangkan betapa ngerinya, kalau saja saat Hana menelepon tadi dering ponsel Kyoya terdengar dari balik pintu?


Lana yg sedang menunduk, merasakan sesuatu menonjol keras di antara kedua pahanya. Lana mengernyit heran, lalu detik berikutnya wajahnya memerah karena sadar benda apa itu.


Dengan malu-malu Lana mengangkat kepala untuk melihat reaksi Kyoya.


Sudut bibir laki-laki itu naik keatas, matanya bersinar menggoda. Astaga, bocah ini..


"Kenapa sih kau membuatnya jadi susah? Tinggal masuk saja, kenapa tidak boleh?" cerca Hana.


"Maaf nona, seperti yg sudah saya jelaskan tadi. Pak Koijima sudah berpesan kepada saya." Mia terdengar lelah berdebat dengan Hana.


Lana di balik pintu berusaha mundur agar benda keras itu tidak menyentuhnya lagi, tapi lengan Kyoya menahan tubuhnya.


Lana menatap laki-laki itu. Tiba-tiba dadanya bergemuruh oleh hasrat, ketakutan yg mencekam dan rasa penasaran.


Tanpa sadar Lana menggigit bibirnya.


Membuat Kyoya hilang kendali.


Laki-laki itu menunduk dan melu*mat habis bibir Lana. Lana bergerak panik namun lengan laki-laki itu menahannya kuat.


Hana melirik sekilas wajah si sekretaris yg tampak menyedihkan. Lalu dengan wajah terangkat, dia berkata, "Baiklah. Aku akan menunggu Kyoya di luar."


Mia, maupun Lana lega mendengarnya.


Dibalik pintu, dua wanita itu sama sekali tak tahu betapa Lana berusaha keras untuk tidak mengerang ataupun mendesah.


Lana gelagapan menyeimbangi ciuman Kyoya yg panas dan menuntut.


Laki-laki itu seperti ingin melahap habis bibirnya. Lidah Kyoya menelusup dan membelai. Bibirnya mengulum dan menggigit lembut. Mereka berciuman dengan liar.


"Ohya," Hana tiba-tiba bersuara.


Jantung Lana langsung berdegup kencang.


"Kau kenal seorang gadis yg bekerja di sini yg bernama Lana?"


Lana refleks memalingkan kepala hingga bibir mereka terlepas, ciuman panas itu terhenti.


Dia tidak salah dengar kan? Ada apa Hana mencarinya? Kenapa tunangan Kyoya bisa tahu namanya? Tidak mungkin ada Lana lain di gedung ini kan. Seingat Lana, hanya dia satu-satunya gadis yg biasa dipanggil Lana.


Kyoya mengecup pipi Lana, lalu dengan bibirnya ia membelai pelipis gadis itu dan menggigit pelan telinga Lana.


Gadis itu bergidik geli, wajahnya kembali menghadap Kyoya.


"Jika yg anda maksud Lana dari departemen PPIC, saya mengenalnya walaupun tidak begitu dekat." Jawaban Mia samar-samar bercampur dengan suara Kyoya di telinga Lana.


Kyoya menunduk untuk berbisik, "Katakan padaku, kau masih mencintaiku kan Lana? Katakan, kau ingin kita kembali bersama?"


Lana menatap manik mata Kyoya yg berkabut. Ingin sekali ia mengangguk. Pikirannya kacau, disituasi seperti ini, dengan musuh mengintai di belakang sementara pujaan hati menggoda di hadapan, siapa yg bisa berpikir jernih.


"Dimana aku bisa menemuinya?" tanya Hana.


Kyoya kembali berbisik, "Jika sekarang kau berkata ya, aku rela melakukan apa saja. Akan kuberikan apa saja. Jabatan, nama Koijima, semuanya rela kutinggalkan untukmu."


Lana tanpa sadar ternganga.


"Ruangan PPIC berada di lantai dua, sebelah kiri dari lift. Ada papan tandanya nona."


Jawaban Mia tak lagi bisa Lana dengar dengan jelas. Karena Kyoya memeluknya dengan sangat erat. Mereka berciuman panas lagi. Lana sampai kehabisan nafas.


"Kumohon Lana, katakan ya." Bibir Kyoya berbisik di sudut bibir Lana. Matanya memohon penuh harap.


"Kalau begitu jika Kyoya kembali, bilang padanya aku datang dan ingin bertemu dengannya." Hana berkata final.


Mia menjawab sopan, "Baik nona, akan saya sampaikan."


Tanpa curiga sedikitpun dengan apa yg ada di balik pintu, Hana berjalan melewati Mia lalu menuju lift.


Mia melayangkan pandang ke seluruh penjuru ruangan yg kosong, lalu meraih kenop pintu, menariknya sambil berjalan mundur untuk kemudian menutupnya rapat.


Bersamaan dengan bunyi klap pintu yg tertutup, Lana bergerak melepaskan diri.


Dia melangkah mundur. Kyoya menatapnya heran.


"Jangan." Lana menyahut. Ia menatap defensif.


"Tidak Kyoya." Lana menggeleng sedih.


"Aku tidak sebanding dengan itu semua. Aku yg rendah ini, tidak sebegitu berharganya dengan semua yg kau miliki sekarang."


Kyoya mendekat ingin memeluk sekali lagi tapi Lana menggeleng keras.


Ekspresi Kyoya berubah. Rahangnya mengeras, sorot matanya tampak terluka dan kecewa.


"Aku sudah memberimu kesempatan memilih." Kyoya menatap tajam Lana. "Kesempatan ini tidak akan datang lagi, kamu tahu kan?"


Lana meremas ujung map yg masih ia dekap. Tampak berusaha keras untuk mempertahankan akal sehatnya.


"Maaf Kyoya, situasinya tidak menguntungkan bagiku, terutama dirimu."


Setelah melihat wajah laki-laki itu untuk yg terakhir kalinya, Lana memutuskan berjalan ke pintu.


"Aku tidak mau kamu mengorbankan dirimu." Dengan memunggungi Kyoya, Lana berkata pelan, "Aku pergi."


Lana hendak meraih pegangan pintu, ketika tiba-tiba Kyoya menarik Lana agar menjauh dari sana.


Lana sudah kepedean bakal dipeluk lagi oleh Kyoya, ketika laki-laki itu merogoh saku celananya. Mengeluarkan dan menyalakan ulang ponselnya.


Lana mengedip malu.


Mereka berdiri berhadapan.


Selama menunggu ponsel itu menyala, Kyoya sama sekali tidak bicara apa-apa lagi dan sama sekali tidak menatap ke arah Lana.


Lana bertanya-tanya dalam hati, apa yg laki-laki itu lakukan?


Kyoya menekan nomor di layar lalu meletakkan ponsel itu di telinganya.


"Selamat siang Pak Koijima." Suara Mia si sekretaris terdengar dari sebrang telepon.


"Tolong ambilkan pesananku di lobi, sepertinya sudah sampai." Kyoya berkata.


Lana membekap mulut menyadari kebodohan yg hampir saja ia lakukan. Bagaimana mungkin dia lupa, hampir saja dia membuka pintu itu padahal ada Mia di meja sekretaris di depan?


Kyoya benar-benar cepat tanggap. Reaksi laki-laki itu mengagumkan. Pantas saja dia menjadi CEO di usianya yg semuda ini, dan menjadikan perusahaan yg ia pimpin peringkat nomor satu.


Benar, tidak mungkin Lana tega membiarkan semua kerja keras Kyoya hingga sampai di titik ini hancur hanya gara-gara Lana.


Terdengar suara Mia berkata 'Baik Pak Koijima. Oh iya pak, Nona Hana ada di kantor, sedang menunggu, ingin bertemu dengan anda.'


Kyoya menjawab dengan nada enggan, "Sebentar lagi aku akan kembali. Aku sendiri yg akan meneleponnya."


Lalu telepon ditutup. Kyoya menghitung dalam pikirannya hingga sepuluh.


Lana mengamati laki-laki didepannya yg hanya diam saja. Lana menunggu laki-laki itu memperbolehkannya keluar.


Dan benar saja,


"Kau boleh pergi." Kyoya berkata akhirnya.


Lana menelan ludah, kecewa. Ia membungkuk memberi hormat.


Lalu tanpa menoleh lagi Lana hendak membuka pintu, suara Kyoya terdengar.


"Kau lupa sesuatu, Lana."


Lana berbalik. Kyoya berdiri menatapnya, tangan laki-laki itu terjulur seperti menunggu Lana memberikan sesuatu.


Tidak mungkin Kyoya meminta Lana salim mencium tangannya kan? Atau Kyoya ingin Lana juga mengulurkan tangan lalu laki-laki itu akan menariknya ke pelukan?


"Map hitam."


Sebelum pikiran konyol Lana bergerilya kemana-mana, Kyoya dengan tegas menunjuk ke dada Lana.


Wajah Lana langsung memerah, dia sama sekali lupa.


Dengan terburu-buru Lana menyerahkan map itu ke tangan Kyoya. Lalu Lana membungkuk sekali lagi.


Lana cepat-cepat membuka pintu dan keluar untuk menyembunyikan wajahnya yg pasti sudah semerah kepiting rebus.


Kyoya meremas ujung map itu, menatap sosok Lana yg hilang di balik pintu.


...***...