
Masih flashback ke saat lima tahun lalu..
Cika mengusap-usap punggung Lana, mencoba menenangkannya. Tapi sahabatnya itu malah mulai menangis.
Barusan ibu pemilik kosan datang dan memberitahu kalau kamar nomor 14 sudah tiga hari lalu kosong, penghuninya tiba-tiba pindah. Entah karena apa dan pindah kemana, ibu kos menggeleng tidak tahu.
Lana semakin terpuruk, entah kemana lagi sekarang dia mencari sosok kekasihnya itu. Karena kamar 14 itu adalah kamar kosan Ethan.
Kemarin sore, Lana yg cemas karena tidak bisa menemukan sosok Ethan di kampus, menelepon Cika. Cika adalah sahabat Lana sejak kecil, yg kebetulan sama-sama berkuliah di kota Grandcity. Meski Lana diterima di Fortec University sedangkan Cika di Leberal University.
Di telepon, Cika mencoba menenangkan Lana yg panik. Cika berjanji akan menemani Lana ke kosan Ethan besok karena saat itu sudah hampir malam. Kosan Ethan cukup jauh dan berbeda arah dengan kosan kedua gadis itu.
Benar saja, feeling Lana yg terus saja terasa mengganjal terbukti telah terjadi sesuatu. Ethan pindah kosan tidak mengabari Lana.
Lana semakin curiga, ada apa sebenarnya dengan Ethan? Kenapa tiba-tiba laki-laki itu seperti menghindari Lana? Nomor nya sampai sekarang pun masih tidak aktif.
Lana berusaha menelan semua kekhawatiran, kebingungan dan ketidakjelasan ini hari demi hari, sangatlah berat.
Hingga seminggu tepat telah berlalu, Olin tampak berlari menghampiri Lana yg sedang menunduk sedih, duduk sendirian di bangku taman.
Lana sedang berbicara dengan Cika di telepon, Lana butuh penghiburan karena sudah seminggu kekasihnya menghilang tanpa kabar.
Lana tidak menyadari Olin sudah berdiri didepannya, Lana masih asyik merajuk pada Cika kenapa Ethan menghilang, kapan ia bisa bertemu kekasihnya itu lagi.
"Ethan juga gak ngabari kamu?" sahut Olin tiba-tiba.
Mendengar suara cewek, Lana mendongak, kaget bukan kepalang tahu Olin berdiri di depannya dengan alis mengernyit.
Lana berbisik pada Cika nanti akan menelepon lagi lalu segera mematikan ponselnya. Lana mengerjap, hatinya dag dig dug menebak-nebak apa Olin mendengar pembicaraannya barusan dengan Cika? Sejak kapan dia berdiri disitu, dia sudah mendengar seberapa banyak?
"B-barusan aku wa an sama Ethan kok. Yg kamu dengar tadi itu cuma salah paham." Lana mencoba ngeles.
"Berarti kamu pasti tahu kan kalau Ethan drop out kuliah?" Olin bertanya dengan mata menyelidik.
Lana refleks bangun dari kursi.
"Apa? Drop out? Ethan??" seru Lana tak percaya.
Olin jadi bingung. "Jadi kamu gak tahu? Beneran gak tahu?"
Lana menggeleng, berusaha keras menelan ludah. "Kenapa Ethan di drop out? Dia kan mahasiswa berprestasi." tanyanya tercekat.
Olin angkat bahu. "Mana kutahu. Kan kamu pacarnya. Katamu barusan wa an sama Ethan. Masa sih Ethan nggak bilang apa-apa." sindir Olin.
Lana diam saja. Olin pasti tahu Lana barusan berbohong.
"Ini anak-anak lagi rame. Mereka sebenarnya pada curiga Ethan gak masuk kelas berhari-hari. Gak nongol di kampus sama sekali."
Olin menambahkan, "Tadi Siska ke bagian administrasi, tanya tentang Ethan. Kata pegawainya, Ethan udah ngajuin berhenti kuliah seminggu lalu."
Lana membelalak. Seminggu lalu?
"Alasan kenapa Ethan berhenti kuliah gak ada yg tahu, pegawai itu gak mau kasih tahu karena privat. Kira-kira kenapa ya?" Olin memperhatikan Lana, gadis itu kelihatan syok, sama-sama terkejut. Malah tampaknya Lana amat sangat terkejut, padahal dia kan kekasih Ethan. Kok bisa malah gak tahu sih.
"Tadinya aku kesini mau tanya sama kamu. Tapi sepertinya kamu juga baru tahu ya?" Nada bicara Olin terdengar mencela.
Lana tak tahu harus menjawab apa. Dia masih syok mengetahui Ethan drop out kuliah.
Olin menepuk pundak Lana sok akrab, lalu berkata dengan nada iba, "Kamu baik-baik saja kan sama Ethan? Kalian gak kenapa-napa kan?"
Detik itu, Lana tak lagi kuat menahan airmatanya. Matanya sudah tergenang sejak ia mendengar kabar tentang Ethan.
Lana menangis tersedu-sedu, rasanya seperti ia kehilangan separuh bagian organ yg paling penting ditubuhnya. Sangat sedih, sangat kesal, sangat marah, sangat sakit, semua bercampur jadi satu lalu keluar berupa air terjun mengalir di pipi Lana.
Olin terkejut. Mau tak mau ia memeluk Lana setengah hati, meski begitu ia menepuk-nepuk punggung gadis itu lembut.
Lana ingin berhenti menangis, tapi entahlah airmata itu terus saja berjatuhan. Dia mengutuki kebodohannya. Kenapa di depan Olin. Siap-siap saja setelah ini Lana akan jadi bahan gosip. Sungguh memalukan.
...***...
Sudah hampir dua bulan berlalu, Lana menjalani hari-harinya di kampus dengan perasaan hampa dan lesu.
Benar saja, Lana yg menangis tersedu-sedu di pelukan Olin, bagai ada keluarga Lana yg meninggal mendadak, menjadi gosip panas selama dua minggu penuh. Gosip berkembang menjadi Lana menangis histeris karena diputusin Ethan, gara-gara Lana lah Ethan drop out, lalu yg paling parah gosip Lana ketahuan selingkuh dengan ketua BEM, Ethan sakit hati sampai memilih drop out.
Seperti Joko, teman sekelas Ethan. Joko sama-sama anak BEM, jadi lumayan akrab dengan Lana. Di hari cerah namun tampak mendung setiap harinya bagi Lana, Joko mendatangi Lana. Lana sedang duduk di ruangan BEM, setelah rapat selesai, menunduk sibuk mencoret-coret notesnya sambil melamun.
"Lana, maaf kalau aku tiba-tiba berkata begini padamu." Joko tampak berhati-hati, takut menyinggung Lana. Lana hanya mengerjap, wajahnya terlihat sekali lesu dan sedih.
Joko melanjutkan, "Aku tahu dimana rumah Ethan.." Joko mengamati wajah Lana yg berubah bingung. "..kalau kamu mau, aku bisa mengantarkanmu ke sana. Mungkin saja kamu bisa bertemu Ethan-"
Lana langsung bangkit dengan gedubrakan saking semangatnya. Wajah Lana langsung sumringah. Dia mengangguk lalu cepat-cepat membereskan barang-barangnya. Mendadak angin harapan bertiup menerpa Lana, membuatnya ceria dan bersemangat. Mungkin saja dengan begini dia bisa bertemu Ethan lagi.
Sambil berjalan menuju halte, Lana dan Joko mengobrol.
"Kok kamu bisa gak tahu rumah Ethan? Kalian kan sudah lama pacaran." tanya Joko.
Lana menghela nafas panjang, "Aku sudah berulang kali tanya, yah berharap diajak gitu main-main kesana, dikenalin ke keluarganya. Tapi Ethan gak pernah mau. Benar-benar gak mau. Setiap topik tentang keluarga, orangtua gitu pasti dia gak suka. Langsung mengalihkan pembicaraan."
Joko manggut-manggut.
Lana jadi penasaran, "Kamu tahu darimana rumah Ethan?"
Joko menggaruk belakang lehernya. Agak bimbang ingin menjawab, "Sebenarnya Ethan melarangku memberitahu siapapun terutama kamu Lana, tentang ini. Aku juga gak tahu sih kenapa, Ethan serem banget kalau dibercandain tentang keluarga gitu. Suka langsung emosi."
Lana mengacungkan telunjuk dengan wajah puas, "Tuh kan iya kan?"
Joko melanjutkan, "Aku dulu tinggal di rumah saudaraku, dekat rumah Ethan. Awalnya aku gak tahu disitu rumah Ethan, sampai aku ketemu dia keluar dari rumah sambil bawa plastik hitam kayak mau buang sampah gitu. Aku sapa dan aku ajak ngobrol basa basi, dianya kelihatan banget gak suka lalu cepat-cepat pamit masuk ke dalam rumah lagi."
"Trus gak lama, aku pindah ke kosan yg dekat kampus biar gak kejauhan. Soalnya rumah Ethan di daerah Warmcity, perbatasan kan, cukup jauh."
Lumayan jauh juga ya, batin Lana.
Setelah Cika datang, mereka naik bus menuju Warmcity. Lana sebenarnya bisa saja pergi berdua dengan Joko saja, tapi hati kecilnya menyuruh mengajak Cika. Untunglah Cika sedang longgar. Jadilah mereka pergi bertiga.
Di sepanjang jalan, Joko sangatlah sopan dan baik. Lana jadi malu sendiri kenapa ia bisa berpikiran buruk.
Setengah jam kemudian tibalah mereka di halte 230 Warmcity, halte yg lebih dekat dari rumah Ethan. Joko bilang mereka masih harus jalan kaki sepuluh menit masuk ke perumahan.
Tiba-tiba Lana dilanda perasaan gugup. Bagaimana kalau Ethan ada di rumah? Dia harus bilang apa? Apa dia harus marah, atau menangis? Atau memukuli Ethan sambil menjerit-jerit kenapa kamu gak ada kabar, kenapa tiba-tiba menghilang bikin susah orang aja!
Membayangkan semua adegan itu, Lana semakin mendekati rumah nomor 29. Dari kejauhan rumah berpagar hitam itu tampak sepi.
Lana berdoa semoga saja dia bisa bertemu dengan Ethan.
Tapi sepertinya doa itu tidak terkabul. Langkah kaki ketiganya terhenti tepat di depan gerbang rumah Ethan. Wajah Joko bingung, Lana menunduk pasrah dan Cika segera memeluk sahabatnya itu.
Rumah dijual, hubungi Romla 08xxx. Dua banner kuning besar dengan tulisan hitam menempel di teralis pagar dan satu lagi di depan pintu. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Rumput-rumput mulai muncul di teras dibawah kanopi yg catnya sudah pudar.
Melihat Lana yg lesu lunglai seperti peserta lomba yg tidak jadi menang juara 1, tanpa diminta Cika menelepon nomor yg terpampang di banner.
Lana memperhatikan Cika mengobrol basa basi dengan seseorang di telepon, lalu Cika bertanya tentang Ethan. Tanpa sadar Lana menahan nafas, berharap mendengar kabar baik tapi lagi-lagi harus menelan kekecewaan.
"Dia bilang gak tahu tentang Ethan atau keluarganya, yg jual rumah ini Pak Slamet, kerabat ibunya Ethan kayaknya." jelas Cika setelah menutup telepon.
Joko tiba-tiba berjalan ke rumah bercat biru tanpa pagar di sebelah rumah Ethan. Joko masuk ke dalam pekarangan, lalu dengan sopan dia mengetuk pintu dan memberi salam.
Tak lama muncul kepala ibu-ibu paruh baya. Mereka terlibat obrolan. Lana dan Cika memperhatikan dengan was-was.
Tak lama Joko terlihat membungkukkan badan sopan lalu berbalik menghampiri Lana. Lana dengan harap-harap cemas berdoa semoga ada kabar baik.
"Kata si ibu, keluarga Renggono udah pindah hampir dua bulan lalu, Lana. Ibu itu gak tahu mereka pindah kemana. Tiba-tiba rumahnya sudah kosong. Ternyata di lingkungan ini keluarga Ethan tertutup, jadi tetangga gak begitu akrab. Ibunya gak tahu nomor baru orangtua atau keluarga Ethan yg lain, tahunya nomor telepon rumah ini aja, itupun sudah diputus sejak keluarga itu pindah." jelas Joko panjang lebar.
Lagi-lagi doa itu tidak terkabul. Lana tertunduk pasrah. Jalan buntu. Sudah tidak ada lagi kesempatan dan cara untuk menemukan dimana Ethan.
Kenapa kamu seperti ini?
Aku salah apa Ethan?
Kenapa kamu menghilang?
Apa sih susahnya ngabarin aku?
Tanpa sadar Lana menangis sesenggukan. Cika langsung memeluk dan menenangkan sahabatnya itu. Joko tampak tidak nyaman karena merasa bersalah mengajak Lana kesini dan ternyata semua sia-sia.
...***...