
Kalimat yang terselip dalam pikiran Yoo Ran sekarang ini adalah beruntung. Beruntung karena Tuhan masih menjaga harga dirinya. Beruntung karena dia bisa mengendalikan libidonya. Beruntung karena dia cepat-cepat keluar dari mobil Chanyeol dan memintanya pegi. Beruntung, karena Sehun tidak memergokinya sedang berciuman dengan Chanyeol di dalam mobil.
Tapi hanya sebuah kebetulan seperti ini saja, keringat-keringat kecil sudah memenuhi pelipisnya, telapak tangannya berkeringat dan terasa dingin. Itu akan menjadi kaku kalau Yoo Ran tidak menggerakkan sjarinya diam-diam di belakang punggung. Bagaimana kalau Sehun benar-benar memergokinya sedang menggerayangi tubuh pria yang sudah memiliki pacar seperti Chanyeol? Dunia pasti akan menghinanya dan mengutuknya menjadi perawan tua.
Dia berusaha untuk tidak terlihat jelas sebagai pihak yang secara sembunyi-sembunyi melakukan aksi perselingkuhan dengan sahabatnya sendiri. Dia ingin terlihat sebagai wanita baik-baik di depan pemuda itu, Oh Sehun.
"Hai...." Sapaan halus itu keluar dengan nada canggung. Tangan Yoo Ran tanpa sadar sudah terangkat untuk menyapa pemuda itu dan bibirnya ditarik dengan susah payah.
Sehun di sisi lain hanya mengerutkan dahi, dia terkejut karena melihat Yoo Ran di sana begitu pintu lift terbuka. Hal normal itu menjadi sedikit aneh menurut Sehun, biasanya Yoo Ran selalu menghindar tapi kali ini dia menyapa bahkan dengan melambaikan tangan. Sebenarnya itu hal yang tidak biasa Yoo Ran lakukan kepadanya.
"Hai."
Sehun membalas. Senyuman membingkai diwajahnya yang tirus, membuat Yoo Ran seperti terkilir padahal dia menapaki lantai yang rata.
Yoo Ran menurunkan tangannya, merasa konyol dan malu sendiri. Tapi apakah hanya itu saja yang ingin dikatakan Sehun? ataukah harus dia yang lebih dulu memulai percakapan?
"Hai...." Yoo Ran mengulang tindakan bodohnya lagi. Kali ini tangannya tidak ikut andil, tapi pemilihan kalimat awal sebagai bahan perbincangan itu terdengar bodoh. Bukankah dia sudah menyapanya tadi? Kenapa diulangi lagi?
Tapi meskipun begitu Sehun tetap membalas "hai" dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya. Yoo Ran merasa seperti sedang di tertawakan dan aura menindas itu menyebar seperti asap tanpa bara api.
"Kau habis olahraga?" tanya Sehun.
Yoo Ran tersenyum, mengangguk dua kali dan berterimakasih karena Sehun-lah pihak yang membunuh kecanggungan dan hampir membuat Yoo Ran menjadi orang bodoh.
"Yeah. Aku baru kembali dari latihan tinju bersama Chanyeol."
Yoo Ran terkejut dengan ucapannya sendiri. Kenapa dia harus menyebut nama Chanyeol disaat seperti ini? Membuatnya teringat dengan apa yang terjadi dengan mereka saja. Tiba-tiba saja ada perasaan tidak nyaman di bawah sana, dan Yoo Ran mengendalikan hal itu dengan menutup mata.
Sehun juga adalah seorang pria. Dihadapkan dengan wajah cantik setiap 24 jam selama 7 hari juga lama-lama bisa menggoyahkan hatinya. Tapi dia biasanya tidak merasakan perasaan yang membuncah seperti itu. Antara melihat Yoo Ran dan mendengar beberapa nama laki-laki yang disebutkan oleh Yoo Ran dengan mulutnya sendiri, Sehun benar-benar merasa bahwa dia seperti kehilangan sesuatu di dalam genggamannya.
Tapi Chanyeol dan Kai adalah orang yang selalu keluar masuk ke tempat Yoo Ran dengan bebas dan sebenarnya sampai saat ini tidak terjadi apapun diantara mereka —setidaknya, itulah yang Sehun tahu. Sehun memang tidak berhak melarang tapi dia merasa tidak nyaman. Kenapa Yoo Ran harus memiliki sahabat seperti mereka?
Sehun segera menyingkirkan pemikiran yang mulai menyakiti kepalanya. Dia membalas kalimat Yoo Ran dengan senyuman kaku dan terkesan aneh.
"Menjaga kesehatan memang penting. Itu bagus."
Yoo Ran memberikan senyuman sebagai balasan. Tapi wajah Sehun terlihat sedikit tidak senang. Yo Ran khawatir apakah sesuatu terjadi dengannya? Kenapa wajahnya terlihat tidak bahagia seperti itu?
"Mau pergi?"
"Membeli beberapa bahan makanan. Aku lapar dan lupa ternyata persediaan di kulkas habis."
"Oh."
Yoo Ran merasakan suasananya tidak seperti biasanya. Apa karena beberapa waktu lalu dia selalu menghindari Sehun? Dia menghindar seolah hidup sebagai bayangan hanya karena merasa malu waktu itu Sehun memergokinya dengan Kai. Tapi kejadian itu memang cukup memalukan, dia ingin menghapusnya kalaupun bisa.
"Kau sudah makan malam?"
"Huh?"
"Kau sudah makan malam belum?" Sehun mengulang.
"Oh, belum. Tadi aku buru-buru pulang."
"Mau makan malam denganku?" tanya Sehun. Tidak ada maksud lain dibalik pertanyaan itu, dan Sehun selalu menjaga sopan santunnya di depan Yoo Ran seperti biasanya. "Aku bisa memasak sesuatu untukmu."
Yoo Ran tidak segera menjawab, tapi penawaran itu sedikit menggiurkan. Lagipula dia juga sangat lapar dan kebetulan malas untuk memanaskan makanan atau setidaknya memesan. Tidak ada ruginya juga memanfaatkan pemuda di depannya ini. Lagipula, Sehun masih belum menyinggung persoalan waktu itu antara dirinya dengan Kai, jadi Yoo Ran pikir mungkin Sehun memang tipe orang yang tidak mau terlalu ikut campur urusan orang lain. Yoo Ran benar-benar bersyukur kalau Sehun adalah orang yang seperti itu, tapi di sisi lain Yoo Ran merasa hatinya seperti terpelintir. Apakah Sehun hanya menganggap dirinya sebagai teman saja?
"Oke. Tapi, aku harus harus mandi dan ganti baju."
"Tidak masalah. Aku akan membeli bahan, dan aku akan memanggilmu nanti. Bagaimana?"
"Oke."
.
.
"Jangan banyak mengeluh. Cepat mandi dan lupakan apa yang tadi kita bicarakan. Kau seharusnya menelpon Gayoung, ajak wanitamu berkencan dan nikmati masa berpacaran kalian. Minta maaflah padanya dan katakan kau menyesal jika kau tidak mau hubungan kalian berakhir. Iya, iya aku tahu ... aku sedang sibuk, kita bicara lagi nanti. Sudah dulu."
Sehun yang duduk di sofa hanya melihat punggung Yoo Ran yang sibuk menelpon. Kalau bukan Kai, itu pasti Chanyeol. Yang ada di kepala Sehun memang hanya dua pria itu. Tidak ada selain mereka yang benar-benar dekat dengan Yoo Ran, jadi kemungkinan orang lain itu sangatlah kecil.
Melihat Yoo Ran kerepotan di dapur membuat Sehun merasa tidak nyaman. Dia yang mengundang Yoo Ran tapi dia yang akhirnya membuat Yoo Ran memasak di dapur miliknya. Tidak cukup dengan hal itu, Sehun juga membuat Yoo Ran membereskan isi kulkasnya dan menatanya dengan rapi.
"Tadi bukannya kau bilang mau mandi dulu?" tanya Sehun. Dia merasa tidak enak karena melihat Yoo Ran sibuk mengurusi makan malam mereka sedangkan Yoo Ran melewatkan aktifitas pribadinya.
"Tadinya. Tapi aku pikir kalau kau mungkin akan menunggu lama."
"Memangnya seberapa lama kalau kau mandi?"
"Tergantung. Bisa satu atau dua jam."
Sehun hampir tertawa ketika mendengarnya. "Kau yakin hanya mandi saja yang kau lakukan?"
Yoo Ran menoleh hanya untuk melihat ekspresi Sehun ketika mengatakan itu. Matanya menyipit. Dia ingin tahu seperti apa wajah Sehun ketika mengejek dengan kalimat provokatif seperti itu. Tapi pemuda itu ternyata lebih dewasa dari yang Yoo Ran duga. Tidak ada perasaan malu. Itu natural keluar dari mulut seorang pria yang sudah melewati masa pubertas dan menjejaki usia dewasa.
"Apa?" Sehun bertanya. Ditatap seperti itu, membuat Sehun sedikit gugup.
"Ternyata kau sudah banyak berubah selama beberapa bulan ini."
"Berubah bagaimana?"
"Ucapanmu menjadi lebih berani dari sebelumnya."
"Semakin baik atau buruk?"
"Semakin baik." Lalu Yoo Ran tertawa dan Sehun yang tidak menduga jawaban serta reaksi yang seperti itu membuatya ikut tertawa juga.
Yoo Ran melanjutkan pekerjaannya dan Sehun mulai merasa bosan duduk-duduk di sofa. Jadi dia datang menghampiri Yoo Ran, berdiri di belakangnya dengan tiba-tiba dalam jarak yang dekat — membuat Yoo Ran terkejut setengah mati dan menyebut nama Tuhan beberapa kali di dalam hati. Tapi Yoo Ran entah bagaimana bisa mengendalikan dirinya. Dia juga melakukan pekerjaan memasak dengan sangat mudah, dia pikir seorang wanita yang walaupun tidak begitu handal dalam urusan dapur juga seharusnya tahu sedikit cara untuk memuaskan perut laki-laki. Jadi karena itulah Yoo Ran belajar meskipun tidak bisa dikatakan cukup mahir.
Yoo Ran membalikkan badan dan bahunya bersentuhan dengan Sehun. Dia menggumamkan kata maaf tapi bukan itu poin utama kenapa wajahnya menjadi sedikit malu.
"Maaf, tapi bisa aku menggunakan kamar mandimu sebentar?"
Sehun mengerutkan dahi, tapi kepalanya mengangguk. "Tentu. Pakai yang dikamar saja. yang diluar sedang diperbaiki."
Yoo Ran tercengang untuk beberapa saat. Tapi dia segera pulih ketika melihat Sehun menambahi. "Handuk bersih ada di laci kedua."
"O-oke." Yoo Ran menjawab dan tidak tahu apakah itu normal menggunakan kamar mandi pribadi milik orang lain. Apalagi hubungan mereka tidak bisa dikatakan cukup dekat. "Tolong perhatikan masakannya sebentar."
Setelah mengatakan itu Yoo Ran kabur ke kamar mandi. Dia masuk ke kamar Sehun, melihat-lihat sekitar dan menemukan pintu kamar mandi.
Yoo Ran meninggalkan Sehun sendiri di dapur, membuat Sehun meninggalkan jejak lengkungan di bibir. Sehun mengurus makanan yang dibuat Yoo Ran. Meskipun Sehun tidak cukup pandai memasak tapi dia mengerti dasarnya dan tahu bagaimana harus membuat makanan itu menjadi sedikit enak hanya dengan beberapa tambahan bumbu. Yang dimasak Yoo Ran rasanya sedikit hambar jadi Sehun mengoreksinya dan mendapatkan rasa yang pas.
Diantara beberapa temannya, hanya Yoo Ran yang berani menempati dapur dan membuat Sehun tidak bisa melakukan apapun. Biasanya dia menolak teman wanita menyentuh dapurnya, baik ditempat tinggalnya yang lama maupun di tempat tinggalnya yang baru. Tapi untuk beberapa bulan Sehun lebih sering membawa temannya untuk bertemu di luar rumah. Dia sengaja menolak ketika mereka ingin berkunjung. Dia tidak ingin membawa mereka ke tempatnya, menempati sofanya, menggunakan dapurnya, menggunakan kamar mandinya.
Ternyata menyembunyikan perasaan itu lebih sulit dari mempertahankan sebuah hubungan. Dia hampir mengatakan bagaimana perasaannya ketika terakhir kali melihat Yoo Ran dan Kai bersama di depan pintu apartemennya. Rasanya dia ingin menerjangnya, menyeretnya masuk ke balik pintu apartemen dan menjadikan Yoo Ran sebagai miliknya seorang. Tapi Sehun memiliki beberapa pertimbangan, dan itu adalah hal tersulit yang tidak bisa dia langgar.
"Kamar mandimu cukup bersih ternyata."
Suara Yoo Ran membuat Sehun menoleh. Wajah bingung Sehun saat itu terpampang jelas. Dia baru saja memikirkan seperti apa jadinya jika Yoo Ran-lah orang yang akan mendampinginginya. Dia juga baru saja membayangkan adegan erotis di dalam kamar mandi dan dapurnya. Adalah hal menakjubkan kalau mereka bisa melakukan itu sekarang juga.
"Ada apa?" Yoo Ran bertanya. Menggerakkan tangan di depan Sehun dan menyadarkan pria itu dari lamunan.
"Oh. Apa yang kau katakan tadi?"
Yoo Ran tersenyum. Tidak merasa curiga sedikitpun dengan apa yang menganggu pikiran Sehun saat itu. "Aku mengatakan soal tempatmu yang terlalu bersih."
Sehun tersenyum samar. "Apa pendapatmu soal itu?"
"Karena kau bisa mengurus tempat tinggalmu dengan baik kau mungkin cukup baik juga saat mengurus pasanganmu."
Sehun tertawa ringan. "Teori macam apa itu?"
"Salah?"
"Tidak juga. Hanya kedengarannya sangat lucu."
"Baguslah kalau kau terhibur."
Sehun menatap karena dadanya berdenyut ketika mendengar jawaban Yoo Ran yang kedengarannya cukup manis. Hanya kalimat seperti itu saja, tapi Sehun sudah merasa memiliki gambaran bagus untuk masa depannya.
Yoo Ran hanya tidak memperhatikan, bahwa ketika dia sibuk menyiapkan makanan, Sehun yang masih di sebelahnya diam-diam memperhatikan. Sehun akan menanggapi kalimat Yoo Ran saat Yoo Ran mengajaknya bicara dan dia juga akan melakukan apa yang diminta Yoo Ran padanya sebagai asisten koki. Hanya saja, setiap gerakan yang dibuat Sehun pada saat itu meninggalkan jejak sentuhan di kulit Yoo Ran yang tidak Yoo Ran ketahui apa maksudnya. Tapi Sehun sendiri menikmati itu, dia menikmati ketika menggoda Yoo Ran dan membuat telinganya memunculkan warna merah samar.
Sampai Yoo Ran menempatkan hidangan di atas meja dan dia mencicipi, Sehun diam-diam tersenyum ketika Yoo Ran memuji makanannya sendiri. Yoo Ran mengatakan bahwa sebelumnya dia tidak pernah menemukan rasa yang pas untuk makannnya. Tapi saat itu ia merasa bahwa pelajaran memasak yang dilakukannya selama ini tidak sia-sia.
Sehun hanya menanggapi dengan membenarkannya saja. Dia tidak meluruskan kesalahpahaman Yoo Ran mengenai rasa yang sebenarnya diciptakan olehnya. Itu sudah cukup hanya dengan melihat Yoo Ran merasa puas dan menempati meja untuk makan malam bersamanya. Entah kapan lagi kesempatan seperti ini, Sehun memiliki pemikiran bahwa Yoo Ran akan menolak ketika dia mengundangnya. Hari ini mungkin Yoo Ran mengatakan iya, siapa tahu lain kali dia mengatakan tidak.
Secara alami mereka membagi tugas setelah selesai makan malam. Sehun mengambil piring bekas dan memulai membersihkannya. Yoo Ran tidak berusaha untuk menganggu, dia malah menempati sofa dan mulai melihat keadaan di sekitarnya. Saat itu dia menemukan majalah yang di letakkan di bawah meja.
Yoo Ran tenggelam oleh rasa penasarannya. Dia tidak sadar ketika Sehun selesai dengan urusan mencuci, Sehun datang dengan dua gelas dan sebotol anggur yang di letakkan di atas meja.
"Apa yang kau lihat?" tanya Sehun sambil menuang minuman. Melihat Yoo Ran yang duduk di karpet dan terlalu fokus membuat Sehun penasaran.
Yoo Ran mendongak sebentar. "Ini kau yang memotret kan?" Yoo Ran menunjuk seorang model yang memakai pakaian super pendek. Kulitnya terlihat bagus, berwarna emas kecoklatan di bawah sinar lampu. "Ini, disini, tertulis namamu."
Sehun yang duduk di sofa harus membungkuk sedikit untuk melihat apa yang ditunjukkan Yoo Ran padanya. Saat punggung Yoo Ran ingin bersandar di sofa, tidak sengaja punggungnya menabrak lutut Sehun sekilas. Karena hal itu, Yoo Ran menggumamkan kata maaf dan menggeser tempat duduknya sedikit ke sisi lain.
Yoo Ran mengambil gelas yang berisi anggur merah yang dibawakan Sehun tadi. Menenggaknya sekali habis dan merasa kurang. Jadi Yoo Ran mengisinya lagi.
"Aku jadi penasaran," kata Yoo Ran. Da membalikkan majalah berikutnya sebelum melanjutkan, "apa kau pernah memotret model tanpa busana?"
Setelah beberapa detik berlalu, Yoo Ran tidak mendapatkan jawaban. Jadi dia menoleh, takut kalau Sehun terlalu shock dan menganggap dirinya kurang sopan. Tapi reaksi Sehun saat itu hanya ekpresi orang yang sulit mempercayai kalimat orang lain. Yoo Ran tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Speechless, ya, mungkin seperti itu.
"Apa pertanyaanku terlalu blak-blakkan?"
Sehun tidak tahu apakah dia harus tertawa atau merasa takjub dengan sikap terus terang yang ditunjukkan Yoo Ran.
"Aku belum pernah memotret mereka yang seperti itu."
"Kenapa?"
Sehun tercengang sekali lagi karena di kejar dengan pertanyaan yang terlalu beresiko.
"Mungkin karena aku belum menemukan orang yang ingin kupotret seperti itu." Sehun menjelaskan sebaik mungkin tanpa banyak berpikir. Dia tidak tahu apakah jawabannya akan memuaskan Yoo Ran atau malah semakin membuatnya memberikan pertanyaan lain yang menyudutkan.
"Jadi kalau kau menemukannya kau mau melakukannya?"
"Tergantung."
"Tergantung apakah aku mau melakukannya."
"Bukannya tadi kau bilang karena kau belum menemukan orang yang ingin kau potret? Nah, kalau orang itu sudah kau temukan kenapa kau menjadi ragu?"
"Seriously, apakah kita benar-benar harus membahas ini?"
Yoo Ran yang memutar kepala untuk mendongak dan melihat Sehun merasa bahwa dia tidak salah mengenai apapun, terutama dengan topik yang dibawanya ini. Dia hanya penasaran dan Sehun terlihat cukup membingungkan ketika menjawabnya. Seolah dia ingin melakukannya sekaligus takut saat melakukannya.
"Apa hasil portret seperti itu membuat seorang fotografer jatuh?"
"Itu tergantung bagaimana kau mengambil seni potret itu. Beberapa ada yang mau mengambil resiko untuk mendapat untung, beberapa hanya ingin menjadikan hasil jepretannya sebagai koleksi sebuah seni."
Diakhir kalimat Sehun menghabiskan minuman anggurnya dan mengisi ulang gelasnya. Dia kembali berkata, "Lalu menurutmu apakah hasil portret seperti itu kau katakan sebagai sebuah seni atau pornografi?"
Yoo Ran menggeleng pelan setelah meminum anggurnya. "Tergantung bagaimana orang menilainya. Bagiku, bisa ya dan tidak, tergantung sudut pengambilan gambar. Aku tidak mengecualikan siapapun yang ingin mengembangkan bakat mereka." lalu suara cegukan dari Yoo Ran terdengar sekali. "Aku pikir hal seperti itu seperti menantang diri sendiri. Apakah kau ingin bermain aman atau kau ingin mencoba hal baru sebagai seorang seniman yang bebas. Jadi, kau ada di golongan yang mana?"
Sehun tidak langsung menjawab. dia melihat wajah Yoo Ran yang pipinya mulai memerah. Dia memang melihat Yoo Ran mengisi gelasnya selama empat kali, jadi Sehun merasa yakin kalau Yoo Ran dalam keadaan setengah sadar sekarang.
"Menurutmu. Aku masuk golongan mana?" tanya Sehun.
"Menurutku, kau tidak cocok sebagai orang yang terlalu mengikuti aturan. Tapi kau juga orang yang tidak bisa menolak sebuah peraturan."
Diakhir kalimat, posisi Yoo Ran sudah miring ke samping. Sehun menangkap bahu Yoo Ran dengan segera sebelum dia benar-benar jatuh ke lantai.
"Kau mabuk," kata Sehun. Tidak heran ucapan Yoo Ran sedikit membingungkannya.
"Tidak. Tidak. Ini hanya beberapa gelas, aku masih tahu apa yang kulakukan sekarang. Aku hanya memiliki masalah dengan keseimbangan."
Penjelasan itu di tolak mentah-mentah oleh Sehun, terutama pada penegasan Yoo Ran yang mengatakan dirinya tidak mabuk. Selama ini Sehun belum pernah melihat orang mabuk mengakui bahwa dirinya mabuk. Sebagai contoh adalah Yoo Ran yang saat ini ada di depannya. Sehun beralih kesebelah Yoo Ran untuk mendukungnya — memberikan bahunya sebagai tempatnya bersandar.
-
-
Mereka berada dalam posisi seperti itu selama hampir 15 menit. Sehun sedikit dilema dengan pemikiran yang melintas di kepalanya; apakah dia harus membantu Yoo Ran pulang ke rumah atau membiarkan Yoo Ran tidur di sana. Di satu sisi dia tidak ingin Yoo Ran pergi dan disisi lain dia tidak ingin membuat dirinya sendiri menderita dengan melihat Yoo Ran seperti itu. Sehun tidak pernah percaya dengan dirinya sendri, dia tidak percaya dengan pengendalian tubuhnya saat melihat Yoo Ran lemah seperti itu. Pikiran untuk melakukan sesuatu terus saja memukul-mukul sisi kepalanya dan setiap kali pikiran itu tidak terealisasikan, Sehun hanya akan membuat dirinya jatuh pingsan dengan alkohol atau menuntaskan urusannya di kamar mandi.
Yoo Ran mendongak setelah merasa bahwa dia sudah melakukan tidur panjang. Dalam bayangan samar dia melihat seseorang di sampingnya, mendukungnya dengan meminjaminya bahu. Dia mendongak dan wajah Sehun adalah bukti nyata bahwa dunia ini diciptakan untuk membuat orang merasa tidak adil.
Sebagai seseorang yang memiliki dua pria sebagai sahabat terbaiknya, Yoo Ran terlalu biasa menghadapi pria-pria yang ingin mendekatinya. Dia terlalu memasang target tinggi dan itu adalah seseorang yang harus memberinya keturunan dengan gen yang bagus. Kedua sahabatnya sudah cukup sempurna seperti itu, jadi Yoo Ran harus mencari seseorang yang levelnya berada diatas mereka. Tapi sampai saat ini dia belum juga menemukannya. Kemudian dia berada dalam perjalanan dan bertemu dengan orang yang bisa dikategorikan sebagai seseorang yang tepat dan layak. Sayangnya citra orang itu cukup baik dan Yoo Ran bukan tipe orang yang ingin merusak masa depan seseorang.
Setidaknya, jika dia ingin mewujudkan impiannya memiliki seorang anak tanpa menikah, dia haruslah seseorang yang berada selevel dengannya, entah dari kepribadiannya yang brengsek atau dari wajahnya yang cantik. Dan kalaupun Yoo Ran diharuskan untuk menikah, dia juga tidak akan menolak bonus dengan kriteria seperti seseorang yang dikenalnya, Oh Sehun.
Yoo Ran menatap Sehun dan tersenyum. Senyumnya sungguh menawan dan seolah dia tersenyum seperti menertawakan Sehun yang memiliki tompel di wajahnya. Yoo Ran seratus persen sudah berada di bawah pengaruh alkohol. Dia bahkan memanggil nama Sehun, "Oh Sehun!" beberapa kali dan entah kenapa Sehun merespon kata "ya" dengan cara seperti biasanya.
"Oh Sehun. Apa kau tahu kalau kau ini tampan?"
Sehun tertawa ringan. Dia tidak ingin menanggapi orang mabuk tapi entah kenapa kepalanya mengangguk dan tanpa sadar menjawab "Ya."
"Lalu apa kau tahu kalau aku menyukaimu?"
Senyuman Sehun menghilang. Dia menatap ke dalam mata Yoo Ran untuk mencari jejak kebohongan atau mungkin hanya kalimat yang semata-mata ingin memuji.
"Kau ini tampan. Sayang sekali kau tidak semumuran denganku."
Dahi Sehun berkerut. "Apa hubungannya dengan masalah umur?"
Yoo Ran bangun. Mendukung tubuhnya sendiri dengan bertumpu pada satu tangan. Menatap Sehun di depannya yang memberikan aroma segar. Yoo Ran suka wangi ini.
"Itu adalah masalah yang ingin kupecahkan," kata Yoo Ran, kemudian dia begumam. "Cih! Kenapa pemuda jaman sekarang terlahir dengan wajah seperti ini? Menyebalkan!"
Yoo Ran mengeluh seperti anak kecil. Dia kembali melihat Sehun yang berdiam diri di depannya, menatapnya seolah menunggu dirinya roboh.
Ekspresi wajah Sehun terlihat sangat khawatir, ada jejak rasa bersalah yang membuat Sehun berpikir bahwa seharusnya dia tidak membiarkan Yoo Ran minum. Ini salahnya tapi melihat Yoo Ran dalam keadaan seperti ini adalah sebuah kejutan untuknya.
Yoo Ran mengerutkan dahi. Sudah dia bilang bahwa dia mencium aroma segar, karena itu dia memajukan wajahnya dan mengendus tepat di depan dada Sehun. Kemudian wajahnya mendongak dan mereka berada dalam jarak yang berbahaya. Sepuluh senti sudah cukup membuat Yoo Ran bisa mencium hidung Sehun.
"Tubuhmu baunya enak," kata Yoo Ran lalu mengendus lagi. "Apa yang kau pakai?"
"Tidak ada."
"Tidak ada?" Yoo Ran mengendus sekali lagi. Memajukan wajahnya dan hidungnya menempel pada baju Sehun tapi tidak sampai menyentuh kulitnya.
"Tapi ini enak," kata Yoo Ran, lalu mendongak untuk melihat Sehun. "Aku suka."
Sehun biasanya tidak mudah merasa malu hanya karena sebuah kalimat dari wanita yang memujinya habis-habisan. Dia biasa mendengar kata tampan, tinggi, keren dan segala hal mengenai fisiknya. Sampai saat itu Sehun merasa bahwa hal itu biasa-biasa saja. Tapi kali ini hanya mendengar dua kata dari Yoo Ran wajah Sehun yang baik-baik saja berubah dalam hitungan detik.
Mungkin karena perubahan suasana itu, Sehun memajukan wajahnya untuk menyentuh bibir Yoo Ran dengan bibirnya. Ciuman itu terkesan biasa-biasa saja. Hanya daging yang saling bersentuhan itu tidak bisa dikatakan dengan ciuman, itu adalah pendapat pribadi Sehun. Tapi ini adalah awal mula Sehun mengambil inisiatif, jadi dia cukup berhati-hati dengan tindakannya.
Seperti yang Sehun duga bahwa Yoo Ran akan mendorongnya menjauh, memisahkan mereka dari sapuan nafas hangat masing-masing pihak yang membawa sensasi aneh. Tapi hanya seperti itu saja perjuangan Yoo Ran, karena ketika kedua mata itu bertemu, sekali lagi Sehun memajukan wajahnya dan mencium Yoo Ran tepat di bibir.
Sehun bisa menghitung kapan dia pernah melakukannya. Tapi kejadian itu sudah lama berlalu ketika dia baru saja menjadi mahasiswa baru. Dan yang lebih penting, ciuman waktu itu tidak membawa sensasi aneh seperti sekarang ini. Mungkin karena dulu dia hanya sedang bermain-main, terlalu malas untuk membuat komitmen dan hanya tahu caranya bersenang-senang.
Sekarang kalau melihat keadaannya yang seperti ini, Sehun pikir dia juga tidak bisa di salahkan. Semua akibat selalu diawali dengan sebab.
Sebab Yoo Ran selalu muncul di depan wajahnya, sebab Yoo Ran tidak pernah memberi sebuah jarak, sebab Yoo Ran tidak menolak saat Sehun mengundangnya makan malam, sebab Yoo Ran minum terlalu banyak, sebab Yoo Ran terlalu banyak mengungkapkan isi di dalam pikirannya.
Karena 'sebab' itu, Sehun menjadi seseorang yang tidak bisa menahan diri untuk menjaga sikap. Karena dari 'sebab' itu, perasaan membuncah dalam hatinya tidak bisa dia tahan lagi. Dan karena 'sebab' itulah, Sehun akhirnya memiliki keberanian untuk menyentuh Yoo Ran seperti sekarang ini.
Seluruh aliran darahnya bergejolak. Sensasi panas dari anggur dan tindakannya membuat Sehun menangkap Yoo Ran dan menarik Yoo Ran ke arahnya. Yoo Ran jatuh terduduk diatas paha Sehun dan ciuman Sehun tidak berhenti sampai pada titik ketika dia ingin memasukkan lidahnya ke dalam mulut Yoo Ran.
Lenguhan ringan membawa suasana erotis itu semakin tidak terkendali. Sehun memegang tengkuk Yoo Ran, memposisikannya dengan nyaman agar Sehun bisa menjejaki setiap mulut bahkan sampai ke dagu dan rahangnya.
Bagi Yoo Ran sendiri ciuman seperti ini bukanlah apa-apa. Dia memang terlalu santai menyikapi tindakan seperti ini, terlalu liar sebagai seorang wanita, dan terlalu menganggap masa bodoh keintimannya dengan beberapa pria. Tapi seburuk apapun dirinya, Yoo Ran tidak pernah membiarkan siapapun untuk menyentuh garis pembatasnya. Hanya ketika dia di desak dan sebuah bayang-bayang usia mulai mengikis masa depannya, Yoo Ran berpikir bahwa dia tidak punya banyak waktu lagi untuk mendapatkan satu saja keturunan.
Yoo Ran membiarkan Sehun menguasainya untuk beberapa saat, membiarkan tangannya mengusap leher dan *** pinggangnya sambil sesekali menariknya semakin dekat.
-
Ciuman mereka penuh dengan gairah, putus asa, dan keinginan yang terpendam. Sehun tidak pernah segila ini sebelumnya, sampai pada tahap ingin menguliti seseorang dan membuatnya berada di bawahnya. Saat tangannya menyusup di balik kaos milik Yoo Ran, sekilas dia *** tali br*nya. Ciuman Sehun berpindah ke leher dan memberikan sentuhan yang membuah Yoo Ran berseru karena reflek. Sehun menarik wajahnya, takut dan terkejut karena tindakannya sendiri. Dia melihat wajah Yoo Ran yang menunduk.
"Apa ini baik-baik saja?" Sehun bertanya karena tindakannya tidak ingin dia lakukan hanya karena sebelah pihak. Mungkin saja dia terlalu terburu-buru, mungkin saja Yoo Ran tidak memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya. Tapi jawaban Yoo Ran di luar dari dugaan.
"Ya. Tidak apa-apa."
Yoo Ran tidak sadar dengan apa yang dia katakan. Mungkin itu karena pengaruh dari alkohol, tapi dia tahu kalau saat ini dia sedang bersentuhan dengan Sehun dan melanggar keinginannya untuk tidak merusak sosok pemuda murni yang ada dalam pikirannya ini.
Sehun membantu memindahkan Yoo Ran, lalu berdiri. Satu tangannya menggam tangan Yoo Ran, lalu dengan hati-hati berjalan dan menuntunnya ke tempat lain. Seperti seorang bocah yang menggenggam erat tangan orangtuanya, Yoo Ran pun melakukan hal yang sama dan Sehun tidak bisa untuk tidak tersenyum. Sehun sesekali akan memperhatikan bagaimana cara Yoo Ran berjalan, takut kalau Yoo Ran yang gaya jalannya sempoyongan tiba-tiba jatuh. Tapi mereka berhasil melewati satu pintu dan Yoo Ran di tempatkan pada satu ranjang yang luas di tengah-tengahnya.
Sehun menarik kaosnya keatas sebelum duduk menatap Yoo Ran yang setengah sadar. Dia bahkan berpikir untuk pergi setelah menanggalkan kaosnya, tapi Yoo Ran membuka mata, dan Sehun yang setengah membungkuk di tarik ke bawah oleh tangan jahil milik Yoo Ran.
Mereka berciuman untuk ketiga kalinya selama beberapa detik, lalu Sehun menatap wajah Yoo Ran yang setengah terpejam sebelum menyingkirkan anak rambutnya yang menganggu. Dia memulai dengan mecium dahi, mencium hidung, pipi dan dagu, dengan cara selembut mungkin. Sehun juga akan meninggalkan tanda cinta di leher Yoo Ran dan mencium dalam-dalam tulang selangkanya sampai gerak tubuh Yoo Ran di bawahnya menjadi tidak beraturan.
Sehun kembali menangkap bibir Yo Ran, tapi sampai saat itu dia belum berhasil membat Yoo Ran membuka mulutnya. Karena itu tangannya turun ke bawah, ke arah selatan yang membuat Yoo Ran akhirnya terkejut dan melenguh pelan. Mulutnya terbuka dan Sehun mengambil kesempatan untuk memasukkan lidahnya.
Sentuhan itu membuat Yoo Ran hampir menjerit karena terkejut. Matanya melotot dengan tiba-tiba, tangannya juga menggapai pergelangan tangan Sehun yang sudah di atas miliknya di bagian bawah sana. Tapi Sehun tetap tidak mau menyingkirkan tangannya, dia malah membimbing tangan Yoo Ran untuk memegangnya dan menjejaki daerah itu dengan sapuan dan remasan tangan.
Entah bagaimana Yoo Ran tibat-tiba mengingat seperti apa bra dan celana dalam yang dia kenakan sebelumnya. Apakah itu terlihat baik-baik saja? Apakah itu tampak aneh digunakan untuk wanita seusianya, karena sebenarnya Yoo Ran terlalu malas menggunakan barang bagus jika dia hanya ada di rumah saja. Dia hanya menggunakan pakaian dalamnya yang bermerk dalam acara-acara penting. Meskipun itu tidak akan terlihat setidaknya Yoo Ran merasa bahwa itu pantas untuk digunakan dalam acara seperti itu.
Saat Sehun merasakan tubuh Yoo Ran yang menegang karena sebuah sentuhan, Sehun menempatkan bibirnya di dekat telinga Yoo Ran. Menciumnya sekali dan menggumamkan kata "Cantik" hanya untuk membuat rasa percaya diri Yoo Ran naik.
Bisa dikatakan, walaupun Sehun pernah melalui masa muda dengan berpacaran tapi dia cukup berhati-hati ketika menempatkan miliknya di tubuh seorang wanita. Dia tidak pernah melakukannya, tindakan seperti ini hanya selalu muncul di dalam mimpinya, tapi meskipun begitu Sehun selalu menyimpan benda itu di dalam lacinya. Jadi saat mengingatnya Sehun menarik laci dan mengambil pengaman yang berbulan-bulan dibiarkan menganggur di dalam sana.
Dia tidak ingin terlalu memaksa Yoo Ran, dan semua yang mereka lakukan berjalan secara bertahap dan tanpa terburu-buru. Sehun juga tidak ingin terlalu memaksa dan merendahkan Yoo Ran karena tindakannya. Butuh waktu beberapa saat sampai dia berhasil melepaskan semuanya, membiarkan kulit mulus terpampang di depan wajahnya, dan membuatnya berpikiran liar seperti sebelumnya.
Sehun berjanji hanya akan mencobanya sekali. Dia meyakinkan itu di dalam kepalanya ketika memposisikan dirinya dengan tepat dan mendorong pelan sebelum membungkuk dan memeluk serta mencium Yoo Ran yang melenguh kesakitan.
Tapi Sehun melupakan janji yang sebelumnya dia buat sendiri setelah mendapat pelepasan. Dia melakukannya sebanyak dua kali sampai dia mendapatkan bekas gigitan di bahu karena ulah Yoo Ran yang tidak bisa menahannya lagi.
-
-
Kalau jatuh dari bangunan 20 lantai itu bisa membuatnya kehilangan nyawa maka itu akan sangat bagus untuknya, setidaknya dia tidak akan merasakan tulangnya remuk dan mendapat cidera di beberapa tempat.
Hal itulah yang dirasakan Yoo Ran ketika dia membuka mata. Dia berpikir bahwa ketika dia minum anggur dalam jumlah banyak dia membenturkan kakinya dan jatuh terpentok sudut kursi atau meja. Dia juga memiliki kemungkinan saat mabuk dia berjalan melewati tangga dan bergulingan di lantai karena terpeleset.
Tapi setelah beberapa saat, ketika Yoo Ran mengingat bahwa alasan dia mendapat anggur geratis karena kunjungannya ketempat Sehun, Yoo Ran segera membuka matanya lebar-lebar dan merasa dia benar-benar jatuh dari gedung 20 lantai seperti dalam mimpinya.
Yoo Ran melirik ke samping dan pemandangan punggung dengan sedikit tulang yang menonjol membuat Yoo Ran hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia bukannya tidak tahu apa yang dia lakukan semalam, dia hanya terkejut dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Semalam dia tidak memikirkan seperti apa jika dia bertindak bodoh dengan mengikuti alur perasaannya. Tidak buruk juga saat melakukannya dengan Sehun tapi meskipun Sehun melakukannya dengan cara gentle, Yoo Ran tetap merasa bahwa dia sedang berhadapan dengan kuda liar. Mungkin karena Yoo Ran tidak pernah mencoba ini sebelumnya. Dan apa sih yang dia pikirkan sampai dia memutuskan untuk melakukannya? Yoo Ran benar-benar telah dibohongi oleh dirinya sendiri.
Yoo Ran segera bangun dan menarik pelan selimut tebal untuk menutupi dirinya dan meninggalkan selembar selimut tipis untuk menutupi Sehun. Tapi gerakan sembarangan itu membuat boxer super pendek yang dikenakan Sehun telihat. Yoo Ran memalingkan wajahnya dengan segera, melirik sebentar, lalu menggunakan jarinya untuk menarik selimut dan menutupi kaki Sehun. Tapi saat dia akan pergi, Sehun tiba-tiba bangun dan mengejutkan Yoo Ran yang ingin menunduk dan bersembunyi tapi kalah cepat dengan penglihatan Sehun.
"Mau kemana?" Suara Sehun khas seperti orang yang baru bangun tidur. Itu kedengarannya sangat sexy di telinganya.
Yoo Ran hanya tersenyum canggung lalu menunjuk kebelakang sambil berkata, "Kamar mandi."
Sehun tidak mengatakan apapun lagi. Yoo Ran pikir Sehun hanya sedang mengigau, jadi Yoo ran cepat-cemat memungut bajunya dan berlari ke kamar mandi lalu menguncinya.
Di dalam kamar mandi, Yoo Ran bertindak seperti gadis remaja yang baru saja mendapat ciuman pertama dari kekasih pertamanya. Dia terkejut, wajah memerah, tangan gemetar, jantung deg-degan.
"Apakah itu karena aku yang menggoda Sehun atau dia yang lebih dulu menggodaku?"
Yoo Ran berbicara bodoh di depan cermin. Merasa frustasi sekaligus malu. Bagaimana dia harus menghadapi Sehun nanti? Dan hubungan macam apa yang akan mereka jalani setelah ini? Sedangkan sebelumnya mereka tidak pernah membahas soal perasaan masing-masing.
Yoo Ran sadar bahwa seharusnya dia membereskan dirinya lebih dulu. Tapi setelah melepas selimut, Yoo Ran dikejutkan dengan jejak samar warna merah muda seperti gigitan serangga. Sialan, Sehun meninggalkan cupang dilehernya! Kemungkinan itu tidak akan menghilang dalam hitungan jam seharian ini. Yoo Ran mulai memikirkan untuk memakai pakaian berkerah tinggi di saat cuaca sudah memasuki musim panas.
Yoo Ran menggunakan air dan itu masih juga tidak hilang, tidak hanya satu atau dua tapi ada beberapa dan Yoo Ran terkejut setengah mati ketika melihat pahanya memunculkan warna yang sama.
"Oh shit!"
Yoo Ran mengumpat pelan. Betapa malunya dia ketika diharuskan mengingat kejadian semalam. Meskipun secara keseluruhan dia tidak begitu jelas mengingatnya tapi dia tidak akan lupa ketika Sehun memasukkan miliknya yang mustahil itu. Masih cukup bagus karena Yoo Ran berhasil berjalan sampai sekarang. Setidaknya Sehun cukup tahu untuk tidak membuatnya lumpuh seharian ini.
Yoo Ran membuka pintu dan mengintip Sehun sebentar. Bagus karena saat itu Sehun masih tidur dalam posisinya. Dia berjalan mendekat untuk mengintip Sehun dan Yoo Ran terkejut sekaligus merasa bersalah karena melihat bekas gigitan di bahu yang memerah dan hampir ungu. Itu adalah hasil perbuatannya.
Yoo Ran menggigit kuku jarinya karena tidak percaya dia melakukan hal itu. Tapi tidak ada waktu untuk meratapi rasa bersalahnya. Dia harus cepat-cepat keluar. Dan karena itu dia menarik pintu dan keluar dari kamar Sehun secara diam-diam.
-
Dibeberapa kesempatan Yoo Ran selalu memiliki fantasi liar kepada pemuda seperti Sehun ini. Dia memikirkan apa jadinya jika dia berhubungan dengan orang seperti itu. Rasanya memang tidak terlalu buruk tapi dia merasa hina dengan dirinya sendiri. Dia juga merasa berdosa kepada orang tua yang melahirkan seorang pemuda dengan masa depan yang masih panjang dan dalam hitungan jam Yoo Ran jerumuskan begitu saja. Tapi dunia diciptakan dengan banyak hal baik dan buruk, adil dan tidaknya kehidupan. Dan hal buruk menurut pandangan orang-orang belum tentu menjadi hal buruk untuk seorang Im Yoo Ran.
.
.
TBC