
Author : sesil & pit_yella
Genre : AU / Romance / comedy
Rating : 21+
Length : Short Story
Main Cast : SeKaiYeol
Disclaimer
This is a work of fiction. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. This contain is not meaning for aggravate one of character/organization. All cast belong to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers are prohibited.
.
.
.
Between #1
'Gejala umum mencakup sensasi semburan panas dan kekeringan va**na. Mungkin juga ada gangguan tidur. Kombinasi gejala ini dapat menyebabkan kecemasan atau depresi.'
Penjelasan itu tertulis pada laman pertama dalam pencarian 'tanda-tanda menopause dini' yang Yoo Ran ketik di ponsel dalam perjalanan pulang.
Yoo Ran yang menggigit jari langsung melotot ketika membaca penjelasan berikutnya. Sebuah palu besar seperti menghantam sisi kepala—membuatnya mendadak mengalami sakit kepala ringan.
Orang-Orang mungkin mengalami:
Seluruh tubuh: berkeringat dimalam hari, kelelahan, osteoporosis, berkeringat atau sensasi panas.
Tidur: bangun tidur lebih awal atau insomnia.
Menstruasi: tidak ada menstruasi atau menstruasi tidak teratur.
Rambut : kering atau kerontokan rambut dikepala.
Yoo Ran langsung menutup aplikasi sebelum dia membaca terlalu banyak dan semakin depresi dengan kenyataan yang ada. Wajahnya terlihat begitu frustasi. Dan dia kembali memikirkan kakaknya yang baru saja melahirkan.
Tadi saat di rumah sakit, Yoo Ran sempat menggendong keponakannya. Yoo Ran begitu ingin menimang bayi, jadi selama beberapa menit dia mengambil keponakannya dari gendongan kakaknya dan berperilaku seperti seorang ibu muda. Berbicara seperti orang gila, bergumam betapa menggemaskannya bayi itu.
Kakaknya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit menyindir. "Kalau kau begitu menginginkan seorang bayi, maka cepat-cepatlah menikah."
Yoo Ran hanya menatap kakaknya sebentar. Dia merasa kesal karena dirinya sekali lagi merasa terpojok dengan kalimat itu. Tapi tidak berapa lama Yoo Ran langsung melupakannya, menatap pada bayi mungil dalam gendongannya dan tersenyum seperti orang gila.
Yoo Ran menghela nafas. Dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas lalu melihat seorang anak kecil yang duduk disebelahnya menatap dengan penasaran, mungkin karena Yoo Ran terlihat begitu putus asa dan anak kecil itu tahu kalau Yoo Ran sedang tidak bahagia.
Bocah itu mengingatkan Yoo Ran kepada keponakannya yang berusia 4 tahun—anak dari kakak pertamanya. Pipinya sama-sama terlihat menimbun lemak dan berwarna merah muda, kulitnya begitu putih, matanya bulat seperti kelereng. Penampilan yang sangat menggemaskan untuk anak perempuan seusianya sampai Yoo Ran terdorong untuk memberikan sedikit senyuman.
Bocah itu memberikan permen loli kepada Yoo Ran saat ibunya sibuk menelpon.
Yoo Ran yang bingung hanya menerima uluran tangan anak itu lalu mengucapkan terimakasih dengan senyum yang membuat anak itu kembali ke ibunya dan bersembunyi.
Tiba-tiba Yoo Ran teringat kata-kata ibunya.
Dia terdesak oleh keinginan ibunya untuk segera menikah dan memberinya cucu. Sebenarnya Yoo Ran bisa saja mengadopsi seorang anak dan menyerahkannya kepada ibunya, tapi yang ibunya inginkan adalah anak dari Yoo Ran sendiri. Kenyataannya, Yoo Ran sedang tidak mau menikah. Masalah terbesar lainnya adalah usianya sudah mendekati menopause seperti yang selalu dikatakan Chanyeol beberapa hari yang lalu—sialan, kenapa dia harus mendengar hal itu dari Chanyeol?
Tapi Yoo Ran memiliki ide gila untuk memiliki anak tanpa harus menikah. Masalahnya, memangnya ada yang mau mendonorkan sperma dengan kwalisifikasi seperti yang Yoo Ran inginkan? Yoo Ran menginginkan agar anaknya kelak terlahir dengan gen bagus dan sehat seperti yang dia harapkan. Kalau memang ada, dia akan segera meminta pria itu untuk segera memberikannya!
***
Yoo Ran mendorong pintu kaca dan mendengar suara sambutan dari seorang pria di meja kasir yang berhadapan langsung dengan pintu. Yoo Ran hanya memberikan lambaian tangan sekilas, lalu berjalan begitu saja mencari meja kosong di sudut restoran dan mendesah panjang seperti nenek tua yang kesepian.
Pria tinggi yang berdiri di balik meja kasir langsung memanggil seorang pegawai untuk segera menggantikan posisinya. Dia berjalan ke arah meja Yoo Ran dan mendengar Yoo Ran berkata "thank you, Sam" kepada seorang pegawai yang memberikannya segelas air putih.
Pria itu menempati kursi di depan Yoo Ran dan tidak mendapatkan perhatian darinya. Benar-benar dianggap seperti sebuah pajangan. Merasa keberadaannya tidak dihiraukan, tangan pria itu terlipat di depan dada, dahinya berkerut dan kedua alisnya membentuk garis lurus. Dia sudah mendapatkan jawabannya tanpa bertanya ada apa. Dia bisa menebaknya hanya dengan melihat Yoo Ran yang tidak bahagia.
"Masih memikirkan apa yang kukatakan waktu itu?"
"Omong kosong!"
"Kau terlihat sangat frustasi,"
"Ini semua salahmu! Tadinya aku baik-baik saja, tapi karena omonganmu itu sekarang aku menjadi seperti ini."
"Waktu itu kan aku hanya bercanda. Jangan diambil hati."
"Kau pikir bisa semudah itu melupakannya?"
"Kalau begitu segera cari laki-laki yang mau menikahimu dan memberimu anak. Semua masalah akan segera selesai."
"Kau pikir sesederhana itu?"
"Sesederhana itu memang."
Yoo Ran memberikan tatapan tidak suka dan merasa jengkel saat mendengarnya.
"Park Chanyeol, apa kau minta dipukul? Kebetulan aku sudah lama tidak latihan tinju. Tanganku jadi gatal."
Chanyeol tahu Yoo Ran sedang tidak bercanda. Yoo Ran kelihatannya seperti benar-benar akan mematahkan hidungnya kalau dia masih berani berkomentar. Jadi dengan berpura-pura tidak mendengar apapun, Chanyeol mendorong gelas Yoo Ran dan memintanya untuk segera menghabiskan isinya.
Chanyeol tahu apa yang Yoo Ran inginkan, baik buruknya sifat Yoo Ran dan hal-hal lainnya yang bisa mengangganggu pikiran Yoo Ran, karena itu sampai sekarang mereka masih berteman dan saling mendukung satu sama lain. Tapi Chanyeol tidak habis pikir ketika mendengar ide bahwa Yoo Ran menginginkan seorang anak hanya dari celotehannya waktu itu. Tapi hal yang paling mengejutkan adalah ketidakinginan Yoo Ran untuk menikah karena menurutnya itu sangat merepotkan. Orang-orang yang cenderung mencintai pekerjaannya memang lebih memilih untuk mengabaikan masalah pribadi.
"Bagaimana kabar pacarmu?"
Yoo Ran bertanya setelah menenggak habis air putih dan Chanyeol memanggil pegawai lalu memesan Es kopi untuk Yoo Ran. Sebagai seorang teman, Chanyeol memang benar-benar kelewat perhatian.
"Jangan tanya,"
"Kenapa? Tidak berhasil membujuknya?"
"Jangan membahasnya. Bicara yang lain!"
Yoo Ran yang penasaran hanya menatap Chanyeol dan mulai mencurigai adanya hubungan yang tidak harmonis. Tapi hubungan mereka memang selalu di bumbui pertengkaran sepele, benar-benar pacaran gaya ABG yang tidak semestinya.
Sudah 5 tahun dan itu adalah waktu yang tepat untuk mereka menikah, tapi Chanyeol yang dengan sifat 'tidak mau tahu' selalu membuat pacarnya menjauh karena hal kecil. Saling tidak menghubungi selama tiga atau lima bulan, lalu begitu bertemu hubungan mereka seperti tidak ada masalah dan tahu-tahu sudah berbaikan.
"Dia mencintai pekerjaannya sebagai pramugari, kenapa kau ingin sekali dia berhenti? Ah, kau pasti tidak tahan kalau tiba-tiba harus ditinggal sendiri saat dia bertugas kan?"
"Pria yang katamu tinggal disebelah tempatmu itu bagaimana kabarnya?"
Yoo Ran seharusnya tahu kalau dia tidak akan mungkin kalah dalam adu mulut dengan Chanyeol. Bahkan dalam percakapan biasapun selalu Chanyeol yang mendominasi. Ketika Yoo Ran berkeinginan untuk menggoda Chanyeol dan mengejeknya, hal itu selalu berakhir dengan dirinyalah yang di sudutkan dengan pertanyaan brilian dari Chanyeol.
Yoo Ran yang tadinya terlihat bersemangat kembali lesu dan memikirkan masalahnya lagi. Ibarat kalau Yoo Ran itu selalu memberikan energy positif untuk orang lain, Chanyeol selalu memberikan energy negative untuk lawan bicaranya. Yoo Ran benar-benar merasa bahwa energy untuk berjalan pulang pun sudah habis, dia menghabiskan seluruh energinya untuk berpikir mengenai apa yang Chanyeol ucapkan kemarin.
"Hey! Kau ini benar-benar minta di pukul ya?"
"Bukannya kau bilang sedang dalam kondisi kritis? Kenapa masih pilih-pilih?"
"Sehun itu terlalu kecil untukku."
"Terlalu kecil bukan berarti tidak bisa memberimu anak."
Yoo Ran melotot saat mendengar ucapan Chanyeol, tapi Chanyeol pura-pura tidak melihat itu dan kembali bicara.
"Lagipula suami yang lebih muda itu sedang tren."
"Kubilang aku belum mau menikah."
"Wahh, kau tidak mau menikah tapi mau punya anak? Wahh.... Wanita macam apa kau ini?"
Ekspresi Chanyeol yang berlebihan itu membuat Yoo Ran ingin sekali menonjok hidungnya. Yoo Ran mulai membuat peregangan ringan—menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, melipat jari-jarinya sampai menimbulkan bunyi.
"Aku akan memesankan makanan untukmu." Chanyeol berkata begitu dan kabur secepat angin karena tidak ingin mendapat tamparan keras di rahangnya.
.
Yoo Ran masih berdiri di depan restoran sambil melihat ke arah Chanyeol yang begitu sibuk.
Mereka berteman sejak SMA, tapi hanya sampai batas itu saja. Sebelumnya Yoo Ran pernah berpikirkan apakah hubungan mereka mungkin bisa lebih dari sekedar teman, dan apakah Chanyeol bersedia membantunya? Tapi pikiran itu dia buang sejauh mungkin. Disisi lain, Yoo Ran memikirkan pacar Chanyeol yang tidak layak untuk dia sakiti. Chanyeol memang memiliki gen yang bagus, tapi Yoo Ran tidak cukup gila untuk meminta bantuan darinya.
Dalam perjalanan pulang, Yoo Ran membeli minuman dan beberapa cemilan. Mungkin dia bisa tidur nyenyak dengan bantuan minuman-minuman itu.
Segera setelah sampai dirumah, Yoo Ran membuka kulkas dan menemukan sisa makanan kemarin. Dia mengeluarkannya dan memilih makanan yang layak untuk dimakan dan membuang beberapa makanan yang penampilannya sudah tidak meyakinkan.
Meninggalkan dapur, Yoo Ran masuk ke kamar dan langsung melepas bajunya sebelum berjalan menuju kamar mandi. Dia hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit untuk segala urusan membersihkan badan, sikat gigi, dan menempelkan beberapa krim ke wajahnya. Usia yang mengharuskannya memperhatikan bagian wajahnya, dia tidak mau terlihat seperti nenek 70 tahun disaat dirinya belum menikah. Bahkan nenek pada usia itu saja masih memperhatikan kulit wajahnya.
Saat wajahnya mendekat ke cermin sambil memelototi area matanya yang mulai memunculkan kerutan, Yoo Ran dikejutkan dengan bunyi pintu yang terbuka dari arah depan.
Seseorang sudah berhasil masuk ke rumahnya tanpa menekan bel. Orang itu seharusnya seseorang yang Yoo Ran kenal. Tapi selain dirinya dan kakaknya yang sekarang ada dirumah sakit, tidak ada yang tahu nomor pin rumahnya. Yoo Ran memastikan sudah mengganti pinnya tiga hari yang lalu. Jadi tidak mungkin kalau ....
"Apa yang kau lakukan disini?"
Yoo Ran bertanya seperti tidak pernah mengharapkan seorang tamu mengunjungi tempatnya. Dan persis seperti yang dikhawatirkannya, memang pria itulah yang sudah berhasil melewati pintu apartemennya.
"Wahh, kau punya insting yang bagus rupanya. Kebetulan sekali aku sedang ingin minum," katanya, sambil membawa satu botol soju, dua kaleng bir dan gelas, sebelum berjalan menuju sofa.
Tapi jawaban dari pria itu bukanlah yang Yoo Ran harapkan.
Pria yang dengan seenaknya keluar masuk tempat tinggalnya tanpa permisi ini memang benar-benar penganggu. Datang kalau hanya memerlukan sesuatu, menjadikan tempatnya sebagai tempat nongkrong yang memberikan makanan dan tidur gratis, menjadikan tempatnya sebagai tempat pelarian dari para gadis-gadis. Yoo Ran tidak menyangka dia kenal dengan manusia bejat seperti ini.
"Apa kau tidak punya mie instan?"
"Apa kau sudah kehabisan uang atau kau sudah ditendang oleh pacarmu? Kenapa kau selalu datang kesini sih?"
"Aku akan memesan ayam saja kalau begitu."
Sepertinya Yoo Ran memang harus mematahkan lehernya. Dia kesal karena tidak dianggap sebagai tuan rumah.
"Kai, bagaimana kau bisa masuk?"
"Aku masuk melalui pintu," jawabnya datar, sambil mengeluarkan ponsel lalu mengetik nomor dan memulai panggilan.
"Aku kan sudah mengganti paswort,"
"Kemarin saat kau mabuk aku yang mengantarmu pulang dan kau memberikan pinmu," kata Kai. Lalu dia membahas soal pesanan ayam gorengnya saat panggilan itu tersambung.
Yoo Ran menunggu sampai Kai menyelesaikan urusannya. Dia masih berdiri di tengah ruangan, kedua tangan terlipat dan menatap Kai seolah tidak suka dengan kunjungan Kai yang sering sekali tiba-tiba. Pria itu menjadikan hal ini sebagai kebiasaan yang menyenangkan.
"Bisa tidak sih kau cari tempat tongkrongan lain? Ini bukan bar."
"Jangan begitu, kita ini teman kan?"
"Teman macam apa yang seenaknya menjadikanku sasaran? Apa ada teman yang menjadikanku umpan atau menjadikanku pelampiasan kekejaman wanita yang kau tinggalkan?"
Kai hanya nyengir lebar. Lalu tanpa tahu malu bersantai dengan menempati sofa yang menjadi tempat Yoo Ran biasanya duduk. Membuka tutup botol soju dan menuangnya ke dalam gelas lalu mencampurnya dengan bir.
"Aku akan membiarkanmu minum segelas lalu pergilah secepat mungkin dari sini."
Yoo Ran mencoba memperingatkan. Dia sudah berbalik untuk kembali ke kamar tapi balasan kalimat dari Kai menghentikannya.
"Kau ini sedang PMS ya?"
Yoo Ran mengambil tempat duduk di sofa lain sebelum berkata dengan serius.
"Kuberitahu kau hal ini karena aku sebagai teman baik ingin kau cepat-cepat sadar dan agar tidak menyusahkan orang lain lagi. Ibumu kemarin menelponku. Dia menangis karena putranya sudah lama tidak mengunjunginya. Dia mengatakan kalau putra satu-satunya jarang menelponnya. Dia juga mengatakan kalau beberapa kali didatangangi wanita yang tidak dia kenal dan wanita-wanita itu mengaku sebagai pacar anaknya. Kata ibumu mereka menangis sambil mengadu karena kau memperlakukan mereka dengan buruk sampai bahkan tega memutuskannya. Coba pikirkan baik-baik. Apa kau tidak merasa kasihan pada ibumu?"
"Ibuku menelponmu lagi? Kapan?"
"Kapan itu tidak penting. Tapi kau sebagai anak tidak seharusnya memperlakukan ibumu seperti inikan?"
Kai yang mendengarnya hanya menghela nafas panjang. Menyandarkan punggungnya di sofa sambil satu tangannya memegang remote tivi lalu menyalakannya.
"Kalau ibuku menelpon katakan saja kau sibuk lalu tutup telponnya."
"Kalau kau memang ingin masuk neraka masuk saja sendirian tidak perlu mengajakku. Aku ini masih punya hati, tidak sepertimu."
Yoo Ran terdiam, mulutnya tidak mengeluarkan sepatah katapun lagi. Dia mulai mengabaikan Kai yang mengajaknya mengobrol sambil sesekali meminum sojunya.
Yoo Ran diam-diam mengamati dari samping, menegur saat Kai dengan seenaknya mengambil buku dari bawah meja, menegur saat Kai mengambil bantal kesayangannya sebagai alas kaki, menegur Kai saat bersendawa dengan keras. Hal itu membuat Kai mendumel jengkel dengan kelakuan Yoo Ran, tapi Yoo Ran yang adalah tuan rumah tidak memperdulikan tamu tidak diundang yang mulai mengacau ditempatnya.
"Kenapa hari ini kelihatannya kau sensitive sekali? Kenapa? Ada masalah? Coba ceritakan padaku."
Yoo Ran memandang Kai untuk beberapa saat. Dia bahkan tidak berpikir untuk membagi masalanya dengan Kai. Memangnya Yoo Ran sudah gila? Dia tahu hal itu hanya akan membawa masalah lain baginya.
Suara bel dari pintu depan menyelamatkan Yoo Ran. Kai segera berdiri dan mngeluarkan dompet karena dia pikir pesanan ayamnya pasti sudah datang.
"Ran, aku memesan banyak apa kau mau—"
Kalimat Kai terputus saat berbalik dan melihat pintu kamar Yoo Ran sudah kembali tertutup. Kai mengigit ayamnya lalu mencibir kelakuan Yoo Ran yang sama sekali tidak menghargai tamu.
.
.
Yoo Ran menghabiskan waktunya di kamar saat Kai ada di luar sana sambil tertawa dengan tidak elitnya. Yoo Ran hanya melirik pintu, mendumel karena kelakuan Kai dan menepuk dadanya saat mencoba menahan diri untuk tidak berlari keluar kamar dan mendorong Kai dari lantai 5 di apartmennya.
Yoo Ran menutup novel dan beralih ke laptop untuk meneruskan pekerjaannya. Dia membuka folder yang tadi diterimanya melalui surel. Melihat-lihat hasil jepretan dari model tas terbaru dan mulai menyusunnya di catalog.
Tapi saat setengah pekerjaannya belum selesai, Yoo Ran teringat dengan situs pencarian yang dia temukan di ponselnya tadi. Karena merasa penasaran dia pun membuka laman web dan membaca beberapa hal yang terkait dengan kekhawatirannya selama beberapa hari ini.
Kamar pintunya tiba-tiba di dobrak. Yoo Ran terkejut, tapi itu juga bukan tindakan seseorang yang sengaja mendobrak untuk memaksa masuk. Selanjutnya, terdengar suara Kai yang lantang memanggil namanya beberapa kali, memukul-mukul pintu, lalu berbicara ngelantur seperti orang mabuk.
Kai pasti benar-benar mabuk.
Menyadari ini, Yoo Ran langsung bangkit dari kursi dan mengeluhkan keadaannya yang benar-benar sial. Kai mabuk itu artinya kekacauan. Seharusnya dia tidak membiarkan Kai minum seorang diri.
Yoo Ran membuka pintu dan Kai yang bersandar langsung jatuh ke lantai.
Rintihan rasa sakit terdengar.
Yoo Ran mengernyit mengetahaui keadaan Kai yang kacau. Bajunya setengah basah karena entah apa yang dilakukannya tadi, dan Yoo Ran tanpa sadar merutuki kelakuan Kai yang seperti ini.
Pada akhirnya, Yoo Ran lah yang membereskan semuanya. Merapikan meja yang kotor karena ceceran ayam goreng, botol soju yang terguling dan isinya tumpah ke lantai, Kai yang bergulingan di lantai sambil bernyanyi seperti orang gila.
Sebagai sentuan akhir, Yoo Ran menyemprotkan parfum ruangan sebanyak mungkin untuk menghilangkan bau alkohol. Dia juga menyembrotkan parfum itu di badan Kai sebanyak-banyaknya. Setelah semuanya selesai, Yoo Ran menendang-nendang Kai dengan pelan untuk membangunkannya. Sudah waktunya untuk Kai pulang.
Yoo Ran mengambil ponsel, baru saja ingin menelpon jasa taxi ketika Kai bangkit dan berdiri di depan tembok dengan postur yang mencurigakan.
"Ya! Apa yang kau lakukan?!"
Yoo Ran setengah berteriak mencoba memperingatkan. Wajahnya sudah memerah karena marah. Tapi dia dikejutkan dengan tindakan gila Kai yang seperti ini. Pikirannya berputar dengan cepat dan ponsel dalam genggaman dia lempar ke sofa.
Jangan katakan kalau dia mau buang air disana.
"Kau tidak mungkin 'kan? YAA!!"
Yoo Ran menjerit dalam hati lalu berlari secepat mungkit dan menarik Kai menuju kamar mandi. Dia asal-asalan melepar Kai ke kamar mandi sampai Kai terhuyung dan kepalanya membentur tembok.
"Aduh, sakit." Kai mengeluh seperti anak kecil.
"Apa kau sudah gila?! Kenapa setiap kali kau mabuk kelakukanmu seperti anjing liar begini?!"
Setelah meninggalkan Kai di kamar mandi, Yoo Ran kabur ke berenda untuk menghirup udara. Mungkin dengan begitu kepalanya yang panas akan menjadi dingin. Tapi tanpa sadar dia berbicara seorang diri sambil mengeluarkan rokok, menjepitnya di antara bibir dan mulai mencari pematik di saku celananya. Baru saja akan menyalakan rokok seseorang terlihat keluar dan muncul di berenda samping.
"Aku pikir siapa, ternyata kau?"
Yoo Ran yang melihat seorang pemuda berdiri di berenda samping hanya tersenyum malu. Dia mengambil rokok dari mulutnya sebelum bicara. "Kau sudah pulang?"
Pemuda yang tinggal di sebelah apartemennya itu adalah orang yang Chanyeol bicarakan tadi siang, Sehun. Yoo Ran baru ingat bahwa tempat tinggal mereka berdekatan, dan terkadang Sehun sering keluar karena mendengar suara berisik yang berasal dari tempat Yoo Ran.
Sehun mengangguk. Menatap Yoo Ran dengan intens sampai Yoo Ran harus mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maaf kalau terlalu berisik," kata Yoo Ran.
"Siapa yang di sana?"
Yoo Ran melihat ke dalam ruangan, mengikuti arah yang di tunjuk Sehun tadi.
"Oh, Jongin. Dia terlalu banyak minum hari ini."
Jongin adalah nama yang sebenarnya dan Kai adalah nama julukan yang biasa Yoo Ran gunakan untuk memanggil temannya itu.
Sehun hanya bergumam. Mengangguk dan tidak mengatakan apapun lagi.
Yoo Ran tidak pernah mengalami kesulitan saat berkomunikasi dengan orang lain. Baik itu orang yang berada lebih di atasnya atau pun orang yang berada jauh di bawahnya (mengenai umur). Yoo Ran tidak memikirkan itu, dia selalu menganggap orang lain sama seperti dirinya dengan mengedepankan sopan santun. Tapi hal itu terkadang selalu menjadi masalah jika harus berkomunikasi dengan Sehun. Menurutnya, Sehun adalah orang yang bersih—jauh dari alkohol, jauh dari kata bermain-main dengan wanita, jauh dari yang namanya asap rokok.
Memikirkan itu, Yoo Ran yang masih memegang rokok memasukkan kembali rokoknya ke dalam wadah.
"Sedang banyak pikiran?"
"Ha?"
Sehun menunjuk dengan dagu. "Kau selalu merokok saat sedang banyak pikiran 'kan?"
Yoo Ran mengingat-ngingat apakah dia pernah mengatakan hal itu. Tapi sepertinya tidak. Yoo Ran bahkan tidak pernah merokok di depan orang yang tidak menyukai hal itu, termasuk Sehun. Yoo Ran selalu mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Tapi memang Sehun pernah memergokinya merokok sesekali, dan Yoo Ran selalu mematikan rokoknya tanpa harus diminta.
"Kau adalah pengamat yang baik." Yoo Ran memberikan pujian atas kepintaran Sehun mengamati seseorang.
"Aku mendengarnya dari Jongin,"
"Oh,"
Yoo Ran bertanya-tanya kapan tepatnya Kai bertemu dengan Sehun dan meluangkan waktunya untuk mengobrol. Meskipun dirinya sudah mengenal Sehun sejak lama, tapi Sehun baru saja pindah ke sebelah apartemennya dua minggu yang lalu. Selama ini pertemanannya dengan Sehun tidak pernah melibatkan Kai. Yoo Ran sedikit terkejut karena saat memperkenalkan keduanya yang tanpa sengaja bertemu di depan pintu apartemen, Sehun dan Kai langsung akrab dan melakukan obrolan seperti kawan lama.
"Kapan kau ketemu dia?" Yoo Ran bertanya, dia juga penasaran apakah mereka benar-benar seakrab itu?
"Siang tadi. Aku tidak sengaja melihatnya di tampar oleh seorang gadis."
"Apa?"
"Sepertinya itu masalah pribadi."
Yoo Ran mendengus ringan. "Pantas saja dia sekarang mengacau di sini."
"Aku sempat berpikir Jongin itu pacarmu,"
"Apa?! Tidak mungkin!" Yoo Ran tertawa dengan sangat menggelikan dan menunjukkan sikap penolakan atas dugaan Sehun tadi. "Apa kau pikir aku dan dia itu cocok satu sama lain? Tidak, tidak. Itu tidak mungkin. Jangan berpikir seperti itu. Tolong."
Sehun yang mengamati Yoo Ran dengan baik hanya tersenyum dan menggumamkan sesuatu yang membuat Yoo Ran penasaran dan bertanya "apa?" tapi Sehun yang memalingkan wajahnya dan mendengar pertanyaan itu hanya menjawab "tidak apa-apa" sambil tersenyum.
Yoo Ran tidak terlalu memikirkannya, tapi mengingat bahwa Sehun sudah menjadi teman—yang bisa dikatakan akrab dengan Kai—Yoo Ran memikirkan untuk meminta bantuannya sedikit.
"Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak juga,"
"Kalau begitu, apa kau bisa membantuku?"
Sebelah alis Sehun sedikit terangkat karena rasa penasaran.
.
.
Yoo Ran tidak segan ketika meminta Sehun meminjamkan bajunya kepada Kai sampai pada tindakannya yang mengurus Kai mengganti baju. Tapi Yoo Ran lebih terkejut lagi ketika Sehun menawarkan diri untuk membawa Kai ke tempatnya. Dan karena permintaan kecilnya itulah sekarang Yoo Ran berada di dalam apartemen Sehun untuk membantunya membawa Kai.
Yoo Ran memikirkan bagaimana dia harus membalas kebaikan Sehun kali ini. Mungkin dengan mentraktirnya makan, itu bukan ide yang buruk karena sebenarnya dia ingin melakukannya untuk bantuan Sehun yang terakhir kali saat mereka bertemu di lobi dan membawakan beberapa belanjaannya sampai ke apartemennya. Tapi Sehun selalu sibuk dari yang Yoo Ran kira, dan Yoo Ran baru memikirkannya kali ini.
Sehun adalah seorang fotografer di sebuah perusahaan modeling. Namanya sudah cukup dikenal diantara para model dan beberapa artis. Sehun juga sering sekali melakukan perjalanan keluar negri hanya untuk menghadiri acara event fashion.
Tapi pertemuannya dengan Sehun tidak berhubungan dengan sebah pekerjaan, bisa dikatakan itu adalah sebuah pertemuan klise yang sering dialami orang-orang. Mereka tidak sengaja bertemu di bandara saat Yoo Ran menggeret koper dan tanpa sengaja melindas kaki Sehun.
Saat itu adalah musim semi—dua tahun yang lalu—dan Yoo Ran sedang melakukan perjalanan liburan ke Jeju. Sehun pada saat itu juga sedang melakukan perjalanan liburan. Pertemuan singkat mereka tidak hanya sampai pada kata permintaan maaf yang Yoo Ran berikan saja, karena pada saat Yoo Ran menempati kursi di dalam pesawat, Sehun berada dua baris di belakangnya. Sampai pada saat semua orang sudah menempati kursi dan Sehun melihat tidak ada orang yang berada di dekat Yoo Ran, Sehun memanggil seorang pramugari dan meminta ijin untuk mengganti tempat duduknya. Kebetulan saat itu orang yang duduk di samping Yoo Ran membatalkan jadwalnya dan Sehun mendapatkan ijin untuk menempati kursi di sebelah Yoo Ran—yang saat itu membuat Yoo Ran terkejut.
Dari pertemuan itu mereka saling bertukar nama, menanyakan alamat masing-masing, pekerjaan, sampai pada urusan kenapa keduanya mengunjungi Jeju. Karena kunjungan mereka di luar dari pekerjaan, Sehun menawarkan sebuah tour bersama dengan mengunjungi beberapa tempat. Bahkan saat kembali ke Seoul mereka tetap saling menghubungi satu sama lain, menceritakan hal-hal apa saja yang mereka lakukan dan sesekali makan bersama hanya untuk mengisi waktu luang.
Mengingat kembali bagaimana awal mereka bertemu membawa pada kenangan lama yang tidak sedikit memalukan tapi juga terlalu manis untuk di lupakan.
Yoo Ran yang sedang mengamati rak yang memajang berbagai jenis kamera dikejutkan dengan Sehun yang keluar dari kamar dengan jepit rambut yang sebelumnya tidak ada di sana—di atas kepalanya.
"Aku tidak tahu kalau kau sefeminin ini." Yoo Ran memberikan sindiran untuk penampilan Sehun yang jarang dia temui.
"Ini musim panas. Aku sudah lama tidak memangkas rambutku."
Yoo Ran tersenyum. Lalu maju beberapa langkah.
"Coba aku lihat."
Tangan Yoo Ran menggapai beberapa helai rambut Sehun yang memanjang. Mengukur berapa panjang rambutnya dan memandingkannya dengan yang dulu.
"Sepertinya memang sudah panjang."
Yoo Ran tersenyum saat mata mereka bertemu, tapi anehnya reaksi Sehun yang terkejut berubah menjadi senyuman yang membingungkan. Kemudian Yoo Ran dikejutkan dengan jarak yang terlalu dekat sampai tindakannya berubah menjadi canggung.
Wajah Sehun yang begitu dekat membuatnya sedikit terpesona. Dia memikirkan kapan terakhir kali dia menikmati wajah seorang pemuda yang halus dan bersih, tapi goresan bekas luka di pipi Sehun adalah yang paling menarik perhatiannya.
Saat Sehun tidak memberikan reaksi apapun dan Yoo Ran sadar bahwa dia harus menjauh untuk memberi jarak, Yoo Ran menarik tangannya dari atas kepala Sehun dengan kaku.
Dia mengambil langkah mundur sekali dan bertindak dengan tidak alami saat berkata, "Ini cocok untukmu" tapi pengalihan itu tidak membuatnya lebih baik. Jadi Yoo Ran menghindar sambil berkata, "Kau punya bir tidak?"
Sehun—yang anehnya—tidak terlihat gugup sedikitpun megusap rambutnya yang di pegang Yoo Ran tadi, lalu menatap Yoo Ran yang berjalan dengan sendirinya ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Sudut bibirnya di tarik ke atas dan sekali lagi dia menangkap tindakan manis dari seorang Im Yoo Ran.
Yoo Ran sudah mengeluarkan bir dan juga es batu, tapi tidak menemukan gelas. Jadi Sehun maju untuk mengambil gelas di kitchen set bagian atas lalu meletakkannya di meja saat dia berdiri di belakang Yoo Ran. Tindakan itu membuat Yoo Ran menelan ludah, menggerakkan kepalanya untuk mengintip tapi tidak benar-benar menoleh ke belakang karena tahu apa yang dilakukannya hanya akan membuat jantungnya tidak sehat.
Yoo Ram menggumamkan kalimat terima kasih dan Sehun tidak mengatakan apapun saat melihat Yoo Ran dengan cekatan menuang bir lalu memasukkan es batu di dalam gelasnya.
"Syukurlah kau ada di rumah, tapi aku juga menyesal karena sudah menyusahkanmu." Yoo Ran memberikan minumannya untuk Sehun lalu kembali mengucapkan terima kasihnya dengan tulus. "Terima kasih sekali lagi."
"Tidak apa-apa."
"Seharusnya kau tidak perlu membiarkannya tidur di kamarmu,"
"Lalu, apa kau akan membiarkannya tidur di tempatmu?"
"Biasanya sih begitu. Tapi aku berencana mengirimnya pulang dengan taxi."
Yoo Ran tidak tahu bahwa saat dia mengatakan dengan jujur seperti itu eskpresi Sehun terlihat rumit saat menatap Yoo Ran yang sibuk meminum birnya.
"Berapa tahun kau mengenalnya?"
Sehun bertanya dan Yoo Ran bergumam untuk mengingatkembali sebelum menjawab.
"Sejak kecil. Dulu kami bertetangga, tapi dia dan keluarganya pindah. Lalu aku bertemu lagi dengannya di tempat kerja sekitar 3 tahun yang lalu."
"Oh,"
Merasa bahwa komentar itu terlalu pendek, Yoo Ran berpikir bahwa dia harus lebih banyak bicara—karena sepertinya Sehun tidak berniat memulainya, wajahnya bahkan tiba-tiba berubah menjadi sedikit suram.
"Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu?"
"Baik,"
"Apa kau akhir-akhir ini tidak menghadiri event fashion?"
"Tidak."
"Tapi akhir-akhir ini aku sering melihatmu di tivi,"
"Benarkah?"
Yoo Ran menutup mulutnya dan tidak bertanya lebih jauh setelah melihat Sehun tidak bersungguh-sungguh saat menjawab semua pertanyaannya. Mungkin Sehun sedang banyak pikiran atau mungkin juga pertanyaannya membuat Sehun merasa tidak nyaman.
Yoo Ran berdehem dengan canggung lalu menghabiskan setengah gelas minumannya sebelum mengisinya kembali. Dia melirik hanya untuk melihat apa yang dilakukan Sehun, tapi matanya menangkap jepit rambut yang Sehun gunakan saat kepalanya menunduk. Entah kenapa itu sangat tidak cocok untuknya, tapi tetap tidak mengurangi auranya yang menarik perhatiannya.
27 tahun. Yoo Ran memikirkan perbedaan jarak diantara mereka.
Mereka terpaut 5 tahun, dan Yoo Ran sedikit menyayangkan berbedaan jarak mereka. Tapi Sehun yang lebih muda tidak pernah menunjukkan perbedaan itu dengan begitu jelas, Yoo Ran bahkan terbiasa ketika Sehun memanggil namanya langsung seolah mereka adalah teman sebaya.
Yang menggelikan dari pikirannya yang hanya sekedar menganggap Sehun sebagai teman adalah dia pernah membayangkan sebuah adegan yang tidak masuk akal. Dimulai dari tangannya bersentuhan dengan Sehun, berjalan berdampingan di bibir pantai, berpelukan saat cuaca dingin dan hal-hal lainnya yang terlalu manis untuk dilakukan dua lawan jenis yang berstatus sebagai seorang teman atau anggapan sebagai kakak dan adik.
Yoo Ran menarik sudut bibirnya karena tidak bisa menahan tawa, sialnya Sehun memperhatikan reaksi Yoo Ran yang begitu tiba-tiba. Yoo Ran yang sadar bersikap canggung dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Jadi dia berdiri dari kursi, dan Sehun yang masih duduk mendongak karena penasaran.
"Aku pergi dulu, sudah malam."
Yoo Ran berpamitan dengan cara yang benar-benar canggung. Itu semua karena apa yang dia pikirkan tadi, dan dia tidak ingin Sehun mengetahui dirinya berpikiran aneh seperti itu.
"Tunggu sebentar."
Yoo Ran yang sudah berdiri di ambang pintu berhenti dan menoleh ke arah Sehun karena sebuah teguran.
"Untukmu."
Dari semua hal yang Yoo Ran pikirkan—tentang apa yang akan Sehun katakan—dia tidak menyangka kalau Sehun memintanya berhenti hanya untuk memberinya sebungkus permen caramel yang tersimpan di saku celana.
"Kenapa memberiku ini?"
"Barangkali kau membutuhkannya. Mereka yang banyak pikiran biasanya menyukai makanan manis."
"Tapi aku tidak,"
"Aku tahu. Tapi tetap saja, ini masih lebih baik dari yang lainnya."
Yang Yoo Ran tangkap dari kalimat Sehun adalah nikotin yang mungkin saja akan merusak paru-parunya, dan Yoo Ran bisa mengganti itu dengan permen atau makanan lainnya.
Yoo Ran tidak mengatakan apapun lagi. Dia hanya mengangguk pelan, menerima pemberian Sehun tanpa protes.
Selama ini, Sehun tidak pernah menegurnya kalau pun dia melakukan kesalahan. Sehun juga tidak pernah menghadapkannya pada sebuah pilihan. Yoo Ran pikir, Sehun mungkin tidak ingin jika dirinya terlalu dipaksakan, karena itu Sehun selalu membiarkannya melakukan apapun yang menurut Yoo Ran benar. Tapi yang dilakukan Sehun sekarang berbeda dari kebiasaan yang Yoo Ran ketahui. Sehun jelas-jelas memberinya sebuah teguran, dan perhatiannya ini membuat hatinya merasa tidak nyaman.
.
.
.
Catatan:
Cerita ini awalnya di buat atas kerja sama sesil dan pit_yella. Ada kesamaan cerita di chapter 1-3 dan seterusnya akan berbeda. Jadi jika anda menemukan judul yang sama dan cerita yang sama, itu memang sudah sepengetahuan kami.