Between

Between
Bab 86 Perang Dingin Para Gadis



Lana melewati meja si sekretaris. Kosong, terimakasih pada Kyoya.


Lana cepat-cepat berjalan menuju lift dan menekan tombol panah.


Pintu Lift terbuka, untung saja tidak ada orang.


Lana langsung melangkah masuk dan bersandar di dindingnya yg penuh cermin. Sambil memperhatikan pintu lift menutup Lana menghela nafas lega. Beberapa detik lalu, hidupnya hampir saja dipertaruhkan. Syukurlah kini ia selamat.


Lana meluncur turun ke lantai dua. Begitu pintu lift terbuka, ia hendak kembali ke ruangan PPIC, tapi akhirnya memutuskan mampir ke kantin karena tenggorokannya kering. Setelah momen genting itu lewat, Lana baru sadar kalau ia amat sangat haus.


Lana membeli kopi dingin dari mesin penjual otomatis. Langsung meneguk minumannya hingga tinggal setengah botol. Lalu menghela nafas panjang lagi.


Lana berjalan melewati kantin, hendak ke ruangan PPIC. Memikirkan tugas mana di gunung tumpukan map yg sebaiknya ia kerjakan duluan.


"Lana?"


"Lana!! Hei, Lana!"


Seseorang memanggil Lana dari area kantin. Lana celingukan. Sekarang kan bukan waktunya istirahat, dan jarang ada yg duduk-duduk di kantin karena jam segini orang-orang sibuk di ruangan masing-masing. Siapa yg memanggilnya ya?


Lana menyadari ada seorang gadis melambaikan tangan dari kursi di pojok kantin. Lana menyipitkan mata agar bisa melihat jelas.


"Lana, sini sini.. come here."


Deg,


Lana menyadari yg memanggilnya adalah Hana. Lana sampai mengerjap tak percaya. Ia sekali lagi mengedip berusaha meyakinkan sosok itu benar-benar Hana. Tunangan Kyoya itu tampak sumringah.


Tanpa sadar Lana menggenggam botol kopinya erat-erat. Bagaimana ini? Jelas-jelas di ruangan ini hanya ada dia seorang, tidak mungkin Hana salah memanggil.


Sudah jelas, Hana sedang melambai padanya. Aku harus mendekat, atau pura-pura ga dengar ya. Gimana sebaiknya.


Lana membulatkan tekad lalu berjalan menghampiri meja pojok di kantin.


Lana canggung dan gugup, saat Hana terus memperhatikannya berjalan mendekat. Rasanya seperti gadis itu sedang memindai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Lana berdiri tepat di belakang kursi yg kosong. Meja Hana hanya ada ponsel yg tergeletak, satu cangkir teh dan sepiring kecil salad buah yg tinggal separuh.


Belum sempat mulut Lana membuka, tanpa berdiri untuk menyambut Lana, Hana sudah nyerocos memakai bahasa inggris.


"Finally I can meet you. Where have you been? I looked for you in the ppic room, you weren't there."


(Akhirnya kita bisa bertemu juga. Darimana saja? Aku mencarimu di ruangan PPIC tapi tidak ada).


Hana dengan antusias terus bicara,


"We've met several times, remember? I really want to talk with you. You look so beautiful, kind and pleasant. Maybe you and me can be friends."


(Kita sudah beberapa kali bertemu kan? Aku benar-benar ingin mengobrol denganmu. Kamu sangat cantik, baik dan menyenangkan. Mungkin kita bisa jadi teman).


Melihat Lana yg diam saja, Hana menatap gadis itu dengan alis terangkat dan ekspresi dibuat-buat tampak bersalah.


"Uups, my apologize. I'm so excited to meet you, i forgot to introduce my self."


Hana tiba-tiba bicara lebih pelan dan lambat, "Aku lupa kalau terus saja bicara memakai bahasa Inggris. Mungkin kamu tidak paham ya, maaf." Ada sedikit nada mencela dari kalimat itu.


"Aku bisa sih bahasa kamu, tapi belum lancar." Hana memasang senyum manis.


"Aku Hana." Gadis itu menjulurkan tangan mengajak bersalaman.


Lana tak mau ambil pusing. Entah baik atau tidak, yg jelas tunangan Kyoya sangatlah cantik. Dilihat dari jarak sedekat ini, kulit gadis itu benar-benar putih mulus, rambutnya hitam terurai indah, matanya yg sipit kini melengkung membentuk senyuman. Dan samar-samar aroma parfum wangi bunga menyeruak di hidung Lana.


Lana mengulurkan tangan dan menggenggam sejenak jemari lembut nan halus itu.


"Lana."


"Its okay to use English, Hana. Just as comfortable as you like. Of course I know who you are, I remember some of our meetings. Its an honor for me to talk with you and be your friend."


(Tidak apa-apa berbahasa Inggris, Hana. Senyaman nya kamu saja. Tentu saja aku tahu kamu siapa, aku ingat pertemuan kita. Suatu kehormatan bagiku bisa mengobrol dan berteman denganmu).


Lana tak bermaksud pamer. Tapi melihat ekspresi penuh kemenangan itu berubah kaget, Lana tersenyum dalam hati.


Apa Hana menganggapnya bodoh, tidak bisa bahasa inggris? Padahal Lana kan salah satu lulusan terbaik Fortec University. Universitas itu juga bukan kampus kaleng-kaleng. Bisa lolos diterima di sana, apalagi sampai lulus dengan nilai cumlaude, Hana memandang Lana sebelah mata.


Hana mengerjap, senyumnya langsung hilang. Matanya bersinar siaga. Dengan basa basi ia mempersilahkan Lana duduk.


Lana menuruti duduk di hadapan gadis itu semata hanya ingin menjawab rasa penasaran hati kecilnya saja. Kesan pertama yg ia tangkap dari seorang Hana sangatlah berbeda dari yg selama ini ia bayangkan.


Dari beberapa berita dan media sosial yg pernah ia lihat, Lana membayangkan Hana sangatlah manis dan baik. Meski memang benar sangat cantik, tapi gadis itu tampak sedikit angkuh dan ada ciri khas gadis-gadis kaya yg dari gestur maupun cara bicara tampak merendahkan orang lain. Meskipun berusaha keras mereka tutupi, tapi itu masih kentara.


(Selanjutnya percakapan diantara mereka menggunakan bahasa Inggris).


"Selamat atas pertunanganmu dengan Pak Koijima Kyoya. Kalian berdua sangatlah serasi." Lana berusaha terdengar setulus mungkin.


Hana memutar-mutar dengan sengaja cincin dijarinya. "Terimakasih." Hana memasang senyum manis lagi.


Masih dengan senyum di wajah, Hana melontarkan pertanyaan yg tiba-tiba,


Lana sangat terkejut. Lalu berusaha menetralkan sikapnya. Dengan pikiran kalut, menerka-nerka apa maksud Hana sebenarnya. Apakah gadis itu sudah tahu atau hanya sekedar bertanya karena ingin menguji jawaban dari mulut Lana.


"Mengapa kamu menanyakan pertanyaan seperti itu?" Alih-alih menjawab, Lana berusaha menghindar.


Mata Hana berbinar, senyumnya berubah sarkas. "Benar, maafkan aku. Bercanda juga ada batasnya. Kenapa aku menanyakan pertanyaan konyol seperti itu ya. Tidak mungkin kan seorang CEO menjalin hubungan dengan karyawan nya."


Apalagi karyawan kelas rendah, Lana seolah bisa mendengar lanjutan dari kalimat Hana.


Lana tertawa gugup. "Tentu saja. Benar, tolong jangan bercanda seperti itu lagi. Disini gampang sekali menjadi gosip yg bukan-bukan."


Hana menatap lurus ke arah Lana. "Ya, tapi terkadang ada juga orang-orang yg tidak sadar dimana posisinya berada."


Detik berikutnya Hana tersenyum manis. "Syukurlah kamu bukan orang seperti itu, ya kan."


Lana tertawa gugup lagi. Sial, mungkin gadis didepannya ini memang lebih muda, tapi mental dan caranya bicara sudah terlatih untuk membuat orang lain tak berkutik. Secara halus menjatuhkan martabat orang lain.


"Lana, sekarang kita berteman ya?"


Tiba-tiba Hana mengubah topik pembicaraan. "Aku tidak kenal siapa-siapa di negara ini. Kadang-kadang aku ingin hangout tapi tidak ada teman perempuan. Itu sedikit menyebalkan. Kapan-kapan kita hangout bareng, okey?"


Lana menimbang-nimbang. "Tentu saja kita bisa jadi teman. Terimakasih sebelumnya, tapi maaf jika membuatmu kurang nyaman, sejujurnya aku tidak punya banyak waktu luang untuk hangout karena pekerjaan."


Hana tampak berpikir sejenak.


"Lalu bagaimana kamu membagi waktu untuk berkencan? Kamu tidak punya pacar? Masa sih? Kamu kan cantik." Hana antusias menggoda Lana. "Saat pesta, kamu datang bersama seorang pria. Itu pacarmu kan?"


Lana mulai merasa tidak nyaman. "K-kami hanya berteman."


"Oohh.." Hana menatap atas kepala Lana. "Menurutmu Kyoya orang yg bagaimana?"


"Pak Koijima?" Lana tidak menyangka topik berubah drastis. Ia berusaha memberikan jawaban diplomatis. "Pak Koijima adalah CEO terbaik yg dipunya MT Corporation."


"Oohh.." Hana tampak mengulum senyum.


"Sedang apa kamu di sini?"


Lana terlonjak kaget. Suara laki-laki terdengar dari belakang punggung Lana. Ia memutar tubuhnya.


Kyoya sedang berdiri di belakang kursi Lana, menatap tajam ke arahnya.


Lana mengerjap, lalu menyadari bahwa Hana sudah tahu Kyoya ada dibelakangnya, jangan-jangan gadis itu sengaja melontarkan pertanyaan tadi.


Lana pucat pasi. Cepat-cepat ia berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat.


"Kyoya-kun." Hana dengan gedubrakan bangun dari kursi lalu memeluk lengan Kyoya manja.


"Sedang apa anda disini, nona Lana?" Kyoya kembali bertanya dengan nada tajam. "Ini masih jam kerja."


"Jangan marah padanya. Aku yg mengajak dia mengobrol. Sekarang kami berteman, kau dengar sendiri kan tadi." Hana merajuk. Suaranya yg sengaja dilambatkan karena memakai bahasa negara Lana terdengar menyebalkan.


"M-maaf Pak, saya akan segera kembali ke ruangan saya." Lana membungkuk lalu cepat-cepat berlari meninggalkan mereka berdua.


"Sampai jumpa lain kali, Lana." seru Hana sambil melambaikan tangan riang. Masih dengan memakai bahasa negara Lana.


Kyoya menatap sosok gadis yg tergopoh-gopoh pergi itu, lalu hilang di tikungan.


Hana cekikikan. Kyoya menoleh kearahnya, melipat kedua tangan di dada, tampak tidak suka.


"Lucu sekali gadismu itu." Hana melepas tangannya yg tergeletak manja di lengan Kyoya. Kini ia berbicara dengan Kyoya memakai bahasa Jepang. "Kucing kecil yg imut. Miaow.."


"Jadi ini tujuanmu datang ke kantorku? Kamu berniat mengganggunya."


Hana tertawa renyah. "Buat apa aku mengganggunya. Aku kan sudah memilikimu, Kyoya-kun." Hana menggerakkan jemarinya yg dilingkari cincin di depan wajahnya.


"Aku hanya penasaran saja, dia orang yg seperti apa."


Hana pura-pura cemberut. "Tidak asik. P-o-l-o-s. Membosankan."


Kyoya melirik jam tangannya. "Aku ada janji temu dengan klien setelah ini. Ayo kita makan siang, setelah itu pulanglah."


Hana kini benar-benar cemberut. Pertama karena Kyoya mengabaikannya, kedua karena lagi-lagi laki-laki itu amat sangat sibuk.


Hana menyambar ponselnya di meja lalu mau tak mau mengikuti Kyoya.


"Kau dengar kan tadi? Lana dan pria di pesta itu hanya teman."


Tiba-tiba Hana nyeletuk.


"Kau pasti penasaran setengah mati kan saat melihat mereka kemarin? Berterimakasihlah padaku, mereka ternyata hanya teman."


Kyoya menoleh dan memasang wajah garang. "Hana.."


"Iya-iya gomen ne.." Hana langsung diam dan tidak berbicara tentang Lana lagi.


...***...