Between

Between
Bab 78 Sisi Lain Seorang Hana



Aroma kopi dan harum roti yg baru keluar dari panggangan menguar memenuhi ruangan. Kafe 'Denis Robusta' tidak seramai biasanya karena jam makan siang sudah lewat beberapa waktu lalu.


Hanya tiga meja di ruangan sebesar itu yg terisi pengunjung, satu di dekat pintu masuk, satu di meja pinggir jendela dan satu di sudut.


Di meja paling pojok, agak tertutup oleh kisi-kisi hijau kekuningan karena dihiasi tanaman sulur indah, duduklah seorang gadis berambut panjang hitam. Disebelah gadis itu berdiri Roger, ajudan setia CEO MT Corporation, memakai setelan jas hitam rapi.


Gadis itu tampak bosan. Setelah memainkan sendok yg diaduk-aduk ke dalam cangkir kopinya, membuat hancur corak hati indah hasil karya si barista, tanpa mengangkat wajah gadis itu bertanya pada sang ajudan.


"Sudah sampai mana? Berapa menit lagi?"


(Percakapan antara gadis itu dan Roger memakai bahasa Inggris, demi kenyamanan pembaca dan efisiensi maka akan langsung author terjemahkan ☺️)


Roger melirik jam tangan ditangan kanannya. "Tuan Kyoya sedang menuju kemari nona Hana, lima menit lagi beliau akan sampai." Pria itu menjawab sopan.


Namun Hana, gadis itu, memukul meja dengan ujung tangkai sendok yg tergenggam.


Lagi-lagi tanpa mengangkat wajah, gadis itu menyahut kesal, "Kau tidak menjawab pertanyaanku. Aku bertanya, sudah sampai mana? Itu artinya kau harus menelepon Kyoya, tanyakan padanya dia sudah sampai mana!"


Hana berusaha mengembalikan gesturnya supaya tenang dan berwibawa. "Dasar bodoh." umpatnya pelan.


Tanpa membuang waktu Roger mengeluarkan ponsel dan langsung menelepon bosnya. Dengan nada menyesal dan hati-hati Roger bertanya tentang lokasi bosnya itu. Syukurlah Kyoya tidak curiga mengapa tumben Roger sampai bertanya segala.


Roger menatap punggung berambut panjang indah itu. Ia tetap menjawab dengan nada sopan meski pria itu mendengar umpatan gadis itu dengan sangat jelas.


"Saya mohon maaf atas kurang tanggap dan kebodohan saya nona. Tuan Kyoya sudah sampai di jalan Terari, 2 kilometer dari sini."


Hana berdecak, itu masih cukup jauh, batinnya. Tanpa mengucapkan terimakasih, Hana menyuruh Roger memesankan kue Red Velvet. Roger patuh lalu pergi ke meja kasir.


Hana mengikuti gerak-gerik pria itu sambil mencibir. Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari tas kecil berlogo cc yg tergeletak di kursi kosong di sebelahnya. Lalu mulai sibuk dengan ponsel, menonton dorama live streaming.


Saat Roger berjalan kembali menuju kursi si nona judes itu dengan sepiring kue bercorak merah putih penuh krim, ia berpapasan dengan bosnya. Laki-laki tampan itu memakai setelan jas hitam rapi dengan dasi biru muda bercorak silver.


Kyoya berhenti, alisnya terangkat melihat Roger, ajudannya itu langsung membungkuk hormat.


"Aku tak tahu kau sekarang suka makanan manis." kata Kyoya demi melihat kue ditangan Roger.


Roger mengendik sopan. "Ini kue pesanan nona Hana, sir."


Ekspresi Kyoya tak bisa ditebak, ia mengambil alih piring kue itu lalu berjalan menuju meja Hana setelah bertanya dimana Hana berada dan Roger menunjuk sopan ke sudut.


Hana sedang asyik, hanyut dalam adegan romantis dorama di ponsel ketika menyadari sebuah tangan menyorongkan piring berisi kue ke meja.


Tanpa mengalihkan wajah, Hana mengomel, "Lama sekali sih."


Karena tak ada jawaban, Hana menoleh dan kaget melihat Kyoya yg berdiri di sebelahnya. Roger menunduk, berdiri dibelakang.


Hana sontak berdiri dan bergelayut manja di lengan Kyoya. "Astaga, maksudku lama sekali kamu baru datang. Aku sudah menunggumu cukup lama. Sampai bosan deh."


(percakapan antara Hana dengan Kyoya memakai bahasa Jepang)


Kyoya melepaskan pegangan Hana lalu berjalan ke kursi kosong di depan gadis itu. Kyoya duduk tanpa berkata apa-apa.


Hana yg jengah ikut duduk lalu berpura-pura sibuk memakan kue. Ponselnya tergeletak begitu saja di sebelah cangkir kopi.


Sebelum Roger bertanya, Kyoya mengangkat tangan terlebih dahulu.


"Saat ini aku tidak ingin pesan apapun. Aku akan pesan sendiri kalau itu sudah waktunya bagiku untuk pesan." Saat bicara, mata Kyoya menatap langsung Hana. Hana berpura-pura tidak mendengarnya. Toh Kyoya sedang berbicara dalam bahasa negaranya. Hana pura-pura saja tidak mengerti walaupun dia sebenarnya paham.


"Carilah tempat duduk dan pesanlah untuk dirimu sendiri. Sepertinya kami akan lama berada disini." perintah Kyoya.


Roger patuh, ia memberi hormat lalu berjalan pergi. Roger memilih kursi di dekat jendela, pantulan meja bosnya bisa ia lihat dari sini. Setelah melambai ke pelayan, Roger memesan espresso dan omelet waffle.


Kyoya memperhatikan Hana yg sedari tadi diam melahap kue, lalu matanya tertuju ke ponsel gadis itu yg masih menyala menayangkan sebuah film.


"Bercerita tentang apa?" tanya Kyoya tiba-tiba.


Hana mendongak, bingung dengan maksud pertanyaan laki-laki itu. Kyoya menunjuk ponsel Hana. Gadis itu langsung sadar, ia segera mematikan ponselnya. Layar ponsel kini berwarna hitam.


"Kisah cinta anak SMA. Bukan genre yg kau suka." jawab Hana singkat, ia masih merasa kesal. Hampir saja tadi Kyoya tahu sifat aslinya yg sebenarnya. Dasar si ajudan bodoh itu, awas saja, batin Hana.


Kyoya tertawa kecil, "Memangnya kau tahu genre apa yg kusuka?"


Hana sedikit lega melihat Kyoya yg tertawa. "Tahulah. Genre apa ya namanya.. yg serius, yg harus memeras otak berpikir? Yg pasti bukan horor atau romansa."


Kyoya tersenyum, "Apa alasannya?"


Hana mulai rileks melihat gestur Kyoya yg tak lagi kaku dan marah. "Tentu saja karena melihat karakter dan sifatmu, Kyoya-kun. Aah.. atau thriller?" Hana tiba-tiba teringat. "Kau menyeramkan kalau marah."


Kyoya menatap Hana yg kembali ceria, "Sayang sekali jawabanmu salah. Aku suka genre komedi, dan romance."


"Hontou ni ?" (benarkah) Hana memekik tak percaya. "Hee?"


Kyoya tersenyum, "Terserah mau percaya atau tidak. Itulah yg kusuka."


Lalu Kyoya mengubah gesturnya saat duduk agar terlihat lebih tegas namun tetap santai.


"Hana, sudah berapa kali kubilang, Roger itu ajudanku, anak buahku. Dia kusuruh hanya untuk mengantar dan menemanimu. Jadi kamu tidak berhak memberi perintah apapun kepadanya, apalagi menyuruhnya melakukan hal sepele, yg sebenarnya bisa kamu lakukan sendiri."


Hana memasang wajah manyun. Ia sudah tahu begitu ketahuan tadi reaksi Kyoya pasti akan begini. Tapi setidaknya laki-laki itu bicara dengan nada ramah meski tegas, bukannya marah.


Hana memasang wajah menyesal. "Gomen ne.. Kali ini aku akan mengingatnya." (Maaf)


Melihat gadis itu sudah terlihat menyesali perbuatannya dan menurut, Kyoya tersenyum. "Hana si anak baik. Terimakasih sudah menurut."


Hana mengerucutkan bibir. "Jika ini bukan tempat umum, aku pasti sudah memukulmu Kyoya-kun."


Kyoya refleks tertawa. Hana yg meski kesal, menatap terpana ke arah laki-laki yg sangat tampan dan menawan itu. Saat Kyoya seperti inilah yg paling ia suka. Apa saja akan ia lakukan, karena Kyoya harus jadi milik Hana.


Selanjutnya mereka terlibat obrolan sampai Hana tiba-tiba ijin ke kamar mandi. Ia ingin buang air kecil karena kalau minum kopi membuatnya jadi sering pipis.


Kyoya menatap kepergian gadis itu. Lalu setelah Hana berbelok dan tidak terlihat lagi, Kyoya mengeluarkan ponsel untuk melakukan kebiasaannya yg baru, yg ia lakukan ketika sendirian dan dilanda sepi.


Kyoya membuka fitur pesan, meng-scroll sampai menemukan chat Lana. Lalu pria itu mulai membaca-baca lagi pesan-pesan yg pernah Lana kirimkan. Serindu itu, seobsesi itu.


Kyoya mengklik gambar kecil di sudut kiri, lalu foto seorang gadis terpampang penuh memenuhi layar ponsel. Kyoya refleks membelai lembut wajah di foto itu dengan ibu jarinya. Tatapan matanya berubah sayang dan rindu. Ingin rasanya bertemu dan memeluk gadis ini lagi. Tapi Kyoya tahu itu sangatlah mustahil.


Kyoya terhanyut dalam lamunan, tidak sadar Hana telah kembali. Dan bukannya duduk di kursinya sendiri, Hana duduk di kursi di sebelah Kyoya. Gadis itu melirik layar ponsel Kyoya dan mencibir.


"Aku heran bagaimana bisa kau masih mencintainya."


Kyoya terdiam, dia membiarkan Hana tahu apa yg sedang ia lihat. Dengan sengaja malah menzoom out foto Lana.


Rahang Hana mengeras, ingin sekali ia menyambar ponsel Kyoya lalu melemparnya jauh-jauh hingga hancur lebur. Tapi Hana mengingatkan diri agar tetap tenang, slay dan berwibawa.


"Gadis itu bukan apa-apa dibandingkan aku, ya kan?" sahut Hana. Ada secercah kecil di hati gadis itu, perasaan berharap Kyoya akan menjawab iya, tapi..


Tanpa perlu berpikir, Kyoya menjawab, "Kalian tidak akan bisa dibandingkan, karena kalian berdua berbeda."


Hana mengangguk sarkas, "Ya, benar. Aku dari kalangan elite. Dia hanya gadis biasa."


Kyoya tersenyum samar, "Kau sangat tahu bukan itu yg kumaksud."


Hana jadi manyun. Maksudnya gadis itu mendapatkan cintamu, sedangkan aku tidak, begitu?


Hana sudah ingin berdebat lagi ketika melihat dua orang berjalan mendekat, tampak sedang menghampiri tempat duduk mereka. Dengan tegas, Hana menutup dan menurunkan ponsel Kyoya lalu berbisik memperingatkan, "Kyoya-kun."


Kyoya menatap ke depan dan langsung tahu alasan dibalik gerakan tangan Hana. Kyoya menyimpan ponsel di dalam saku jasnya, lalu bersiap-siap berdiri. Diikuti Hana yg langsung memasang wajah berseri.


"Konichiwa.." sapa keduanya ramah saat kedua tamu itu sampai di meja. Kyoya maupun Hana balas membungkuk sopan.


Hana dengan sumringah memperkenalkan tamunya kepada Kyoya.


"Ini Kotoko Mayumi, dan ini Wagashi Hiroshi." Seorang gadis mungil bermata sipit dan seorang pria putih berambut emo membungkukkan badan sopan. Kyoya balas membungkuk lagi.


"Mereka teman-temanku saat kuliah di Amerika, dan sekarang mereka adalah partner kerja kita yg akan membantu proyek pengembangan Nakayama Diamond dan MT Corporation." jelas Hana panjang lebar dalam bahasa Jepang.


Kyoya menyapa mereka dengan ramah dan sopan, lalu memperkenalkan dirinya sendiri.


Hana memindahkan ponsel, cangkir dan piring kue nya ke dekat Kyoya, lalu menyambar tas kecilnya. Hana pun mempersilahkan kedua tamu itu untuk duduk.


"Seperti yg kulihat di berita ya, Koijima-kun sangat tampan, Hana-chan juga sangat cantik. Kalian benar-benar serasi." puji Mayumi.


Kyoya duduk sambil tertawa kecil menanggapinya.


"Benarkah?" Hana pura-pura kaget, lalu dengan melirik manja, ia menambahkan, "Sayangnya laki-laki di sebelahku ini tidak berpikir demikian. Aku bukan yg tercantik dimatanya."


Dua tamu itu terkejut, "Hontou ni? Hee?"


Kyoya tertawa gugup. Dia melirik tegas ke arah Hana yg tertawa senang karena merasa menang.


Kyoya berkata sopan, "Kadang Hana memang suka bercanda."


Kedua tamu itu setuju lalu memaklumi.


Hana hanya tersenyum. Lalu dengan profesional ia mengubah gesturnya menjadi berwibawa dan elegan.


Setelah kedua tamu itu dipersilahkan memesan sesuatu, mereka pun terlibat obrolan serius tentang proyek kerjasama.


...***...


Meeting telah selesai, dua tamu itu sudah pergi beberapa menit lalu. Kyoya menatap Hana yg berpura-pura sibuk menghabiskan kopi.


"Apa?" tantang Hana, menaruh cangkir kopi dengan sedikit keras ke atas meja.


Kyoya menghela nafas panjang. Kyoya lupa Hana memang masih sangat muda, kenapa akhir-akhir ini dia jadi sering marah pada Hana sih. Kadang Kyoya lupa Hana bukanlah anak buahnya, tidak bisa ia kontrol ataupun atur. Tapi gadis ini kadang-kadang di luar batas, Kyoya tidak menyukai hal itu.


"Lain kali jangan mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan." kata Kyoya pelan. Ia mengusap kepala Hana lalu mengambil ponsel dari dalam saku jas.


Kyoya menelepon supir perusahaan untuk menjemputnya sekarang.


"Kau mau pergi?" tanya Hana kecewa.


Kyoya menatap bingung, "Roger tidak memberitahumu? Setelah ini aku ada rapat penting di kantor."


Hana manyun. "Kayaknya sih sudah bilang, atau engga ya.. entahlah. Tapi aku masih ingin bersamamu Kyoya-kun." rajuk Hana. Tiba-tiba matanya berbinar. "Aku boleh ikut ke kantormu? Aku belum pernah ke sana. Boleh ya?"


Kyoya menghela nafas, "Aku ada rapat Hana, dan disana bukan tempat bermain."


Hana sekali lagi cemberut. "Baiklah, sana pergi. Dasar gila kerja." umpatnya dengan bercanda.


Kyoya menepuk pelan kepala gadis itu lalu berjalan pergi. Ia melewati Roger yg sudah berdiri hendak mengantar bosnya tapi Kyoya memberi isyarat agar Roger memperhatikan Hana saja.


Ajudan itu membungkuk memberi hormat lalu menatap punggung atasannya itu yg semakin menjauh lalu menghilang dibalik pintu kaca.


Roger berbalik lalu berjalan menghampiri Hana.


"Nona-"


PLAK!!


Suara tamparan yg sangat keras terdengar, beberapa orang sampai menoleh mencari tahu suara apa itu. Kepala Roger sampai terlempar ke samping.


Hana menurunkan tangannya, menatap bengis ke wajah ajudan yg sedang tertunduk itu.


"Satu lagi kesalahan, tidak hanya tamparan yg akan kuberikan. Kau mengerti?" cercanya kesal. (Mereka memakai bahasa Inggris)


Roger menunduk sopan. "Saya mengerti nona. Saya minta ma-"


Hana berjalan melewati Roger, mengabaikan pria itu, "Aah berisik, cepat antarkan aku pulang. Aku capek."


Tangan Roger terkepal, tapi nada suaranya tetap terjaga sopan. "Baik nona."


Pria itu mengikuti si nona judes sambil membelai pipinya yg mulai terasa nyeri dan panas. Entah bagaimana caranya memberitahu pada atasannya betapa mengerikan sifat asli calon tunangannya ini. Gadis ini benar-benar menyeramkan.


...***...