
Pria itu menatap meja dengan rasa tidak percaya.
Tampak dua mangkuk mie dengan toping irisan seafood sedang mengepulkan asap karena baru dihidangkan.
Didepannya Lana tersenyum ceria sambil menunjuk ke mangkok mie itu.
"Terlihat lezat kan? Ramen disini adalah yg paling enak, daging seafood nya lembut, mie nya kenyal dan kuahnya.. ah silakan coba sendiri, anda pasti tahu yg saya maksud. "
Lana seperti seorang salesman yg sedang mempromosikan produk kepada calon pembeli.
"Saya jamin, mood anda akan langsung membaik setelah memakannya. "
Pria itu berusaha mencerna apa yg tengah terjadi.
"Jadi.. saat kamu menawarkan makan Ramen itu.. benar-benar makan Ramen?"
Pria itu menunjuk ke mangkok mie. "Ini?"
Lana langsung mengangguk,
"Benar, setiap saya sedang stres atau mood saya buruk, saya pasti kesini. Dan setelah kenyang, saya merasa lebih baik. "
"Astaga."
Pria itu menutup wajah dengan satu tangan dan menunduk, tampak malu.
Lana berkedip bingung, kenapa reaksi pria itu tiba-tiba jadi seperti ini.
Pria itu menurunkan tangan dan menatap Lana yg sedang balik menatapnya dengan pandangan heran.
Bisa-bisa nya, bisa-bisanya ada gadis sepolos ini. Ataukah jangan-jangan dirinya yg terlalu berpikiran mesum.
Pria itu tersenyum sarkas mengingat beberapa menit lalu betapa dirinya berpikir dan mengharapkan hal yg bukan-bukan.
Padahal gadis ini benar-benar mengajaknya makan mie, bukan hal aneh lainnya.
"Ada apa? Apa anda tidak suka Ramen? Atau.. jangan-jangan anda alergi seafood? Ah benar juga, maaf saya lupa memberitahu kalau mie disini hanya menyediakan mie seafood. Atau bagaimana kalau saya minta dibuatkan lagi mie yg polos tanpa toping? " Lana bertanya.
Setelah bisa menguasai diri, pria itu memandang Lana dan menjawab,
"Tidak perlu. Pertama, aku tidak alergi seafood. Kedua, aku tidak makan karbohidrat lagi lewat pukul 8 malam, dan ini sudah tengah malam. Ketiga, meskipun mie nya kelihatan lezat tapi aku sangat jarang, bisa dikatakan aku adalah tipe orang yg tidak akan datang ke tempat seperti ini. "
"Dan satu lagi, "
Pria itu bertanya dengan nada tegas,
"Tidakkah kau pernah mendengar, bahwa sebenarnya ada maksud lain dari tawaran mengajak makan Ramen di rumah?"
Lana menggeleng, "Saya tidak tahu."
"Itu hanya sekedar ucapan, tidak benar-benar mengajak untuk makan mie seperti ini." Pria itu mencondongkan tubuh mendekat ke arah Lana, suaranya pun berubah menjadi lebih rendah. "Kau benar-benar tidak tahu, bahwa itu adalah bahasa tersembunyi untuk mengajak melakukan hubungan badan alias O.N.S?"
"Hah?! O. N. S?!"
Tanpa sadar Lana menjerit, dan langsung membekap mulutnya sendiri.
Orang-orang di sekitar mereka menoleh ke meja Lana. Lana membungkukkan badan ke kanan dan ke kiri, meminta maaf karena sudah mengganggu.
Lana gelagapan,
"S-saya.. bukan itu, m-maksud saya mengajak makan ramen, ah.. "
Lana benar-benar bingung bagaimana cara menjelaskannya.
Pria itu memperhatikan Lana yg tampak menggemaskan salah tingkah seperti ini.
"Apa kau tahu, sekarang kamu sama merahnya dengan kepiting itu? "
Pria itu menunjuk ke deretan kepiting gemuk merah di meja penjual.
Lana semakin salah tingkah, benar-benar deh.. padahal ia hanya ingin bermaksud baik mengajak pria itu makan ramen yg lezat ini, bukan mengajak.. ah, memalukan sekali.
Untuk menutupi rasa malunya, Lana mulai menyeruput mie.
Tetapi pria itu masih ingin menggoda Lana, "Tadinya kukira kamu mengajakku makan ramen yang 'itu'. Sayangnya, aku sempat mengharapkan 'sesuatu' terjadi. "
Glek! Uhuk, uhuk. Uhuk, uhuk.
Kata-kata pria itu membuat Lana tersedak dan ter batuk-batuk. Kuah mie yg panas dan pedas membakar tenggorokan dan paru-paru nya.
Dengan sigap, pria itu menyodorkan gelas berisi air putih dan membantu Lana minum. Pria itu juga menepuk-nepuk punggung Lana lembut.
"Terimakasih."
Lana sudah membaik.
"Maaf sudah membuat anda salah paham. Dan maaf, saya tidak tahu anda tidak menyukai makanan yg dijual di tempat seperti ini."
Lana tidak pandai menutupi suasana hatinya.
Pria itu tahu jelas Lana tampak kecewa karena ia tidak mau memakan mie itu.
Akhirnya pria itu pun mengambil sumpit dan mengangkat beberapa mie dari mangkuk.
"Biasanya aku adalah orang yg seperti itu, tapi kali ini aku akan memakannya. Karena kamu sudah terlanjur memesan mie ini."
Pria itu tampak menimbang nimbang, jadi melahap mie itu atau tidak.
"Apa kamu tahu, restoran yg mendapat gelar bintang lima Michelin saja masih mempunyai sekitar 20% tingkat kemungkinan makanan mereka tidak higienis. Bisa kamu bayangkan tempat semacam ini berapa persen?"
Walaupun sudah mengomel panjang lebar, pria itu mau tak mau akhirnya menyuapkan mie ke dalam mulutnya dengan wajah segan dan terpaksa.
Alis Lana terangkat, menanti perubahan ekspresi pria itu.
Dan benar saja,
detik berikutnya, ekspresi segan dan terpaksa itu langsung berubah menjadi ekspresi terkejut.
"Bagaimana, enak gila, kan?" tanya Lana dengan senyum tertahan.
...***...