Between

Between
Bab 25 Cika



Lana bengong. Bingung kenapa Kyoya menyorongkan kotak ponsel tipe terbaru semahal ini kearahnya.


Seakan bisa membaca pikiran Lana, Kyoya berkata.


"Ponselmu rusak kan? Saat menelepon di mobil, aku melihat ponselmu retak."


"Ah, tapi masih bisa digunakan.. " Lana melanjutkan dalam hati, yah walau sering nge-hang.


"Maaf tapi saya tidak bisa menerima barang mahal seperti ini." Lana menyorongkan kembali kotak ponsel itu. Walau ia tahu betul kalau hati kecilnya bicara lain.


Kyoya mengulurkan tangan ke tengah meja, menuang teh ke cangkir kecil. Mengabaikan kotak putih itu.


Setelah menyeruput teh, dia berkata santai. "Aku sudah memberikan barang itu untukmu. Jadi sekarang ponsel itu adalah milikmu, kamu gunakan atau kamu buang itu terserah kamu."


Lana menghela nafas, benar-benar seorang CEO, cara lelaki itu bernegosiasi membuat Lana tidak bisa berkutik. Mengingat sifat dan karakter Lana, sudah pasti ia tidak akan memilih option kedua. Tidak mungkin Lana tega membuang ponsel baru yg harganya bisa untuk membeli beras selama setahun itu.


Belum sempat Lana hendak protes lagi, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa memasuki ruangan. Beberapa penyelawat termasuk Lana menoleh heran ke pintu masuk.


Di sana berdiri seorang gadis berambut pendek memakai setelan kerja abu-abu dan membawa tas jinjing warna senada tampak terengah-engah, sedang mengedarkan mata ke sekeliling ruangan.


"Cika?!" pekik Lana, refleks berdiri.


Gadis bernama Cika itu menoleh ke suara yg memanggilnya, memekik lega lalu segera berjalan cepat menghampiri meja tempat Lana duduk.


Cika langsung memeluk Lana erat, seolah mereka telah sekian lama tidak bertemu.


"Yang tabah ya, Lana. Aku turut berduka atas kepergian ibumu. Tante Hasmi orang yg baik, pasti beliau sekarang sedang berbahagia di surga." kata Cika sambil mengelus punggung Lana.


Lana mengucap terimakasih, sebelum Lana bisa membuka mulut untuk bicara lagi, Cika mendadak melepas pelukannya dan menatap Lana kesal.


"Kenapa tidak memberitahuku secepatnya? Aku kan bisa ijin tidak masuk dan langsung ke sini. Kau mengabariku saat jam makan siang, kau tahu kan bosku sangat terobsesi menjadikan NusaDua sebesar MT Corporation. Dia tidak mentolerir karyawan untuk pulang lebih awal, apalagi ijin mendadak. Cih biar bekerja keras bagai kuda pun tidak akan mungkin anak perusahaan bisa menyaingi induknya."


Tanpa babibu, Cika langsung mengomel panjang lebar. "Aku benar-benar tersiksa hari ini. Menunggu jam pulang rasanya sangaaaat lama, begitu akhirnya aku bisa keluar dari kantor sialan itu aku cepat-cepat naik kereta dan kau tahu, penuh parah gila! Butuh perjuangan banget untuk bisa kemari, Lana." Cika seperti tidak butuh oksigen saat mengatakan semua kalimat itu karena dia seperti tidak menghirup nafas.


Dan ternyata belum selesai, Cika membuka mulutnya lagi. "Aku lihat di depan, karangan bunga dari MT Corporation banyak sekali. Tapi mana rekan kerjamu, pasti tidak ada yg datang kan? Memang semua karyawan di sana gila kerja tapi ternyata tidak punya empati sedikitpun." Cika memberengut kesal.


Mendengar omelan Cika, Lana menjadi salah tingkah. Karena bos MT Corporation yg di jelek-jelekkan Cika ada di sini, disebelahnya.


"Kau kemarin malam ke sini naik apa?" Cika mendadak teringat sesuatu. "Kau bilang ibumu masuk rumah sakit tengah malam tadi, lalu kau langsung ke sini? Kereta cepat kan sudah tidak ada. Iiih, kenapa sih kau tidak mengabariku saat itu!"


"Cika.." Lana mencoba meredakan kekesalan sahabatnya itu. Sebelum gadis itu merentet lagi seperti petasan.


"Lana, siapa ini?"


Lana merasakan Kyoya bangkit dari duduknya dan menghampirinya. Lana menoleh dan Kyoya sudah berdiri di sampingnya. Lana kembali menghadap Cika hendak memperkenalkan lelaki itu pada sahabatnya tapi yg dilihatnya kemudian sangat lucu.


"Selamat sore eh petang .. S-selamat petang Pak Koijima Kyoya. Perkenalkan nama saya Cikita Mauri. Saya adalah sahabat Lana sejak kecil. Lana biasa memanggil saya Cika. Saya kebetulan bekerja sebagai administrasi di PT. NusaDua."


Cika membungkuk semakin dalam. Lana mengkhawatirkan punggung gadis itu pasti sakit. "Maafkan saya Pak. Saya benar-benar tidak mempunyai maksud apa-apa saat berbicara tadi, mulut saya kadang memang sering lupa di rem. Tolong jangan diambil hati. Saya benar-benar menyesal, saya akan lebih berhati-hati kedepannya."


Lana ingin sekali tertawa, lucu sekali melihat Cika yg biasanya galak bisa ketakutan dan memohon- mohon seperti ini. Lana juga sedang menunggu bagaimana reaksi dari sang CEO.


Kyoya berdeham. Lalu bicara dengan suara pelan tapi tegas. "Orang lain yg mendengar kata-kata anda pasti akan langsung berpikiran buruk pada NusaDua dan MT Corporation."


Cika membungkuk lebih dalam lagi. "Saya tahu saya salah, saya benar-benar minta maaf Pak." Cika merasa seperti seorang terpidana yg sedang menunggu putusan hukuman dari hakim.


"Saya terima permintaan maaf anda. Hanya saja.." Kyoya sengaja mengulur waktu. Lana dan Cika menunggu dengan waspada. Cika bahkan sampai menutup mata takut mendengar kelanjutannya.


".. berdasarkan peraturan perusahaan, saya tidak mempunyai kewenangan apapun pada karyawan yg bekerja di anak perusahaan MT Corporation. Itu adalah tanggung jawab sepenuhnya dirut masing-masing anak perusahaan." Kyoya menahan senyum dan berkata santai, "Jadi anda tidak perlu takut pada saya. Saya tidak menggigit."


Lana mendengus geli mendengar kalimat Kyoya. Lalu terkikik. Ups.


Cika mengerjap bingung, pelan-pelan dia menegakkan punggungnya dan mendapati Lana maupun sang CEO sedang tersenyum. Cika pun ikut tersenyum. Cairlah suasana mencekam itu.


"Tapi lain kali, lebih bijaklah dalam berbicara nona Cika." Tiba-tiba Kyoya berkata serius. "Kita tidak pernah tahu siapa saja yg mendengarnya. Seperti paku yg menancap di sebuah kayu, kata-kata yg sudah terucap, tidak akan bisa ditelan kembali. Selalu akan meninggalkan bekas."


Cika mengangguk patuh. "Saya akan selalu mengingatnya Pak. Ternyata anda tidak sekiller yg diberitakan orang-orang."


Lana langsung menutup mulut Cika sebelum gadis itu bicara kebablasan lagi. Lana berkata pada Kyoya, "Aku akan menemani Cika memberi penghormatan pada ibu. Anda tunggulah di sini."


Kyoya mengangguk lalu duduk kembali. Lana segera menyeret Cika yg langsung berbisik-bisik begitu mereka berada jauh dari jangkauan pendengaran sang CEO.


"Bagaimana bisa dia ada di sini? Rekan kerjamu saja tidak datang, kenapa CEO MT Corporation malah duduk di sebelahmu?" cecar Cika.


"Ceritanya panjang. Nanti saja aku ceritakan semua." bisik Lana.


Cika menghela nafas. "Hampir saja aku sakit jantung, melihat sosok sang CEO yg asli, secara nyata, benar-benar menakutkan sekaligus luar biasa. Ada aura yg membuat orang lain langsung menghormatinya. Dan.. dia benar-benar tampan ya." Cika memberengut. "Andai aku tidak menerima Marco, pasti aku akan naksir CEO itu."


"CEO itu sudah punya pacar." tukas Lana.


Sebelum Cika bisa bicara lebih banyak, mereka bertemu kedua kakak Lana dan saling menyapa ramah. Mereka mengobrol sedikit lalu Lana menemani Cika memberi penghormatan di altar ibunya.


Lana melirik ke pojok ruangan tempat Kyoya duduk. Lelaki itu ternyata terus memandangi nya.


Saat mata mereka bertemu, sang CEO tersenyum, ah Cika benar, lelaki itu benar-benar tampan.


...***...