
Suasana duka menyelimuti ruangan berdinding putih itu.
Orang-orang berpakaian serba hitam tampak duduk lesehan sambil menikmati sajian di atas meja berkaki pendek. Mereka mengobrol dengan suara pelan.
Aroma dupa dan bunga putih yg wangi bercampur memenuhi ruangan.
Lana tampak sibuk menyapa para penyelawat yg datang silih berganti. Wajahnya terlihat lelah dan matanya sembab.
Lana memakai dress hitam berlengan panjang. Rambutnya yg panjang diikat ke belakang. Begitu juga kak Ega yg sedang sibuk menyajikan ulang makanan di meja yg kosong.
Sementara kak Arga sedang mengobrol dengan rekan sejawatnya menceritakan apa yg terjadi pada ibu mereka. Lelaki itu memakai setelan jas hitam dengan pita kuning yg diikat di lengannya.
Para penyelawat yg datang sebagian besar adalah rekan kerja kak Ega dan kak Arga. Lalu beberapa sanak famili yg bisa dihitung jumlahnya dengan jari karena keluarga Lana termasuk lingkup keluarga kecil.
Rekan kerja Lana hanya mengucapkan belasungkawa berupa pesan singkat. Terlalu jauh dan mendadak sehingga tidak ada rekannya yg bersedia datang.
Lana tidak mempermasalahkan nya. Karena bukan itu yg Lana tunggu, ada satu orang yg sejak tadi dinantikan nya.
Tapi sekarang bahkan sudah pukul lima sore, orang itu belum juga terlihat batang hidungnya.
Lana membungkuk untuk memberi salam pada para penyelawat yg baru datang. Lana tidak begitu memperhatikan wajah mereka karena toh Lana tidak kenal siapapun. Jadi dia hanya membungkuk dengan sopan, dan membungkuk lagi. Hingga..
Penyelawat wanita bertubuh gemuk sudah berlalu, Lana menegakkan tubuh. Sadar ada penyelawat lainnya yg datang, Lana hendak menunduk lagi ketika dilihatnya orang itu berhenti dihadapannya, tersenyum.
Sadar akan siapa itu, Lana langsung memeluk lelaki itu erat. Lana mendekapnya seolah orang itu adalah pegangan hidupnya yg telah lama hilang.
"Lana."
Suara merdu lelaki itu berusaha menyadarkan Lana pada sekitar tapi Lana tidak peduli. Ia tidak mau melepas pelukannya. Dia malah melingkarkan tangannya semakin erat.
Terdengar suara asing seorang pria berdeham. Lana menoleh dan mendapati seorang pria berwajah bule memandangnya sekilas lalu segera menunduk.
Lana cepat-cepat melepas pelukan nya dan berusaha berdiri dengan anggun.
"M-maaf. Saya lepas kendali. Menunggu itu ternyata sungguh tidak enak." Lana menunduk meminta maaf.
Koijima Kyoya tersenyum.
"Aku juga minta maaf, ternyata ada banyak pekerjaan yg harus aku selesaikan hari ini. Sampai tidak sempat menghubungimu karena aku mengebut menyelesaikannya agar bisa cepat kemari. But now i'm here."
Kyoya mengusap kepala Lana sekilas.
Lalu ia mengangguk pada pria di sebelahnya dan mereka masuk ke dalam rumah duka. Lana mengikuti mereka karena syukurlah saat itu tidak ada penyelawat lain.
Kyoya dan pria bule itu memakai setelan jas berwarna hitam. Hanya saja jas yg dipakai Kyoya terlihat lebih mahal dan elegan.
Mereka menyapa kedua kakak Lana dengan sopan. Lalu mereka meminta ijin untuk memberi penghormatan dan kedua kakaknya mengijinkan dengan penuh suka cita.
Lana terenyuh menyaksikan pemandangan di hadapannya. Koijima Kyoya, sang CEO MT Corporation, yg dua hari lalu bahkan tidak begitu Lana kenal kini sedang membungkuk memberi penghormatan di depan altar ibunya.
Setelah selesai memberi penghormatan, Kyoya menghampiri Lana yg berdiri berjejer dengan kedua kakaknya.
"Ibu mu sangat cantik, persis seperti dirimu." Kyoya berkata setulus hati.
Lana memandang foto ibunya yg diberi pita hitam di kedua sisinya. Foto itu bersandar di altar yg dipenuhi hiasan bunga putih nan harum. Wanita di foto itu sangat cantik, mirip Lana tapi versi lebih tua dan memiliki beberapa keriput di wajahnya.
Kyoya ikut memandang foto ibu Lana dan berbisik, "Terimakasih karena sudah melahirkan putri secantik Lana. Terimakasih sudah membesarkannya sehingga tumbuh menjadi gadis yg luar biasa seperti ini."
Lana berusaha menguatkan hati.
"Ibu pasti baik-baik saja di sana. Tidak sakit lagi. Ibu pasti sedang berbahagia di surga."
Kedua kakaknya serta Kyoya dan pria bule itu ikut mengaminkan.
Pria bule itu mendekat ke kak Ega dan menyalaminya. "Maaf. Bukan bermaksud tidak sopan, ini ada titipan dari MT Corporation, tidak seberapa, sebagai ucapan bela sungkawa."
Pria itu menyelipkan tangan ke bagian dalam jasnya dan menarik keluar secarik amplop putih berlogo lambang MT Corporation. Dan memberikannya ke tangan kak Ega.
Kakak pertama Lana itu langsung menolak dengan halus.
"T-tidak perlu. MT Corporation sudah memberi lebih dari cukup pada kami. Di depan bahkan sudah penuh dengan karangan bunga yg indah dari perusahaan anda."
Lana mengangguk setuju. Pukul tujuh tadi pagi, bahkan Lana dan kedua kakaknya baru tiba di rumah duka, datang kurir yg mengantar lima karangan bunga berukuran sangat besar dengan ucapan bela sungkawa dan hiasan bunga nan indah. Tiga karangan bunga dari MT Corporation, satu dari PPIC MT Corporation dan terakhir dari Koijima Kyoya pribadi dengan tanpa embel-embel CEO maupun perusahaannya.
Pria bule itu sedikit memaksa agar kak Ega mau menerima amplop tersebut. Tapi kak Ega tetap bersikeras menolak dengan sopan.
"Roger."
Suara Kyoya terdengar tegas dan tajam.
"Jika mereka tidak bisa menerimanya, bawa saja kembali."
Lana membelalak, jadi ini yg namanya Roger, ajudan pribadi Kyoya. Masih sangat muda, wajahnya blasteran Latin dan Eropa, tidak sangka sangat fasih berbicara bahasa negara tempat Lana tinggal.
Roger mengambil amplop itu dan membungkuk. "Saya benar-benar minta maaf Pak."
Dia juga meminta maaf pada kak Ega. Lalu memasukkan kembali amplop itu ke dalam saku jasnya "Sesuai instruksi anda sir."
Kak Ega yg bingung kenapa pria bule ini begitu hormat dan patuh pada Kyoya, berusaha mencairkan suasana dengan mempersilahkan Roger dan Kyoya untuk duduk menikmati sajian di meja.
Setelah mendapat ijin dari bosnya, Roger mengambil tempat duduk bersebelahan dengan bapak-bapak yg terbelalak melihat rambutnya yg pirang. Kak Ega dan kak Arga kembali sibuk melayani dan menyapa para penyelawat.
Sementara Kyoya dan Lana memilih tempat duduk di meja kecil di pojok ruangan. Kyoya duduk bersila, disebelahnya Lana ikut duduk dan langsung berbisik meminta maaf karena tidak bisa menerima uang sumbangan dari MT Corporation.
Padahal tanpa Lana tahu, amplop itu berisi cek sejumlah 250juta. Andai dia melihat isi amplop itu, pasti makin sungkan dan canggung nya mereka.
Kyoya berkata tidak apa-apa, itu hak Lana dan keluarganya untuk memutuskan mau menerimanya ataupun tidak.
Kyoya membuka semua kancing jasnya hingga terlihat kemeja putih bersih dari balik jasnya. Kali ini lelaki itu tidak memakai dasi.
Kyoya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak panjang berwarna putih. Lalu menyerahkan nya pada Lana.
Lana terkejut melihat gambar di kotak itu, sebuah ponsel tipe terbaru.
Yg pastinya seharga lebih dari sepuluh juta.
...***...