Between

Between
Bab 56 Roger & Cika



Roger kewalahan.


Meski tenaga gadis ini lemah karena mabuk, tapi suara nyaringnya melebihi bunyi sirine kapal. Membuat telinga sakit.


Cika benar-benar ketakutan. Siapa laki-laki ini, mau membawanya kemana? Apa yg akan pria ini lakukan? Dan bagaimana dengan Lana? Mengapa Kyoya tiba-tiba muncul.


Cika ingin sekali berteriak tapi tangan besar itu membekap mulutnya rapat. Laki-laki itu juga dengan mudah menggendongnya seperti kuli memanggul karung beras. Apa Cika seringan itu? Berat badannya hampir 50kg loh.


Cika terus meronta tapi sia-sia. Kekuatan laki-laki ini sungguh menyeramkan. Dengan tangan membekap, menggotong Cika seorang diri, laki-laki ini berjalan dari Jacobus Pub ke Five Star Hotel dengan langkah santai dan ringan.


Cika heran mengapa mereka menuju ke Five Star Hotel. Apakah laki-laki ini akan membawanya ke kamar Cika, atau ke kamar yg lain?


Laki-laki itu berjalan melewati lobi menuju ke lift. Meski lumayan sepi, tapi pemandangan seorang laki-laki menggotong wanita seperti ini ternyata tidak cukup menarik perhatian. Cika heran bagaimana orang-orang itu bisa menjadi apatis dan acuh tak acuh.


Hei, tolong akuu.. mmmhhppp..


"Berhenti berontak atau aku akan lebih membekapmu. Bisa-bisa kau tidak akan bernafas lagi." bisik Roger. Cika ketakutan, akhirnya diam. Pasrah.


Mereka memasuki lift yg kosong, lalu Roger menekan tombol 9. Pintu lift menutup.


Melihat Cika yg akhirnya bersikap kooperatif, Roger menurunkan tangan, melonggarkan bekapannya.


"Kau mau apa? Aku sudah punya pacar. Aku mengidap alergi akut. Aku tidak enak. Aku-" bisik Cika takut-takut.


Roger mendengus geli. "Jangan membuatku berubah pikiran nona."


Ting,


Pintu lift terbuka. Cika tercekat. Bagaimana ini?


Roger membawa gadis itu melewati lorong panjang dengan pintu-pintu yg tertutup. Lalu berhenti di depan pintu pualam putih bertuliskan angka 9930.


Dengan agak kasar Roger menurunkan Cika. Gadis itu sedikit limbung.


Lalu dengan tak terduga Roger menarik tali tas kecil yg dipakai Cika, membuat gadis itu tertarik mendekat. Cika memekik saat menabrak dada Roger.


Cika mendongak dan mereka saling bertatapan. Wajah keduanya hanya berjarak sekepalan tangan.


Mengabaikan manik mata Cika yg menatapnya sendu dan bibir cemberut, dengan cekatan (seolah sudah biasa) Roger merogoh tas kecil Cika dan langsung menemukan kartu kamar 9930. Jemarinya lebih lihai dari seorang pencopet ahli.


Tanpa bicara Roger menempelkan kartu itu di alat pindai di pintu dan menarik daun pintu hingga terbuka.


Cika mengerjap. "I-ini kan kamarku."


Cika ganti menatap Roger yg berdiri di ambang pintu, yg balik menatapnya tajam.


Lalu tanpa minta ijin, Roger melangkah masuk ke dalam kamar. Cika membelalak.


Tingkahnya itu membuat Roger berbalik dan berjalan kembali ke arah Cika yg langsung terperanjat.


"M-mau apa kau?" tanya Cika takut-takut.


Tanpa bicara, Roger menunduk dan mengangkat Cika ke atas bahunya lagi.


"Bibir mu yg cantik itu tidak seharusnya berisik." bisik Roger tajam, lalu membawa Cika masuk melewati pintu kamar.


"Aahh! Turunkan aku! Mau apa kau! Turunkan!"


Cika memberontak dan menjerit. Tapi Roger tak peduli. Dia masuk ke dalam kamar. Pintu pualam putih itu terbanting menutup.


Suara jeritan Cika teredam.


Lorong itu pun kembali sepi.


...***...


Bruk.


Roger melempar Cika ke atas kasur. Cika menjerit keras.


"Siapa kau? Kenapa kasar begini? Aku salah apa?"


Roger menyeringai. "Ternyata kau tidak suka pria kasar? Sayang sekali."


Cika mencengkram seprei erat. Bagaimana caranya dia kabur? Lelaki ini sangat kuat dan menyeramkan. Melarikan diri darinya pasti cukup sulit.


Roger menatap sekilas Cika yg ketakutan. Sama sekali bukan seleranya, batin Roger.


Lalu ia berbalik dan berjalan menuju kulkas. Membukanya dengan kasar, menarik keluar empat botol bir dingin dari dalam.


Roger melempar dua botol ke kasur, botol itu menggelinding ke dekat kaki Cika.


Roger duduk santai di pinggir tempat tidur. Sambil menatap Cika yg terheran-heran mengapa laki-laki seram ini malah memberinya bir, Roger membuka tutup botol dengan giginya. Tutup kecil itu terlontar jatuh entah kemana.


Cika terkesima. Apalagi saat Roger menenggak bir itu, jakun nya naik turun dengan menggoda. Tanpa sadar Cika menelan ludah.


Roger menenggak habis botol itu dengan sekali minum. Lalu mengusap mulutnya dengan punggung tangan.


Cika menatapnya tanpa berkedip, sangat maskulin, seperti model iklan bir di tivi.


Cika merasakan sesuatu yg panas di sudut bawah sana, menginginkan bibir itu menyentuhnya.


...***...