Between

Between
Bab 39 Jarak



Ethan berlari mengejar Lana hingga tiba di depan lift yg tertutup. Gadis itu memencet tombol lift dengan tidak sabaran. Di layar kecil muncul angka 8 berwarna merah.


"Lana, dengarkan aku."


Ethan berusaha bicara tapi Lana memalingkan wajah, berpura pura tidak mendengar.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menghinamu. Tolong dengarkan aku dulu."


Ethan berdiri di hadapan Lana tapi gadis itu tidak mau menatap wajah Ethan. Bibir gadis itu terkatup rapat.


"Lana please.. "


Ethan menatap Lana dengan tatapan memelas. "Aku tahu aku salah. Kamu sudah mengenalku kan, kalau aku emosi aku mendadak jadi orang bodoh. Aku benar-benar menyesal Lana."


Lana berdecak sebal, "Dimana sih petugas keamanan. Ada orang bodoh yg sangat mengganggu." gumam Lana, sambil celingukan ke kanan dan kiri.


Tidak menggubris reaksi Lana, Ethan kembali bicara, "Mengapa kau bersikap seperti ini? Kita dulu sangat intim. Setelah lama tidak bertemu, bukannya senang mengapa kamu terlihat marah dan dendam padaku? Aku saja sangat senang bertemu denganmu lagi. Kenapa kamu tidak?"


Lana diam, menggigit bibir keras-keras. Berusaha menahan gejolak amarah di hatinya. Mata Lana terasa panas. Jangan menangis, please jangan menangis! Jangan tunjukkan kelemahanmu pada laki-laki brengsek ini.


Tapi airmata itu tidak mau menurut, muncul genangan air di pelupuk matanya.


"Apa karena aku tiba-tiba pergi lima tahun lalu? Hanya karena aku tidak memberi kabar, kamu jadi dendam padaku sampai selama ini?" Rahang Ethan mengeras. Dilihatnya wajah Lana memerah tampak berusaha keras meredam amarahnya.


Lana menatap mata Ethan nyalang,


"Kau sama sekali tidak tahu apa-apa. Jadi berhenti menggangguku. Aku sudah hidup dengan baik setelah kepergianmu, jadi jangan muncul lagi di hadapanku! Aku muak melihatmu."


Lift terbuka, Lana cepat-cepat melangkah masuk ke dalam. Ethan yg hendak menyusul mengurungkan gerakannya begitu melihat lift itu penuh.


Ethan menatap Lana hingga pintu bergerak menutup.


Tes, sebutir airmata akhirnya jatuh di pipi Lana. Tepat beberapa detik sebelum pintu akhirnya menutup. Tapi Ethan melihatnya, dan ekspresinya tampak tersiksa.


...***...


Beberapa hari kemudian,


Lana sedang duduk diam menatap langit yg cerah melalui jendela mobil. Pandangan Lana hampa. Dia hanya ingin segera pulang dan istirahat.


Walau hari-harinya masih sama seperti sebelumnya, berangkat kerja, mengerjakan tugas, merevisi, meeting, tapi mengapa sangat menguras energi dan stamina Lana. Gadis itu menjalani rutinitas hidupnya dengan lesu.


Saat ini pukul sembilan pagi. Lana sedang dalam perjalanan ke Pusat Pembangunan kota baru Naruyama guna mengontrol dan meninjau pembangunan jembatan gantung yg merupakan tanggung jawabnya.


Lana diantar oleh supir MT Corporation, salah satu fasilitas dari perusahan. Yah walau tidak semewah mobil Kyoya, tapi masih lebih nyaman daripada harus naik bus atau taksi.


Lana tidak tahu kabar Kyoya. Lelaki itu hanya sekali menghubunginya dan entah mengapa mereka menjadi canggung. Kyoya tampak berhati-hati saat berbicara di telepon, tidak seperti Kyoya yg Lana kenal. Karena tidak nyaman, percakapan di telepon itu pun hanya sebentar. Lalu setelah itu Kyoya sama sekali tidak menghubunginya lagi. Bahkan tidak ada satu pun pesan masuk.


Lana menghela nafas panjang. Seharusnya yg pergi meninjau lapangan hari ini adalah Yuni. Tapi lagi lagi, wanita itu tidak bisa hadir karena ada kunjungan meeting ke cabang K. Akhirnya Lana lah yg diminta berangkat.


"Sebentar lagi sampai, nona." Suara supir terdengar ramah memberitahu Lana.


Lana menelan ludah, semoga di sana tidak ada pria brengsek itu. Semoga.


...***...


Kyoya hendak menekan panggilan telepon tapi lagi-lagi mengurungkannya.


Roger yg berdiri di samping melirik atasannya yg beberapa hari ini terlihat tidak bersemangat. Roger bertanya-tanya apakah penyebab lesunya sang CEO berhubungan dengan gadis dari ruangan PPIC.


Kyoya menghela nafas kesal lalu akhirnya memasukkan ponsel ke dalam saku jas. Kyoya bertanya pada Roger dengan nada enggan.


"Apa jadwalku setelah ini?"


Roger menjawab seperti sudah menghafalkannya di luar kepala. "Lima belas menit lagi anda harus tiba di Mariana Hotel sir, ada janji temu dengan Pak Reihan Buana tentang kerjasama di Australia. Pukul sebelas anda ada janji makan siang dengan Bu Renata Liam di Flower Avenue guna membahas pembukaan cabang di kota Timur. Pukul dua siang anda harus sampai di pelabuhan Junin untuk meresmikan tower baru. Pukul empat anda ada janji fitting pakaian untuk acara Global Company bulan depan. Pukul tujuh malam anda ada dinner dengan keluarga Theresa guna membahas acara pengumpulan dana sosial memperingati hari kanker sedunia."


Kyoya menghela nafas, setiap hari selalu sibuk. Jadwal yg penuh. Kapan dia bisa bertemu dan bicara langsung dengan Lana? Kyoya sudah sangat merindukan gadis itu. Kyoya bahkan sudah lupa bagaimana rasa bibir kekasihnya itu.


Saat pikirannya sedang melayang jauh memikirkan kencan di sungai Yan bersama Lana, lift berhenti di lantai dua dan pintu terbuka.


"Pak Koijima Kyoya. Selamat pagi Pak." sapa Kepala Ruangan PPIC ramah. Wanita itu sedikit terkejut saat melihat Kyoya tapi lalu segera menguasai diri.


Kyoya membalas sapaannya dan tersenyum samar. Ah, Lana sering cerita kalau atasannya ini adalah orang yg baik dan loyal.


"Bagaimana kabar anda Bu Yuni? Apa ada kendala di PPIC?" Kyoya jadi ingin bermurah hati.


Yuni yg tidak menyangka akan diajak ngobrol oleh sang CEO ternganga. Roger berusaha menahan senyum. Kyoya menanti jawaban dengan santai.


"A-a, k-kabar saya sangat baik Pak. Terimakasih sudah menanyakan kabar saya. S-sama sekali tidak ada kendala Pak. Hanya hari ini seharusnya saya yg berangkat ke lokasi pembangunan kota Naruyama, tapi karena saya ada meeting di cabang K di jam yg sama, jadi saya menugaskan Lana." Yuni menjawab dengan terbata.


Alis Kyoya mengernyit. "Bukankah berarti semua vendor dan pihak ketiga juga berada di sana?"


Yuni mengangguk. "Benar Pak. Pertemuan hari ini untuk meninjau pembangunan awal, apakah sudah sesuai ketentuan dan desain."


Kyoya mendengarkan dengan serius.


Lift sampai di lantai satu, pintunya terbuka. Yuni yg hendak keluar membungkukkan badan dengan sopan. Kyoya tersenyum.


Ketika pintu lift akhirnya menutup dan bergerak turun ke lantai basement, Kyoya berkata tegas pada Roger, "Ubah jadwalku. Aku akan pergi ke lokasi pembangunan kota Naruyama."


Roger berdehem. "Maaf tidak bisa sir. Pertemuan dengan Pak Reihan sudah anda batalkan minggu lalu. Jika kali ini dibatalkan lagi saya merasa Pak Reihan akan berubah pikiran terkait kerjasama dengan MT Corporation."


Rahang Kyoya mengeras. Sial, kenapa harus Lana yg pergi ke sana? Bagaimana jika kekasihnya itu bertemu dengan CEO PT. NaThan?


Setelah kejadian di ruang Cleaning Room beberapa hari lalu, Roger menyerahkan berkas berisi informasi terperinci tentang Ethan Arkam. Setelah memeriksa berkas itu, Kyoya baru mengetahui kalau Ethan dan Lana ternyata pernah satu kampus, walau di semester akhir pria itu mengajukan pindah ke Amerika. Ethan diwisuda di Universitas of Rotherburn.


Pasti terjadi sesuatu saat mereka menjalani kuliah di kampus yg sama. Melihat reaksi dan gestur Ethan kemarin, pasti telah terjadi sesuatu yg lebih dalam dari sekedar teman. Sesuatu yg Kyoya ingin tanyakan langsung pada Lana. Ia berharap jawabannya tidak seperti apa yg ia takutkan.


"Jika ini berhubungan dengan Pak Ethan Arkam, apa yg bisa saya bantu sir?" Roger berkata pelan.


Roger sudah bisa menduga atasannya ini sedang ada problem dengan seseorang bernama Ethan Arkam saat Kyoya memberikan perintah mencari informasi itu.


Kyoya menatap tajam pintu lift yg terbuka di lantai basement. "Tidak ada Roger. Ini hanya masalah personal. Tidak perlu khawatir."


Meski begitu, Roger terus mengawasi gestur atasannya yg berubah resah dan gelisah.


...***...