
Kyoya kembali setelah sibuk menelepon ke sana kemari.
Dilihatnya Arga sedang duduk lemas di kursi. Seakan nyawa dan semua energinya telah lenyap.
Sementara Ega sedang membantu perawat mengurus jenasah ibunya.
Setelah bertanya dimana Lana, Kyoya berjalan menuju balkon.
Saat ini pukul setengah enam pagi.
Langit sudah mulai terang, berwarna biru pucat. Sepucat wajah gadis yg sedang berdiri menunduk berpegangan di teralis pinggir balkon.
Kyoya berdiri diam di sebelah Lana, gadis itu pun tidak bersuara. Seperti dengan terpaku pada entah apa itu yg ada dipikirannya.
"Saya akan mengajukan surat pengunduran diri pagi ini."
Suara Lana lirih terdengar.
Kyoya tercekat.
"Kenapa?" tanyanya tak percaya.
"Saya ingin resign. Terimakasih banyak untuk segalanya Pak. Maaf saya tidak bisa membalasnya."
Lana terus menunduk.
Gadis itu tidak terdengar menangis, tapi nada suaranya hampa.
"Lana, aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi tolong jangan mengambil keputusan saat suasana hati dan pikiranmu kalut seperti ini."
Kyoya mengusap lengan Lana lembut, berusaha menenangkannya.
Lana menepis tangan itu.
Dia menoleh menatap Kyoya dengan tatapan terluka.
"Anda tidak tahu bagaimana rasanya. Anda tidak akan pernah tahu! Sakitnya kehilangan ibu, padahal.. baru kemarin saya masih mendengar suaranya yg ceria dan lembut di telepon. Baru kemarin. Dan sekarang.."
Lana menggigit bibirnya menahan tangis.
".. ibu tidak akan pernah bersuara lagi. Dia telah pergi."
Kyoya menatap Lana dengan tatapan sedih.
"Aku tahu bagaimana rasanya Lana." ucap Kyoya lirih.
"Aku kehilangan orangtuaku saat berumur sepuluh tahun, kecelakaan mobil dan aku satu-satunya yg selamat. Setelah itu aku hidup di panti asuhan. Hingga keluarga Koijima datang mengadopsiku dan mengangkatku jadi anak mereka. Namaku yg dulu adalah Alexander Kyoya."
Lana menekap mulutnya, matanya terbelalak mendengar pernyataan lelaki itu.
"M-maaf, saya tidak bermaksud-"
Kyoya tersenyum menenangkan.
"Tidak masalah, itu adalah luka lama. Sekarang semua baik-baik saja. Sama sepertimu, meski saat ini terasa sesak dan menyakitkan, suatu hari nanti kamu akan merasa baik-baik saja."
Lana menggigit bibirnya agar tidak menangis.
"Tapi.. rasanya sekarang saya tidak lagi punya tujuan hidup. Semuanya terasa hampa, kosong. Saya tidak tahu harus kemana dan melakukan apa. Semua semangat hidup saya lenyap bersama dengan perginya ibu. Saya tidak berdaya."
Lana bersedekap, memeluk dirinya yg gemetar.
"Anda pasti masih ingat, saat saya diterima di MT Corporation ibu saya sangat senang. Sangat bangga. Walaupun saya bekerja sekeras apapun, sesusah dan sesakit apapun itu saya selalu kuat dan bertahan karena memikirkan ibu yg pastinya akan sedih kalau saya menyerah dan keluar kerja. Dulu alasan itulah yg membuat saya kuat dan semangat bekerja. Tapi sekarang, saya kehilangan alasan itu Pak."
Sebutir airmata menetes di pipi Lana.
Gadis itu tampak berusaha keras menahan tangis.
Kyoya mengulurkan tangan ke wajah Lana dan mengusap pipinya lembut.
"Jika kehilangan satu alasan untuk hidup, maka carilah alasan lain agar kamu tidak berhenti dan menyerah."
Kyoya mengusap airmata yg kembali menetes di pipi Lana.
Lana mengerjap, sekilas tadi kata-kata yg diucapkan Kyoya terasa dejavu. Seperti pernah Lana dengar entah kapan dan dimana.
Tetapi rasa sakit di dada karena kehilangan ibu yg dicintainya secara mendadak membuat Lana tidak bisa mengingat apapun, membuatnya terpuruk.
"Saya tidak bisa menemukan alasan lain Pak. Saya tidak tahu harus mencari kemana."
Lana mulai tersedu.
"Tolong, ijinkan saya mengundurkan diri."
Kyoya menatap Lana sesaat. Seperti tengah menimbang akan melakukannya atau tidak.
Lalu Kyoya mendekatkan wajahnya ke Lana dan berkata serius.
"Alasan lain itu adalah aku. Tetaplah berada di sisiku.."
Kyoya berkata sungguh-sungguh.
".. Lana, aku tahu ini sangat tiba-tiba untukmu, kumohon jadilah kekasihku."
Lana mengerjap.
Apa yg baru saja dia dengar?
Belum sempat otaknya mencerna dan memproses kalimat Kyoya, lelaki itu semakin mendekat dan mencium bibir Lana.
Lana terpaku, hanya bisa diam merasakan kehangatan di bibirnya.
Kyoya melu*mat bibir manis itu seolah sudah lama menanti momen ini terjadi.
Ciuman mereka semakin intens, Lana memejamkan mata dan menikmati setiap gigitan dan ciuman panas itu.
Rasanya tidak bisa bernafas.
Keduanya menarik diri dan terengah-engah.
Kyoya mengusap bibir Lana dan tersenyum.
"Sudah lama ingin kulakukan. Ternyata sangat enak untuk dicicipi."
Kalimat itu membuat Lana tersipu.
"Apa kamu setuju dengan yg ku katakan tadi?" tanya Kyoya mendadak serius lagi.
Lana menggigit bibirnya dan mengangguk pelan.
Detik berikutnya,
"Terimakasih Lana."
Kyoya memeluk Lana erat, tampak sangat gembira.
"I will be a worthy reason to make you happy, keep my word." bisiknya lembut.
Lana mengangguk.
Mendadak hati kecilnya terasa hangat dan bahagia.
Membuatnya bisa tersenyum kembali.
...***...