Between

Between
Bab 14 Jangan membuatku bertanya untuk yg ketiga kalinya



Satu dua tiga,


Lana mendorong pintu besar itu hingga terbuka dan melangkah masuk.


Samar-samar tercium aroma greentea yg menenangkan.


Lana memasuki ruangan yg terasa sangat besar untuk ditempati sang CEO sendirian.


Sepatu Lana berjalan di atas karpet coklat yg empuk, meredam bunyi langkah kakinya.


Matanya melihat ke sekeliling ruangan.


Di bagian kanan ruangan ada satu set sofa hitam dan sebuah kulkas besar berwarna silver.


Di dinding sebelah kiri terdapat dua lemari kaca besar yg penuh berisi Trophy, piala dan piagam penghargaan.


Dinding lainnya berupa dinding kaca transparan yg menampakkan langit cerah siang hari ini dilatarbelakangi gedung-gedung pencakar langit.


Di sudut ruangan, tampak meja hitam besar dengan tumpukan map.


Disebelah tumpukan itu berdiri papan nama akrilik bertuliskan Koijima Kyoya - CEO MT Corporation.


Hati Lana mencelos,


Koijima Kyoya duduk di balik meja itu, sedang menunduk sibuk mengecek berkas-berkas.


Lana berjalan mendekat dan menaruh pelan map hitam yg dibawanya ke atas meja.


"Bagaimana, apa ada kabar dari Theo?"


Tanpa mengangkat kepala, Koijima Kyoya bertanya dengan nada tajam dan tegas.


Lana mencicit. "Maaf, belum ada kabar Pak."


Mendengar suara wanita, sang CEO langsung mendongak dan terkejut mendapati Lana ada di depannya.


"Kenapa kamu ada di sini? Dimana Marcel?" tanya Koijima Kyoya heran.


Mengambil map hitam yg ditaruh Lana dimeja dan mulai membuka-buka tiap lembarnya.


"Pak Marcel sedang membuat perincian estimasi biaya kerugian Pak. Jadi saya yg disuruh mengantarkan ke sini."


Lana merasa, gestur dan sikap sang CEO tampak sedikit lebih rileks begitu tahu bahwa yg ada di ruangan ini adalah Lana.


Tapi entahlah, mungkin saja itu hanya perasaan Lana.


"Menurutmu, apa yg salah dari ini Lana?"


Walau Koijima Kyoya sedang menunduk membaca saat bicara, tapi Lana merasa hatinya berdesir mendengar namanya disebut.


Ternyata sang CEO killer ini masih mengingat namanya.


"Maafkan saya Pak. Saya tidak punya kapasitas yg cukup untuk mengomentari masalah ini. Saya bukan siapa-siapa." jawab Lana sopan.


Koijima Kyoya mengangkat wajah dan menatap Lana dengan ekspresi menilai.


Dia kemudian bersandar di kursi nya dengan santai, kedua tangannya bertaut dan diletakkan di atas meja.


"Memang jabatan seseorang sangat mempengaruhi cara orang lain bersikap kepadanya. Lihatlah dirimu sekarang. Setelah tahu aku ini siapa, kamu bahkan tidak berani menatap mataku."


Koijima Kyoya memperhatikan Lana yg terus menunduk dan menggenggam jemarinya erat-erat.


Lana berusaha bersuara normal.


"S-saya minta maaf atas semua kelakuan dan kata-kata saya yg tidak pantas tempo hari. Saya benar-benar tidak tahu anda siapa, seandainya saya tahu-"


"Seandainya kamu tahu, waktu itu kamu juga akan bersikap membosankan seperti ini." potong Kyoya dengan nada sarkas.


"Cukup orang-orang yg bersikap memuakkan seperti ini, tolong kamu jangan."


Sosok yg sama seperti waktu itu.


Sosok yg sangat tampan dengan mata bersinar ramah, ekspresi yg sama saat mereka bertemu di kantin dan berbicara santai ttg pekerjaan.


Tapi Lana sadar diri.


"Maaf Pak, itu bukan sikap yg sopan mengingat saya hanya karyawan biasa sementara anda adalah CEO. Saya tidak ingin dipecat."


Kalimat Lana disambut gelak tawa.


Melihat pemandangan menakjubkan itu lagi, ketegangan Lana mencair.


"Aku tidak akan memecat seseorang jika ia berkata jujur Lana. Lagipula aku yg menyuruhmu untuk bersikap biasa."


Kyoya duduk tegak dan menatap Lana intens.


"Bukankah namaku Alex? Dan apa kabar kaki ayam yg ada di kedai itu? Apakah mereka bisa bicara lagi?"


Muncul semburat merah di pipi Lana.


Kyoya kembali tertawa.


Sungguh Lana adalah hiburan tersendiri baginya disela-sela rutinitasnya yg datar dan membosankan ini.


Karena sekarang mereka hanya berdua dan ruangan itu kedap suara, Kyoya bebas menjadi dirinya sendiri di hadapan Lana.


"Jadi menurutmu, apa yg salah dari ini Lana?"


Kyoya mengetuk map hitam di meja. Ekspresi nya masih santai tapi berubah sedikit tegas.


"Jangan membuatku bertanya untuk yg ketiga kalinya."


Lana menggigit-gigit bibirnya, berpikir sebelum bicara.


Kyoya melihat bibir Lana dan tiba-tiba bayangan bagaimana rasanya memagut bibir menggemaskan itu terlintas di pikirannya.


Kyoya berkedip, apa baru saja dia berpikiran mesum?


Astaga! Baru sedetik lalu dia bertanya ttg pekerjaan dan sedetik kemudian dia sudah berpikiran mencium gadis ini.


Lana yg tidak tahu pergulatan di pikiran sang CEO, mulai bicara.


"Ini hanya opini pribadi saja Pak. Menurut saya, sistem di PPIC masih terlalu lemah untuk mengawasi berbagai proyek di tiap detailnya. Kami hanya mengandalkan aplikasi buatan perusahaan yg mana masih bisa dimanipulasi data dan kebenarannya."


"Seandainya ada tim khusus yg dibuat untuk memantau secara global semua proyek pasti akan lebih terkonsentrasi dan terperinci. Selama ini proyek hanya dipercayakan ke satu atau dua orang untuk diselesaikan. Tidak ada tim khusus yg memantau sejak awal jadi lah kecolongan seperti ini."


Kyoya tampak mengangguk-angguk setuju.


"Usul yg bagus. Terimakasih banyak atas masukannya. Tapi perlu kamu tahu, membentuk tim khusus juga tidak segampang itu. Memerlukan waktu yg cukup lama. Kami harus mencari dan menentukan orang-orang yg cukup kompeten serta mempersiapkan hal lainnya yg menyangkut prosedural dan peraturan struktur perusahaan."


Kyoya menghela nafas dan menunduk.


Jemarinya memijat bagian tengah antara kedua alis. Sang CEO benar-benar tampak sangat kelelahan.


Lana yg melihat itu berkata,


"Jika anda sedang banyak pikiran, pijat di area pundak. Lalu pijat lembut memutar di kepala bagian samping. Itu bisa menurunkan kadar stres karena membuat tubuh jadi rileks."


Kyoya menurunkan tangan dan menatap Lana, "Apa kamu bisa melakukannya?" tanyanya penuh harap.


Lana membelalak,


apa saat ini sang CEO meminta Lana untuk memijat nya ?


Apa yg harus Lana lakukan?


...***...