Between

Between
Bab 50 Healing, on the way



Dua bulan berlalu sudah. Tiap detiknya terasa amat lama dan berjalan sangat lambat bagi Lana.


Memang benar kata orang, waktu adalah penyembuh yg mujarab. Meski tidak instan, biarkan dan serahkan saja semuanya pada sang waktu, luka dan sakit itu akan terkikis dan perlahan memudar.


Kini Lana mulai bisa tersenyum dan tertawa lagi. Meski tidak seceria dulu. Lana masih akan mendadak melow jika teringat semua yg bisa memicu ingatannya kembali pada Kyoya.


Lana ternyata bisa hidup dengan cukup baik selama ini. Pekerjaan nya di MT Corporation juga tidak bermasalah padahal hati dan pikiran nya kacau beberapa bulan ini.


Kini Lana sedang menunggu di depan rumah nya, hendak dijemput oleh sahabatnya, Cika. Dengan dua koper besar warna gelap berjejer di sebelah kaki Lana.


Saat ini pukul 6 pagi, terlalu pagi sebenarnya untuk sebuah rencana perjalanan penghiburan diri.


Tapi Lana sudah mengajukan cuti ke Yuni, yg memandangnya menelisik mengapa tiba-tiba karyawan yg sangat rajin mengajukan cuti mendadak untuk dua hari. Yuni bahkan memastikan Lana tidak sedang merencanakan pernikahan diam diam bukan. Lana tertawa gugup, tentu saja tidak. Dia sekarang single and free, sama sekali belum ada calon pengantin prianya.


Tin.


Lana terlonjak, karena pikirannya sibuk berkelana kemana-mana.


Mobil warna merah cabai berhenti tepat di depan Lana. Kaca jendela mobil perlahan turun dan sebuah wajah yg sedari tadi ditunggunya nyengir lebar.


"Astaga Lana, kamu mau kabur atau pindah rumah?" pekik Cika menunjuk dua koper Lana. "Kita hanya liburan menginap semalam saja. Please deh. Itu barang dirumahmu kau bawa semua?" Cika terkikik.


Lana merengut. Setelah Cika memberi kode bagasi sudah terbuka, Lana memasukkan barang-barang nya sambil mencari pembelaan.


"Daripada aku menyesal tidak membawanya, Cika. Sudah jauh-jauh ke TanBay. Kamu tahu kan aku ini paling susah untuk memilih. Jadi kubawa saja semua baju dan barangku."


Lana menutup bagasi mobil lalu berjalan ke kursi penumpang di depan. Masuk dan duduk santai di sebelah Cika.


"Iya iya, aku paham. Lagipula ini kan liburan healing yg khusus kita selenggarakan sebagai penghiburan dan perayaan ucapan selamat untuk saudari Lana. Yg telah berhasil kembali menjadi manusia setelah beberapa waktu lalu berubah jadi zombie." Cika terkikik.


Lana segera melayangkan cubitan ke lengan Cika tapi gadis itu terlalu gesit, berhasil menghindar.


Cika mendadak diam, menatap Lana serius.


"Aku benar-benar senang kamu sudah kembali jadi Lana yg kukenal. Sumpah Lana, beberapa bulan lalu kau membuatku sangat khawatir."


Lana terharu. Dia memeluk sahabatnya erat, mengucapkan terimakasih. Cika mengusap sudut matanya, lalu mereka memisahkan diri. Cika memegang persneling, siap menginjak pedal.


"Siap berangkat nona cantik?"


Lana tersenyum, mengangguk mantap.


"Ayo berangkat, Go Go Go!!"


Mobil merah itu pun melaju.


Cika memutar musik pop yg membuat suasana semakin ceria. Sambil bernyanyi, ia menyetir dengan sesekali berjoged ria.


Lana tertawa melihatnya, lalu ikut bersenandung. Saat ini hatinya benar-benar senang. Lana bersyukur atas kehadiran Cika di dalam hidupnya.


Berkat sahabatnya itu, sekarang Lana sudah tanpa beban lagi. Semuanya sudah baik-baik saja.


Butuh waktu cukup lama bagi Lana untuk memutuskan menceritakan semua yg terjadi ke sahabatnya sendiri. Entah, apa karena Lana masih ingin memegang janjinya pada lelaki itu, padahal ia sudah tidak terikat lagi dengan nya.


Saat semua terasa tak tertahankan lagi, hari-hari terpuruk terasa semakin parah, Lana bahkan sampai tidak selera makan berhari-hari. Hingga akhirnya Cika yg khawatir mengapa Lana berubah pendiam, muram dan kurus, mencecar Lana apa yg sebenarnya terjadi.


Lana pun memutuskan menceritakan semuanya. Toh janji itu sudah tidak berlaku lagi. Mereka sudah putus.


Cika bahkan tanpa sadar menganga cukup lama saat mendengar kenyataan bahwa sahabatnya pernah menjadi kekasih orang nomor satu MT Corporation.


Lana menceritakan semuanya. Setelah Lana selesai, Cika memeluk sahabatnya itu dan mereka menangis bersama.


Cika adalah saksi perjalanan hidup Lana. Cika tahu apa yg terjadi lima tahun lalu. Trauma yg membuat Lana menderita selama ini. Meski Lana pernah berkencan dengan sang CEO, dan putusnya mereka sangat disayangkan, Cika akan tetap berada di pihak Lana. Cika akan selamanya mendukung sahabatnya. Apapun itu.


Itulah yg dinamakan sahabat sejati.


...***...