Between

Between
Bab 83 Televisi Adalah Saksi Bisu



Cika merintih, sedikit memicingkan mata.


Ia menahan sakit pada sudut bibirnya yg nyeri saat tangan Roger bergerak mengoleskan obat.


"Jangan berlebihan." gumam Roger sambil menutup botol salep lalu melemparnya masuk ke dalam kotak p3k.


"Memang sakit." protes Cika.


Roger menatap gadis itu dengan tatapan yg tidak bisa ditebak. Gadis di depannya itu terlihat menyedihkan. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya sobek dan berdarah, ada beberapa luka memar di tangan dan kakinya. Rambutnya acak-acakan, kaosnya kusut dan dia hanya memakai sandal jepit.


Sambil membuka kancing jas, Roger kembali menatap ke depan. Dia bergerak melepas jas dan melemparnya ke bawah kursi. Tangan Roger naik ke leher untuk melonggarkan dasi.


Televisi sedang menayangkan berita kecelakaan, seorang wanita paruh baya sedang menjelaskan entah apa itu dalam bahasa inggris.


Roger menjulurkan tangan ke meja, menuang botol vodka ke gelas seloki. Lalu dengan sekali tenggak, minuman itu lenyap.


Cika yg sedari tadi menyaksikan betapa gentlemen dan maskulinnya pria itu saat melepas jas dan saat minum dengan jakunnya yg bergerak naik turun, menelan ludah dengan susah payah. Mendadak Cika merasa gerah.


"Aku boleh melihat kaca?" Cika tiba-tiba bertanya. Lebih untuk menutupi salah tingkah.


Roger tak bisa menyembunyikan senyum, "Kenapa meminta ijin padaku? Pergilah." Roger menunjuk ke ruangan kecil di sudut. "Ada cermin di kamar mandi."


Cika langsung berlari ke arah yg ditunjuk Roger dan terkesiap begitu melihat bayangan dirinya di cermin.


Gila, ini benar-benar KDRT. Wajahnya babak belur. Cika bahkan baru sekarang merasakan sakit di sekujur tubuhnya gara-gara kepanikan dan hal-hal tak terduga lainnya yg terjadi bertubi-tubi.


Cika bersyukur luka dan memar itu sudah diobati oleh Roger. Cika tak menyangka, walaupun mengerikan, pria itu ternyata baik, cukup perhatian dan lembut.


Cika kembali ke dalam ruangan.


Roger sedang menyesap minumannya. Pria itu fokus melihat tivi, hingga tangannya tanpa sadar bersandar di sandaran sofa memegang gelas yg masih berisi setengah. Sepertinya kali ini berita tentang pembunuhan, Cika tidak begitu pintar bahasa inggris.


Cika bimbang apakah ia sebaiknya duduk di sebelah Roger atau di sofa kecil. Mengingat sesi pengobatan sudah selesai.


Roger melirik kesal, "Mau berdiri berapa lama? Duduklah." Pria itu menepuk jok sofa di sebelahnya. Cika pun duduk dengan hati-hati sambil mengulum senyum.


"Terus kompres." perintah Roger, menunjuk botol berisi es batu di meja. Cika patuh, dia menempelkan botol dingin itu di tempat-tempat memar dan lebam ditubuhnya.


"Aku boleh minum juga?" tanya Cika.


Roger mengangguk. Toh tadi ia juga memesankan koktail untuk Cika. Roger tidak menduga, gadis serampangan ini ternyata bisa juga bersikap sopan. Sudah dua kali gadis ini meminta ijinnya terlebih dulu, menggemaskan.


Cika menyeruput minumannya, mengernyit. Lalu menaruhnya lagi ke atas meja.


"Aku kecewa,"


Tiba-tiba Roger bersuara. Cika menoleh menatapnya bingung. Berita di tivi sudah berakhir, berganti tayangan sepak bola.


"Kau membandingkan aku dengan pria sampah seperti itu.. aku benar-benar kecewa." Roger mengangkat gelas selokinya, memutar-mutar isi di dalam gelas.


Cika mengerjap, masih tidak mengerti apa yg pria itu bicarakan.


"Malam truth or dare di Tanbay." imbuh Roger, ekspresi nya datar.


Pria itu menenggak habis vodkanya, lalu menaruh gelas di meja dengan bunyi tak keras.


Cika langsung paham. Saat itu Cika berkata kalau ciuman Roger lebih hebat daripada Marco.


Pipi Cika mendadak jadi merah. Jika mengingat malam gila itu sekarang, ditempat begini, dan di situasi seperti ini..


"Marco dulu tidak seperti itu. Entah sejak kapan dia berubah."


Cika mengingat-ingat. "Sepertinya sejak dia dikeluarkan dari tempat kerja dan terlibat dengan orang-orang aneh."


Roger menatap ke layar tivi hanya agar tidak perlu menatap mata polos gadis di sebelahnya. Live pertandingan sepak bola mulai ditayangkan. Roger tidak begitu suka bola.


"Terlalu cinta membuat orang jadi bodoh, setelah dihajar sampai seperti ini pun kau masih membela sampah itu."


Cika mengangguk-angguk sedih. "Benar, aku memang bodoh."


Cika mendongak menatap pria bule berambut pirang itu, "Terimakasih banyak. Kalau kau tidak ada, entah bagaimana.." Cika bergidik, menolak membayangkannya.


"Meski bodoh, setidaknya kau tahu cara berterimakasih." Roger berkata.


Cika mengernyit kesal. Dia ganti menempelkan botol kompres itu di betis kanannya.


"Kenapa kau membawaku kesini?"


Roger mendengus, "Lalu kemana? Ke rumahku? Atau.. kau lebih suka hotel?"


Cika refleks melayangkan pukulan untuk mengenai lengan Roger, tapi pria itu dengan sigap menangkap tangan Cika.


Cika sampai melongo betapa cepatnya Roger bergerak. Refleks pria ini sangat bagus.


"Kau mau memukulku? Begini caramu memperlakukan orang yg sudah menyelamatkanmu?" Roger bertanya tajam.


Cika mengkeret ketakutan. "B-bukan, itu tidak sengaja. Cewek kan memang suka gitu."


Cika mencoba menarik lepas tangannya tapi Roger menggenggamnya dengan sangat erat.


"Lepas.." pintanya memelas.


Cika balas menatap mata itu.


Cika baru menyadari ada tahi lalat kecil di bawah mata Roger, hidung laki-laki itu sangat tinggi dan lancip. Laki-laki ini, dengan kemeja putih dan dasi tergantung longgar, tampak sangat maskulin dan menggairahkan.


"Sial."


Roger mengumpat lalu bergerak mendekat. Dia melu*mat bibir Cika. Botol kompres menggelinding jatuh ke karpet di bawah meja kaca.


Saat Roger hendak mengulum lebih dalam, Cika refleks menoleh ke samping sambil berteriak kesakitan, memegangi sudut bibirnya.


Roger mengerjap bingung, lalu sadar apa yg barusan ia lakukan. Roger tersenyum samar.


"Kau sudah gila ya, mulutku sedang terluka begini main nyosor aja. Sakit.."


Cika hampir menangis karena luka di bibirnya berdenyut menyakitkan.


Roger menepuk pipi gadis itu pelan, lalu kembali menatap layar tivi.


"Sori." Senyuman tetap tersungging dibibirnya.


Cika cemberut.


"Aku sudah berusaha menahannya sejak tadi, kau terus saja memprovokasiku." Roger melirik Cika. "Itu salahmu."


Cika mengernyit. Sebagian dirinya tidak ingin ciuman itu berakhir, tapi rasa sakit ini benar-benar tidak tertahankan.


"Setelah luka ini sembuh, kau tidak perlu menahannya lagi." kata Cika.


"Kenapa harus menunggu sembuh?"


Roger memutar duduknya menghadap Cika. "Kalau aku bisa mendapatkannya sekarang."


"A-aku masih memar dan lebam." ucap Cika terbata.


"Aku tidak akan menyentuh bagian itu." bisik Roger.


"Bibirku masih sakit." ucap Cika lagi.


"Aku tidak akan menciummu." jawab Roger.


Laki-laki itu mengamati ekspresi Cika yg seakan protes.


Roger menaikkan satu alis. "Kau ingin aku menciummu?"


Cika mengerjap, mengangguk malu-malu. "Lakukan dengan lembut."


Roger tersenyum.


"Siap, madam."


Ia bergerak mendekat dan mengecup lembut bibir Cika. Menjilat dan bermain-main dengan bibir gadis itu.


Cika balas merangkul Roger erat. Tangan lelaki itu bergerak turun ke bawah, mengusap dan meremas bagian dada Cika.


"Goollll.."


Dari layar tivi, pekikan presenter bola disambut gemuruh seluruh stadion membuat erangan Cika teredam.


Mereka saling menempel hingga Roger membaringkan Cika di sofa dengan hati-hati.


Roger lalu duduk tegak diatas tubuh Cika.


Gadis itu memperhatikan setiap gerakan Roger dengan tegang sampai tak sadar menahan nafas.


Tangan Roger naik ke kerah lehernya, menarik lepas dasi biru tua lalu melemparkan dasi itu sembarangan.


Roger dengan mudah dan cekatan membuka semua kancing kemeja putihnya.


Cika terkesiap, otot perut yg kencang dan indah terpampang nyata. Bahkan Marco tidak punya otot perut sedikitpun.


Cika mengulurkan tangan. "Boleh?" Gadis itu menatap Roger meminta persetujuan.


"Lakukan saja." Roger menjawab.


Cika menyentuh kotak-kotak keras di perut Roger, jemarinya meraba-raba dan mengusap. Roger memejamkan mata, tampak menikmati sentuhan Cika.


Tangan Cika lalu turun kebawah, ke sesuatu yg menonjol keras.


Roger menangkap kedua tangan Cika.


"Belum waktunya untuk yg satu itu nona."


Roger menahan kedua tangan Cika yg ia genggam, ke sofa di atas kepala gadis itu.


Lalu Roger membungkuk dan mencium Cika lagi. Berusaha mengontrol kekuatan dan gerakannya agar bergerak lembut.


Roger menelusup ke leher Cika, mulai mengecup dan menjilat setiap jengkalnya.


Cika bergelinjang. Dengan kedua tangan terkunci tidak bisa digerakkan, tubuhnya terasa panas dan gerah. Ia membiarkan laki-laki itu menjelajah semakin dalam.


"Goollll." Sekali lagi suara gemuruh menggema di seluruh ruangan. Bayangan keduanya yg sedang bergulat berkilau disinari lampu dari televisi.


Televisi berlayar lebar itu menjadi saksi bisu, malam panjang yg Cika dan Roger habiskan bersama.


...***...