
Kyoya duduk di kursi di depan Lana. Lalu mengambil sepotong kue dan melahapnya.
"Bi Lasmi sudah seperti ibuku sendiri. Dia yg merawatku sejak kecil." Kyoya berkata.
Lana membatin, pantas saja. Dia teringat orangtua kandung Kyoya meninggal karena kecelakaan saat usianya sepuluh tahun. Setelah itu dia diadopsi oleh keluarga Koijima. Memangnya Nyonya Koijima tidak merawatnya sejak kecil? Kenapa Kyoya malah dibesarkan oleh pengasuh?
"Pakaiannya datang lebih cepat dari yg kukira." Kyoya membuyarkan lamunan Lana. "Semoga pas. Aku memesan ukuran yg hanya ku tebak saja."
Lana mengucapkan terimakasih.
"Kamar mandinya sudah kosong." Kyoya mempersilahkan Lana mandi. "Sebenarnya ada satu lagi kamar mandi di ujung sana, lebih kecil dan dipakai oleh Bi Lasmi."
"Tidak apa-apa. Oia apa benar, aku adalah wanita pertama yg kamu ajak ke sini?" Lana bertanya menggoda. "Padahal kamu setampan dan sepopuler ini."
Kyoya tertawa kecil. "Bi Lasmi pasti terkejut. Tiba-tiba aku pulang membawa seorang gadis, yg basah kuyup. Yah.. aku memang belum pernah mengajak siapapun ke sini. Kamu yg pertama."
Lana tersenyum senang. Ada rasa bangga dan semburat kebahagiaan saat mendengar kalimat Kyoya 'kamu yg pertama'. Padahal jika saja Kyoya mau, puluhan gadis cantik seksi nan elegan rela mengantri untuk dipilih.
"Terimakasih." ucap Lana. Lalu turun dari kursi dan berdiri dekat meja untuk mengambil kotak pakaiannya.
Kyoya memperhatikan kemeja biru pastel yg dipakai Lana, lalu matanya turun ke bawah. Kyoya menelan ludah melihat paha putih mulus itu.
Lana menegang. Ia cepat-cepat mengambil kotak dan berjalan pergi, meninggalkan lelaki itu yg terus menatapnya hingga menjauh.
Lana memasuki kamar mandi dengan berdecak kagum. Kamar mandi itu luas. Ada bathup dari keramik putih, shower metalik dan wastafel putih dengan cermin besar di dinding.
Lana menutup pintu, menguncinya (yah demi keamanan saja) lalu meletakkan kotak itu di atas meja wastafel. Kyoya sudah menyiapkan handuk kering untuk Lana yg tergantung di rak di dinding.
Lana melepas kemeja Kyoya dengan hati-hati lalu menggantungnya ke rak di dekat handuk. Lana melepas underwear dan meletakkannya ke keranjang baju kotor. Pakaian Kyoya yg basah sudah berada di dalam keranjang.
Lana berjalan ke bawah shower dan menekan tombol air hangat. Pancuran air hangat yg nyaman membasahi kepala dan seluruh tubuhnya yg dingin.
Lana meraih botol sampo dari rak kecil di dinding. Merek sampo dan sabun mandi yg Lana belum pernah lihat sama sekali. Sangat susah dibaca, sepertinya bahasa Perancis.
Lana menekan tuas di botol dan keluar cairan kental berwarna emas yg menguarkan aroma harum mentol. Bahkan sampo orang kaya pun terbuat dari emas, batinnya. Lalu mulai mandi. Semua ketegangan nya meleleh sudah. Membuatnya rileks.
Selesai mandi dan mengeringkan tubuh, Lana membuka kotak itu. Tampak bra berenda dan cela*na dalam hitam di atas sebuah dress selutut dengan lengan sesiku berwarna pink pastel. Masih ada banderol mereknya, Lana mengecek, butik kenamaan yg pastinya mahal.
Lana setengah tersipu saat memakai underwear itu. Membayangkan Kyoya yg memilihnya sendiri. Sekarang mereka seintim ini, Lana masih tidak percaya dirinyalah yg dipilih sang CEO. Dan underwear pilihan lelaki itu ukurannya sangat pas.
Lana mengeluarkan dress itu, tampak indah sekali. Terbuat dari katun premium, dengan pita di belakang dan tiga kancing besar di depan. Lana memakainya dan bercermin. Cantik sekali. Pakaian itu pas ditubuh Lana dan bergerak indah saat dipakai. Lana tersenyum senang.
Dia mengambil sisir dari meja wastafel dan mulai merapikan rambut. Wajah Lana sudah tampak segar. Dia beraroma Kyoya.
Setelah semua selesai, Lana menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya membuka pintu kamar mandi.
...***...
Ternyata kamar tidur itu kosong. Lana pun keluar menuju ruang makan. Kyoya tidak terlihat di meja makan maupun di manapun.
Lana mendengar suara ketikan keyboard. Dia menelusuri koridor dan suara itu terdengar semakin jelas. Lana melihat sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Dan mengintip ke dalam.
Tampak Kyoya sedang sibuk mengetik, matanya fokus ke layar laptop yg menyala. Lelaki itu duduk di kursi hitam seperti kursi di ruangannya di kantor. Di balik meja kayu besar dengan beberapa tumpukan buku.
Menyadari Lana berdiri di pintu, Kyoya mengalihkan pandangannya dari laptop dan menatap Lana. Lelaki itu tersenyum.
"Kemarilah. Aku sedang menyelesaikan mengecek berkas dari Departemen Keuangan, untuk meeting besok."
Lana menurut. Dia memasuki ruangan dan memandang berkeliling. Ternyata ia berada di ruang kerja dengan dinding penuh rak buku seperti perpustakaan.
"Duduk di sini." ucap Kyoya. Mata lelaki itu fokus pada layar laptop.
Lana yg berdiri di sebelah lelaki itu bingung, tidak ada kursi lagi. Detik berikutnya Kyoya menarik tangan Lana hingga gadis itu terjatuh di pangkuan Kyoya.
Lana memekik pelan lalu menunduk tersipu. Bagaimana dia bisa tahan duduk di sini. Dengan wajah Kyoya yg sangat dekat.
"Meetingnya diundur besok siang. Tapi aku akan kepikiran jika masih ada pekerjaan yg belum ku selesaikan." Kyoya mengecup pipi Lana lalu kembali fokus ke laptop.
Lana benar-benar tegang. Untuk mengalihkan pikirannya, dia melihat di meja ada sebuah pigura. Satu-satunya foto di rumah ini. Lana menjulurkan tangan mengambil pigura itu.
Itu adalah foto sebuah keluarga yg tampak bahagia. Laki-laki berambut pirang bermata biru merangkul wanita berambut hitam yg persis Kyoya. Keduanya tersenyum. Di tengah berdiri seorang anak laki-laki kecil berambut hitam yg nyengir lebar. Tangan anak itu menggenggam sebuah kincir warna pelangi bertuliskan Kyoya.
"Ini.. " Suara Lana menggantung.
Tanpa mengalihkan mata dari laptop, Kyoya berkata, "Ayah dan ibuku. Satu-satunya foto keluarga yg kumiliki."
Entah, Lana tiba-tiba menjadi sedih. Dia menatap Kyoya kecil penuh sayang. Jemarinya membelai lembut foto Kyoya. Lelaki itu saat kecil sungguh menggemaskan, sudah terlihat tampan sejak dini. Sayang sekali Kyoya kecil harus mengalami tragedi yg buruk dan kehilangan orang tua di usia semuda itu.
Lana juga kehilangan sosok ayah saat berumur sepuluh tahun. Lalu kehilangan ibu beberapa bulan lalu. Lana bisa merasakan kesedihan dan kesepian itu. Tanpa sadar airmatanya menetes.
"Hey Lana baby, what happened?" Kyoya yg menyadari Lana sesenggukan menatap khawatir.
Lana tidak menjawab, hanya mengusap pipi sambil berusaha menenangkan diri.
Kyoya memperhatikan Lana. "Ada apa Lana? Mengapa kamu menangis?" Kyoya bertanya cemas.
Lana menggeleng. "Aku hanya.. tiba-tiba merasa sedih melihat foto ini. Maaf."
Kyoya menggenggam tangan Lana yg memegang pigura. Lelaki itu ikut memperhatikan foto. Sorot matanya berubah sendu.
"Kyoya kecil yg bahagia." ucapnya.
Lalu mengalihkan mata menatap Lana. Jemari Kyoya mengusap airmata di pipi Lana. "Dan Kyoya dewasa yg bahagia. Aku baik-baik saja Lana. Terimakasih sudah menangis untukku. Gadis cantik seperti dirimu sampai menjatuhkan air mata adalah sebuah kehormatan untukku."
Mau tak mau Lana tersenyum mendengarnya.
"Maaf, aku pasti sudah membuatmu sedih juga. Mengingatkanmu pada kenangan di foto ini." Lana menaruh pigura itu kembali ke atas meja.
"Its okay. Harus kehilangan untuk menyadarkan bahwa sesuatu itu ternyata sangat berharga jika telah pergi."
Kyoya mengelus pipi Lana lembut. "Stay by my side." bisiknya.
Lana mengangguk. Dia menatap Kyoya penuh sayang.
Kyoya juga menatap Lana intens.
"Persetan laporan keuangan. Ada yg lebih urgent." umpat lelaki itu lalu mencium Lana penuh hasrat.
...***...