
Lana menginjakkan kaki nya yg telanjang di pasir pantai berwarna coklat muda. Terasa lembut. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma asin air laut. Sandal jepit pink tergeletak di samping kakinya.
Lana menghela nafas dalam. Aroma liburan yg menyenangkan.
Tempat ini indah sekali. Walau lumayan ramai pengunjung, tapi Lana mengakui keindahan pantai ini. Di sepanjang sisi berderet kursi santai dan payung-payung besar. Juga beberapa pengunjung yg menggelar alas untuk bersantai ataupun berjemur.
Lana agak risih dengan bikini nya, meski dia yg memilihnya sendiri. Sebenarnya bikini itu sangat cantik. Saat memakainya di kamar tadi, Lana melihat pantulan dirinya di cermin terlihat sangat seksi dan cantik. Tapi setelah turun ke pantai, beberapa orang terutama para pria akan langsung menoleh memandangi tubuhnya ketika Lana lewat. Tatapan mereka itu yg membuat Lana risih.
Cika menghampiri Lana dengan dua minuman kelapa ditangannya. Tampak sumringah.
Lana menerima minuman itu dan langsung menyeruput nya, segar sekali.
"Indah ya. Eh tahu tidak, saat aku antri membeli minuman ini, orang di belakangku asyik bicara dengan temannya. Dia memuji gadis cantik dengan bikini krem bunga-bunga, penasaran apakah gadis itu sudah punya pacar. Ceileehh.. Lana, bisa-bisa pulang dari pantai ini, banyak cowok yg menyatakan cinta padamu." goda Cika.
"Apa sih." Lana berkelit malu.
Saat Cika masih tetap menggoda dan Lana mulai kesal, tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari mendekat dan menabrak Lana. Membuat minuman kelapanya melompat keluar, tumpah separuh ke pasir pantai.
Lana merasakan sesuatu yg dingin di perut dan pahanya. Astaga, anak itu menumpahkan susu coklat ke tubuh Lana. Sekarang bikini nya basah berlumur susu kecoklatan yg menetes-netes.
"Astaga Lana, heh bocah." Cika hendak memarahi bocah yg langsung diam menunduk didepannya. Gelas kosong di tangan bocah itu tergenggam erat.
"Kenapa kamu lari-lari ditempat ramai seperti ini? Setelah membuat baju kakak ini kotor, seharusnya kamu bilang apa?" Anak itu mengkeret.
Lana menahan lengan sahabatnya itu. "Sudahlah ga papa."
Lana berjongkok. Dilihatnya bocah itu menunduk sedih. Lana menduga umur anak itu baru tujuh tahun. Lana mengusap kepala bocah itu.
"Kamu tidak apa-apa kan? Tadi kamu menabrak kakak cukup keras." Anak itu menggeleng.
"M-maaf kak." ujar anak itu pelan.
"Syukurlah kalau kamu tidak terluka. Tidak apa-apa. Kakak maafkan, tapi lain kali jangan berlarian di tempat ramai ya. Janji?" Lana tersenyum sambil mengacungkan jari kelingking.
Anak itu menatap Lana, mendekatkan jari kelingkingnya hingga menyentuh sekilas. Lalu berbalik dan berlari menjauh.
"Heh mau kemana kamu anak nakal!" jerit Cika kesal.
Lana berdiri. Menatap anak itu yg menghilang di antara keramaian.
"Lihat kan, niat baikmu disia-siakan." Cika memberengut kesal. Lalu tatapannya berubah iba. "Bagaimana ini, bikini cantikmu jadi kotor dan berwarna coklat."
Lana tersenyum, "Tidak apa-apa. Aku ke toilet dulu ya, mau membersihkan noda ini. Rasanya lengket."
Cika mengambil gelas Lana, lalu mengangguk. "Aku tunggu di sini."
Lana memakai sandalnya lalu berjalan mencari toilet.
...***...
Lana sedang mencuci tangan setelah membilas perut dan pahanya yg terbuka, penuh noda coklat. Setelah rasa lengket itu hilang, Lana tidak bisa berbuat apa-apa pada bikini nya yg juga bernoda coklat dimana-mana.
Lana menatap bayangan dirinya di cermin. Menghela nafas panjang.
"Permisi."
Lana menoleh, ada seorang ibu mendekat sambil membawa tas kantong berisi kotak persegi.
"Saya benar-benar minta maaf. Karena anak saya, baju anda jadi kotor. Ini sebagai gantinya."
Tanpa babibu lagi, ibu itu berbalik dan pergi. Meninggalkan tas berisi kotak itu di tangan Lana.
Lana yg bingung pun tersadar. Dia berusaha mengejar ibu itu tapi di antara keramaian, Lana kehilangan sosoknya.
Lana mengeluarkan kotak dari dalam tas, lalu membukanya. Sebuah bikini indah dengan potongan lebih tertutup. Lana mengerjap, memutuskan kembali ke toilet.
Di dalam bilik, Lana menjereng bikini itu. Merek mahal dilihat dari tag-nya. Bikini itu lebih mirip dress pantai, berwarna pink pastel polos, kainnya lembut dan tipis. Dengan ikatan di leher, dadanya lebih tertutup, tanpa lengan dan terusan sampai ke paha seperti rok.
Lana mengernyit, kenapa ukurannya sangat pas dengan tubuh Lana. Seolah ibu itu memang sengaja memilihkan bikini untuk Lana. Aneh sekali.
Tapi Lana tak punya pilihan. Daripada memakai bikini yg sebelumnya dan membuat lebih banyak orang tertarik melihat karena bikini itu penuh noda.
Lana pun memasukkan bikini kotornya ke dalam tas, lalu keluar dari toilet.
Tanpa Lana tahu, tak jauh dari tempatnya berada, seorang laki-laki tersenyum lega melihat Lana keluar dari toilet memakai baju yg baru. Laki-laki itu tersenyum puas, kini kekhawatiran nya berkurang sudah melihat Lana tidak lagi berpakaian seksi.
Lelaki itu memakai kemeja putih longgar dan celana katun hitam. Cukup banyak gadis yg menoleh dan berbisik-bisik centil ketika berpapasan dengannya.
Ya, laki-laki itu adalah Koijima Kyoya.
Sebenarnya Kyoya tidak bermaksud melakukan semua ini diam-diam.
Awalnya dia hanya ingin bersantai menikmati waktu luang yg sangat jarang didapatkannya. Seperti orang-orang normal lainnya yg datang ke pantai, duduk santai menikmati semilir angin, minum minuman kelapa di bawah payung besar, ketika tiba-tiba Lana dan sahabatnya lewat tak jauh di depan kursi Kyoya.
Kyoya terbelalak hingga hampir menyemburkan minumannya ketika melihat apa yg dipakai Lana. Bikini seksi yg mengekspos kulit putih Lana di tempat yg tidak seharusnya terbuka.
Kyoya langsung meradang. Kenapa gadis yg amat disayangi nya itu tampak nyaman mengumbar tubuh yg seharusnya hanya boleh dilihat Kyoya.
Benar saja, Kyoya mendapati beberapa pria bersiul nakal dan menatap Lana dengan pandangan mesum. Kyoya geram, ingin sekali rasanya mencongkel keluar mata para pria itu. Dan berlari ke arah Lana sambil membalut tubuh gadis itu dengan handuk lebar. Tapi itu tidak mungkin kan, bisa-bisa Lana mengatainya gila atau menuduhnya sebagai penguntit.
Ah, bukan Koijima Kyoya namanya, kalau dia tidak bisa menyelesaikan suatu masalah. Dia punya ide yg lebih bagus.
Kyoya segera menelepon butik terkenal yg berada di sebelah Five Star Hotel, memesan bikini dress dengan ukuran Lana. Tentu saja Kyoya hafal, dia pernah menyentuh tubuh indah itu. Lalu Kyoya menelepon Roger, menyuruh ajudannya itu mengambil bikini dress di butik dan mengantarkannya ke tempat Kyoya.
Oke beres, kini langkah kedua. Kyoya mengamati sekeliling, lalu dengan mudah dia menemukan targetnya.
Kyoya berjalan menghampiri anak laki-laki yg sedang bermain pasir sendirian. Kyoya tersenyum ramah. Setelah mengobrol basa-basi, Kyoya memberikan anak itu uang untuk membeli dua susu coklat dingin. Kyoya sudah menginstruksikan apa saja yg harus dilakukan bocah itu. Anak itu mengangguk patuh.
Kyoya hanya tinggal memantau dari jauh. Dilihatnya anak itu sudah membeli susu coklat. Satu gelas dia minum dengan lahap sampai tandas. Lalu satu gelas dia bawa menuju ke arah Lana dan Cika yg sedang asyik mengobrol sambil minum.
Dan terjadilah sesuai rencananya. Anak itu menabrak Lana, menumpahkan susu coklat ke bikini nya. Dan Lana menuju toilet.
Pas sekali, Roger datang di waktu yg tepat. Kyoya menerima tas kantung itu kelewat senang, tersenyum sangat ramah sampai membuat Roger terheran-heran. Kyoya lalu membawa tas kantung itu menuju toilet perempuan sambil mencari target selanjutnya.
Untunglah ada ibu-ibu yg mau diajak bekerjasama. Dengan imbalan voucher menginap gratis di Standard Room Five Star Hotel, ibu itu mau melakukan semua instruksi Kyoya.
Dan jadilah kini Lana memakai bikini dress pilihan Kyoya.
Kyoya tersenyum lagi, menikmati keberhasilan rencananya. Seperti pemindahan kamar Lana ke Suite Room. Lana harusnya tidak akan pernah tahu kalau ada Kyoya dibalik semua ini, jika petugas hotel itu tetap tutup mulut. Dan sepertinya akan tetap terus tutup mulut, Kyoya sudah memberikan jam tangan seharga motor sport ke petugas itu, yg menerimanya dengan mata berbinar tak percaya.
Begitulah, sekali lagi, the power of Koijima Kyoya nyata adanya.
...***...