
Lana mengawasi dokter pria yg sedang merawat luka Ethan. Wajah Lana terlihat sedih, dia tampak tidak tega.
Sementara Ethan hanya bisa pasrah, mengernyit kesakitan. Lelaki itu tidak memakai baju atasan. Punggungnya terpampang kecoklatan penuh otot kencang yg maskulin. Kemeja abu-abu nya disampirkan ke punggung kursi. Kemeja Ethan yg robek sudah dibuang ke tempat sampah, syukurlah di mobilnya Ethan menyimpan pakaian ganti.
Setelah insiden balok jatuh, mereka langsung menuju rumah sakit Medika Wyata yg untungnya berjarak lumayan dekat dari lokasi pembangunan. Lana bersikeras meminta orang lain yg menyetir tapi Ethan menolak.
Dengan menaiki mobilnya, Ethan menyetir sendiri menuju UGD. Lana yg duduk di sebelahnya berkali-kali bertanya apa dia baik-baik saja.
Dokter mengambil kain perban dari kotak p3k. "Sangat nyaris. Seandainya balok itu jatuh lebih ke kanan sedikit saja, kepala anda bisa remuk. Fatal." kata dokter sambil membalut luka Ethan.
Lana membenarkan perkataan dokter. Memang nyaris saja, Lana maupun Ethan bisa saja terluka lebih parah. Atau bahkan bisa saja mati.
Balok itu jatuh karena kesalahan kerja dari operator. Dikarenakan kurang pengecekan pada alat berat yg digunakan.
Meski bisa saja menuntut, Ethan memilih memaafkan dan hanya memperingatkan (dengan tegas) agar lebih berhati-hati dan harus sesuai standar operasional. Karena jika terjadi kejadian seperti itu lagi bisa sangat membahayakan bagi orang lain.
Ethan melirik Lana yg berwajah muram. Lalu sambil tertawa kecil ia berkata, "Aku tidak akan mati semudah itu dok. Masih banyak yg ingin kulakukan. Masih banyak yg ingin kunikmati."
Mata Lana tertuju pada Ethan dan tatapan mereka bertemu. Ethan tersenyum, tapi Lana tetap muram.
Hati Lana sakit. Mengapa harus laki-laki ini yg menyelamatkannya? Lana jadi berhutang budi padanya. Padahal Lana sudah sangat kejam memperlakukan Ethan, kenapa laki-laki itu rela mengorbankan nyawa demi melindunginya?
"Aku baik-baik saja. Tenanglah." Ethan bicara demi melihat wajah Lana. "Jika orang lain melihat ekspresi mu, mereka akan bertanya siapa yg sedang dimakamkan." Ethan nyengir.
Lana mengatupkan bibir, tidak bisa menatap laki-laki itu dengan amarah yg sama seperti sebelumnya. Bagi Lana, Ethan kini adalah penyelamat hidupnya.
"Tapi bagaimana kamu menggunakan tangan kanan? Apa tidak sakit?" tanya Lana cemas.
Ethan langsung sok-sokan. "Yg terluka kan bahu, tanganku masih bisa dipakai. Lihat."
Dia menggerakkan tangan kanannya ke atas dan seketika memekik kesakitan. "Aakhh!"
Lana langsung berdiri menghampiri Ethan, wajahnya tegang.
"Tuh kan, aku bilang apa. Sakit banget ya?" tanya Lana tampak sangat khawatir. "Udah ga usah dipaksa."
Ethan memperhatikan manik mata Lana yg tak lagi menatap marah saat melihatnya. Lana kini memperlakukan nya seperti Lana yg dulu. Lana yg ia rindukan. Dalam hati Ethan bersyukur balok itu jatuh dan mengenainya.
Ethan menatap Lana sayang, tersenyum lembut. Lalu sedetik kemudian senyum itu berubah menjadi senyum iseng.
"Aku hanya bercanda." Ethan tertawa kecil. "Sama sekali tidak sakit kok." Lelaki itu menggerak-gerakkan tangan kanannya sambil menunjukkan wajah baik-baik saja.
Lana langsung cemberut dan berbalik. Lalu duduk lagi di kursi.
"Meski tidak sakit, anda harus tetap berhati-hati saat menggerakkan tangan kanan anda. Bahu yg terdislokasi bisa bergeser dan menyebabkan luka yg lebih parah." Dokter memasang alat penyangga bahu yg harus Ethan pakai.
Ethan berbisik pada dokter, sebisa mungkin agar Lana tidak mendengarnya. "Sebenarnya sakit sekali dok. Rasanya sampai ingin menangis. Tapi ini supaya dia tidak khawatir."
Dokter itu tertawa. Ethan langsung ber-shhh.
Lana yg sedang meratapi kesedihan, kaget dan bertanya-tanya melihat dokter itu membekap mulutnya sendiri agar tidak tertawa.
Lana heran mereka berdua ini sedang apa.
Akhirnya dokter itu selesai merawat luka Ethan. Dia berdiri dan kembali ke mejanya.
"Saya akan beri resep pereda nyeri, bisa ditebus di sini atau apotik lainnya. Kontrol lagi minggu depan. Jika rasa sakit di bahu tiba-tiba menjadi parah, atau sakitnya menjalar ke tangan kanan, segera ke UGD terdekat ya." Dokter itu menuliskan resep obat.
Ethan berdiri, lalu menyambar kemejanya dari punggung kursi. Dengan mengerang kesakitan, Ethan memakai kemeja itu. Lana mengira lelaki itu sedang mengerjai nya lagi.
"Katanya ga sakit." sindir Lana, meski demikian gadis itu menghampiri Ethan dan berdiri menghadapnya.
Meski agak risih melihat dada telan*jang Ethan, Lana berusaha mengabaikannya. Lana sempat mengagumi sejenak betapa tubuh itu terlihat menggoda, ingin ia sentuh. Dada bidang, otot perut yg kencang.
Lana membantu tangan kanan Ethan melewati lubang kemeja dengan hati-hati lalu tangan kirinya. Lana merapikan kerah dan mengancingkan kemeja itu satu persatu.
Ethan memperhatikan Lana intens. Tercium aroma strawberry samar-samar dari rambut panjang Lana. Gadis itu fokus mengancingkan kancing baju sampai tidak menyadari Ethan yg terus menatapnya dengan sayang.
"Terimakasih balok, berkatmu aku tidak dijutekin lagi." ucap Ethan.
Lana mendongak, wajah mereka hanya berjarak satu kepalan.
"Jangan konyol. Kamu bisa saja mati tadi." kata Lana.
Ethan tersenyum. "Mungkin itu sepadan, jika akhirnya kamu memaafkanku."
Gerakan tangan Lana terhenti. Ia menatap manik mata lelaki itu. Seolah mencari sosok yg dulu pernah mengarungi masa indah bersama.
"Aku belum memaafkan. Aku hanya sedang melakukan gencatan senjata." Lana kembali melanjutkan mengancing baju yg terakhir.
Ethan tertawa. Dia mengacak rambut Lana. "Dasar, sama sekali ga berubah. Kalau ngambek susahnya minta ampun."
Lana memekik sambil merapikan rambutnya yg kusut. Ethan malah ingin semakin mengerjai nya.
"Ehem."
"Jika tidak ada lagi yg ditanyakan, ini resep obat dan surat kontrolnya. Maaf, silahkan kalian lanjutkan pertengkaran suami istrinya di luar. Pasien saya yg lain sedang menunggu."
Dokter itu tersenyum penuh arti sambil menyodorkan dua kertas.
Lana jadi salah tingkah. Buru-buru dia merapikan rambut lalu menerima kertas itu. Sambil menundukkan kepala sopan dia berjalan keluar.
"Suami anda sedang sakit, tolong rawat dia dengan baik ya. Jangan sering bertengkar." Dokter itu menambahkan.
Wajah Lana semakin merah. Dia tidak sanggup menjawab, menganggukkan kepala sambil membuka pintu lalu segera keluar.
Dokter itu mengerling pada Ethan. Lelaki itu tertawa sambil mengacungkan dua jempol.
"Dokter memang yg terbaik." Ethan menganggukkan kepala sopan lalu berjalan ke pintu keluar. "Terimakasih dok."
Dokter itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
...***...
Di perjalanan, Ethan menyetir mengantarkan Lana pulang. Setelah memastikan dia sangat bisa untuk menyetir, akhirnya Lana mau juga masuk ke dalam mobil.
Memang tidak terlalu sakit seperti saat ke rumah sakit tadi, karena Ethan sekarang memakai penyangga bahu. Jika hanya untuk menyetir saja, dia bisa. Entah bagaimana saat nanti melakukan aktivitas yg lain.
Lana terus-terusan melirik Ethan diam-diam. Lelaki itu sama sekali tidak berubah, yah walaupun dulu tubuhnya tidak penuh otot seperti sekarang. Tapi caranya menatap Lana, sifatnya yg iseng, easy going, membuat Lana sedikit merindukan momen kebersamaan dengannya dulu.
Ethan memang tidak setampan Kyoya. Kulitnya agak kecoklatan, tidak seputih Kyoya. Tapi Ethan punya aura laki-laki yg jantan dan maskulin. Rambutnya cepak, di telinga kiri ada lubang kecil bekas tindik. Hidungnya tidak selancip Kyoya, tapi bibirnya lebih tebal. Dibanding Kyoya yg berwajah kecil, rahang Ethan lebih lebar dan saat lelaki itu tersenyum, wajah maskulin nya berubah menjadi sangat manis.
Apa yg baru saja Lana pikirkan?
Tanpa sadar Lana menggelengkan kepala dan menyesali mengapa dia jadi membanding-bandingkan Ethan dengan Kyoya. Lana, kau pasti sudah gila.
"Kau sedang memikirkan apa?" Ethan fokus menyetir sambil melirik Lana yg aneh.
Lana tertawa canggung. "Bukan sesuatu yg penting."
Ethan nyengir, "Kau lagi berpikiran mesum ya."
Lana refleks memukul pelan bahu kiri Ethan. "Enak saja."
Ethan langsung mengaduh-aduh ria. Lana segera meminta maaf penuh penyesalan. Lalu Ethan tertawa dan mengatakan kalau yg sakit kan bahu kanan.
Lana segera memukuli bahu Ethan berkali-kali.
"Aku senang kamu sekarang memperlakukan ku dengan lebih baik Lana." Ethan bicara. "Yah, setidaknya sekarang aku diperlakukan secara manusiawi."
Lana tidak menjawab. Dia sibuk melihat ke depan.
"Lana, aku benar benar menyesal ttg lima tahun lalu. Aku tidak bermaksud pergi meninggalkanmu tanpa kabar. Saat itu-"
Lana mengangkat tangan. Ethan mendadak diam.
Tanpa menoleh, Lana bicara pelan. "Seperti yg kukatakan tadi, aku belum memaafkanmu Ethan. Yang kamu lakukan lima tahun lalu sangat membuatku trauma."
Ethan mencengkram kemudi erat. Ethan merasa sikap Lana terlalu berlebihan. Memang dia pergi mendadak, tanpa kabar. Tapi Lana seharusnya tidak perlu semarah ini.
Lana menunduk, memainkan kuku ibu jarinya. "Ada yg terjadi, yg kamu tidak tahu."
Ethan menoleh, "Maka beritahu aku. Tolong jelaskan Lana."
Lana menggeleng. "Aku belum siap Ethan. Tolong jangan memaksaku."
Ethan menarik nafas panjang. Kira-kira apa yg terjadi lima tahun lalu. Yang membuat gadis yg dulu ceria kini tampak ketakutan dan tertekan.
Ethan mengingat saat terakhirnya bertemu Lana. Hari sebelum Ethan menghilang, mereka tengah memadu kasih di kamar kos Lana.
Saat itu begitu indah, begitu panas dan nikmat. Lana yg cantik, tertidur pulas di lengannya. Keringat dan peluh membasahi keningnya. Kamar kos itu kecil dan pengap. Hanya kipas angin bertangkai yg membuat udara sedikit lebih sejuk.
Ethan mengingat betapa saat itu mereka sangat intim, bagai dunia milik mereka. Lana yg menyerahkan malam pertamanya pada Ethan, gadis yg polos, Ethan mengajarinya apa arti kenikmatan.
Setelah itu dia menghilang. Ethan tidak pernah muncul lagi di kampus, atau dimanapun. Itu ada alasannya, batin Ethan.
"Suatu hari nanti, aku ingin kamu tahu Ethan ttg apa yg terjadi lima tahun lalu. Kamu pasti sangat menyesal meninggalkanku saat itu." ucap Lana lirih.
Ethan menggenggam tangan Lana, gadis itu tidak menolak.
"Aku benar-benar minta maaf Lana." Ethan berkata sungguh-sungguh.
Lana menggeleng. "Maaf saja tidak cukup."
Dia menarik tangannya dan memalingkan wajah ke jendela.
...***...