
Seminggu setelah acara festival di sungai Yan..
Kyoya sedang fokus menorehkan tandatangan ke lembar laporan departemen HRD. Tandatangannya termasuk yg rumit dan panjang.
Setelah selesai, ia menutup map hitam itu dan memindahkannya ke samping kiri.
Kyoya mengambil map hitam lainnya dari samping kanan, membukanya dan langsung menghela nafas panjang.
Laporan dari departemen keuangan. Tidak ada yg salah sebenarnya dari laporan ini, tidak ada kerugian maupun defisit, malah keuntungan perusahaan naik dua kali lipat dari sebelumnya.
Kyoya sangat tahu alasan kenaikan itu bisa terjadi, dan ia tidak ingin mensyukurinya.
Kyoya mulai mengecek angka demi angka, ketika interkom di ujung meja berdering.
Mia si sekretaris memberitahukan kalau Roger hendak bertemu. Kyoya mempersilahkan ajudannya itu untuk masuk. Mia menjawab sopan lalu telepon ditutup.
Tak lama pintu besar itu terbuka, Roger memasuki ruangan dengan langkah lebar dan mantap.
Kyoya memperhatikan wajah ajudannya yg terlihat lelah namun bersemangat.
"Selamat siang sir. Saya datang membawakan laporan yg anda minta."
Roger berdiri di depan meja hitam besar, membungkukkan badan hormat lalu menyodorkan dengan sopan map hitam ke tangan Kyoya yg terjulur.
"Kenapa butuh waktu lama Roger?" Kyoya menaruh map itu di meja lalu mulai membuka halaman pertama.
"Sesulit itukah?"
Roger tampak menyesal. "Benar sir. Seperti yg anda tahu, kecelakaan itu terjadi 16 tahun yg lalu. Saat itu cuaca sedang buruk sehingga tidak ada cukup saksi mata. Kamera cctv di lokasi kecelakaan juga sedang rusak."
Kyoya mendengarkan dengan seksama penjelasan dari ajudannya sambil matanya meneliti tiap paragraf di lembar pertama. Halaman itu berisi perincian bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi.
Tanpa bicara, Kyoya membalik halaman ke lembar kedua. Sebuah foto buram menampilkan mobil yg ringsek, rusak parah.
Kyoya mengernyit. Mobil itu adalah mobil yg ia naiki bersama orangtuanya saat berumur 10 tahun. Mobil yg menewaskan ayah ibunya dan menjadikannya yatim piatu.
"Anda baik-baik saja sir?" tanya Roger khawatir. Laki-laki itu tahu, menyelidiki kembali kecelakaan 16 tahun lalu berarti menguak kembali trauma dan ingatan kelam atasannya.
Kyoya menghela nafas panjang. "Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir."
Kyoya menatap foto itu sekali lagi. "Aku hanya sedikit kaget betapa hancur lebur mobil ayahku. Sebuah keajaiban aku bisa selamat."
"Mobil itu melaju dengan kecepatan cukup tinggi sir. Menabrak pembatas jalan yg dengan sembrono diletakkan tidak sesuai sop. Lalu menabrak-"
"Menabrak seorang pekerja hingga tewas." potong Kyoya.
Sebelum menyuruh Roger menyelidiki kecelakaan masa lalunya, Kyoya samar-samar tahu kalau saat kecelakaan terjadi, tidak hanya orangtuanya yg meninggal, ada seorang pekerja yg tertabrak sehingga akhirnya meninggal juga.
Beberapa waktu ini Roger memang sering ijin dinas luar dari pagi. Tidak ada yg tahu, padahal ia ditugaskan Kyoya secara khusus untuk menyelidiki kembali kecelakaan maut itu. Kyoya menginstruksikan agar penyelidikan ini berjalan diam-diam dan halus. Tidak boleh ada satu orang pun yg tahu.
"Siapa nama pekerja itu?" tanya Kyoya, membalik ke halaman selanjutnya.
Sebuah foto seorang pria paruh baya, tidak begitu jelas, seperti diambil dari potongan koran lama. Hanya umur dan nama saja yg terpampang di bawah foto itu. Tidak ada keterangan lain.
"Wangga Hasmi Sanjaya." jawab Roger.
"Berumur 45 tahun, sudah berkeluarga. Dia ditetapkan sebagai tersangka, karena atas kecerobohannya dalam bekerja sehingga terjadi kecelakaan itu."
Kyoya memejamkan mata, tampak berusaha keras sedang mengingat sesuatu. Entahlah, mendengar nama pria ini, Kyoya seperti pernah mendengarnya di suatu tempat.
Tapi sayangnya otaknya tidak menemukan jawaban dimana keterkaitan nama pria itu.
Kyoya memandangi foto lecek yg agak sulit dikenali, berusaha mengingat wajah pria itu mirip dengan siapa. Mungkin saja Kyoya pernah bertemu atau bagaimana. Karena hati kecilnya seperti familiar dengan nama pria ini.
"Dimana keluarganya sekarang?" tanya Kyoya akhirnya.
Roger tampak menyesal. "Saya sudah mencoba melacak rumah lama pria itu sir. Begitu kecelakaan itu menewaskan sang ayah, keluarga itu pindah keluar kota. Dari keterangan beberapa tetangga yg masih samar-samar mengingatnya, keluarga itu punya tiga anak. Dua perempuan dan satu laki-laki."
"Karena sudah 16 tahun berlalu, tetangga sekitar rumah itu rata-rata sudah tua, pikun maupun meninggal. Saya kesulitan menemukan informasi ttg keberadaan keluarga itu sekarang dimana sir."
Kyoya menghela nafas panjang. "Teruslah mencaritahu Roger. Jika kita bisa menemukan keluarga itu dan membuat mereka mau bersaksi dan berpihak pada kita, kita bisa mengungkap kebenaran kecelakaan itu."
Roger tampak ingin mengajukan pertanyaan tapi bimbang sebaiknya bertanya atau tidak.
"Katakan saja apa yg ingin kau katakan." Kyoya peka melihat perubahan gestur Roger.
Roger tampak berhati-hati memilih kata, "Maaf sebelumnya sir, mengapa anda yakin kecelakaan itu berhubungan dengan Koijima Grup?"
Kyoya membalik halaman selanjutnya, halaman terakhir.
Terdapat deretan nama walikota dan jajarannya pada masa kecelakaan itu terjadi, juga nama-nama para petinggi Rexus Corporation, anak perusahaan Koijima Grup pada masa itu namun perusahaan itu diambil alih dan diganti namanya menjadi Rayon K Corporation, perusahaan yg kini dihandle oleh kakak Kyoya, Koijima Han.
"Aku mendengar dari sumber terpercaya, Roger, Koijima Grup telah melalui jalan berdarah untuk bisa sesukses sekarang. Tidak ada salahnya kita menyelidiki kecelakaan itu, mungkin saja akan ada nama buruk seseorang yg bisa kita pulihkan."
Roger mengangguk. Ia memperhatikan atasannya menutup map hitam. Wajah atasannya itu tampak lelah setelah pembicaraan tentang kecelakaan maut yg hampir merenggut nyawanya.
Kyoya tiba-tiba teringat. "Dan gadis kecil itu?" tanyanya penuh harap.
Roger tampak menyesal. "Maaf sir, saya belum bisa menemukan siapa gadis yg anda maksud. Seperti yg sudah saya sampaikan, cctv di tempat kejadian rusak. Beberapa saksi mata yg saya lacak dan saya temui, rata-rata sudah berumur lanjut. Mereka hampir tidak ingat lagi ttg detil kecelakaan itu."
Kyoya menghela nafas panjang. Jalan buntu. Memang tidak ada informasi apapun mengenai gadis kecil yg selama ini Kyoya cari. Ia memberi instruksi pada Roger pun hanya berdasarkan ingatan buramnya.
Gadis kecil itu adalah gadis yg ada di lokasi kejadian kecelakaan maut. Kyoya menyebut gadis itu malaikat kecilnya.
Entah datang darimana, Kyoya hanya ingat ketika itu ia merasa sangat sakit dan berdarah-darah di seluruh tubuh.
Kyoya kecil hanya bisa menangis, ia ketakutan melihat mobil ayahnya yg ringsek, puing-puing bertebaran di sekelilingnya. Orangtuanya masih terjebak di dalam mobil. Setelah mobil sedan itu menabrak dan terguling sejauh 500 meter, Kyoya terlempar keluar dari mobil.
Tiba-tiba ada tangan kecil yg memeluknya erat, berbisik lembut, tidak apa-apa, jangan menangis, tidak apa-apa.
Kyoya kecil mengusap matanya dan mendapati seorang gadis kecil sedang tersenyum padanya.
Gadis kecil itu tidak terluka. Ia memakai dress putih bersih yg kini berbercak merah karena terkena darah Kyoya.
Gadis itu mulai mendendangkan lagu anak-anak 'row your boat' untuk membuat Kyoya tenang. Dan berhasil, anak laki-laki itu tidak menangis dan tidak ketakutan lagi.
"Anak pintar." Gadis kecil itu mengusap lembut kepala Kyoya. Kyoya tersenyum, gadis kecil itu juga balas tersenyum.
Hanya itu ingatan yg bisa ia ingat. Setelah itu semua kacau dan buram. Sepertinya beberapa orang datang, petugas kesehatan dan polisi. Seseorang mendekati Kyoya dan langsung menggendong membawanya menjauh.
Kyoya kecil menjerit-jerit, berusaha menggapai tangan gadis kecil itu. Tapi petugas lain juga mendekap gadis itu dan membawanya pergi.
Begitulah.. Sejak itu, Kyoya tidak pernah bertemu dengannya lagi. Kyoya tidak pernah tahu siapa gadis itu dan dimana ia berada sekarang. Kyoya tidak pernah punya kesempatan untuk mengucapkan terimakasih.
"Ada berita apa lagi Roger?" Kyoya menunduk, mengurut dahinya yg mendadak terasa nyeri.
Roger mengeluarkan ponsel, membaca rincian yg ia tulis sebagai pengingat.
"Ada kabar baik sir, saham Koijima Grup maupun MT Corporation naik hingga 26%. Demikian juga dengan saham Nakayama Diamond, naik sebesar 13%. Bisnis kerjasama antara kedua perusahaan juga berjalan lancar, ramai peminat dan naik secara signifikan."
Roger memandangi atasannya yg masih menunduk. "Semua ini dipastikan imbas dari pertunangan anda dengan nona Hana sir. Pertunangan itu disiarkan dan disaksikan hingga seluruh penjuru negeri. Image anda dan perusahaan mendapat nilai positif dari publik."
Inilah alasan yg tidak mau Kyoya syukuri, meski membuat keuntungan perusahaan naik hingga dua kali lipat. Dan semua saham itu. Kyoya sama sekali tidak bahagia.
"Laporan yg lain." sahut Kyoya.
Roger heran mengapa atasannya itu tampak tidak senang mendengar kenaikan saham dan semakin lancarnya bisnis perusahaan?
Roger memasukkan kembali ponselnya ke saku jas.
"Tuan Nakayama Takeru dan istrinya meminta waktu untuk acara makan malam bersama sir."
Kyoya bergumam. "Ternyata sudah waktunya pertemuan ini terjadi juga."
Laki-laki itu mendongak, menatap ajudannya. "Pesankan tempat di Grand Several, Sentera Hotel. Keluarga Nakayama biasa menikmati sushi terbaik di Jepang, jadi mari hidangkan dan perkenalkan masakan paling lezat negara ini."
Roger mengangguk, "Baik sir. Jadwal kosong anda besok malam. Atau anda ingin saya mengubahnya di hari lain?"
Kyoya tampak menimbang-nimbang, "Tidak apa-apa besok saja."
Laki-laki itu lalu berkata tegas, "Aku tidak ingin ada keluhan apapun, Roger. Pastikan yg terbaik untuk mereka."
"Siap sir." Roger patuh.
"Ada lagi?"
"Ng-"
Roger tampak ragu sekali lagi. "Maaf sir, saya sudah memberi peringatan tapi tetap saja ada beberapa pihak yg mengirim ucapan dan hadiah untuk anda. Beberapa dari dewan direksi dan para CEO mitra MT Corporation. Hadiah-hadiah itu sudah sampai di meja sekretaris."
Kyoya menghela nafas. "Kembalikan semua hadiah itu. Katakan aku tidak menerima hadiah berupa apapun. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya Roger, kau tahu aku tidak suka keramaian. Tidak ada pesta, tidak ada perayaan apapun."
Mata Roger berkilat sedih. Lalu kembali ke gesturnya yg biasa.
Roger hanya merasa sayang, putra pewaris MT Corporation, yg bisa membeli semuanya dengan mudah, di hari ulangtahunnya malah tidak ingin ada perayaan apapun.
Atasannya itu pernah bilang, anggap saja dia tidak pernah berulang tahun. Hari ulangtahun baginya sama saja seperti hari-hari biasa lainnya.
"Baik sir." Roger patuh.
Kyoya bersandar di sandaran kursi. "Jika sudah tidak ada lagi yg lain, kau boleh pergi."
"Maaf sir," Roger tampak bingung bagaimana cara menyampaikannya.
"Sudah kubilang katakan saja apa yg ingin kau katakan."
Roger tidak berani menatap mata atasannya. "Jadwal anda selesai pukul empat sore ini. Jika anda tidak keberatan, saya mohon ijin untuk selesai lebih awal sir. Saya ada janji dengan seseorang."
Kyoya tersenyum. "Wow, katakan, siapa gadis itu? Gadis yg bisa membuatmu meminta ijinku untuk pertama kalinya."
Roger tampak malu tapi berusaha untuk tetap kelihatan cool. "Anda juga mengenalnya sir."
Kyoya mengernyit, berusaha menebak siapa gadis itu. "Baiklah, pergilah. Toh jadwalku juga sudah selesai."
Kyoya menambahkan, "Atau jangan-jangan kau sengaja mengaturnya demikian agar bisa bertemu gadismu?"
Roger kaget bukan kepalang. "Sama sekali tidak sir. Saya tidak akan berani melakukan hal itu."
Kyoya tertawa, "Aku bercanda. Bersenang-senanglah. Sejak dulu aku selalu ingin kau punya kehidupan normal. Setidaknya sekarang aku lega."
Roger membungkukkan badan, "Terimakasih sir."
"Oh ya sir.. selamat ulang tahun."
Roger tersenyum. Senyum bersahabat yg membuat hati hangat. Setidaknya hanya ucapan ini yg bisa ditolerir atasannya.
Kyoya balas tersenyum, "Terimakasih banyak Roger."
Lalu ajudan itu pun pamit undur diri.
...***...