Between

Between
Bab 69 Kebenaran



Sepanjang jalan Lana hanya diam menunduk. Ethan menyetir dengan sesekali melirik gadis kesayangannya itu yg kini muram dan lesu.


"Kita jadi kemana? Makan? Nonton? Atau jalan-jalan ke sungai Yan?" tanya Ethan demi mencairkan kesunyian. Jemari Ethan menekan tombol di dashboard, musik pop mengalun pelan.


Lana menggeleng, tanpa menoleh ia menjawab, "Aku setuju saat kamu mengajakku bertemu bukan untuk berkencan dan bersenang-senang. Ada yg ingin aku katakan."


Ethan berpikir sejenak, "Kalau begitu kita ke kafe?" Tiba-tiba Ethan teringat, "Kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita ngobrol sambil makan?"


Lana menyahut pelan, "Aku tidak lapar."


Ethan melirik jam, oia lagipula masih terlalu sore untuk sebuah makan malam.


Ethan pun memutuskan berbelok ke kiri, ke jalan Maui Street, tempat dimana banyak cafe berjejeran di sepanjang jalan. Lana bisa memilih ingin ke kafe yg mana.


Ethan sengaja menyetir perlahan di sepanjang jalan Maui, membiarkan Lana melihat-lihat sekeliling untuk memilih ingin berhenti dimana. Lana menghela nafas, hari ini hari minggu, semua tempat yg ia lewati ramai dan berisik.


"Tidak ada kafe yg menarik ya? Kita ke tempat yg lain?" tanya Ethan demi melihat Lana hanya diam memunggunginya. Kepala gadis itu mengarah ke jendela.


"Aku ingin tempat yg sepi, tidak ada orang yg akan mengganggu." ucap Lana tanpa pikir panjang.


Tanpa sadar Ethan disebelahnya mengulum senyum, lalu memutar kemudi mobil dan melaju ke arah selatan.


"As you wish your majesty."


...***...


Lana mengerjap bingung ketika mobil putih itu berhenti di sebuah rumah berlantai dua bergaya minimalis. Bangunan itu bernuansa putih krem dengan sedikit tanaman rambat menghiasi balkon.


"Rumah siapa ini?" tanya Lana was-was. Memperhatikan mobil yg mulai bergerak masuk ketika gerbang hitam membuka secara otomatis.


"Selamat datang di rumahku. Disini sepi, kujamin tidak akan ada orang yg mengganggu." Ethan mengerling nakal. Senyumnya menggoda.


Lana langsung mengernyit. "Aku tidak mau turun. Cepat putar balik mobilnya."


Ethan tertawa, "Lalu kamu mau kita kemana by? Tempat yg sepi dan tidak ada orang yg mengganggu, di gunung? Di hutan?" Ethan mengerling nakal lagi, "Atau.. Di kamar hotel?"


"Ish apa sih!" Lana refleks memukul lengan Ethan kesal. "Sudah kubilang jangan panggil aku by."


Ethan masih tertawa kecil, "Kamu mau ngomong apa sih segitu seriusnya sampai cari tempat sepi segala. Jangan-jangan modus kamu ya. Sebenarnya.."


Lana mencabut tuas pengunci, langsung membuka pintu mobil dan melompat turun, padahal mobil masih bergerak pelan untuk parkir di depan teras rumah.


"Astaga by!" Ethan sontak mengerem. Dia melotot kaget melihat kenekatan Lana. Detik berikutnya nada suaranya berubah panik, "Kamu gak papa kan?" Kepalanya menyembul dari jendela untuk memastikan Lana baik-baik saja.


"Cepat turun, kita selesaikan ini dan segera antarkan aku pulang." Lana melipat tangan di dada, nada bicaranya kesal.


"Oke oke, aku parkir dulu." Ethan mengalah. "Ternyata kamu masih sama ya seperti Lana yg dulu. Serem banget sih kalau marah. " Ethan memarkirkan mobil di bawah kanopi transparan lalu turun dari mobil.


...***...


Ethan meletakkan dua botol teh dingin ke atas meja. Sambil menyapu puncak kepala karena gugup, ia berkata, "Maaf aku tidak tahu kamu akan datang, biasanya jarang ada tamu sih. Jadi aku tidak punya persediaan suguhan yg layak."


"Lama juga tidak apa-apa kok by." Ethan tersenyum menggoda. Lana hampir tersedak saat meneguk teh dingin menyegarkan itu. Lagi-lagi pria ini memanggilnya by. Lana memberikan tatapan siap membunuh, melanjutkan meneguk sampai isi botol itu tinggal setengah.


Ethan duduk santai di sofa di depan Lana. Mereka sedang duduk di ruang tamu. Meski Ethan ingin sekali duduk bersebelahan dengan Lana yg memilih sofa panjang, tapi Ethan tahu diri. Akan lebih tidak nyaman bagi Lana jika Ethan bersikap agresif walau hanya bercanda.


Ethan membiarkan Lana menyelesaikan minum dengan tenang sebelum bicara, "By.. Ah maksudku Lana.." Lana menutup botol lalu menaruhnya ke meja dengan melayangkan tatapan bengis ke Ethan.


Ethan menahan senyum. "Aku jadi kepikiran perkataan Cika tadi, apa maksudnya kamu sampai mempertaruhkan nyawa, hampir mati."


Mendadak Lana menjadi muram. Dia menunduk dan memainkan ujung kukunya.


Melihat Lana yg tak kunjung menjawab, Ethan bicara lagi, "Oia kamu mau bilang sesuatu kan, apa itu?"


Lana diam beberapa detik lalu tampak membulatkan tekad. Dengan mata yg sulit ditebak, gadis itu berkata, "Tolong pergilah dari hidupku. Jangan berpura-pura hubungan kita membaik, aku sama sekali tidak sudi melihatmu. Jika tadi kamu melihat seberapa marah nya Cika padamu, sejujurnya yg kurasakan lebih, lebih dari itu. Karena aku yg mengalami semua kekacauan itu lima tahun lalu, gara-gara kamu. Jadi mari kita selesaikan semua ini secara baik-baik dan jangan menggangguku lagi."


Ethan terdiam. Kata-kata Lana barusan sungguh menyakitkan. Ternyata Lana masih menyimpan dendam dan amarah itu. Ethan mencoba mengingat-ingat masa lima tahun lalu, momen apa yg disebut kekacauan oleh Lana, apa yg membuat gadis itu sampai mempertaruhkan nyawa. Sampai semarah ini.


Samar-samar Ethan hanya ingat kalau memang dia lumayan brengsek, meninggalkan Lana tanpa kabar. Menghilang begitu saja, lalu muncul tiba-tiba bertahun-tahun kemudian di rapat meeting PT. NaThan dan MT Corporation.


Mata Ethan menatap Lana menelisik. Walau tampak muram dan menyimpan murka, gadis itu terlihat baik-baik saja. Kejadian apa yg terjadi lima tahun lalu ya..


"Lana.. Entah kamu ingin mendengar penjelasanku atau tidak, lima tahun lalu aku juga mengalami hal yg berat." Ethan berkata pelan. Nada bicaranya seperti mencari pembelaan.


Lalu setelah Lana tidak menanggapi, Ethan melanjutkan bicara, "Saat kita bertemu di universitas, orangtuaku sudah tidak akur. Ketika semester 7 mereka malah semakin sering bertengkar. Lalu tiba-tiba saja mereka memutuskan bercerai dan ayahku pergi dari rumah."


Lana mengangkat kepala, matanya bertemu tatapan sendu laki-laki didepannya. Lana tidak pernah tahu orang tua Ethan bercerai. Dan apa alasan laki-laki itu tiba-tiba menghilang. Saking marah dan merasa menjadi korban yg paling terdzolimi membuat Lana mengabaikan bisa saja Ethan saat itu juga mengalami hal yg berat.


"Lana, sungguh aku tidak ada niatan buruk meninggalkanmu saat itu. Bukan mauku menghilang tanpa kabar. Semuanya kacau dan berantakan, aku sendiri kehilangan keluarga, dan .. hampir putus kuliah."


Ethan membungkuk, kedua tangannya bertaut bertopang di atas lutut. Lana tidak bisa melihat ekspresi wajah pria itu tapi nada suaranya terdengar sedih


"Aku tidak bisa menceritakan situasi keluargaku padamu meski kita pacaran, karena aku takut itu akan membuat persepsimu padaku berubah. Saat itu kita adalah duo maut kebanggaan fakultas. Mahasiswa berprestasi, sempurna. Padahal aku sama sekali tidak sempurna, keluargaku rusak."


"Ayahku yg selama ini kuhormati karena bermartabat ternyata punya wanita simpanan. Ibu ku mengetahuinya dan itu lah pemicu pertengkaran setiap harinya. Hingga akhirnya ayahku lebih memilih selingkuhannya itu dan menelantarkan ibu juga adik-adikku." Buku jari Ethan tanpa sadar mengepal erat.


"Lalu tiba-tiba ibu membawa adik-adikku pergi dari rumah. Bilang kalau rumah itu sudah dijual, mereka akan pindah ke LA ke rumah saudara untuk sementara."


Kepala Ethan terangkat, matanya tampak menerawang, mengingat setiap detilnya.


"Padahal tinggal dua semester lagi aku bisa lulus dari Fortec University, kampus idaman yg dengan susah payah berhasil aku masuki, tapi ibu mengancamku. Aku ikut ke LA atau tetap di negara ini dengan namaku dicoret dari kartu keluarga. Karena ibu sudah muak dengan semuanya, kota itu, negara ini mengingatkan semuanya pada sakit hati dan kekecewaan nya pada ayahku."


"Aku tak punya pilihan lain Lana, akhirnya aku terpaksa ikut pindah. Beberapa bulan setelah itu ibu mengenalkan seorang pria asing yg kemudian menjadi ayah baruku. Kami semua mengganti nama belakang sehingga namaku menjadi seperti sekarang. Ethan Arkam."


"Aku tidak bisa berkutik sama sekali di sana karena ibuku mengancam sekaligus mencuci otakku dengan pikiran bahwa berkat ayah baruku lah hidup kami sekeluarga terasa lebih baik. Ya, tidak bisa dipungkiri."


"Ayahku adalah seorang pekerja keras, pengusaha mebel yg cukup dikenal disana. Berkat bantuan ayahku aku bisa lulus kuliah di Universitas of Rotherburn, lalu mendirikan perusahaanku sendiri, PT. NaThan. Karena itulah aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain, sebagai rasa terimakasih ku padanya. Tujuanku adalah mengembangkan dan memajukan perusahaan ini. Membuat ayahku bangga."


"Itulah alasan aku menghilang Lana. Aku benar-benar minta maaf."


...***...