Between

Between
Bab 28 Janji Temu



Hari ini hari Jum'at.


Lana menutup laptop sambil menghela nafas panjang. Akhirnya selesai juga merevisi berkas Jembatan Hyungsik.


Beberapa menit lagi pukul empat sore, waktunya pulang kerja. Lana semakin bersemangat dan tidak sabar. Lana akan segera bertemu dengan kekasihnya.


"Lana, persiapkan berkas untuk meeting dengan PT. NaThan besok pagi. Kamu dan aku yg berangkat." Yuni tiba-tiba muncul di hadapan Lana membuyarkan lamunan indahnya.


Lana tersenyum. "Sudah saya persiapkan Bu. Ini dia." Lana mengangkat map hijau yg cukup tebal dari laci mejanya.


Yuni mengacungkan jempol, ikut tersenyum. "Bagus. Kamu memang yg terbaik."


Sudah dua bulan Yuni menjabat sebagai Kepala Ruangan PPIC, menggantikan Pak Marcel yg dipindahtugaskan ke cabang PowerM di kota Asakusa setelah kasus Theo dan jembatan Junin. Lana masih belum terbiasa memanggilnya Bu Yuni, meski Yuni sendiri bilang panggil saja seperti biasanya.


Lana sekarang menjabat sebagai sekretaris PPIC, menggantikan Yuni. Otomatis di mejanya kini bertengger seperangkat telepon yg tidak pernah lelah berdering setiap satu jam sekali.


"Mau ikut makan malam denganku? Setelah ini ada makan-makan kecil-kecilan dengan semua kepala ruangan." Yuni terlihat memelas. Tatapannya seperti memohon agar Lana menjawab iya.


Lana tahu akan jadi seperti apa acara itu, pasti akan sangat membosankan. Lana mengerti kenapa Yuni mengajak dirinya, agar ada teman ngobrol. Tapi hari ini benar-benar tidak bisa.


Lana sudah menunggu-nunggu datangnya hari ini sejak minggu lalu. Karena hari ini adalah hari dimana dia akhirnya bisa bertemu dengan kekasihnya, setelah dua minggu LDR alias Long Distance Relationship.


Padahal toh Lana dan kekasihnya berada di satu perusahaan.


Ya, Koijima Kyoya, sang CEO MT Corporation sudah berjanji hari jumat ini akan meluangkan waktu agar bisa bertemu dengan Lana. Rencananya mereka akan kencan singkat saja, berhubung besok hari Sabtu Lana dan Kyoya masih masuk kerja.


Setelah kejadian pemakaman ibunda Lana, Kyoya meminta Lana merahasiakan hubungan mereka dari siapapun. Termasuk Cika. Lana tidak punya pilihan lain. Terpaksa, ia hanya bisa mematuhinya. Karena ia tahu, bukan hanya dirinya, resiko terbongkarnya hubungan ini bisa berakibat sangat buruk, terutama bagi reputasi Kyoya.


Sudah hampir enam bulan hubungan rahasia ini berjalan. Jujur saja terasa sangat sulit, Lana hampir bisa dibilang jarang bertemu dengan Kyoya. Lana juga baru tahu, selain Kyoya gila kerja, jadwal meeting dan pekerjaan yg harus di handle oleh kekasihnya itu di luar nalar, amat sangat padat. Mencari waktu luang agar mereka bisa bertemu sesusah mencari jarum di tumpukan jerami.


Lana tidak menyesal. Sekuat tenaga dia berusaha bertahan. Lana merasa akan lebih menyesalinya jika dia memilih menyerah.


Meski Kyoya luar biasa sibuk, tapi lelaki itu selalu menyempatkan waktu mengirim pesan singkat, menelepon atau sekedar video call jika Lana di rumah. Percakapan singkat, mendengar suara atau melihat wajahnya sebentar sudah membuat Lana bahagia.


Walau hati kecilnya sudah tidak mampu lagi menahan gejolak rasa rindu yg semakin menumpuk.


Tapi beberapa menit lagi Lana akan bertemu dengan Kyoya. Tahan ya hatiku, sebentar lagi kita luapkan perasaan rindu ini.


"Gimana Lana, ikut ya?" Yuni bertanya lagi.


Lana segera memasang wajah sedih dan memelas. Tangannya mengatup rapat ke depan wajah. "Maaf beribu maaf ibunda ratu Yuni, my Majesty." Lana melanjutkan, "Saya sudah ada janji temu dengan orang lain."


Yuni cemberut. "Siapa? Cowok ya?" kuliknya penasaran.


Lana hanya tertawa kecil. "Siapa yaa.." godanya.


Yuni berkata ya sudahlah, lalu beranjak pergi. Lana mengucapkan maaf dengan pandangan matanya. Lalu kembali beres-beres meja.


Ponselnya bergetar. Lana meraihnya dan melihat sebuah pesan singkat. Ternyata Kyoya baru membalas pesan yg Lana kirim dua jam lalu.


Mau makan apa hari ini? (Kyoya)


Apa yg kamu suka? (Kyoya)


Aku suka semua hehe *emoticon ketawa (Lana)


*emoticon ketawa Daging atau pasta? (Kyoya)


*emoticon berpikir Daging boleh juga, berkuah bagaimana? Hotpot? (Lana)


Dan tidak ada balasan lagi selama dua jam. Lana membuka pesan dan begini jawaban Kyoya.


Kenapa memilih hotpot? (Kyoya)


Lana mendesis gemas. Rasanya gregetan berkomunikasi dengan pesan seperti ini. Lana ingin sekali menekan tombol telepon tapi berulang kali dia selalu menahan diri. Lana tidak pernah menelepon ataupun memulai melakukan video call tanpa meminta ijin Kyoya terlebih dahulu. Karena lelaki itu sangat sibuk, Lana tidak tahu saat ini Kyoya sedang melakukan meeting penting dengan siapa atau sedang janji temu dengan klien penting entah dimana, Lana tidak mau mengganggu.


Bel tanda waktu kerja telah selesai berbunyi. Lana yg hendak mengetik balasan mengurungkan tindakannya. Lana mengemasi barang-barang pribadinya ke dalam tas katun, memastikan semua yg ada di atas meja sudah rapi lalu berjalan keluar dari mejanya sambil menyambar ponselnya yg hampir ketinggalan.


Bersama rekan-rekan kerjanya yg lain, diiringi ucapan selamat jalan, hati-hati di jalan dan ucapan perpisahan lainnya, Lana berjalan ke pintu keluar.


Ponselnya berbunyi ketika Lana sampai di depan lift yg ramai. Padahal ada empat lift berderet tapi kesemuanya sudah penuh dengan karyawan yg mengantri untuk pulang ke rumah. Lana berdiri mengantri di belakang wanita bersanggul rapi sambil menekan tombol answer.


Suara Kyoya terdengar merdu dan jelas di tengah dengungan orang-orang yg mengobrol.


"Kenapa tidak membalas pesan? Apa kamu masih sibuk?"


"Maaf. Aku sedang di depan lift, sangat ingin bertemu denganmu sampai lupa membalas pesan." jawab Lana tersipu.


Lana bisa merasakan Kyoya sedang tersenyum di seberang sana. "Aku juga sama. Kenapa memilih hotpot? Kenapa tidak memilih pasta?"


"Karena cuaca agak dingin akhir-akhir ini, sepertinya enak kalau kita makan hotpot." Lana maju selangkah. Pintu lift di depannya terbuka dan orang-orang masuk dengan teratur. Tapi sudah tidak ada cukup ruang lagi, pintu lift pun menutup.


"Mencampur daging yg matang dan mentah dalam satu panci, juga bahan mentah lainnya yg belum tentu higienis, bisakah kita memilih menu yg lain?" pinta Kyoya sopan.


Ok Lana, Kyoya tidak suka hotpot, batinnya. Ternyata hotpot tidak masuk dalam standart kelayakan makanan yg bisa dimakan oleh lelaki perfeksionis itu. Selamat tinggal hotpot, batin Lana sedih.


"Steak?" tanya Lana penuh harap. Jika hotpot gagal, maka harus steak. Lana ingin sekali makan daging hari ini.


"Akan sedikit merepotkan jika kita memilih steak. Restoran steak yg recomended agak jauh dari sungai Yan. Bukankah setelah makan kita akan melihat kembang api?"


Ok gagal lagi. Steak ternyata juga gagal. Lana menggigit bibirnya gemas.


Ting. Pintu lift terbuka. Mereka yg tersisa segera masuk ke dalam lift. Tapi ternyata lift sudah penuh. Jika Lana ikut masuk ke dalam, lift akan melebihi kapasitas. Akhirnya Lana terpaksa berdiri menunggu lagi, sendirian.


"Bagaimana kalau Brasato Al Barolo? Restoran yg enak cukup dekat dari sini." tanya Kyoya.


"Brasat- apa?" Lana bingung.


"Itu nama makanan?"


...***...