Between

Between
Bab 58 Truth or Dare



"Aku menang! Hahaha.."


Cika tertawa keras, tampak sangat menikmati permainan ini. "Ayo, minum lagi. Cepat habiskan!" tunjuknya ke botol bir yg dipegang Roger.


Roger tersenyum datar, "Aku ingatkan lagi, yg minum adalah si pemenang. Yg kalah harus memilih truth or dare."


Cika mengerjap, mencoba mengingat-ingat. Lalu mengangguk penuh semangat. Dia merebut botol ditangan Roger lalu dengan senang hati meneguk isi botol itu hingga tandas.


"Aahh.." Cika mengusap mulutnya dengan tak sabar, lalu melempar botol kosong itu sembarangan. Botol itu menggelinding jatuh di karpet di bawah tempat tidur, bergabung dengan empat botol kosong lainnya yg sudah berada di sana terlebih dulu.


"Okey, kau pilih apa?" tanya Cika antusias.


"Truth." jawab Roger singkat.


"Aah tidak seru, dari tadi aku menang dan kau selalu pilih truth tapi tidak ada satupun jawaban yg benar." protes Cika.


"Aku tanya siapa namamu, kau bilang besok aku akan mengetahuinya. Lalu aku tanya kau ini siapa, kau juga menjawab besok aku akan mengetahuinya. Terakhir aku tanya apa maksudmu menolongku tapi tidak pergi malah ikut masuk ke kamar tapi tidak melakukan apa-apa. Kamu jawab, ingin menghabiskan malam denganku karena bosan?"


Cika merengut. Permainan ini jadi terasa membosankan. Kepalanya sedikit pusing.


Roger menatap gadis berambut pendek itu dengan tatapan yg sulit ditebak. Diluar dugaan, gadis kurus ini kuat minum juga. Dia sudah menghabiskan lima botol bir dan masih sanggup mengoceh. Gadis yg menyeramkan.


"Aku sudah memilih truth dan kau belum mengajukan pertanyaannya. Aku sedang menunggu. Satu.."


Roger berkata dengan santai tapi tegas. Cika mengernyit. ".. dua.. tiga.. jangan sampai aku menghitung sampai lima."


"Apa kau sudah punya pacar?!" Cika memekik tanpa pikir panjang.


Sudut bibir lelaki itu terangkat. Cika jadi salah tingkah.


"Aku tidak suka orang lain bertanya karena ingin tahu mengenai kehidupan pribadiku." Roger menjawab, disambut bibir cemberut Cika.


"Kalau begitu, apa kau kenal Kyoya? Kalian tadi terlihat akrab. Apa Kyoya punya pacar baru?" selidik Cika.


Wajah Roger mendadak menggelap. Ekspresi nya serius dan menyeramkan. "Aku LEBIH tidak suka orang lain bertanya karena ingin tahu mengenai kehidupan pribadi Tuan Koijima Kyoya."


Cika mengkeret ketakutan. "M-maaf.."


Mata Roger kembali bersinar jernih. Ekspresi nya pun kembali rileks.


"Satu permainan lagi. Terakhir." ujarnya.


Cika bersiap-siap. Dia mengulurkan tangan yg tergenggam.


Saat ini mereka berdua sedang duduk berhadapan di atas tempat tidur. Roger duduk bersila, Cika duduk dengan satu lutut ditekuk seperti sedang nongkrong di warung kopi.


"Gunting batu kertas." nyanyi Cika.


Gerakan tangan keduanya terhenti bersamaan. Sama-sama dua jari.


"Gunting batu kertas."


Tangan Roger menggenggam, tangan Cika menandakan kertas. Cika menang lagi.


"Astaga, aku tidak menyangka ternyata kau ini payah sekali." Cika terkekeh bangga. "Kenapa kau mengusulkan permainan ini, kalau kau sendiri payah dan selalu kalah?"


Roger hanya tersenyum datar. Cika tidak perlu tahu semua ini sudah dia rencanakan. Permainan ini, semua kekalahannya, aturan pemenang harus minum.


Hanya satu yg di luar dugaan, Cika adalah peminum yg handal. Roger cukup bosan sebenarnya, dia menunggu kapan gadis ini akan pingsan atau setidaknya mabuk berat lalu tak sadarkan diri. Roger jadi bisa pergi dari kamar ini, lalu menghabiskan malam dengan gadis yg sesuai seleranya.


Instruksi atasannya jelas. Saat ini entah apa yg sedang dilakukan atasannya dengan gadis PPIC itu. Yg harus Roger pastikan terjadi adalah Cika, gadis berisik ini tidak mengganggu malam panjang atasannya.


Semua itu bisa selesai dengan mudah kalau Cika mabuk berat dan pingsan. Karena jika Cika masih sadar seperti ini, gadis itu akan teringat Lana lalu membuat keributan mencari Lana kesana kemari.


Sayangnya tidak bisa selesai dengan mudah.


"Karena ini permainan terakhir, pemenang minum dua botol sekaligus." Roger mengangkat dua botol yg belum dibuka.


Mulut Cika mengerucut lagi. "Kalau begitu kau harus memilih dare." tantang Cika.


Roger tampak menimbang.


"Ok, aku pilih dare." Roger membukakan dua botol itu lalu memberikannya ke tangan Cika.


Cika meneguk satu botol hingga tandas, ber-ahh ria lalu mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Cika melempar botol itu hingga jatuh ke bawah kasur.


"Aku akan berikan tantangan yg seru, khehehe.." Cika cekikikan, agak sedikit limbung. Matanya mulai tidak fokus.


Roger tersenyum, kali ini senyum yg tulus. Karena melihat tanda-tanda Cika mulai mabuk berat. Dan dia akhirnya bisa bebas.


Cika yg melihat senyuman menawan itu, terpana. Wajah pria bule itu tampan sekali. Geliginya yg putih terlihat, hidung mancung, bibirnya yg sensual.. Cika susah payah menelan ludah.


Untuk mengalihkan pikiran kotor yg terlintas, Cika menenggak botol kedua. Tinggal separuh, Cika berhenti minum.


"Tantangan nya.." Cika menyorongkan botol itu di depan Roger yg menatap tajam.


Sambil menahan kepala yg pusing dan semua mulai terlihat berputar, Cika berkata, "Berikan sisa bir di botol ini dengan mulutmu."


Roger membelalak, lalu segera bisa mengendalikan diri.


Sudut bibir Roger terangkat. "Jangan menyesalinya."


Tangan Cika terasa dingin. Ia bisa merasakan kehangatan menjalar dari jemari Roger saat tangan mereka bersentuhan.


Roger mengambil botol itu, mendongakkan kepala, menaruh ujung botol ke bibirnya lalu menenggak bir itu sampai habis tapi tidak menelannya.


Cika menatap pemandangan indah itu dengan jantung berdebar kencang. Kehangatan jemari Roger menyalurkan rasa panas membakar ke seluruh tubuhnya.


Tanpa diduga, tiba-tiba Roger membuang botol itu ke belakang lalu bergerak mendekati Cika.


Cika sangat tegang.


Roger memegang sisi kepala Cika dan tangan yg lain menyentuh tengkuk gadis itu. Tatapan mereka bertemu.


Roger menatap sepasang manik mata yg berkabut, lalu turun menatap bibir sensual yg terlihat gugup. Sangat menggemaskan.


Tak menunggu lama, Roger menunduk dan menyentuh bibir Cika dengan bibirnya. Terasa hangat.


Roger dengan dominan membuka bibir Cika agar terbuka, lalu mengeluarkan semua bir sambil mengulum bibir dan lidah gadis itu yg terasa manis.


Cika mendesah. Sebagian bir tertelan olehnya, sebagian mengalir keluar dari mulutnya. Menetes netes membasahi leher dan dress hitam yg dipakainya.


Setelah bir itu lenyap, mereka saling berciuman dengan intens dan panas. Mata keduanya terpejam.


Cika mendesah lagi saat Roger menggigit bibirnya lalu lidah pria itu semakin dalam menelusup. Tidak seperti penampilannya yg liar dan menyeramkan, ciuman Roger terasa lembut dan nikmat.


Cika refleks melingkarkan tangan ke leher Roger, tubuh mereka saling menempel. Rasanya sangat nikmat, panas membakar hingga ke ubun-ubun.


Tiba-tiba lelaki itu melepaskan diri. Cika mencari-cari bingung. Lalu membuka mata.


Roger menatapnya, "Bukankah kau bilang sudah punya pacar?"


Cika mengerjap. Matanya terasa berat, pandangannya semakin berputar.


"Ya, Marco." Suara Cika serak. Dia balas menatap Roger. "Tapi ciumannya tidak sehebat dirimu."


Roger mendengus geli. "Kapan kau akan pingsan nona? Aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Melihatmu sekarang, aku rasa tidak bisa bertahan lebih lama lagi."


Cika mengernyit, bingung menangkap maksud kalimat Roger. Dunia menjadi dipenuhi bintik-bintik hitam. Cika mendadak merasa lemas dan berat.


"Apa.. maksud.." Cika merosot hendak jatuh ke kasur, Roger dengan sigap menangkapnya.


".. mu." Cika terpejam dan akhirnya pingsan.


Roger menatap gadis di dekapannya itu, menghela nafas panjang.


"Yg harusnya menyesali tantangan ini adalah aku." gumam Roger. "Aku jadi sangat penasaran bagaimana kelanjutan tantangan ini,"


Roger mendekatkan bibirnya di telinga Cika yg tak sadarkan diri.


"bagaimana rasanya dirimu." bisiknya lembut.


...***...