Between

Between
Bab 55 Mabuk



Meski terasa aneh dan agak tidak wajar, Lana memendam semuanya dalam hati saja. Liburan ini berjalan lumayan menyenangkan. Terlepas dari kejadian tadi pagi Kyoya dan pacar barunya, Lana mulai bisa menikmati keindahan dan kemeriahan kota TanBay.


Makan malam kejutan diantar ke kamar, Lana dan Cika menatap tak percaya steak mewah dan wine yg pastinya berharga mahal, meski pelayan mengatakan itu adalah salah satu servis tamu yg memesan Suite Room.


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk makan dan langsung merem melek karena sangat enak dan nikmat.


Setelah kenyang, Cika mengajak Lana ke bar Jacobus Pub yg tidak jauh dari hotel. Saat dikamar, Cika sudah mencari di internet bar yg aman untuk mereka datangi, dan gadis itu menemukan tempat yg bagus.


Lana memakai celana jins panjang, atasan longgar warna kuning terang corak Snoopy. Cika hampir tidak mau berangkat mengetahui Lana memakai baju itu. Cika berkata, jaman sekarang siapa yg ke bar memakai baju Snoopy, itu baju untuk anak-anak. Tapi Lana memasang wajah memelas. Lana akan sedih dan pastinya menyesal jika saat liburan tidak memakai baju favoritnya.


Cika terpaksa mengalah dan akhirnya mereka berangkat juga. Lana tersenyum senang sepanjang jalan, Cika menahan sabar se sabar-sabarnya.


Cika sendiri memakai dress berkain tipis warna hitam selutut tanpa lengan. Mereka berdua memakai sepatu kets.


Saat itu pukul 8 malam. Jalanan masih terang benderang oleh lampu berbentuk bulat berderet sepanjang jalan. Orang-orang masih banyak yg berlalu lalang. Menikmati malam yg cerah dan hangat.


Lana dan Cika berjalan santai sambil mengobrol. Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di depan gedung dua lantai berwarna hitam dengan lampu warna warni bersinar menyilaukan dan suara berisik terdengar dari dalam.


Lana dan Cika melewati penjaga setelah menunjukkan kartu pengenal. Musik RnB berdentum memekakkan telinga begitu Lana melangkah masuk ke dalam ruangan. Aroma bir dan rokok tercium dimana-mana.


Cika memilih duduk di meja kosong di sudut, agak jauh dari dance floor sehingga tidak terlalu berisik.


Cika menawari Lana mau pesan apa. Lana bilang terserah. Akhirnya Cika memesan paket no 4 untuk dua orang.


Setelah pelayan pergi, Cika mulai berjoged di kursi, menikmati musik. Lana hanya melihat sahabatnya itu sambil berusaha menahan senyum.


Cika memang cukup sering ke tempat seperti ini. Sementara Lana mungkin bisa dihitung, jika bukan diajak oleh rekan kantor, ada acara kantor atau diajak Cika yg Lana lebih sering menolak, Lana memilih di rumah saja daripada ke tempat berisik seperti ini.


Tapi malam ini berbeda, Lana sedang ingin ke bar, untuk minum. Dia ingin mabuk, dia ingin melupakan semuanya. Berharap dengan mabuk, keesokan harinya Lana akan merasa lebih baik.


Pesanan mereka datang. Dua botol hijau dan dua botol coklat besar, sepiring gorengan berisi bermacam-macam cemilan kriuk berlapis tepung dan sepiring tumisan seafood pedas mix kaki ayam tanpa tulang. Ah kombinasi yg sempurna.


Cika langsung beraksi. Dia membuat campuran minuman antara botol hijau dan botol coklat. Lalu memberikan gelas besar yg sudah terisi setengah untuk Lana.


"Untuk Lana yg hebat, sang wonder woman, penakluk para pria." Cika mengangkat gelasnya sendiri ke atas. "Aku berharap kamu bahagia selamanya Lana."


"Thanks." Lana ikut mengangkat gelasnya, "untuk Lana sang wonder woman. Dan Cika sang penyelamat."


"Cheers!" ujar mereka berdua.


Tring, gelas itu beradu. Lana menenggak minuman itu dengan lahap.


"Aahh.. " sahut mereka bersamaan sambil mengusap mulut. Keduanya saling pandang, lalu tertawa bersama.


"Ayo ayo lagi, jangan sungkan-sungkan. Malam masih panjang Lana, mari nikmati kebebasan ini. Sebelum kita kembali jadi buruh yg bekerja keras bagai kuda."


Cika menuang lagi minuman beralkohol ke dalam gelas Lana, lalu ke gelasnya. Mereka meminumnya lagi hingga tandas, ber-aahh ria dan mengelap mulut. Tertawa, mengobrol, minum lagi, tertawa, mengobrol, minum lagi. Begitulah seterusnya.


Pukul 11 malam. Bar masih ramai, malah semakin ramai. Cika meneguk langsung dari botol, lalu heran kenapa tidak ada minuman yg keluar. Dia mengintip ke lubang botol dan mengumpat kesal. Botol itu kosong.


"Aku akan pesan lagi." Cika berkata seperti nada orang mabuk. Dengan lunglai dia hendak bangkit tapi Lana mengulurkan tangan menahannya.


"Sudah cukup Cika. Kita sudah memesan tiga paket. Itu berarti.. " Lana sibuk menghitung dengan jarinya. Nada suara Lana juga lambat dan sengau seperti orang mabuk. Pandangannya agak tidak fokus. "empat kali tiga.. ng, mm.. dua belas?"


Cika tertawa. "Bodoh, bukan. Empat kali tiga itu lima belas. Masa begitu saja kau tidak tahu hehehe.. Lana bodoh." Cika bersandar di kursi, mengambil kentang goreng terakhir dan mengunyahnya keras-keras.


Lana mendengus sebal. "Kau pasti mabuk Cika." Lana menyandarkan kepala di meja dengan dialasi lengan.


Cika cegukan. "Enak saja, aku masih kuat minum lima botol lagi kalau kau tidak menahanku. Kau yg mabuk."


Cika berdiri dengan gedubrakan. Dia menarik tangan Lana.


"Jangan tidur disini Lana. Aku tidak kuat menggendongmu. Kutinggal nih."


Lana hanya melenguh. Dia sudah sangat ingin memejamkan mata. Cika mencubit lengan Lana, membuat gadis itu mengaduh dan dengan terpaksa bangkit dari kursi.


Untunglah sebelum mabuk berat mereka sudah membayar semuanya. Kini Lana dengan susah payah berpegangan pada Cika agar tidak ambruk.


"Tahan sebentar Lana, hotel kita cukup jauh." Cika mengumpat saat kakinya terantuk kusen pintu ketika keluar. Mereka melewati penjaga yg mengawasi keduanya dengan tatapan penuh arti. Dua gadis seksi dan cantik sedang mabuk, mangsa yg empuk bagi pria brengsek di luar sana.


Dan benar saja, belum sampai tiga langkah kedua gadis itu berjalan, seorang pria tua mendekat.


Cika berdecak tak sabar. Dia sudah kesusahan menahan tubuh Lana yg lunglai, ditambah datang pria tua bau menyebalkan.


"Maaf kami juga pilih-pilih ya kalau mau diantar." gumam Cika, berusaha menyeret Lana menjauh.


Tapi Lana malah menatap pria itu dengan sorot mata sedih. "Kyoya?"


Cika menepuk jidat. "Kyoya gundulmu. Kurasa kamu benar-benar mabuk Lana. Dia bukan Kyoyamu. Ayo cepat jalan."


"Ayolah manis, kalian menginap dimana?" Pria itu tak mau menyerah. Dia malah memegang lengan Lana, mencoba menahan gadis itu agar tidak pergi.


"Heh brengsek, lepaskan!" pekik Cika.


"Kyoya.. " Lana menatap pria itu bingung.


"Astaga Lana, kamu benar-benar merepotkan."


Cika hendak minta tolong pada penjaga ketika sebuah bayangan besar berdiri menjulang di belakang pria mabuk itu.


"Perlu bantuan nona?" Suara pria terdengar sopan dan ramah.


Cika mendongak dan melihat seorang pria jangkung berambut pirang berwajah bule berdiri dibelakang pria mabuk itu. Pria bule itu memakai setelan hitam.


Tangan pria bule itu mencengkram jemari pria mabuk itu, membuatnya menjerit kesakitan. Pria mabuk itu menjauhkan tangannya dari lengan Lana. Memohon ampun.


"Cepat pergi, sebelum aku meremukkan tangan yg lain." desis pria bule itu dengan suara menyeramkan. Pria mabuk itu terseok-seok pergi menjauh.


"Terimakasih." Cika menatap terkesima. Pria itu tersenyum.


Lana juga menatap pria itu lalu memeluknya tiba-tiba. "Kyoya.. "


Pria itu langsung berjengit. Berusaha menjauhkan Lana sejauh mungkin.


"Maaf nona, anda salah orang."


Cika memegang Lana kembali, tertawa gugup. "Maaf temanku sedang mabuk berat, dia bahkan memanggil semua pria Kyoya."


Cika hendak pergi dengan menahan Lana di bahunya ketika pria itu menahan lengan Cika. Cika menoleh. Matanya mengerjap, sepertinya dia pernah bertemu dengan pria bule ini. Tapi dimana ya, Cika sama sekali tidak bisa mengingat nya.


"Maafkan saya nona kalau saya tidak sopan." Pria itu memisahkan Cika dan Lana lalu merangkul Cika tiba-tiba.


"Eh eh apa yg kau lakukan? Lepaskan aku!" Cika tidak bisa berkutik dengan tenaga pria ini.


"Terimakasih Roger." Seorang pria lain datang, memakai setelan jas hitam rapi. Pria itu berdiri di sebelah Lana yg linglung.


"Kyoya?" Cika membelalak.


Koijima Kyoya meletakkan telunjuk di bibirnya. Lalu tersenyum sambil merangkul Lana.


"Aku serahkan dia padamu. Tolong perlakukan sahabat Lana dengan baik." Kyoya bicara pada Roger.


"Sesuai instruksi sir. Anda bisa menggunakan mobil. Nona Cika akan saya tangani dengan mudah." Roger membawa Cika menjauh.


Cika mulai berontak. "Lepaskan aku, kau mau membawaku kemana? Lana! Lana! Jangan biarkan Lana bersama si brengsek itu. Lepaskan! Akan ku kuliti si brengsek itu. Awas kau ya, sampai kau buat Lana menangis lagi, ku kutuk kau jadi batu. Dasar brengs-ummphh.. mmphh."


Roger membekap mulut Cika dan mengangkatnya seperti membawa karung beras.


Kyoya menatap mereka yg semakin menjauh.


"Lana apa kau sadar kalau sahabatmu itu menyeramkan." gumam Kyoya.


Pluk. Kyoya terkejut, lalu dengan sigap menangkap tubuh Lana yg oleng menabrak dadanya.


"Lana?" Kyoya tercekat, cemas, tapi langsung bernafas lega begitu mengetahui gadis itu ternyata sedang tidur.


Kyoya mengangkat tubuh Lana, menggendongnya menuju mobil hitam yg terparkir tak jauh dari sana.


...***...