Between

Between
Bab 31 Wanita Penggoda



Lana mencuci tangan sambil menatap bayangannya yg muram di cermin.


Saat itu toilet sepi.


Lana merasa kekanak-kanakan setelah apa yg dilakukannya barusan.


Kyoya benar, sekarang perut Lana terasa tidak nyaman. Untunglah dia hanya meminum soda itu setengah gelas saja.


Merasa konyol dan bersalah, Lana bertekad hendak minta maaf pada kekasihnya.


Ia sedang menata rambutnya ketika pintu toilet terbuka.


Dua wanita berpakaian seksi masuk sambil cekikikan.


"Kau lihat pria berkemeja putih yg duduk sendirian di sana tadi kan?"


Wanita pertama memakai rok mini yg memperlihatkan paha putih nan montok, tertawa genit pada temannya.


"Gila, ganteng pake banget!"


Wanita kedua memakai dress ketat yg mengumbar belahan dada terlalu terbuka.


Ia terkikik, menyetujui dengan bersemangat.


"Bikin gemas pengen kumakan. Setelah ini yuk kenalan, minta nomornya."


Mereka berdua berdiri di sebelah Lana, sibuk memoles bedak dan lipstik merah merona.


Lana hanya diam menguping pembicaraan kedua wanita itu yg masih mengagumi sosok laki-laki entah siapa itu.


Bersamaan, kedua wanita itu juga sudah selesai men-touch up makeup, mereka berjalan keluar melewati pintu toilet.


Mengetahui Lana yg berjalan dibelakangnya, si wanita paha melirik sinis sembari tersenyum merendahkan.


"Kampungan." desisnya sok gaya.


Kawannya mengangguk setuju, balas berbisik, "Kok bisa dia di sini? Ini kan restoran mewah."


"Lagi ngelamar kerja, kali." jawab si wanita paha menjawab asal. Lalu keduanya terkikik.


Lana mendengar semua cemoohan itu tapi dia tak peduli. Wanita seperti mereka sangat tidak pantas mendapat attention nya. Buang-buang waktu saja mendengarkan omong kosong itu.


Ups,


wanita paha itu tidak sengaja menjatuhkan tas jinjing dengan rantai panjang ketika akan mengambil ponsel.


Tas putih itu jatuh tepat di kaki Lana.


Dengan wajah enggan dan kentara sekali merendahkan, wanita paha itu menunduk untuk mengambil tasnya.


Lana berdiri diam, membiarkan wanita itu memungut tasnya.


"Saint Laurent edisi terbatas seri black Buckingham. Luxury leather, 7 senti."


Wanita itu tiba-tiba bicara sendiri.


Masih menunduk di kaki Lana, wanita itu mengelus sepatu fantovel Lana dengan penuh sayang dan hati-hati.


"Berlapis emas 24karat di lingkar kaki dan logo SL dari emas murni sebagai hiasannya, ah.. sepatu ini kan limited edition dan lumayan mahal."


Wanita itu masih nyerocos dengan bahasa yg Lana tidak mengerti.


"Permisi, saya mau lewat."


Lana bicara sopan, melihat wanita paha itu masih memegang-megang sepatunya.


Si wanita belahan dada melihat kawannya yg mendadak jadi aneh, buru-buru menariknya bangun.


"Lo ngapain sih? Malu-maluin aja." bisik si wanita dada.


"Kenapa cewek kampungan ini bisa memakai sepatu SL limited seharga 45 juta?" desis si wanita paha.


"Pinjam kali, ga mungkin banget dia beli sendiri."


Si wanita dada menarik kawannya untuk segera pergi.


"Katanya mau kenalan sama pria tampan tadi? Yuk ah, keburu pergi dia."


Kedua wanita itu pun tanpa sopan santun pergi begitu saja.


Lana mengernyit bingung, ada ya wanita aneh seperti mereka.


Lana berjalan menuju meja Kyoya sambil sibuk memikirkan ucapan apa yg cocok sebagai permintaan maaf, ketika Lana melihat dua wanita resek yg bertemu di toilet tadi sedang berdiri keganjenan di samping kekasihnya.


Kyoya menunduk sibuk melihat ponsel.


Lana berjalan mendekat untuk bisa mendengar mereka lebih jelas.


"Namaku Syeilla. Masih single. Nama kakak siapa? Share nomor dong." tanya wanita paha dengan nada genit.


"Sendirian aja kak? Boleh kami temani? Kakak pasti puas deh. By the way aku Cristin."


Tapi Lana belum pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri, pesona Kyoya bisa mendatangkan dua wanita resek nan menyeramkan seperti itu.


Kedua wanita itu saling bertatapan bingung satu sama lain karena Kyoya tidak merespon.


Lelaki itu tetap menunduk sibuk dengan ponselnya.


"Permisi, kami sedang bicara denganmu."


Cristin melambaikan tangan di sela-sela antara wajah dan ponsel Kyoya.


Kyoya berdecak.


"Maaf aku sibuk."


Tampak sekali dia sama sekali tidak mau diganggu.


Syeilla tidak menyerah.


Dia menyambar ponsel Kyoya dan mengangkatnya ke atas.


Kyoya menatap wanita itu marah.


Kini Syeilla mendapat perhatian Kyoya, dia tersenyum semanis mungkin.


"Kami hanya ingin berkenalan. Share nomormu, yaa."


Kyoya menatap tajam.


"Aku sama sekali tidak tertarik. Cepat berikan." Kyoya berkata dengan nada tegas.


"Kalian ingin aku melapor polisi? Mengganggu pengunjung lain dan membuat keributan cukup menjadi alasan bagi polisi bisa datang kemari."


Syeilla dan Cristin ragu-ragu lalu akhirnya meletakkan ponsel itu dengan hati-hati di meja.


Kyoya segera menyambar ponselnya dan melakukan panggilan telepon.


Kedua wanita itu tercekat, takut lelaki itu benar-benar menelepon polisi.


Lana gelagapan ponselnya berbunyi.


Dia segera menekan tombol hijau.


"Apa kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali?" Suara Kyoya terdengar cemas.


Lana memutuskan menghampiri mereka.


"Aku baik-baik saja, maaf membuatmu menunggu lama."


Lana sampai di meja Kyoya.


Kyoya mendongak menatap Lana mesra dan tersenyum.


Kedua wanita itu syok melihat Lana. Mulut mereka sampai terbuka lebar tanpa sadar.


Lana duduk dengan anggun.


Melihat Kyoya menoleh ke para penggemarnya dan dengan ketus berkata,


"Aku sudah punya pacar, jadi kalian cari mangsa yg lain saja."


Kedua wanita itu salah tingkah lalu buru-buru pergi sambil berbisik-bisik.


Lana menatap Kyoya penuh penyesalan.


"Maaf karena sudah bersikap kekanak-kanakan."


Kyoya tersenyum,


"Its okay. Maaf aku juga terlalu mengatur ini itu, terkadang aku melakukannya tanpa sadar."


Kyoya menaikkan satu alis.


"Jangan meninggalkanku lama-lama, lihat sendiri aku sampai didatangi dua hantu menyeramkan."


Lana tertawa mendengarnya.


Kyoya mempersilahkan Lana untuk memakan kue-kue kecil yg ada di depannya. Terlihat enak semua.


Ternyata Kyoya sudah memesankan secangkir teh hangat untuk Lana.


Lana mengambil satu kue dengan krim dan buah strawberry diatasnya, menggigitnya dan langsung ber-hmm ria saking enaknya.


"Setelah ini kita ke sungai Yan. Kembang api nya pukul 8 bukan?" tanya Kyoya mengecek arlojinya.


Sudah pukul setengah tujuh malam. Kopi di cangkir Kyoya tinggal sedikit.


Lana mengangguk sambil cepat-cepat menghabiskan kuenya.


...***...