
Lana menatap bayangannya di cermin. Seorang gadis muda, segar, cantik, menawan. Ia tersenyum, menikmati keindahan itu. Tiba-tiba kilatan cahaya memantul menyilaukan mata, seperti lampu blitz kamera. Lana mengernyit lalu menoleh ke kanan kiri dan belakang, tidak ada siapapun.
Lana kembali menghadap ke cermin besar itu, refleks menutup mata dengan tangan. Tiba-tiba puluhan lampu blitz dari dalam cermin berkerlap-kerlip dengan bunyi cekrik cekrik yg berisik. Kilatan cahaya itu semakin banyak dan menyilaukan hingga rasanya menyakitkan. Dengungan tidak jelas disertai suara kamera semakin keras terdengar. Lana memejamkan mata, menjerit sambil menutup kedua telinganya. Berharap ada seseorang yg datang menolong.
Dan harapannya terkabul, sesosok laki-laki tiba-tiba mendekat dan memeluk Lana erat. Lana pun mendekap dada laki-laki itu, menghirup aroma yg familiar. Aroma yg langsung membuatnya tenang, laki-laki itu beraroma seperti Kyoya. Suasana mendadak sunyi. Lana mendongak untuk melihat siapa laki-laki ini. Mata Lana seketika membelalak. Ethan balik menatapnya, menyeringai seram dengan mata bersinar merah.
"Pergiii!!"
Lana memekik, membuka mata. Menatap nanar ke langit-langit kamar. Nafasnya naik turun terengah-engah.
"M-mimpi?" Lana mengerjap. Berusaha mengingat dan memahami situasinya saat ini. Jadi itu tadi mimpi? Sungguh mimpi yg aneh dan mengerikan.
Dimana ini? Langit-langit kamar bernuansa emas berhiaskan lukisan para malaikat kecil meniup seruling di antara awan di langit biru, ini jelas bukan kamarnya.
Lana memandang ke sekeliling, kamar luas yg mewah. Dimana dia sekarang? Apa yg terjadi?
Kepala Lana berdenyut nyeri. Dia berusaha mengingat, dia sedang berlibur di Tanbay, dia ingat kemarin malam minum cukup banyak. Dia pasti mabuk berat, tak sadarkan diri. Lalu dimana Cika? Ini bukan kamar hotelnya, kamar siapa ini?
Lana menahan sakit pada kepala, hidungnya pun berkedut. Samar-samar tercium aroma parfum dan shampo yg Kyoya pakai. Lana tidak pernah salah, aroma ini sangat familiar untuknya. Dan hanya Kyoya seorang yg memiliki aroma khas seperti ini. Wangi mentol menyegarkan dengan sedikit aroma greentea.
Lana mengendus dan menyadari aroma ini berasal dari bantal empuk yg dipakainya tidur. Kain sarung bantalnya sangat lembut berwarna putih, dengan bordir emas bertuliskan FSH. Five Star Hotel.
Lana juga baru sadar kalau seseorang telah melepas sepatu kets nya dan menyelimutinya saat tak sadarkan diri. Hati Lana berdegup, tidak mungkin kan..
Lana berusaha bangkit, kepalanya makin nyeri seperti dipukul dengan palu godam. Badannya juga terasa sakit semua.
Lana duduk bersandar dan baru menyadari kamar itu benar-benar mewah. Perabotan dan interior yg hanya bisa dilihatnya dalam gambar majalah Ekslusif Home kini terpampang nyata di hadapannya. Tivi luar biasa besar di atas bufet kayu, lantai marmer yg dialasi karpet Turki merah emas, perabotan bernuansa putih emas, ornamen dan hiasan indah di dinding.
Seseorang sudah menarik tirai tebal putih karena tirai itu tidak lagi menutup dan berada di sisi samping. Tampak dinding kaca berwarna abu-abu buram. Lampu kamar juga padam, hanya lampu meja di rak kecil di sisi kanan tempat tidur yg menyala temaram.
Lana melihat di atas rak itu terdapat sebuah nampan berisi teko air putih, gelas kosong, satu botol minuman pereda pengar, obat sakit kepala dan sebungkus roti keju.
Seperti seseorang telah menyiapkannya, dan orang itu tahu Lana akan pengar dan sakit kepala. Siapa orang itu? Tidak mungkin kan..
Lagi-lagi Lana berusaha menyangkal dalam hati. Tapi, melihat betapa nyaman tempat tidur ini, betapa mewah kamar ini, siapa lagi selain laki-laki itu yg bisa mendapatkannya.
Aah, kenapa aku tidak bisa ingat apa yg terjadi semalam?? Lana sebal.
Akhirnya dia menurunkan kaki dari kasur, menjulurkan tangan meraih teko dan menuang air putih ke dalam gelas. Lima menit kemudian, gelas dan botol minuman pengar itu tandas, bungkus roti tinggal bungkusnya dan obat sakit kepala sudah berkurang satu.
Lana berjalan lemah menuju pintu pualam putih, membukanya dengan jantung berdegup kencang. Akankah ia temui orang itu dibalik pintu ini? Tapi ruangan itu juga tidak ada siapapun. Tanpa sadar Lana kecewa.
Lana berjalan mendekati dinding kaca yg berwarna abu-abu buram, seperti dinding kaca di dalam kamar.
Lana terlonjak kaget karena tiba-tiba dinding kaca itu berubah jernih dan menampilkan pemandangan indah hamparan cottage di pinggir pantai menyatu dengan laut biru yg dihiasi kapal-kapal warna warni dan para pesurfing.
Lana memegang dinding kaca, terkesima dengan pemandangan itu. Lalu perasaan ngeri muncul menyadari dia berada di ketinggian yg cukup untuk membuatnya jadi omelet jika jatuh. Semua terlihat kecil dan abstrak.
Lana menoleh memandangi ruangan santai. Lalu matanya terpaku pada sofa panjang di tengah ruangan. Dua bantal hitam tergeletak di ujung sofa, dengan bekas melesak sedikit di sepanjang joknya seperti seseorang sudah tidur di sana semalaman.
Lana menelan ludah, dia kini yakin laki-laki itu yg membawanya ke kamar ini. Membaringkan Lana di kasur, membuat Lana senyaman mungkin sementara dirinya tidur di sofa semalaman.
Hati Lana berdenyut sakit. Mengapa laki-laki itu harus bersusah-payah melakukan semua ini? Padahal kini mereka bukan lagi sepasang kekasih. Padahal laki-laki itu sudah punya kekasih baru.
Dengan perasaan campur aduk Lana berjalan mengelilingi kamar yg sangat luas itu. Hampir seperti rumah, ada dapur, kamar tamu, bar, ruang santai, kolam renang pribadi di sisi kiri teras dan dua kamar tidur. Lana semakin tak mengerti, kenapa kamu memilih tidur di sofa, padahal ada dua kamar lainnya. Kenapa kamu menolongku? Kenapa membawaku kemari lalu meninggalkanku tanpa pesan apapun? Kenapa?
Lana benar-benar sendiri di sana. Meratapi jejak keberadaan laki-laki itu. Menghirup dalam-dalam aroma mentol di bantal hitam di sofa. Menahan rasa rindu yg menggumpal menyesakkan. Tanpa sadar airmata Lana pun menetes.
...***...
Cika bangun dengan geragapan.
Dia mengerjapkan mata memandang sekeliling kamar yg berantakan dengan botol bir dimana-mana. Astaga, apa yg sudah terjadi?
Cika memegang kepalanya yg berdenyut nyeri. Dalam hati menghitung jumlah botol yg berserakan itu.
Hah, tidak mungkin dia yg meminum semua bir ini! Dia pasti sudah gila, atau jika benar dia yg meminum semuanya sendirian, harusnya saat ini Cika terbangun di rumah sakit. Total botol bir ini ada dua puluh buah.
Argh, apa yg terjadi semalam? Cika mengacak rambutnya yg pendek hingga jabrik berantakan.
"Aku haus.." gumamnya. Menyadari tenggorokannya terasa sangat kering.
Dengan malas dan lemas gadis itu bangun dari kasur. Agak limbung berjalan menuju kulkas. Membuka pintunya, mengambil satu botol air mineral dingin. Dengan mudah membuka tutupnya lalu menenggak lahap hingga tinggal setengah.
Ingatan itu mendadak terlintas.
Cika sedang memapah Lana yg mabuk berat, lalu pria bule datang, menculik dan membawanya ke dalam kamar, mereka bermain game, Cika minum, dan minum lagi, lalu mereka berciuman..
Bruuttt!! Uhuk, uhuk, uhuk..
Air itu tersembur membasahi kulkas. Cika terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya. Pikirannya dihantam realita. Dia ingat semuanya.
"Astaga.."
Cika membekap mulut. Dia ingat bagaimana kasar dan menyeramkan pria bule itu memperlakukannya. Gadis itu juga ingat jelas, betapa lembut dan nikmat rasa bibir laki-laki itu.
"Astaga Cika, kau pasti sudah gila.. "
"Bisa-bisanya kau mencium pria itu dan membandingkannya dengan Marco. Diantara sekian banyak laki-laki di dunia ini, mengapa kau menginginkan ajudan sang CEO?"
Mata Cika mendadak terbelalak. "Hah sang CEO?" Cika teringat saat ia memapah Lana yg mabuk, Koijima Kyoya muncul.
Wajah Cika pucat. Dia ingat semuanya, dia sudah memaki dan mengutuk Pak Koijima dengan bahasa yg tidak pantas.
Cika menelan ludah.
Gawat, bagaimana ini. Apa dia resign saja dari NusaDua atau dia melompat dari balkon kamar ini sekalian?
"Aarghhhh.. " Cika mengacak rambutnya lagi dan menjerit frustasi. Lalu dengan sebal dia menepuk-nepuk mulutnya.
"Awas kau ya, bikin ulah sekali lagi, ku masak jadi lidah bakar, tahu rasa." Cika mengomel.
Seketika gerakannya terhenti. Lana. Iya benar Lana, dimana sahabatnya itu sekarang? Kemana CEO itu membawanya?
Aah si brengsek itu kan sudah punya pacar, apalagi Lana saat mabuk selalu tak sadarkan diri, jangan jangan.. Dasar laki-laki breng-
Cika menepuk mulutnya keras. Tuh kan, dasar lidah tak bertulang, awas kau ya..
...***...
Di sepanjang lorong sepi itu, Lana berjalan sambil menunduk. Dia baru saja kembali setelah dari meja penerimaan di lobi hotel.
Saat ini pukul sepuluh pagi. Hari terakhir liburan nya. Lana hanya ingin memastikan siapa pemilik kamar mewah itu ke petugas hotel. Dan benar saja.
"Betul, Pak Kojima Kyoya yg menggunakan kamar paling atas hotel kami atau biasa disebut Presidential Suite Room. Sayangnya Pak Koijima Kyoya sudah check out pukul lima tadi pagi. Beliau juga berpesan untuk tidak membuka kamar sampai sore hari."
Petugas hotel menjelaskan panjang lebar. Lana menghela nafas panjang.
Bahkan sampai kepergiannya pun, laki-laki itu masih memikirkan Lana dengan berpesan agar tidak ada yg masuk ke kamar di saat Lana tertidur.
Langkah Lana terhenti. Ingatan akan kejadian-kejadian aneh dan tidak wajar selama liburan ini pun terlintas. Kamarnya yg tiba-tiba diganti ke Suite Room, bikini yg kotor dan dress pantai yg pas. Jika Kyoya baru check out tadi pagi, berarti selama kemarin dia berada di sini kan.
Lana mendadak jadi kesal. Liburan yg selama ini ia idam-idamkan ternyata ada di genggaman tangan Kyoya. Dengan kuasa dan wewenangnya, laki-laki itu mengontrol semuanya.
Dan bikini krem bunga-bunga..
Lana jadi sedikit malu. Menyadari berarti Kyoya melihat Lana memakai bikini seksi itu dan usaha laki-laki itu untuk membuatnya berganti baju.
Lana mendengus. Sangat tidak adil. Benar-benar menyebalkan.
"Lanaaa!!"
Tiba-tiba terdengar suara memanggil.
Lana mendongak dan melihat Cika berlari dari ujung lorong. Cika masih memakai dress hitam kemarin.
Lana tersenyum lega.
Cika langsung memeluk sahabatnya itu erat.
"Kamu baik-baik saja kan Lana? Apa yg terjadi? Kamu dimana semalam?" tanya Cika setelah melepas pelukan.
Lana hanya tersenyum penuh arti. "Nanti saja aku ceritakan. Kita makan dulu yuk, aku sangat lapar."
"Aku juga, rasanya bisa melahap seekor gajah hidup-hidup saking laparnya." gumam Cika.
Cika merangkul pundak Lana erat, lalu berjalan ke area resto hotel.
"Lana, aku juga punya cerita ttg kemarin malam. Tapi kau janji jangan kaget okey?" bisik Cika.
Lana tertawa, "Serius amat, tumben."
Cika merajuk. "Beneran janji dulu jangan kaget, ya?" Lana terkikik, Cika makin merengut.
Kedua gadis itu pun berjalan semakin jauh.
Pukul sepuluh pagi itu, tanpa mereka berdua ketahui, di dunia maya saat ini telah terjadi kehebohan.
Foto Koijima Kyoya yg sedang menggendong seorang gadis memakai baju kuning dan celana jins dengan latar belakang tulisan Five Star Hotel, tersebar di dunia maya.
Postingan dengan judul 'Kabar Panas, CEO MT Corporation Kepergok Booking Hotel dengan Gadis Misterius, Siapa Gadis itu?' direpost oleh banyak orang dan menjadi perbincangan hangat.
Sementara itu di ruang PPIC, Monic membaca artikel itu dengan serius. Lalu meng-zoom foto Kyoya.
"Cih."
Monic mencibir, dia sepertinya mengenali baju kuning norak dengan motif Snoopy ini. Dia jadi menduga-duga si pemilik baju itu.
Monic mulai mengetik di kolom komentar dengan menggunakan akun anonim.
"Aku sepertinya tahu siapa gadis itu.. "
...***...