
Mereka terjebak macet, ternyata banyak orang juga hendak ke sungai Yan untuk melihat kembang api.
Sudah sepuluh menit mobil hitam itu merayap. Padahal tinggal sedikit lagi mereka sampai di tempat parkir khusus untuk melihat kembang api.
Lana mengerucutkan bibir, melihat ke jendela yg penuh sesak kendaraan lain.
Kencan yg tidak sesuai harapannya. Pertama makan malam yg diganggu wanita aneh, kedua macet.
Huh, Lana jadi kesal. Padahal dia sangat menanti-nanti datangnya hari ini.
"Kudengar kamu menangani proyek pembangunan kota Naruyama?"
Kyoya bertanya tiba-tiba. "Bukankah ada kendala di struktur jembatan gantung nya?"
Lana yg bosan melihat ke jendela menjawab dengan malas,
"Yah.. aku penanggung jawab desain jembatan itu dan Bu Yuni sebagai ketua timnya. Ternyata cukup rumit, banyak pihak ketiga yg menolak bekerjasama. Beberapa juga tidak kompeten saat mempresentasikan hasil desain mereka."
Lana mendesah lelah. "Untunglah kami menemukan satu vendor yg cocok dan kompeten di bidang ini. Tapi mereka perusahaan kecil. Kita lihat saja dulu bagaimana perkembangan presentasi mereka."
Kyoya menatap mobil-mobil di depan yg sudah mulai terurai. Lalu melajukan mobilnya.
"Kapan meeting presentasinya?" tanya Kyoya.
Lana cemberut. "Besok pagi jam 7."
Mendadak Lana duduk menghadap Kyoya dan mulai bicara menggebu-gebu,
"Coba bayangkan. Kita perusahaan besar, mereka hanya PT kecil, kenapa malah kita yg disuruh datang meeting ke sana, coba? Kalau bukan karena kita butuh, aku tidak mau pergi ke sana. Harusnya kan mereka yg datang presentasi ke kantor kita."
"Benar juga." gumam Kyoya. "Siapa nama penanggung jawab di sana?"
Lana mengingat-ingat, "Bu Jesica Judit. Beberapa kali aku email dan berkomunikasi di telepon selalu dengan dia. Orangnya sih ramah."
Kyoya menepikan mobil ke jalur parkir. Syukurlah mereka tiba sebelum acara kembang api dimulai.
Kyoya memutar kemudi untuk parkir menghadap sungai Yan yg gemerlap penuh lampu warna warni.
Mobil terparkir dengan sempurna dan Kyoya menarik rem tangan.
"Seperti yg kubilang tadi di lift, persetujuan kedua belah pihak adalah salah satu kunci berhasilnya suatu proyek."
Kyoya memundurkan sandaran kursi lalu duduk dengan santai.
"Dari proyek ini kamu bisa belajar bernegosiasi dan mengontrol perusahaan kecil itu agar mematuhi deadline kita."
Lana ikut duduk bersandar dengan santai,
"Benar juga. Aku akan bersemangat. Proyek ini pasti berhasil. Semangat, semangat, semangat."
Lana mengepalkan tangan penuh tekad. Kyoya tertawa kecil melihatnya.
"Ramai juga ya." gumam Lana saat melihat ke jendela.
Tampak beberapa pejalan kaki berjalan hilir mudik.
Setiap kali mereka lewat di depan mobil Kyoya, mereka pasti berhenti sejenak untuk mengagumi mobil tersebut.
Lana yg sudah terbiasa dengan pemandangan itu hanya menanggapi dengan senyuman. Dia asyik menonton ada pejalan kaki yg minta difoto di depan mobil Kyoya, ada yg memfoto mobilnya saja dan lain sebagainya.
Apalagi kaca mobil tidak tembus pandang, Jadi orang-orang itu tidak bisa melihat ke dalam mobil, padahal Lana bisa melihat mereka dengan sangat jelas.
Dulu saat pertama kali melihatnya, Lana merasa risih mengapa orang-orang itu mengagumi mobil ini.
Meski memang terlihat mewah dan mahal, tapi tidak segitunya sampai berfoto ria segala.
Setelah Kyoya memberitahu berapa harga mobil itu, Lana langsung paham dengan sikap orang-orang itu. Harganya sangat fantastis. 12 digit dengan jumlah 0 ada sepuluh buah.
Lana menyadari Kyoya sejak tadi diam saja.
Lana menoleh. Lelaki itu duduk bersandar, sedang terpejam sambil mengurut keningnya.
"Ada apa? Apa sakit kepala?" tanya Lana cemas.
Mata Kyoya tetap terpejam. Tangannya tidak lagi memegang kening.
"Tidak apa-apa. Tolong bangunkan aku saat kembang apinya dimulai."
Lana mencondongkan tubuh ke arah Kyoya. "Aku pijat ya."
Lana mengulurkan tangan dan menyentuh kening Kyoya.
Kyoya tidak menolak jadi Lana mulai memijat dengan lembut.
Tak lama Kyoya terlihat rileks. Lalu nafasnya bergerak teratur tanda lelaki itu sudah tertidur.
Lana terus memijat sambil mengamati wajah kekasihnya.
Lana tahu Kyoya amat sangat lelah.
Demi Lana, lelaki itu bersedia menemaninya melakukan hal sepele seperti ini.
Padahal Kyoya membutuhkan istirahat, tapi dia tetap mau meluangkan waktu untuk menemani Lana.
Karena lelaki itu tahu menonton kembang api adalah salah satu kencan yg Lana impikan.
Lana mengerti betul seberapa besar pengorbanan lelaki ini demi dirinya, meski luar biasa sibuk.
Duar! Dor! Blar!
Tiba-tiba terdengar suara menggema dan langit di belakang Lana bercahaya warna warni.
Lana menoleh, kembang api nya telah dimulai. Dia harus membangunkan Kyoya.
Lana kembali menghadap kekasihnya, wajah yg tertidur pulas itu membuatnya tidak tega untuk membangunkan.
Ah, biarkan dia tidur. batin Lana. Kembali memijat.
Suara dar der dor terus bersahutan, langit penuh kerlap kerlip warna.
Kyoya mengernyit dan membuka mata.
Dilihatnya Lana sedang menatapnya dengan background kembang api dibelakangnya.
Dia hendak duduk tegak tapi Lana menahannya.
"Istirahatlah lagi, aku pijat ya."
Lana hendak memijat kepala Kyoya tapi lelaki itu menggenggam tangannya dan meletakkannya di pangkuan Kyoya.
"Ini adalah kencan yg kamu tunggu-tunggu. Maaf aku tertidur. Tiba-tiba saat macet tadi kepalaku terasa sakit."
Kyoya menatap Lana penuh penyesalan.
Lana tersenyum.
"Tidak apa-apa. Bisa berada di sini bersamamu sudah merupakan kencan yg sempurna."
Kyoya menatap Lana beberapa detik.
Ia terpukau betapa gadis itu terlihat sangat cantik dilatarbelakangi cahaya kerlap kerlip kembang api di langit malam.
Mendadak Kyoya merasakan gejolak membara di dalam tubuhnya. Kyoya bergerak maju dan mema*gut bibir Lana. Lana yg tidak menduga Kyoya akan tiba-tiba menciumnya, sedikit tersentak kaget.
Tapi kemudian dia menikmati setiap gerakan bibir Kyoya.
Lana membalas ciuman itu. Lidah mereka bertemu dan bertaut. Saling menggigit pelan dan melu*mat.
Lana mendesah. Ciuman itu terasa sangat panas dan liar.
Sambil terus berciuman, Kyoya bergerak membimbing Lana duduk bersandar di kursinya.
Setelah Lana nyaman di tempatnya, Kyoya menjelajah lebih dalam lagi. Kepala keduanya bergerak menyesuaikan irama tubuh mereka yg terasa terbakar.
Tanpa memberi jeda untuk bernafas, Kyoya terus melu*mat bibir Lana sampai mulai terasa sakit.
Lana menggigit bibir bawah Kyoya, membuat lelaki itu mengerang penuh nikmat.
Tangan Kyoya menelusuri jemari Lana, naik ke pergelangan tangannya, menyisir bahu dan tulang selangkanya.
Lalu jemari itu menemukan dua benda empuk di dada Lana dan meremasnya lembut.
Suara desa*han Lana teredam di dalam mulut Kyoya yg sedang mengulum lidahnya.
Kyoya melepaskan bibirnya dan terengah.
Lana juga terengah, menatapnya dengan pandangan meminta lebih.
Mata Kyoya berkabut.
Lelaki itu menciumi setiap jengkal wajah Lana. Kening, alis, mata, hidung, pipi, bibir lalu turun ke leher.
Lana mendesah lagi sambil memejamkan mata.
Bibir Kyoya menelusuri leher Lana yg putih mulus. Lelaki itu mengecup kulitnya yg halus. Terasa denyut nadi gadis itu berkedut dibawah bibirnya.
Jemari Kyoya meremas semakin intens, sangat kenyal, sangat empuk.
Kyoya ingin sekali menjilat dan mengulumnya.
"Kyoya.. " desah Lana memanggil namanya.
"Ya sayang? Kamu ingin aku melakukan apa?" Kyoya berbisik di telinga Lana.
Mata Lana mengerjap.
Bibirnya sedikit bengkak karena ciuman panas tadi.
"Haruskah kita pergi ke hotel?" tanya Lana.
Suara gadis itu serak. Ada nada berharap di dalam pertanyaan itu.
Kyoya tertawa kecil.
"Tidak hari ini Lana."
Kyoya mencium kening Lana lembut lalu menarik diri duduk kembali ke kursinya.
Lana yg tidak siap pergulatan ini berhenti secara tiba-tiba, mengerjap bingung.
Dia menatap Kyoya dengan pandangan bertanya.
"Besok pagi kamu ada pertemuan penting dengan perusahaan pihak ketiga." jawab Kyoya, mengusap bibirnya yg berdarah sedikit karena digigit oleh Lana dalam pergulatan tadi.
Lana cemberut.
Dia merapikan rambut panjangnya yg acak-acakan.
"Aku tidak ingin membuatmu lelah sayang. Masih ada hari lain untuk kita menyambung keseruan tadi."
Kyoya mengusap rambut Lana lembut.
Lana mau tak mau memakluminya.
Besok pagi akan jadi hari yg padat. Sejak jam 7 Lana harus sudah sampai di PT. NaThan. Setelah meeting Lana harus mengevaluasi hasilnya dan membuat laporan.Dan masih ada beberapa tugas lainnya.
Lana menghela nafas panjang.
Sadarlah Lana, welcome to the reality.
Kembang api masih tersisa beberapa menit, Lana menyaksikannya sambil menyandarkan kepala di bahu Kyoya. Sementara jemari mereka bertaut.
Ketika kembang api terakhir lepas landas ke langit dan meledak menjadi bunga raksasa penuh warna,
Kyoya berbisik, "Sudah waktunya kita pulang."
Lana mendesah kecewa. "Tidak mau."
Kyoya tertawa, lalu menyentil hidung Lana.
Lana mengaduh sambil refleks menutup hidungnya.
Lalu menyerang Kyoya dengan berbagai macam pukulan. Kyoya berusaha menghindar sambil tertawa.
...***...