Between

Between
Bab 67 Rumit



Kyoya langsung menyeret Hana ke sudut di balik tirai begitu mengakhiri jumpa pers secara sepihak beberapa menit lalu. Meski wajah para wartawan terlihat masih penasaran dan tidak puas, Roger memasang badan sebagai pengamanan agar atasan dan gadis itu bisa segera pergi. Untung saja para wartawan itu tidak mengejar.


Roger berjaga di depan tirai merah besar yg berjarak beberapa ruangan dari lokasi jumpa pers. Kain itu setengah menutupi ruangan kosong mirip aula yg temaram. Matanya siaga melihat sekeliling, memastikan situasi aman.


Sementara di balik tirai, tanpa basa basi Kyoya menatap tajam Hana dan bertanya tegas, "Bisa kau jelaskan apa maksud yg barusan tadi, Hana?"


(percakapan antara Kyoya dan Hana memakai bahasa Jepang, untuk efisiensi dan kenyamanan pembaca maka author langsung men-translate-kannya)


Hana menelan ludah, Kyoya yg marah benar-benar menyeramkan. Meski ia tahu laki-laki itu sekarang tampak berusaha keras menahan emosi itu agar tidak meledak keluar.


Hana memberanikan menatap manik mata Kyoya, lalu menjawab pelan, "Pagi tadi Nyonya Naomi mengundangku datang ke kediaman Keluarga Koijima. Dia memberitahukan semuanya dan memintaku datang di pers conference karena sepertinya kau akan memerlukan bantuanku."


Begitu mendengar nama ibunya disebut, Kyoya menghela nafas kesal. Jadi ini alasan kemunculan Hana. Ia menduga jumpa pers mendadak ini juga bukan ide laki-laki tua bangka itu saja, ibunya pasti juga terlibat. Sial, dia salah langkah. Ia telah dipermainkan dengan mudahnya.


Demi melihat Kyoya tidak bicara, Hana bertanya hati-hati, "Apa kehadiranku tidak membantu? Apa aku malah mengacaukannya?"


Kyoya memejamkan mata sejenak sambil mengurut puncak hidung nya. Kepalanya tiba-tiba terasa nyeri.


Kyoya membuka mata, mendapati wajah Hana terlihat bersalah. Bibir gadis itu terkatup dengan manik mata memelas sedang menatapnya.


"Jadi kamu setuju dengan perjodohan ini?" tanya Kyoya lebih ke nada heran daripada menuntut. Mengingat sikap santai dan percaya diri Hana di hadapan para wartawan tadi, Kyoya bisa menebak gadis itu tidak keberatan menyandang status sebagai calon istri Kyoya.


Hana mengerjap, lalu berkata pelan, "Sebenarnya beberapa waktu lalu aku sudah bisa menebak kita berdua cepat atau lambat akan menghadapi situasi ini, mengingat beberapa kali keluarga kita bertemu dan bicara diam-diam."


"Selama itu adalah dirimu, Kyoya-kun, aku tidak keberatan. Bukankah ini yg terbaik untuk semuanya?"


Kyoya terdiam. Benar, Hana adalah pilihan terbaik dari berbagai aspek. Entah berdasarkan cinta atau tidak, pernikahan mereka akan sangat menguntungkan bagi kedua keluarga dan masing-masing perusahaan.


Hana menatap Kyoya, "Kita tidak bisa memiliki cinta Kyoya-kun. Terlahir dari keluarga seperti ini, harusnya kau sadar hidup kita sudah diatur. Tidak pernah ada pilihan lain."


Tanpa memberi jeda untuk Kyoya bicara, Hana bertanya dengan nada mencela, "Siapa gadis yg ada di berita itu? Apa dia gadis yg bicara denganmu di lobi hotel beberapa waktu lalu?"


Mata Kyoya membelalak, tapi Hana terus mencecarnya.


"Apa kau mencintai gadis itu? Apa dia pantas mendapatkan cintamu? Apa dia kuat menerima beban nama Koijima jika menikahimu kelak?"


"Jika kau benar mencintainya, kau tidak akan menjerumuskan gadis malang itu ke dunia kita yg kejam. Dibanding kekuasaan keluarga kita, gadis itu bukan siapa-siapa. Harusnya kamu berterimakasih kepadaku, berkat aku gadis itu tidak akan lagi terusik. Tinggalkan dia, Kyoya-kun, dia akan hidup jauh lebih damai dan bahagia. Kau tidak sedang mencoba mempertaruhkan keselamatan gadis itu dan nama baik keluarga Koijima, bukan?"


Kyoya terdiam, Hana memang berumur lebih muda dari Lana, tapi terkadang gadis ini bisa lebih bijaksana daripada Kyoya sendiri. Meski kenyataan itu benar adanya dan sangat pahit. Hana ada benarnya juga.


Tiba-tiba terdengar suara Roger yg menyela dengan nada sopan. "Maafkan saya sir, kita tidak bisa berlama-lama berada di sini. Saya mendengar beberapa langkah kaki sedang menuju kemari."


Mengabaikan Hana, Kyoya langsung berbalik dan keluar dari balik tirai, sambil lalu dia bicara pada Roger, "Antarkan nona Hana pulang. Aku akan dijemput supir perusahaan."


Sebelum Roger berkata 'baik', Hana menjejeri langkah Kyoya dan menyahut, "Tidak perlu, aku tadi diantar oleh supir keluarga Koijima. Tapi Kyoya-kun, kupikir akan lebih baik jika kita terlihat pulang bersama dalam satu mobil."


"Percayalah padaku para wartawan itu akan berkerumun menunggu kita di pintu keluar." Hana tersenyum percaya diri.


Benar saja, beberapa orang dengan kamera di tangan terlihat mondar mandir, tampak menunggu sesuatu. Begitu mobil hitam mewah Kyoya berhenti di depan pintu keluar, orang-orang itu langsung menyadari mobil siapa itu dan berkerumun di sisi kanan dan kiri.


Hana berjalan keluar melewati pintu kaca otomatis, bersebelahan dengan Kyoya. Gadis itu tersenyum manis sambil mengendikkan kepala ke segala arah, sementara Kyoya acuh menatap lurus ke depan.


Beberapa wartawan melontarkan sejumlah pertanyaan tapi mereka berdua terus berjalan menuju mobil. Roger keluar dari kursi pengemudi untuk membukakan pintu untuk atasannya.


Kyoya masuk ke dalam mobil dan bergeser ke sisi kiri. Hana melambai ramah kepada para wartawan sebelum menunduk untuk masuk. Lampu-lampu blits kamera masih menyala berkedip-kedip menyilaukan bahkan setelah pintu tertutup dan mobil melaju menjauh.


...***...


Ethan menghela nafas panjang, demi melihat sosok gadis yg sedang duduk di kursi membelakanginya.


Gadis yg sangat ia rindukan. Tidak bisa menutupinya, Ethan terlihat begitu senang bisa bertemu gadis itu lagi hari ini, setelah sekian lama tidak melihat sosok itu sejak gadis itu tidak lagi menangani proyek Naruyama. Tapi tampaknya gadis itu sekarang sedang tidak baik-baik saja.


Gadis itu terus menunduk saat Ethan menyodorkan sekaleng kopi dingin kearahnya. Karena gadis itu tak merespon, Ethan menempelkan kaleng minuman ke pipi gadis itu, membuatnya menoleh. Ethan langsung memasang senyum menenangkan, sementara manik mata gadis itu mengerjap tidak fokus.


"Ini untukmu, minumlah. Sayang sekali tidak ada kopi Hazelnut. Jadi kubelikan kopi mocca." Ethan duduk di sebelah gadis itu, yg menerima kaleng kopi tanpa bicara sepatah katapun. Kopi Hazelnut adalah kopi kesukaan gadis itu, tentu saja Ethan masih mengingatnya. Padahal kebersamaan mereka sudah melebur jadi abu bertahun-tahun yg lalu.


Gadis itu, yg adalah Lana, kembali menunduk sambil mencungkil-cungkil pengait kaleng. Tidak ada keinginan untuk meminumnya.


Pikiran Lana kembali berisik memikirkan banyak hal. Setelah jumpa pers Kyoya yg tiba-tiba selesai setelah kemunculan gadis yg mengaku sebagai calon istri Kyoya, Lana menjadi linglung.


Bukankah gadis itu adalah gadis yg bersama Kyoya di Five Star Hotel?


Ethan mengambil kopi Lana dan membukakan pengaitnya. Lalu memasangkan kaleng kopi itu ke tangan Lana yg melamun. "Kau suka kopi mocca kan.."


Ethan hendak berkata 'aku akan membelikan minuman yg lain jika kamu tidak suka.' Tapi Lana menyahut pelan, "Iya."


Meski begitu Lana tidak meminumnya. Pikiran gadis itu masih melayang memikirkan hal lain.


Jadi Kyoya akan segera menikah? Dada Lana terasa sakit seperti ditusuk. Apa saat bertemu di Five Star Hotel Kyoya sudah berstatus bertunangan dengan gadis itu? Tapi kenapa Kyoya melakukan semua kekonyolan mulai dari mengganti kamar dan bikini juga repot-repot menolong Lana saat mabuk? Kenapa?


Melihat Lana yg pasif, Ethan membuka kalengnya sendiri dan meminum kopinya beberapa tegukan. Lalu menatap Lana dan berkata, "Aku masih menunggu jawabanmu Lana. Pertanyaanku tadi bukan lelucon, aku serius. Apa kamu mau menjawabnya sekarang?"


Lana yg tidak fokus karena terus melamun, berkata "Iya." Pikirannya sedang terpaku membayangkan di depan sebuah altar putih Kyoya memakai jas hitam dan gadis itu memakai gaun pengantin, dada Lana teramat sakit serasa dihujam pedang panjang.


Ethan tahu situasi saat ini Lana sedang tidak kondusif untuk diajak bicara, tapi hati kecilnya mengingatkan, jika bukan sekarang tidak akan ada lagi kesempatan ini akan datang.


Menebak ekspresi dan jawaban Lana, Ethan bertanya dengan hati-hati, "Apa kau mau menjadi pacarku lagi, Lana?"


Dan benar, Lana menjawab 'iya' tanpa berpikir. Lana sedang asyik menduga-duga apakah alasan Kyoya datang ke Five Star Hotel saat itu untuk berkencan dengan gadis itu atau ada urusan lain, ketika tiba-tiba Ethan memeluknya erat sambil memekik senang.


Lana mengerjap bingung, kopi ditangannya tumpah membasahi pakaian keduanya.


Ethan refleks melepas pelukannya, menunduk untuk membersihkan noda kopi sambil meminta maaf. Ia mengeluarkan sapu tangan lalu mulai mengelap rok krem Lana padahal celana hitamnya juga basah dan terasa dingin. Ethan mengambil kaleng di tangan Lana dan menaruhnya di kursi di belakangnya.


"Maaf ya, aku lupa kamu sedang memegang kopi. Kamu tidak apa-apa kan?" Ethan menatap Lana yg berkedip bingung.


"Kenapa kamu memelukku?" tanya Lana berusaha fokus.


"Karena aku senang kamu menjawab iya. Kamu barusan menerimaku jadi pacarmu." Ethan menjawab sambil mengamati perubahan ekspresi Lana.


Gadis itu terbelalak lalu refleks memukul lengan Ethan. "Sudah kubilang aku tidak suka lelucon itu, kapan aku menjawab iya?"


Ethan menahan tangan Lana dengan satu tangan, sementara tangan yg lain mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Setelah mengutak-atik sebentar, terdengarlah suara Ethan '"Apa kau mau menjadi pacarku lagi, Lana?' lalu beberapa detik terdengar suara Lana menjawab 'iya'.


Mulut Lana terbuka lebar saking kagetnya. Matanya membelalak tidak percaya. Astaga, itu benar suaranya, mengapa dia menjawab iya?


Ethan berusaha menahan senyum melihat reaksi Lana. Ternyata mengikuti instingnya untuk merekam jawaban Lana adalah tindakan yg tepat. Gadis itu kini tidak bisa mengelak lagi.


"Jadi sekarang kita pacaran kan.. beiby.." goda Ethan tetap menggenggam lembut kedua tangan Lana.


Dahi Lana mengernyit, ia menyentak tangannya agar terlepas. "Pacaran apanya, sudah, aku mau pulang! Aku capek, aku pusing. Kita bahas ini lain kali saja." Lana berdiri.


Ethan buru-buru bangkit dan menjejeri langkah Lana. "Aku antar pulang ya by."


Lana menatap Ethan dengan pandangan ngeri lalu menutup telinganya rapat-rapat. "Aah, aku tidak bisa dengar apa-apa!!"


Lana berjalan semakin cepat. Ethan tidak mengejarnya. Dia berjalan santai dibelakang, memperhatikan Lana sambil mengulum senyum. Bisa dibilang, Lana sama sekali tidak menolak. Ada setitik harapan di hati Ethan. Gadis itu mungkin saja masih mencintainya.


...***...