Between

Between
Bab 65 Konferensi Pers



Kyoya berjalan cepat di sepanjang koridor yg temaram. Roger di belakang mengikuti langkahnya dengan wajah tegang.


Mereka sedang terburu-buru.


Saat ini pukul tujuh malam. MarinaBay Resto masih ramai dengan pengunjung.


Setengah jam lalu Kyoya sedang ada pertemuan dengan Pak Liem Thomas dan Pak Djarot Purwa di ruang privat VIP MarinaBay Resto. Membicarakan masa depan perusahaan dan isu viral Kyoya yg masih berseliweran di dunia maya.


Hidangan lezat sudah tersaji, dua wanita berpakaian rapi namun ketat itu duduk menempel di sebelah dua kakek yg terkekeh senang tiada hentinya.


Sudut bibir Kyoya naik, mencibir. Buang-buang waktu saja.


Roger duduk di sebelah Kyoya, sudah terbiasa dengan pemandangan dua kakek genit itu.


Ketika Kyoya sedang memikirkan bagaimana cara pamit dengan elegan tanpa ketahuan kalau dia sebenarnya sangat bosan dan muak, Pak Liem tiba-tiba bicara,


"Oia Kyoya, ayahmu titip salam saat tahu aku akan bertemu denganmu malam ini."


Sudut bibir Kyoya berkedut. Basa-basi menyebut ayahnya segala, Kyoya benar-benar tak tahan lagi.


Kyoya memasang senyuman ramah. "Terimakasih anda sudah berbaik hati memberi kabar pada ayah saya bahwa malam ini kita akan bertemu. Tapi saya penasaran bagaimana reaksi ayah saya jika tahu ternyata ada wanita penghibur dalam pertemuan seperti ini." Kyoya bicara santai.


Dua wajah pria tua itu memucat. Meski mereka adalah teman baik Koijima Genta, tapi ayah Kyoya terkenal sangat memegang prinsip dan cukup idealis.


Pak Liem berdecak sebal, "Tak ada gunanya Koijima Genta tahu tentang ini, tak ada untungnya juga bagimu untuk memberitahunya."


Kyoya tersenyum datar. "Saya berada di pihak yg netral. Saya hanya akan melangkah ke sisi yg menguntungkan perusahaan."


"Benar, memang harus begitu." Pak Liem mengangguk-angguk. "Anak muda sepertimu tidak perlu terlalu berprinsip. Apalah prinsip itu, yg penting MT Corporation menjadi nomor satu di dunia. Benar kan?" Pak Liem terkekeh. Pak Djarot menyetujuinya.


Sudut bibir Kyoya hanya naik sedikit. Kapan dia bisa pulang? Rasanya lelah sekali.


"Saat Genta memilihmu menjadi CEO, waktu itu kami berdua jujur saja menentang keputusan itu." Pak Djarot ikut bicara, "MT Corporation sedang merangkak menaiki undakan terjal. Anak muda yg bahkan belum berpengalaman memimpin perusahaan manapun, tiba-tiba diangkat menjadi CEO? Terdengar seperti rencana bunuh diri."


Pak Liem terkekeh. "Benar, aku hampir terkena serangan jantung. Walaupun kau putranya, menyandang nama besar Koijima, tapi saat itu ada banyak kandidat yg lebih kompeten. Genta malah menunjuk dirimu."


Kyoya tersenyum samar. Mendengar cerita itu, membuatnya bernostalgia.


Pikirannya melayang ke beberapa tahun lalu, saat dirinya masih sangat muda, dijatuhkan paksa oleh ayahnya sendiri untuk terjun ke dunia keras dan kotor ini.


Jujur saja Kyoya saat itu sempat down dan hampir menyerah, tapi ada satu momen yg terjadi, selalu diingatnya sampai sekarang. Saat itu ia bertemu seseorang di rumah abu, sosok itu lah yg mampu mengubah dirinya yg down menjadi pribadi yg kuat dan tabah. Sayang sekali, sampai sekarang Kyoya tidak tahu siapa sosok itu sebenarnya.


"Anak muda, memang selalu penuh kejutan, benar kan?" Pak Liem menepuk pundak Pak Djarot. Pria berambut setengah botak itu mengangguk setuju.


"Bisnis ini kejam, Kyoya. Anak muda sepertimu memang ada kalanya ingin bersenang-senang, tapi saingan dan musuh selalu mengintai kapanpun. Lihat saja skandal yg menerpamu sekarang." Pak Djarot menatap Kyoya iba.


"Saya akan segera menangani masalah ini, anda tidak perlu khawatir." Kyoya berkata dengan yakin. "Saya jamin semuanya akan segera beres."


Pak Liem mencibir. "Tapi ini sudah lewat beberapa hari, Kyoya. Semakin lama kau mengulur waktu, MT Corporation juga akan terkena imbasnya, kerugian akan semakin besar."


Pak Liem berkata santai tapi nada suaranya terdengar mencela, "Bukannya menuduh kau tidak becus, ada kalanya anak muda terlalu menggampangkan sesuatu. Dan ada kalanya cara penyelesaian orang-orang berumur seperti kami lah yg bisa memberikan hasil yg signifikan."


Kyoya menatap tajam. "Apa maksud anda?"


Pak Liem tertawa. "Kau memang cepat tanggap ya." Pria tua itu menyuruh wanita di sebelahnya memijat bahunya.


"Ini bukan ideku sendiri, jangan dendam padaku. Kami dan orang-orang dibalik MT Corporation berniat baik, hanya ingin membantumu." ujar kakek itu sok peduli.


Pak Liem terkekeh keenakan saat wanita itu memijat dengan gerakan mantap.


"Awak media lima menit lagi akan memulai siaran live. Aku sudah susah payah menyiapkan konferensi pers khusus untukmu. Di hall convention restoran ini."


Kyoya refleks bangkit dari kursi. Matanya nyalang menatap marah ke kakek tua yg tersenyum penuh kemenangan itu. Tangan Kyoya mengepal erat, meninju meja.


Roger menyadari atasannya bisa melewati batas kapanpun, ikut berdiri. Gesturnya seperti tameng, siap melindungi atasannya.


"Anda tidak perlu menghadiri konferensi itu sir." Roger mencoba menenangkan Kyoya.


Pak Liem tertawa, "Baik, pulang saja kalian. Biarkan para wartawan itu menunggu. Aku jadi penasaran, kira-kira judul apalagi yg bisa dibuat oleh pena tajam para jurnalis. Misalnya.. Terlalu Pengecut, CEO MT Corporation Tidak Hadir Dalam Jumpa Pers."


"Atau, kau punya ide judul berita yg lain?" Pak Liem menoleh ke Pak Djarot yg asyik mengunyah daging. Wanitanya juga sedang memijat bahu si kakek.


"Menggelar Konferensi Pers Namun Tidak Hadir, CEO MT Corporation Terus Membuat Sensasi. Kelayakannya Sebagai CEO, Dipertanyakan. Bagus juga ya kan?" Pria itu terkekeh menyadari mungkin saja dia punya bakat terpendam sebagai jurnalis.


Kyoya menatap kedua pria itu dengan rahang mengeras. Tampak sekali menahan murka.


Lalu tanpa bicara, Kyoya berbalik dan memutuskan pergi. Pintu geser ruang VIP itu dibuka dengan kasar. Sosok Kyoya menghilang di balik pintu.


Roger bergegas mengikuti atasannya. Dia berjalan menjauh diiringi gelak tawa dua kakek yg sangat menyebalkan itu.


Langkah Roger sejajar dengan Kyoya. Atasannya itu tampak berusaha menenangkan diri, berusaha keras menghilangkan amarah.


"Anda akan menghadirinya sir?" tanya Roger hati-hati.


Kyoya menatap lurus ke depan. Dia sama sekali tidak takut dengan orang-orang itu, wartawan, jurnalis, apalagi dua pria tua bangka itu.


Di hari pertama berita itu viral, Kyoya bisa saja langsung menggelar konferensi pers untuk mengklarifikasi semuanya.


Tapi Kyoya tidak melakukannya, mengapa? Karena ada seseorang yg ia coba lindungi. Menggelar konferensi pers berarti menyebar informasi ttg identitas gadis yg ada di foto itu.


Kyoya lebih memilih tidak mengambil resiko itu. Bagi Kyoya, Lana adalah segalanya, ia telah berjanji untuk melindungi gadis itu.


Kini janji itu kembali dipertaruhkan.


"Tidak ada pilihan lain, Roger. Berdoalah semoga keberuntungan berpihak padaku kali ini." ucap Kyoya pelan.


Ia tersenyum hambar. "Karena jika aku yg berdoa, biasanya tidak berhasil."


Roger menatap iba. Mereka berdua hampir sampai di convention hall.


"Semoga keberuntungan selalu berpihak pada Anda sir, terutama saat ini." Roger berkata dengan sungguh-sungguh.


"Ayo kita temui para wartawan itu." ucap Kyoya, penuh tekad.


...***...


Semua mata di sepanjang meja itu memandangi dua orang yg duduk berjejeran.


Setelah kemunculannya yg mendadak, Ethan duduk di sebelah Lana dengan santai, seolah tidak pernah bicara apapun. Lana tidak bisa menolak, toh kursi di sebelah kanan nya memang kosong.


Tapi, Lana semakin tidak nyaman, setelah Ethan mengumumkan mereka adalah pacar dan telah menghabiskan malam berdua di TanBay.


"Terimakasih sudah mengundang saya, Bu Yuni. Suatu kehormatan bagi saya, bisa berada di sini." Ethan bicara dengan nada ramah. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Ia tersenyum ke arah atasan Lana yg tampak malu.


"Saya mengundang anda karena saran dari Monic, Pak Ethan. Juga karena ingin berterimakasih dan berharap hubungan kerja ini bisa berlanjut dengan baik."


Ethan mengulurkan tangan. "Kalau begitu selamat ulang tahun Bu Yuni. Semoga kebahagiaan senantiasa menyertai anda."


Bu Yuni menyambut tangan pria itu dengan sungkan, tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.


Bu Yuni mempersilahkan Ethan minum dan menikmati hidangan.


Ethan mengangkat gelas berisi bir. Laki-laki itu mengajak semuanya minum.


"Mari, bersulang untuk Bu Yuni."


Orang-orang mengikuti gerakannya.


Ethan mengendik ke Bu Yuni, "Sukses untuk Bu Yuni!" disambut yg lain yg juga berseru 'Sukses untuk Bu Yuni'.


Lalu mereka semua menenggak bir di gelas masing-masing. Ethan menaruh gelasnya paling awal, lalu melihat Lana yg satu-satunya tidak minum bir.


"Ini untukmu, Lana." Monic menyorongkan gelas berisi bir. Tahu kalau gadis itu hanya minum teh saja.


Lana menatap Monic kesal. Apalagi sih bocah ini!


Tapi sebelum Lana mengulurkan tangan, Ethan terlebih dulu menyambar gelas itu dan menenggaknya habis.


Ethan menaruh gelas itu di meja dengan bunyi tak keras. Laki-laki itu menatap tajam Monic tapi bibirnya tersenyum ramah.


"Maaf, aku tidak mengijinkan Lana minum. Sejak dulu kebiasaannya saat minum adalah pingsan. Sangat berbahaya bukan?" Ethan menatap Lana, matanya bersinar menggoda.


Lana reflek memberengut. Lalu mulai tak nyaman dengan sikap Ethan.


Monic menatap keduanya dengan api terpancar dari bola matanya.


"M-maaf Bu.." Lana memutuskan bicara ke Yuni.


Yuni yg sedang asyik makan gorengan, mengangkat kedua alis. "Ya Lana?"


Lana tampak menyesal. "Maafkan saya karena tidak sopan, tapi saya mohon ijin untuk pulang duluan. Ada keperluan mendadak bu."


Yuni tersenyum memaklumi. "Its ok Lana, terimakasih sudah datang kemari."


"Saya yg berterimakasih sudah diundang, sekali lagi selamat ulang tahun bu." Lana bersiap-siap berdiri.


Disebelahnya, Ethan juga bangkit dari kursi. Lana menatap heran. Kenapa laki-laki ini juga berdiri, dia kan baru sampai? batin Lana.


Pria itu mengangsurkan sebuah tas jinjing berbentuk kotak pada Yuni.


"Ahh kalau begitu saya juga ijin pamit Bu. Maafkan saya terlambat karena tadi ada rapat dengan mitra Kukar, baru selesai. Oia ini, ada hadiah kecil untuk anda."


Yuni menerima hadiah itu dengan sumringah. Lalu mengucapkan terimakasih banyak.


Lana mau tak mau membungkuk salam dengan Ethan di sebelahnya yg juga pamit, dibalas Yuni membungkuk sopan. Lalu mereka berdua berjalan pergi.


Monic menatap keduanya yg berjalan menjauh dengan ekspresi murka.


Tiba-tiba terdengar suara penyiar berita dari televisi berukuran cukup besar yg tergantung di dinding atas, sehingga semua orang di restoran itu bisa melihatnya.


"Selamat malam pemirsa KNewsChanel, saya Anita Wisman, saat ini saya berada di MarinaBay Resto untuk meliput konferensi pers yg diadakan oleh MT Corporation secara live."


"Para awak media sudah berkumpul di sini, sedang menunggu kehadiran CEO MT Corporation, Koijima Kyoya, yang akan memberikan klarifikasi terkait isu-isu yg sedang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Mari kita saksikan."


Mendengar nama MT Corporation disebut di berita, karyawan PPIC di restoran itu merasa terpanggil.


Orang-orang di meja Yuni langsung diam dan menoleh ke televisi.


Wajah mereka tampak tegang, mata mereka terpaku ke layar yg menampilkan kamera menyorot sebuah meja besar panjang bertaplak putih rapi dengan tumpukan mic yg berjejer dengan berbagai macam nama stasiun tivi. Tiga kursi biru di balik meja itu masih kosong.


"MT Corporation sendiri adalah perusahaan internasional yg bergerak di bidang properti, merajai sebagian besar properti di negara ini.. " Suara penyiar kembali terdengar, tapi kamera masih menyorot kursi yg kosong.


Dan tiba-tiba muncul.


Sosok CEO MT Corporation, Koijima Kyoya memakai setelan rapi jas hitam terlihat berjalan di balik meja. Di belakangnya muncul juga ajudan setianya.


Orang-orang di meja Yuni sontak bersorak melihat kemunculan orang nomor satu di perusahaan mereka itu, pengunjung lain sampai heran.


"Dapat Anda saksikan pemirsa, CEO MT Corporation, Koijima Kyoya terlihat sudah memasuki ruang konferensi pers.. " Suara penyiar terdengar lega.


Koijima Kyoya duduk dengan elegan dan mantap di kursi biru di tengah. Menatap lurus ke kamera dan tersenyum berkharisma.


Beberapa karyawati di meja Yuni meleleh sambil memegangi jantung mereka.


"Baik pemirsa, sepertinya konferensi pers secara live ini akan segera dimulai. Mari kita saksikan bersama.. "


Koijima Kyoya menatap tajam ke depan. Suaranya terdengar tegas dan berwibawa.


"Selamat malam, saya Koijima Kyoya, CEO MT Corporation.. "


...***...