
Masih flashback, bagian akhir..
Lana pulang ke kosan dengan langkah sedikit ringan. Dia terhenti tepat di gerbang masuk kos. Cika sedang mondar mandir gelisah dengan telepon melekat di telinga.
Begitu melihat Lana, Cika langsung berlari dan memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
Cika menangis, mengumpat kesal dan mengomel. Lana tahu betapa khawatirnya Cika saat tahu Lana tidak ada di kosan dan ponsel Lana tidak bisa dihubungi. Pasti Cika panik dan cemas setengah mati.
Lana tersenyum samar, lalu balas memeluk sahabatnya itu penuh sayang.
Begitu masuk ke kamar, Cika langsung mencecar Lana dengan rentetan pertanyaan, menuntut agar Lana menjawabnya jujur.
Teringat kata-kata pria di rumah abu tadi pagi, Lana memilih untuk menceritakan semuanya pada Cika. Cika mendengarkan setiap kata dengan ekspresi bingung lalu terkejut, kemudian berubah murka.
Cika bahkan sampai berdiri dan mengumpat dengan segala jenis hewan yg ada di kebun binatang saking marahnya.
"Gila ya laki-laki itu! Tega banget. Dasar si setan. Emang bener sesuai namanya. S-Ethan!!" maki Cika emosi.
Detik berikutnya Cika memeluk Lana erat-erat, "Syukurlah kamu datang ke rumah abu Lana. Aku pengen bilang terimakasih yg mendalam pada pria yg kau temui di rumah abu. Kalau bukan karena dia, kamu pasti sudah.. huhuhu.." Cika menangis histeris.
"Dasar Lana bodoh! Bodoh! Kenapa selama ini kamu diam saja sih, kenapa kamu sampai berpikiran bunuh diri! Kan ada aku, kenapa kamu gak cerita sama aku. Kenapa kamu simpan semuanya sendiri, dasar bodoh."
"Syukurlah kamu masih hidup Lana..huhuhu.."
Lana jadi ikut menangis. Benar, hampir saja dia bertindak bodoh. Kehilangan sahabat baik seperti ini. Lana sungguh menyesalinya.
Mereka saling berpelukan dan menangis entah untuk berapa lama.
Yang pasti, kini semua tak lagi terasa buruk. Lana merasa bisa menghadapinya sekarang. Bersama bayi kecil yg tumbuh di rahimnya, Lana siap memulai hari esok yg mendebarkan.
Keesokan hari Lana membersihkan diri juga kamarnya hingga segar dan wangi. Lana membuka semua jendela, membiarkan angin dan udara luar masuk sehingga kamarnya tidak lagi gelap dan pengap.
Lana berangkat kuliah dengan was-was, meski tak seberat yg ia pikirkan, ternyata semuanya masih sama dan baik-baik saja. Benar kata pria di rumah abu itu.
Beberapa dosen dan teman-teman Lana bertanya khawatir mengapa Lana sampai beberapa hari tidak masuk. Lana menjawab sedang sakit dan butuh waktu untuk pemulihan. Meski begitu masih saja ada oknum-oknum yg bergosip buruk tentang Lana.
Lana tak lagi ambil pusing, toh tak ada yg bisa ia lakukan untuk membuat mulut-mulut itu diam.
Kini saat di kampus Lana lebih suka memakai jaket atau pakaian oversize. Memang sengaja agar perut membuncitnya tidak kelihatan. Sampai perut ini tidak bisa lagi disembunyikan, Lana akan mencoba menikmati saat-saat terakhirnya berkuliah.
Lana berencana cuti kuliah jika bayi ini sudah semakin besar. Setelah bayi ini lahir, ia akan memberitahu ibunya, entah dengan cara apa memohon ampun lalu meminta tolong untuk membantu merawat si bayi agar Lana bisa melanjutkan studi akhirnya. Meski harus tertunda satu tahun, Lana bisa kembali kuliah untuk menyelesaikan skripsi, lalu lulus dengan nilai baik. Dengan gelar dan nilai itulah Lana bertekad mencari pekerjaan yg layak untuk menghidupi bayinya. Ia ingin menjadi ibu yg bisa dibanggakan oleh anaknya kelak.
Itulah semangat dan tujuan hidupnya kini. Lana benar-benar berterimakasih pada pria di rumah abu. Lana yg sekarang, tak akan lagi dengan mudah berpikiran untuk bunuh diri. Karena ternyata ada banyak hal indah disekitarnya yg patut dia syukuri.
Hari-hari Lana disibukkan dengan mengejar ketertinggalannya karena tidak hadir di kelas lumayan lama. Meski lelah, Lana tak lupa untuk menjaga kesehatan diri juga bayinya. Cika sering datang mengantar buah-buahan dan makanan yg baik untuk kandungan.
Lalu seminggu kemudian, Lana bersama Cika pergi ke dokter kandungan untuk cek usg. Lana yg membuat keputusan ingin pergi kesana. Karena ia pikir, setelah usahanya untuk membuat bayi ini gugur, Lana merasa bersalah. Ia ingin memastikan bayi ini baik-baik saja, tumbuh sehat dan mendapat nutrisi yg cukup. Dokter kandungan pasti tahu vitamin apa yg Lana butuhkan.
Saat perawat akhirnya memanggil nama 'ibu Lana', Lana dan Cika masuk ke dalam ruangan periksa dengan wajah gugup.
Dokter bertanya tentang data diri Lana. Lana menjawab sudah menikah satu tahun, suaminya sedang bekerja di luar kota sehingga dia datang ditemani oleh adiknya. Dokter wanita itu tidak tampak curiga, syukurlah.
Dokter itu menyuruh Lana berbaring di kasur pasien. Lana memperhatikan perawat membantu membuka kemeja Lana hingga perut Lana terlihat, lalu mengoleskan gel yg terasa dingin di kulitnya. Dokter kemudian menempelkan alat USG ke perut Lana yg basah oleh gel tadi.
Dokter menatap layar di sebelah kasur. Lana dan Cika bahkan sampai menahan nafas, ikut memperhatikan layar yg dominan hitam dengan corak abstrak abu-abu itu.
"Kita lihat ya.." Dokter itu mulai menggerak-gerakkan alat USG ke sekitar perut Lana.
"Usia kandungan ibu sudah memasuki 8 minggu." Dokter itu bicara, matanya menatap lurus ke layar. "Nah, ini bayinya, masih sangat kecil ya. Seukuran buah stroberi." tunjuk sang dokter ke gumpalan hitam yg bergerak-gerak di layar.
Lana menatap layar dengan mata berkaca-kaca. Itu bayinya, bayi sungguhan, yg saat ini sedang tumbuh di dalam rahimnya.
"Lho kenapa menangis bu?" Dokter itu mengusap lembut tangan Lana yg terisak. Cika yg berdiri disebelah Lana juga terharu.
Lana tak kuasa menjawab.
"Janin ibu sehat, tapi masa-masa ini masih rawan. Saya sarankan ibu lebih berhati-hati dan rutin konsumsi makanan yg banyak mengandung asam folat seperti ikan, telur, daging. Hindari makanan yg tidak dimasak matang atau setengah matang ya bu Lana. Semoga ibu dan si bayi sehat selalu."
"Baik dok, terimakasih." Cika yg menjawab demi melihat Lana masih terisak. Begitulah, dokter itu meresepkan vitamin yg rutin harus Lana minum.
Disepanjang jalan pulang, Cika tampak sangat gembira. Dia bilang seperti mendapat keponakan baru. Dia tak sabar ingin bayi itu cepat tumbuh besar, ingin tahu bayi itu laki-laki atau perempuan.
Lana dan Cika akhirnya jadi berdebat sebaiknya bayi itu laki-laki atau perempuan. Lana ingin bayi perempuan, sementata Cika ingin bayi laki-laki.
Lana sangat bahagia sekarang, ia juga tak sabar menanti hari itu tiba.
Kamu laki-laki atau perempuan nak..
Tanpa Lana tahu, jawaban dari pertanyaan itu tak akan pernah bisa ia dapatkan.
...***...
Lana was-was, beberapa hari ini perutnya sesekali terasa sakit. Meski tidak parah, tapi rasa sakit yg melilit itu membuatnya khawatir.
Padahal Lana sudah rutin mengkonsumsi vitamin, menjaga aktifitas dan makanannya. Hanya saja Lana sangat stres menghadapi tugas-tugas dan persiapan menuntaskan sks nya sebelum mengajukan cuti kuliah.
Lana sudah tidak lagi menjabat di BEM, dia mengundurkan diri dengan alasan mengada-ada yg membuat banyak orang protes. Lana tak ambil pusing, rutinitas kelasnya saja sudah menguras stamina dan energi Lana.
Sejak hari usg itu, Lana jadi mudah lelah. Dan mudah lapar. Dia tidak mual, juga tidak morning sickness. Anak baik, selalu begitu puji Lana sambil mengelus perutnya.
Lana sedang berjalan sepulang kuliah, hendak menemui Cika di rumah makan all you can eat. Cika ulangtahun hari ini, jadi dia berjanji akan mentraktir Lana makan enak. Lana sudah membayangkan makanan apa saja yg ingin ia makan.
Lana mendekati belokan tempat ia janjian dengan Cika. Pikiran Lana sibuk membayangkan urutan makanan apa yg akan dia ambil duluan. Sup terlebih dulu, menyeruput kuah sup yg hangat dan gurih tentu enak banget di cuaca mendung seperti ini. Lalu pasta, aku mau yg makaroni, kemudian..
TIIIINNN!!
Lana melonjak kaget mendengar bunyi klakson yg membahana. Disusul suara decitan rem yg memekakkan telinga. Detik berikutnya entah datang darimana sebuah minibus melaju kencang menghantam tubuh Lana.
Gadis itu melayang beberapa meter lalu ambruk di pinggiran trotoar. Pingsan. Sementara minibus berdecit tak terkendali, menukik lalu menabrak deretan pot bunga dengan bunyi BAM keras. Asap putih mulai mengular keluar dari kap mobil yg penyok.
Orang-orang berteriak panik. Diantara kerumunan itu, Cika menyelinap dan syok mendapati sahabatnya tergeletak bersimbah darah. Terlebih lagi, darah segar mengalir keluar dari balik rok selutut yg Lana pakai. Warna merah itu sangat kontras, mengalir membentuk liukan sungai kecil di kulit betis Lana yg putih.
"Tidak, Lana.."
...***...
Cika menunggu di UGD dengan panik. Dia mondar mandir sambil menggigiti kuku jempolnya. Bagaimana ini, apa yg harus dia lakukan sekarang.
Cika melihat ke pintu yg menutup beberapa detik lalu, ingin rasanya ia memutar balik waktu. Menghapus adegan mengerikan yg barusan terjadi.
Setelah semua kepanikan dan kekacauan sore itu, kecelakaan yg diakibatkan supir minibus mengantuk sehingga mobil hilang kendali lalu menabrak seorang gadis, Lana dibawa ke rumah sakit terdekat dengan mobil dari seorang bapak yg berbaik hati mengantarkan.
Cika menjelaskan situasinya pada perawat saat membantu memindahkan Lana ke kasur pasien. Bergegas mereka menuju ruang UGD. Cika juga menjelaskan kalau Lana sedang hamil muda.
Mendengar itu, perawat dan seorang dokter jaga segera mengambil tindakan. Mereka membawa alat USG untuk memastikan bayi Lana baik-baik saja. Naas, dokter itu tidak bisa mendengar ataupun mendeteksi detak jantung si bayi.
Lana yg berdarah-darah masih belum juga sadarkan diri, akhirnya dokter membawa Lana ke ruang operasi. Perawat memberitahu Cika bahwa bayi Lana sudah meninggal, sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Cika membekap mulut, syok. Dokter meminta persetujuan Cika untuk mengambil tindakan kuretase juga tindakan operasi karena kaki Lana patah juga ada indikasi Lana gegar otak ringan.
Kini Cika sedang menunggu dengan harap-harap cemas. Dia tak tahu harus bilang apa pada Lana jika nanti sahabatnya itu sadar. Kemana bayinya? Kenapa bayi itu meninggal?
Bahkan, Cika tak tahu apakah masih bisa bertemu Lana lagi setelah ini.
Semoga kamu selamat Lana, semoga operasinya berjalan lancar, semoga kamu baik-baik saja..
...***...