Between

Between
Bab 29 Lift



"Bagaimana kalau Brasato Al Barolo? Restoran yg enak cukup dekat dari sini." tanya Kyoya.


"Brasat- apa?" Lana bingung. "Itu nama makanan?"


Terdengar Kyoya tertawa di seberang sana. "Itu makanan Itali, Lana. Sejenis daging sapi yg diasinkan, diberi bumbu wine barolo dan disajikan dengan kentang tumbuk." Kyoya tampak berpikir. "Tapi mungkin kamu kurang suka dengan rasanya."


"Kalau pasta saja bagaimana?" Lana resmi mengucapkan salam perpisahan pada daging sebagai makan malamnya.


"Bagaimana kalau Penne all'arrabbiata? Kamu suka makanan pedas kan."


"Tidak bisakah kita makan makanan manusia, yg normal dan biasa?" Lana bertanya serius, tapi diujung sana Kyoya sekali lagi tertawa.


Lana memperhatikan di deretan lift yg lainnya hanya tinggal beberapa orang saja. Dua lift di sebelahnya sudah terbuka dan orang-orang itu masuk.


"Itu makanan manusia, Lana. Pasta pedas." Kyoya menjelaskan dengan sabar.


"Maaf, yg aku tahu hanya spagetti saja." Lana dengan tidak sabar mengetukkan sepatu fantofelnya. "Kalau makan dimsum yg hangat, bagaimana?" Tiba-tiba terbayang kepulan asap dimsum yg baru keluar dari kukusan pasti enak sekali di cuaca yg dingin ini.


"Kamu harus makan karbohidrat, Lana. Setidaknya noodle." Sekali lagi Kyoya terdengar sabar.


Lana menghela nafas. Lana menyadari sebentar lagi liftnya akan sampai di lantai dua, tempatnya berada.


Akhirnya lift Lana tiba juga. Lana bergerak maju agar bisa segera masuk begitu pintu lift terbuka.


Ting, pintu lift terbuka. Sambil menjawab telepon, Lana bergegas masuk karena tidak ada orang lain yg keluar dari lift.


"Kalau begitu McoDonado? Ada nasinya." Lana menekan tombol dan pintu lift menutup. Lana berdiri memunggungi dua orang yg sudah ada di lift terlebih dahulu. Lana fokus pada ponselnya.


"Jika bisa makan makanan yg sehat, kenapa kamu memilih junkfood?" Terdengar suara Kyoya dari telepon Lana, dan juga dari balik punggung Lana.


Lana menoleh dan terkesiap.


Kyoya sedang berdiri bersandar dengan tangan kanan memegang ponsel di telinganya, tersenyum melihat Lana yg kaget bukan kepalang. Roger disebelah Kyoya, menganggukkan kepala memberi salam. Mereka berdua memakai setelan jas hitam. Kyoya berdasi biru tua, Roger hitam.


Lana bergerak menghampiri Kyoya. Ia berdiri di sebelah kiri pria itu. Sementara Roger di sebelah kanan Kyoya.


"Senang sekali bisa bertemu denganmu lebih cepat." Kyoya menatap Lana penuh sayang. Lelaki itu mengusap rambut Lana lembut.


Lana ikut tersenyum. "Iya, ini adalah pertama kalinya kita bertemu di lift setelah setengah tahun aku bekerja di sini. Sungguh kebetulan sekali, bukan?"


Kyoya berbisik, "Inilah yg namanya takdir."


Mendadak Roger terbatuk dan Kyoya melirik nya tajam.


"Maaf sir, pintu lift bisa tiba-tiba terbuka dan orang lain bisa terkejut melihat tangan anda." Roger mengingatkan.


Lana segera menarik diri menjauh. Perkataan Roger ada benarnya. Kyoya memandang tangannya yg menggantung di udara, meremasnya lalu menurunkannya.


"Restoran pasta, kalau begitu?" tanya Kyoya memastikan.


Lana berbisik, "Apakah Roger akan ikut kita makan malam?"


Kyoya menjawab dengan nada sarkas. "Roger punya urusannya sendiri yg harus diselesaikan, tenang saja." Kyoya melirik ajudannya. "Benar begitu kan Roger?"


Roger mengangguk. "Tenang saja nona, saya tidak akan mengganggu kencan anda berdua."


Lana jadi merasa bersalah sudah mengajukan pertanyaan itu. Walau Roger terlihat biasa saja, Lana merasa terkadang Kyoya agak keras dalam memperlakukan ajudannya.


"Mm.. Hotpot tidak seburuk itu. Bagaimana-"


Tiba-tiba pintu lift terbuka dan masuklah beberapa orang. Lana langsung menghadap ke dinding, msmbelakangi Kyoya. Orang-orang itu juga terkejut melihat keberadaan Kyoya, mereka membungkuk memberi salam dengan hormat. Kyoya menganggukkan kepala, tersenyum tipis.


Lana menempelkan ponselnya yg ternyata masih tersambung ke ponsel Kyoya. Lana berpura-pura menelepon.


Kyoya berdiri agak serong menghadap Roger, sedikit membelakangi Lana. Tangan kanan Kyoya yg memegang ponsel terarah ke telinga.


"Hasilnya sudah diputuskan. Aku tidak akan mengubah jawabanku." Kyoya berkata kepada ponselnya.


Orang-orang mengobrol pelan, sebagian menguping pembicaraan Kyoya. Mereka tidak tahu, meski terdengar berbeda sebenarnya Kyoya dan gadis disebelahnya sedang berkomunikasi satu arah.


Lana menghela nafas. "Kalau memang semua menu bergantung pada seleramu, kenapa bertanya apa yg ku suka?"


Kyoya melirik gadis yg sedang menghadap ke cermin itu, dari pantulan bayangannya terlihat gadis itu cemberut dan bicara sendiri tanpa suara seperti sedang mengejek seseorang.


Kyoya menahan senyumnya. "Persetujuan dari kedua belah pihak adalah salah satu kunci dari berhasilnya suatu proyek. Jadi bagaimana? Apa pihak kedua setuju?"


Lana berkata, "Oke pasta, yg namanya tidak susah dan rasanya tidak asing dilidahku." Kalau dari awal memang akan makan pasta, kenapa harus berputar-putar menawarkan ini itu. Lana masih kesal.


Kyoya bicara pada telepon. "Baiklah, sesuai perjanjian. Proyek bisa berjalan lancar karena kedua belah pihak akhirnya setuju."


Ujung bibir Roger naik sedikit. Lucu sekali tingkah atasan dan kekasihnya ini, jika orang lain tahu bahwa mereka sebenarnya sedang membicarakan makan malam yg rumit.


Kyoya menutup telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam jas. Lana juga menutup telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam tas katun di pundaknya. Lalu keduanya diam.


Orang-orang keluar satu persatu di lantai bawah. Akhirnya tinggal mereka bertiga lagi.


Ting, lift itu berhenti di basement. Pintu terbuka dan Kyoya melangkah keluar diikuti ajudannya. Lana bergegas menyusul.


Pintu lift menutup dan naik ke lantai atas. Lana yg menyadari Kyoya dan Roger sedang memandanginya mendadak menjadi salah tingkah.


"A-aku akan menunggu di pintu keluar parkiran saja." Lana berkata lalu hendak pergi. Tapi tangannya ditahan seseorang. Lana menoleh dan mendapati Kyoya menggenggam jemarinya erat.


"A-aku-"


Belum sempat Lana selesai bicara, Kyoya menarik tangan Lana, melangkah cepat ke tempat parkir. Mereka berjalan bergandengan tangan.


"A-a t-tunggu," Lana tergopoh-gopoh mengikuti langkah lebar Kyoya.


"Pak, bagaimana jika ada yg melihat?" Roger bergegas membuntuti di belakang, berusaha mengimbangi langkah Kyoya.


Mendengar kalimat Roger yg ada benarnya, Lana berusaha menarik tangannya tapi Kyoya menggenggam semakin erat.


"Roger benar, ini berbahaya. Tolong anda lepaskan." Lana memohon.


Kyoya tidak peduli, dia terus berjalan dengan menggandeng tangan Lana. Lana menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada siapapun yg melihat selain Roger. Tapi toh tempat itu sangat sepi, hanya ada mereka.


Kyoya sampai di mobilnya yg terparkir di VIP. Kyoya menunjukkan tangannya yg menggenggam jemari Lana ke depan wajah Roger.


"See? Tidak ada siapapun disini, tidak ada yg melihat." Kyoya mengeluarkan car key dari saku jas dan menekan kuncinya.


Roger membungkuk memberi salam. "Saya hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk, sir. Kalau begitu saya pamit dahulu. Semoga kencan anda menyenangkan."


Kyoya menjawab terimakasih Roger, selamat beristirahat juga untukmu. Sementara Lana balas membungkuk dengan sopan.


Roger berbalik pergi menuju sebuah mobil hitam lain di ujung parkiran. Lana terus memperhatikannya sambil bergerak masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Kyoya.


Beberapa menit kemudian mobil Roger melaju dan menghilang. Kyoya yg selesai memasang sabuk pengaman di kursinya, menyetel lagu Andmesh kesukaan Lana lalu menoleh.


"Siap berangkat nona Lana?"


Lana tersenyum. "Siap,pangeranku."


Kyoya tertawa kecil, mulai memasukkan perseneling dan menginjak pedal gas. Mobil pun melaju keluar dari parkiran.


...***...