
Lana merapikan rambut, lalu memasukkan kemeja nya yg berwarna pink pastel ke dalam rok hitam selutut.
Rona wajahnya sudah kembali segar. Syukurlah Lana sudah sembuh setelah istirahat yg sangat cukup selama tiga hari.
Hari ini hari Rabu.
Lana sedang bersiap-siap berangkat kerja. Lana sangat kangen dengan rutinitas dan kesibukan bekerja di MT Corporation. Selama sakit dia hanya berbaring di kasur seharian, sangat membosankan.
Kyoya juga tidak datang lagi menjenguknya. Karena hari minggu dia mendadak ada kunjungan meninjau Amary Hotel di kota TanBay. Lalu hari senin jangan ditanya, hari paling sibuk untuk kekasihnya karena hari pertama kerja setelah weekend. Berkas yg perlu dia periksa maupun yg perlu dia tandatangani dan jadwal meeting yg menunggu sudah melampaui batas. Hari selasa juga sama. Kyoya amat sangat super sibuk.
Meski tidak bisa bertemu sama sekali, setiap hari ada saja kurir yg datang mengantarkan kiriman dari Kyoya.
Hari minggu kurir membawakan sebuket bunga berwarna putih pink yg harumnya menenangkan serta satu rantang bubur abalone yg sangat lezat. Hari senin datang lagi kurir mengantar sebuah boneka beruang berukuran sedang dan sekotak sushi bento. Hari selasa datang kurir membawakan dua stel pajama bermotif lucu, dua novel romance dan satu set nasi dengan sup daging dan seafood.
Karena itu Lana bisa pulih dengan cepat, selain berkat obat-obatan juga, Kyoya memastikan Lana mengkonsumsi makanan yg sehat dan penuh energi.
Malam hari selasa nya Kyoya menghubungi lewat video call. Lana memeluk boneka beruang pemberian Kyoya dan mereka mengobrol banyak. Saling bertukar rindu. Kyoya bilang dia iri sekali dengan beruang yg sedang dipeluk oleh Lana itu. Andai beruang itu dirinya. Lana hanya bisa tersipu.
Kembali ke masa sekarang. Lana mengemasi barang-barangnya lalu membuka pintu. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Lana melihat ada satu pesan yg masuk. Dari Bu Yuni.
Hari ini ada meeting besar membahas proyek kota Naruyama dg semua vendor dan pihak ketiga. Jam 9 di meeting room lantai 5, kamu yg hadir ya. Aku ada rapat lain di NusaDua. (Yuni)
Lana mendesah. Itu berarti hari ini dia akan bertemu dengan Ethan. Baru sembuh sudah bertemu dengan laki-laki itu lagi.
Lana teringat telepon dari Bu Yuni pada malam hari senin kemarin. Bu Yuni cerita kalau dia akhirnya harus mengajak Monic, rekan kerja Lana di PPIC, untuk datang meeting yg kedua di PT. NaThan. Yuni menjelaskan betapa wajah Pak Ethan langsung muram begitu melihat yg datang bukan Lana. Dan sajian kue saat itu pie brownies yg katanya kesukaan Lana. Sepanjang meeting, CEO perusahaan itu berkali-kali bertanya tentang Lana. Kenapa bukan Lana yg datang untuk meeting, Lana sakit apa, apa dia baik-baik saja dan sebagainya. Lalu saat mobil Yuni hendak pergi setelah meeting selesai, Jesica tiba-tiba muncul dan memberikan sekotak pie brownies dengan pesan dari Pak Ethan untuk memberikannya pada nona Lana. Gila banget kan! Karena Yuni tidak tahu rumah Lana dan tidak mau mengganggu istirahat anak buahnya yg sedang sakit itu, maka brownies malang itu dibawa ke kantor dan dimakan bersama-sama rekan yg lain.
Lana mengunci pintu sambil menahan gemas. Kenapa Ethan begitu jelas menunjukkan sikap berusaha baik demi mengambil hati Lana. Toh hati Lana sudah membeku terhadapnya. Rasa yg pernah ada itu sudah sirna. Sudah lenyap.
Sambil menyemangati diri, Lana mencangklong tas katunnya yg biasa dipakai lalu mulai melangkah menuju halte.
...***...
Lana sedang berdiri menunggu di dalam lift. Sambil mendekap tas berisi laptop dan berkas-berkas jembatan Naruyama. Lift yg hanya berisi Lana itu berhenti di lantai tiga.
Menyadari satu sama lain, Lana dan pria itu sama-sama terkejut. Lana tercekat, sial, kenapa harus bertemu dia di sini sih?
Pria itu tersenyum lalu berdiri di sebelah Lana.
Sambil tertawa kecil pria itu berkata, "Aku tersesat, kantor ini luas sekali ya. Apa kau juga pernah tersesat di kantor ini?"
Lana tetap menatap ke depan.
Dengan nada ketus dia menjawab, "Hanya orang bodoh yg bisa tersesat di sini. Aku bukan salah satunya."
Sudut bibir pria itu tertarik ke atas. Lalu dengan nada biasa seolah tidak mendengar jawaban Lana, pria itu bertanya ramah, "Bagaimana kabarmu? Kudengar kau sakit beberapa hari lalu."
Lana menggertakkan gigi menahan kesal.
"Jangan ajak aku basa-basi yg sangat tidak perlu ini. Hubungan kita HANYA sebatas mitra kerja. Hentikan keinginan konyol mu yg berharap aku akan memperlakukanmu sama seperti dulu." Lana berkata tegas.
Pria itu diam, berusaha mencerna setiap kata yg terucap dari mulut Lana.
Lalu ia tertawa kecil dan bicara, "Itu hanya overthinking mu saja nona. Aku bertanya kabarmu hanya untuk memastikan apa kau sudah benar-benar sehat. Aku tidak mau tertular, juga tidak mau sakitmu itu jadi penyebab proyek ini tidak berjalan dengan baik."
Pria itu bersandar sambil melirik ekspresi wajah Lana yg semakin mengeras.
Lana tidak menyahut. Hanya diam berusaha menahan marah. Jahat, pria ini benar-benar jahat. Awas saja.
Syukurlah lift sampai juga di lantai lima.
Saat pintu lift akhirnya terbuka, Lana langsung melangkah keluar dengan tidak menoleh sedikitpun. Ethan Arkam tersenyum samar melihat sosok Lana yg menjauh.
...***...