
Makasih untuk kak @pit_yella atas kerja kerasnya menulis bagian ini 🤗
.
.
Yoo Ran yang duduk di tepian kolam renang sibuk melamun selagi sebungkus permen caramel pemberian Sehun—semalam—tengah ia kunyah lembut di dalam mulutnya. Yoo Ran sudah menegaskan bahwa sebenarnya dia tidak begitu suka makanan manis tapi mungkin Sehun benar, permen caramel ini cukup berguna ketika pikirannya sedang kacau.
Yoo Ran banyak berpikir bahwa kesendiriannya selama ini menjadikan dirinya memiliki sifat egois dan pemilih. Pernah sekali itu Yoo Ran disakiti oleh seorang pria, merana, lalu terjebak pada rasa trauma yang berkepanjangan. Lagipula memiliki hubungan serius dengan seseorang dianggapnya sebagai hal yang merepotkan. Berkencan, saling memahami, dan mencoba untuk mengerti. Belum lagi saat keduanya harus dihadapkan pada hal-hal sepele yang bisa saja menjadi masalah besar. Membayangkanya saja Yoo Ran malas, apalagi menjalaninya. Yoo Ran bukan tipikal wanita yang ribet dan dia ingin segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Sayangnya Yoo Ran cukup tahu kehidupan macam apa di dunia ini yang tidak ada masalah, bukan?
"Kau marah ya padaku?"
Yoo Ran pura-pura tidak mendengar suara pria yang ada di sampingnya, yang dengan lancang menyusulnya datang kemari setelah keduanya pulang dari kantor.
Yoo Ran berpikir apa jika dia menjawab iya semuanya akan berubah? Tentu saja dia marah setiap kali Kai datang dan berulah. Belum lagi Kai memprotes kenapa dirinya terbangun tadi pagi di kamar Sehun dan bukan di dalam kamar Yoo Ran atau kamarnya sendiri? Memangnya siapa yang sudi mengantarnya pulang, sudah baik Yoo Ran menerima bantuan dari Sehun dan seharusnya Kai bersyukur akan hal itu.
"Kau rupanya cukup akrab dengan Sehun," sengaja Kai menggerakkan kakinya ke arah kaki Yoo Ran di dalam air, berusaha membuat Yoo Ran menoleh ke arahnya.
"Tidak begitu."
"Tapi sepertinya tetanggamu itu orang yang baik. Aku pernah mengobrol dengannya saat kami tidak sengaja bertemu di dalam lift."
Respon Yoo Ran hanya berdecih lirih, sekarang dia tidak perduli bagaimana Kai bisa mengenal Sehun meski semalam dia sempat ingin tahu tentang hal itu. Tapi biasanya para pria memang lebih mudah akrab dibanding wanita di pertemuan pertama mereka.
"Aku minta maaf," kata Kai lirih. "Kau tahu kan kadang hidup ini terasa tidak adil, merasa kesepian, dan sesekali kau butuh hiburan."
"Kau pikir aku ini hiburanmu?" Yoo Ran memberi tatapan sinis, menaikkan satu sudut bibirnya ke atas. "Jika itu mengenai urusanmu dengan selusin wanita yang kau kencani, kenapa tidak selesaikan langsung saja dengan mereka dan kenapa kau malah mendatangiku? Mabuk dan berulah di tempat orang lain kau pikir itu tindakan sopan?" Yoo Ran perlu menghirup nafas panjang sebelum kalimat selanjutnya terucap, "Aku kasihan dengan ibumu, kenapa dia bisa sampai melahirkan anak laki-laki brengsek yang bahkan bersikap sopan santun saja kau tidak bisa. Apa hidupmu hanya akan kau jalani dengan bermain wanita lalu meninggalkan mereka begitu saja dan mencari wanita baru lain yang bisa menyenangkan isi di dalam celanamu itu? Kau bisa terkena penyakit kelamin, apa kau tahu?"
Mata Kai berkedip-kedip memandangi riakan air yang dia ciptakan sendiri. Merasa lucu kenapa tiba-tiba Yoo Ran membahas mengenai ini-itu padahal dia hanya ingin minta maaf saja, tidak lebih.
"Sekarang aku ingin bertanya padamu," Yoo Ran sedikit mimiringkan duduknya untuk lebih jelas menghadap pada Kai," diantara Sarang, Yuna, Hyori atau Minji, siapa dari mereka yang resmi kau jadikan pacar?"
"Tidak ada."
Yoo Ran sudah menduganya, untuk itu dia tidak kaget saat mendengar jawaban yang terlontar dari Kai, "Lalu, siapa diantara mereka yang sudah pernah kau tiduri?"
"Eung...," Kai berpikir lumayan lama, "...semuanya mungkin."
"Apa kau benar-benar harus sebrengsek itu, yaa!!" Kai mengaduh kecil ketika Yoo Ran memukul keras sisi lengannya. Ekspresi geram Yoo Ran memaksa Kai sedikit mundur menghindar dari amukan berikutnya.
"Kau ini kenapa sih, apa masalahmu? Kau hanya tinggal memaafkanku dengan kata 'ya', tapi kenapa kau jadi menceramahiku? Kau pikir hidupmu sudah lebih baik dariku?" jari telunjuk Kai mengarah di bagian kantung mata Yoo Ran, memperjelas bahwa usia Yoo Ran sudah tidak muda lagi dan kenapa dia tetap menjadi wanita lajang di saat semua teman-temannya sudah menikah dan malah sebagian sudah menjadi ibu.
Yoo Ran yang tidak terima dicemooh oleh Kai memilih menjambak rambut depan pria itu, mendorong tubuh Kai hingga terjatuh ke dalam kolam. Sayangnya Kai bukan pria bodoh, dia malah menarik kaki Yoo Ran membuat keduanya saling tarik menarik dan memukul di dalam air.
Yoo Ran dan Kai adalah teman sejak kecil, sejak mereka masih sama-sama bermain hanya dengan memakai pakaian dalam saja hingga sedewasa sekarang. Meskipun Kai dan keluarganya sempat pindah ke Bussan dan selama hampir 8 tahun mereka tidak bertemu, pada akhirnya takdir membuat mereka kembali saling menyapa setelah diterima bekerja di perusahaan yang sama. Tidak ada yang tahu bahwa terkadang kita akan mengenal orang-orang baru, menjalani kehidupan bersama mereka, dan kemungkinan akan dipertemukan kembali dengan orang-orang di masa lalu dalam satu waktu itu. Seperti Yoo Ran yang melihat Kai dengan penampilan yang berbeda, namun sayang sifat pria itu tetap saja menurutnya tak berubah— penggoda dan menyebalkan.
"Kalau begitu traktir aku makan jika kau ingin aku memaafkanmu," satu pukulan mendarat tepat di tulang hidung Kai sebelum Yoo Ran berhasil menuju ke tepian.
-
Restoran milik Chanyeol lumayan ramai menjelang petang hari ini. Hanya tersisa sekitar 3 meja kosong dan di salah satu meja itu Yoo Ran serta Kai duduk saling berhadapan. Dua steak tenderloin dan dua gelas jus jeruk yang tersaji langsung mereka lahap dalam diam. Sebenarnya Kai ingin memilih menu lain tapi Yoo Ran sudah terlanjur memesankan menu yang sama untuknya. Entahlah, Kai selalu merasa Yoo Ran benar-benar menguasai hidupnya. Bahkan ibunya saja kerap menelepon Yoo Ran, menanyakan hal-hal yang membuat Kai jengah saat mendengarnya.
Yoo Ran sayang, apa putraku bekerja dengan baik di kantor? Jika dia melakukan hal-hal yang menjengkelkan, tolong kau beritahu aku. Kau juga boleh memukulnya kalau dia bersikap kurang ajar padamu. Dan jangan lupa ingatkan dia untuk selalu menjaga kesehatan. Titip dia disana untukku ya, sayang?
Jelas usia Kai sudah tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Heran saja ibunya yang ada di Bussan selalu tahu apa saja yang sedang Kai lakukan jika bukan karena aduan Yoo Ran yang kadang berlebihan. Kai sedang tidur nyenyak di apartemen, tapi Yoo Ran mengatakan bahwa Kai sedang keluar ke klub malam bersama teman-teman kantor. Atau parahnya Kai pernah mendengar sendiri ketika Yoo Ran memberitahu mengenai sejumlah wanita yang kerap Kai kencani di Seoul.
"Hey Yoo Ran, tahu tidak satu alasan kenapa banyak pria malas mendekatimu?" Kai yang kesal nekat mendatangi kubikel Yoo Ran yang berderet tak jauh dengan kubikelnya.
Yoo Ran sibuk mengetik jadi dia tidak memiliki waktu untuk merespon. Pekerjaannya menumpuk dan dia harus menyeleseikannya sebelum meeting dimulai.
"Karena kau itu wanita yang sok pintar, sok tahu segala isi dunia. Kau selalu menyimpulkan sesuatu dengan pemikiranmu sendiri dan kau tidak suka seseorang membantah apapun ucapanmu."
Yoo Ran menghentikan aktifitasnya sejenak hanya untuk menatap siapa orang yang sedang mengajaknya berbicara. Satu alisnya terangkat tinggi-tinggi tapi hal itu tidak membuat Kai pergi dari sisinya.
"Kau boleh berpikir kau itu wanita yang keren, tapi kau mungkin tidak sadar sikapmu itu justru membuat banyak orang jadi membencimu. Sesekali kau harus belajar memahami orang-orang di sekitarmu, termasuk tidak perlu repot-repot memperdulikan urusan hidupku!"
"Siapa yang mau perduli dengan hidupmu? Jangan menggangguku!!!"
Pertengkaran itu terjadi sudah lama, hanya saja Kai tidak pernah melihat Yoo Ran merubah sikapnya. Wanita itu selalu berusaha tampak kuat, melakukan segala sesuatu sendiri, terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga kadang nasehat orang lain Yoo Ran abaikan begitu saja.
"Boleh aku bergabung?" cengiran Chanyeol membuat keduanya mendongak lalu Kai mengangguk setuju.
"Jangan memperkeruh suasana!"
Kai ingin sekali melempar wajah Yoo Ran dengan pisau di tangan kanannya. Apa dia tidak bisa sedikit saja berbicara halus dengan seseorang? batinnya kesal.
"Sudah kuduga, wajah kalian ini seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar," Chanyeol menarik sebuah kursi kemudian duduk menyebelahi Yoo Ran yang masih berkutat dengan makan malamnya.
"Dia sedang PMS."
"Kau tidak perlu berkomentar apapun, habiskan saja makananmu!" rupanya ucapan lirih Kai pada Chanyeol ditanggapi serius oleh Yoo Ran.
"Makan tidak perlu sambil marah-marah begitu," Chanyeol menasehati sembari terkekeh kecil. "Kau itu sama saja seperti sedang mengoleksi kerutan di wajahmu. Apa akhir-akhir ini hidupmu sedang tidak baik?"
"Kalau itu jangan ditanya," justru Kai yang lebih dulu menjawab. "Hidupnya kan memang miris."
Yoo Ran sengaja mengiris potongan daging terakhirnya sampai tandas pada tatakan yang menimbulkan bunyi gesekan ngilu di telinga.
"Bagaimana dengan menonton film denganku? Kurasa kau memang butuh refreshing Ran," pendapat Chanyeol seharusnya menjadi ide yang baik dan Yoo Ran perlu untuk memikirkannya.
"Seperti tidak tahu seleranya saja, dia kan..," bola mata Kai seketika melebar dibarengi dengan posisi duduknya yang mundur ke belakang ketika pisau milik Yoo Ran sudah teracung tepat di hadapannya. "Astaga, kenapa sejak tadi kau seperti ingin membunuhku sih? Kau ini benar-benar mengerikan!"
Yoo Ran tidak perlu menjelaskan kenapa dia berubah sejengkel sekarang. Serius, Yoo Ran ingin menyumpal mulut Kai dengan segenggam remahan biskuit kadaluarsa. Mungkin Chanyeol yang paling mengerti alasan kenapa Yoo Ran uring-uringan hampir beberapa bulan terakhir ini. Pertanyaan seputar kapan dirinya menikah dan berkeluarga sudah sering Yoo Ran dengar dari mulut ibunya serta saudara-saudaranya yang lain. Hanya saja, dengan siapa Yoo Ran harus menikah jika pacar saja dia belum punya. Masalah yang paling serius adalah Yoo Ran tidak mau jatuh cinta, tidak mau terikat dengan sebuah komitmen. Tapi Yoo Ran ingin memberikan seorang cucu untuk ibunya dan hal itu membuat seisi kepalanya nyaris meledak hebat.
"Aku akan memberimu bonus segelas ice cream rasa mocca, tunggu sebentar," Chanyeol mengangkat sebelah tangannya pada seorang pelayan untuk mendekat. Pria itu memahami betul perasaan Yoo Ran yang sedang diambang kehancuran dan perlu sedikit memberi ketenangan untuk mereda emosinya yang meledak-ledak.
"Aku juga mau satu yang rasa vanilla."
Chanyeol langsung melirik Kai dengan sengit, " Kau pikir restoran ini milik nenekmu?"
----
Seminggu ini Yoo Ran memilih menghindar dari Kai. Di kantor mereka tidak saling menyapa seperti biasanya dan duduk terpisah saat di cafetaria untuk makan siang. Yoo Ran tidak benar-benar membenci Kai, tapi ketika mereka bertemu selalu saja berujung dengan adu mulut yang tidak ada gunanya. Yoo Ran tidak perlu khawatir dirinya akan kalah berdebat dari pria itu. Beruntung, Kai lebih sering memilih pergi jika pertengkaran mereka sudah terlalu dalam dan menyakiti. Yoo Ran juga tahu Kai akan selalu meminta maaf terlebih dahulu, namun hal itu justru membuat Yoo Ran jauh merasa bersalah. Hidupnya sudah terlalu banyak dosa, jadi dia pikir dia tidak mau lagi semakin menindas hidup pria itu.
Jadwal untuk mengikuti pilates sore ini pun sudah Yoo Ran batalkan. Yoo Ran hanya ingin segera sampai di apartemen, duduk santai sambil menonton acara tivi kesukaannya. Dia jadi sering melamun sampai tidak sadar dengan siapa sekarang dirinya berdiri di dalam lift. Pria tinggi tetangganya itu ingin menyapa hanya saja Yoo Ran bersikap seolah tak mau diganggu. Yoo Ran baru menyadari setelah bahu mereka saling bertabrakan saat pintu lift terbuka.
"Lady first," ucap Sehun mempersilahkan, menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi Yoo Ran jalan. Baru setelah Yoo Ran keluar, Sehun mengikutinya di belakang. Mata pria itu tak lepas melihat pada ketukan sepatu milik Yoo Ran yang beradu dengan lantai, dia menahan diri untuk tidak tertawa.
Kebetulan Yoo Ran termasuk orang yang peka. Setelah merasa atmosfer disekitarnya ada yang aneh, sesegera mungkin dia berhenti— membuat Sehun juga berhenti— lalu menoleh ke belakang.
"Apa?"
Sehun yang terkejut hanya dapat menggelengkan kepalanya cepat-cepat, "tidak ada apa-apa."
"Beberapa hari tidak melihatmu, pemotretan di luar kota lagi?" Yoo Ran kembali melangkah setelah Sehun berhasil mensejajarinya.
"3 hari pemotretan di Jepang, kenapa?"
Tak mau terlihat iri mendengar Sehun sering pergi bahkan hingga ke luar negeri, mulut Yoo Ran membentuk huruf O kecil selagi kepalanya mengangguk-angguk mengerti. Sudah berapa tahun Yoo Ran berniat ingin mengunjungi negeri sakura tersebut tapi selalu gagal karena masalah keuangan. Yoo Ran tidak begitu miskin, hanya saja rutinitas mengirim uang pada orang tuanya menjadi prioritas utama yang wajib dia lakukan setiap bulan. Akhirnya Yoo Ran lebih suka memilih liburan di tempat wisata lokal saja asal pikirannya bisa sedikit tenang. Mungkin lain kali dia bisa mewujudkannya— ke Jepang— meski dia sendiri tidak begitu yakin.
"Kau juga sepertinya sangat sibuk bekerja."
"Anggap saja begitu," sahut Yoo Ran seadanya.
Memangnya mana ada pekerjaan yang tidak sibuk terkecuali pengangguran yang lebih banyak tidur dan bisa berjam- jam menonton tivi sambil menghabiskan setoples kudapan. Yoo Ran sering berandai-andai dirinya bisa menjadi seorang milyader sekaligus pengangguran kaya raya dan tidak perlu pusing-pusing melakukan banyak pekerjaan di kantor. Sialnya itu hanya sebatas mimpi di siang bolong. Nyatanya Yoo ran harus bekerja hingga akhir pekan tapi pendapatannya tidak pernah berubah.
"Aku yakin kau lebih sibuk dariku," Sehun berhenti tepat di depan pintu apartemennya sementara Yoo Ran juga sudah berdiri di depan pintunya.
"Terima kasih sudah memperhatikanku," seketika Yoo Ran menyesal mengatakan kalimat yang seakan-akan dia begitu percaya diri. Lagipula wanita mana yang tidak senang mendapat perhatian dari pria setampan Sehun. Wajah pria itu terpahat dengan sempurna, tulang hidung yang nyaris tidak ada cela serta pembawaannya yang dingin namun tetap tenang dalam situasi apapun.
"Istirahatlah yang cukup, fokus dan perhatikan dirimu. Sampai jumpa Yoo Ran."
Sehun memencet sederet kode masuk sementara Yoo Ran masih berdiri mematung hingga pria itu lenyap dari pandangannya. Kemudian Yoo Ran melihat pantulan dirinyanya dari permukaan daun pintu, mengamati wajahnya yang kuyu, badan yang mungkin sedikit mengurus sampai....Ya Tuhan, tidaaak!!!!!
Rahang Yoo Ran nyaris jatuh ke lantai, menganga dengan sangat lebar begitu menyadari dia memakai alas kaki dengan pasangan yang berbeda. Kaki kanannya mengenakan high heels berwarna hitam selagi kaki kirinya mengenakan wedges merah muda. Kebiasaannya menyimpan beberapa pasang sepatu dan sandal di kolong meja kerjanya kini menjadi satu hal yang menakutkan. Kaki Yoo Ran berubah seperti agar-agar sementara kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri berharap hanya Sehun satu-satunya orang yang menyadari kebodohannya itu.
Yoo Ran lalu ***-remas kepalanya dengan frustasi. Apakah idenya ini wajar jika tiba-tiba dia ingin mencabut nyawanya sendiri saking malunya?
-----
"12 hari," jawab Yoo Ran sambil menekan sisa puntung rokok ketiganya ke dalam asbak, "...maaf salah, kurasa 14 hari, ya selama itu."
Seingat Yoo Ran, dia dan Kai pergi berenang lalu makan di restoran Chanyeol pada hari Jum'at dan sekarang sudah terlewat 2 kali hari Jum'at. Jadi memang benar 14 hari itu Yoo Ran masih belum berbaikan dengan Kai.
Chanyeol menuangkan segelas bir ke dalam gelas milik Yoo Ran yang sudah kosong. 2 jam lalu mereka baru kembali dari acara menonton di bioskop. Yoo Ran tidak bisa menolak ajakan Chanyeol kali ini karena dia juga butuh teman bicara. Pacar Chanyeol— Gayoung— juga sepertinya tidak perduli dan aneh saja pria bertelinga caplang itu jarang membahas mengenai hubungan percintannya.
Chanyeol yang mengantar Yoo Ran pulang masih harus menemani wanita itu untuk sekedar minum-minum sambil duduk di balkon menatap pemandangan kota dari ketinggian lantai lima apartemen.
"Coba kau nyalakan lagi dua batang rokok sekaligus lalu letakan di sudut kanan kiri mulutmu, kelihatannya itu hebat," sindiran Chanyeol tak digubris selagi Yoo Ran menenggak habis birnya.
"Kenapa tidak kau saja, lakukan itu sambil berjalan telanjang di pertokoan. Kau mungkin akan pulang dengan sekantong penuh uang receh di saku celanamu," meletakan gelasnya kasar di atas meja, Yoo Ran membalas tak kalah sengit.
"Kau pikir aku sedang melucu? Idemu itu yang tidak lucu."
Chanyeol tertawa melihat ekspresi kemarahan Yoo Ran dan itu sukses membuat Yoo Ran jengkel. Chanyeol dan Yoo Ran tidak pernah sedekat ini semasa mereka bersekolah. Menjadi teman sekelas selama 3 tahun berturut-turut tidak lebih hanya sebatas menyapa, saling mencontek PR, dan kebetulan sekali mereka berada dalam satu kelompok pada praktek pelajaran Biologi.
Keakraban mereka terjadi saat tanpa sengaja Yoo Ran mengiris jarinya sendiri ketika guru Biologi mereka menyuruh anak-anak untuk meneliti organ-organ di dalam tubuh seekor katak. Chanyeol yang menjadi ketua kelompok itu rupanya jijik dan takut, jadi Yoo Ran memberanikan diri untuk menawarkan bantuan.
"Darahnya keluar banyak sekali, ayo kuantar kau ke UKS," sambil melihat ngeri jari Yoo Ran yang berlumuran darah, Chanyeol membawa teman sekelompoknya itu masuk ke ruang pengobatan.
Chanyeol meminta Yoo Ran yang menangis untuk duduk selagi dirinya mencari kotak obat di dalam lemari. Mengabaikan phobianya terhadap hal-hal yang berbau luka sayatan, dengan telaten Chanyeol membersihkan darah di tangan Yoo Ran, mengolesi luka itu dengan obat lalu membalutnya dengan perban. Yoo Ran masih menangis sesenggukan karena jarinya benar-benar terasa perih dan hal itu membuat Chanyeol begitu iba. Tentu saja dia merasa bersalah karena seharusnya membedah tubuh katak adalah tugasnya sebagai ketua kelompok.
"Kau jadi terluka seperti ini karena aku."
Kepala Yoo Ran terus menunduk. Usahanya untuk menyatakan bahwa dia baik-baik saja rupanya gagal setelah tangisnya tak kunjung mereda.
"Biar aku yang akan menulis semua tugas dari guru di buku tulismu sampai jarimu benar-benar sembuh. Maaf...," sekali lagi Chanyeol menyatakan penyesalannya. Dia paling benci baju seragam sekolahnya terkena noda, namun kali ini bercak darah yang menempel di sisi saku kemejanya sama sekali tidak Chanyeol hiraukan. Ditiup-tiup lembut luka pada jemari Yoo Ran yang berada di atas pangkuan. "Sudah ya jangan menangis terus, aku tahu ini sakit tapi aku yakin lukamu pasti akan cepat sembuh. Bagaimana jika nanti kita pulang bersama? Oh ya, kutraktir kau makan ramen mau tidak? Ngomong-ngomong kau lebih suka ramen yang pedas atau yang sedang?"
Chanyeol memang lelaki baik, sikapnya pada siapapun selalu hangat. Oleh karena itu Yoo Ran begitu nyaman akan kedekatan mereka sebagai sahabat. Mungkin Yoo Ran pernah salah paham menilai sikap Chanyeol, tapi sejauh ini Yoo Ran memilih untuk bungkam dan menyimpannya dalam hati saja.
Kai juga tidak kalah baik. Tiba-tiba Yoo Ran teringat kembali pertengkarannya dengan Kai yang semestinya sudah membaik. Kai sering bersikap seperti pria pemalu ketika bertemu dengan orang-orang baru di sekitarnya. Awalnya dia tidak akan banyak bicara, tapi lihat saja apa yang selanjutnya terjadi. Kai akan lebih banyak bercerita, tertawa, hingga matanya membentuk bulan sabit padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Kadang Yoo Ran bingung kenapa Kai bisa seperti itu. Kai seperti memiliki dunianya sendiri yang orang lain tidak bisa memahami. Kabar buruknya adalah Kai sering lupa mengembalikan uang yang dia pinjam pada Yoo Ran dan itu sangat menjengkelkan.
Terlepas dari sifat Kai yang kekanakan, sebenarnya Yoo Ran mengagumi penampilannya. Kulit Kai yang eksotik membuat pria itu terkadang tampak sangat sexy. Kai juga bukan type lelaki pemilih. Kai akan mengatakan segalanya dengan jujur setiap kali Yoo Ran bertanya. Jika memang baik, dia akan mengatakan itu baik. Jika memang buruk, Kai jelas akan mengatakan itu buruk. Sayangnya kejujuran Kai kerap membuat perasaan Yoo Ran tersakiti. Seperti saat Yoo Ran bertanya apakah di usianya yang ke 32 ini wajahnya tampak menua? Lalu Kai menjawab secara gamblang dengan kata 'iya, kau memang sudah tua, Yoo Ran. Padahal Yoo Ran berharap Kai akan sedikit berbaik hati dengan mengatakan pada Yoo Ran untuk tidak usah terlalu mengkhawatirkan sebuah usia. Tapi Kai malah menambahkan lagi kalimat yang seketika itu menghancurkan mood baik Yoo Ran.
'Wanita yang menikah terlalu tua kadang sulit untuk mendapatkan momongan, berdoa saja kau tidak mengalami monepouse dini."
Chanyeol menoleh mendengar wanita yang duduk di sampingnya terus-terusan menghempas nafas kasar. Dia tahu Yoo Ran sedang banyak berpikir dan melihat dari gelagatnya, Chanyeol bisa menebak bahwa wanita itu sudah mulai mabuk.
"Sepertinya aku harus pulang."
Yoo Ran hanya bergeming ketika Chanyeol membuat
gerakan cepat berdiri dari kursi duduknya. Bahkan saat telapak tangan Chanyeol sengaja mengibas di depan wajah Yoo Ran, dia masih tidak mendapat respon apapun.
"Sebaiknya kau beristirahat, Yoo Ran. Tidurlah dengan nyenyak malam ini," Chanyeol melangkah pergi setelah mengusap lembut puncak kepala Yoo Ran.
Sementara itu, Sehun sempat berhenti ketika dirinya berpapasan dengan Chanyeol di koridor tak jauh dari pintu lift. Sehun memutar badan memandangi punggung Chanyeol sambil menebak jika pria itu— yang Sehun kenal sebagai pemilik sebuah restoran cepat saji— baru saja menghabiskan waktu dengan tetangga sebelah apartemennya.
Malam-malam begini?
-----
Kai terlihat berjibaku dengan setumpuk artikel yang harus dia edit untuk peluncuran majalah edisi Valentine bulan ini. Bulan kasih sayang seharusnya banyak dia habiskan untuk berkencan tapi malah pekerjaannya semakin menggunung saja. Bukan dia tidak tahu jika Yoo Ran sudah berdiri sejak tadi di samping meja kerjanya, tapi Kai hanya berusaha masa bodoh. Siapa juga yang perduli dengan kemarahan wanita super galak itu.
Pagi tadi Yoo Ran sudah membulatkan niatnya untuk mengajak Kai berdamai. Jadi sekarang— dengan merendahkan harga dirinya— Yoo Ran lebih dulu mendekati kubikel Kai.
"Aku punya banyak makanan dan soju di apartemen, bagaimana jika sepulang bekerja kau datang ketempatku?" Yoo Ran menahan diri dengan *** bagian samping roknya agar tidak emosi saat Kai tetap menutup rapat-rapat mulutnya.
"Sayang sekali jika makanan dan minuman itu terbuang sia-sia bukan? Menghabiskannya seorang diri juga sepertinya aku tidak akan sanggup."
Yoo Ran pikir Kai akan merespon ketika kepala pria itu terangkat. Tapi yang Kai lakukan hanya memandangi layar komputernya sesaat lalu menunduk lagi pada sederet huruf pada keyboardnya. Yoo Ran otomatis kesal, tangannya bergerak kasar mengambil satu lembar kertas yang sedang Kai ketik, membuat Kai langsung merebutnya kembali.
"Aku ini sedang bicara denganmu!"
"Iya aku tahu!"
"Kalau begitu jawab dan tatap aku!" Yoo Ran memaksa.
"Aku sudah mendengarnya dengan jelas, tapi hari ini aku harus lembur," dagu Kai bergerak menunjuk pada layar komputer, ekspresinya malas.
"Jadi...," Yoo Ran sedikit memelankan nada bicaranya, "...kau mau datang tidak?"
"Entahlah...aku tidak tahu."
Yoo Ran tidak habis pikir kenapa Kai jadi sok jual mahal begini, kesabarannya pun mulai menipis. Lalu Yoo Ran sengaja mengepalkan satu telapak tangannya di depan wajah Kai.
"Awas saja jika kau tidak datang Kim Jongin. Sekujur kulit tubuhmu bisa saja akan berakhir di pajangan toko barang antik, membentang terpaku di dinding dengan bandrol harga sangat murah. Kau dengar itu?!"
Merasa terpojokan, Kai menganga. Bagaimana bisa sebuah permintaan maaf terdengar seperti orang yang sedang mengajaknya ke medan perang?
"Dasar wanita bar-bar!" cibirnya dengan gerakan bibir komat-kamit tak jelas.
-
Yoo Ran tersenyum penuh kemenangan begitu pintu apartemennya terbuka lalu Kai muncul dengan ekspresi wajah masam. Lelaki itu mengendurkan dasinya, menggulung lengan kemejanya sebatas siku, lantas duduk menyebelahi Yoo Ran yang asyik menonton tivi.
"Kupikir kau tidak datang," sindiran Yoo Ran terdengar cukup panas di telinga Kai.
"Membayangkan kau menguliti tubuhku saja sudah mengerikan. Apa jadinya jika aku tidak datang?" Kai merebut gelas soju dari tangan Yoo Ran kemudian meneguknya sampai habis. "Layar tivimu berdebu sekali sih, apa kau tidak memiliki waktu untuk membersihkannya? Kau benar-benar pemalas."
Kai bukan pria yang gila akan kebersihan tapi dia benci dengan debu. Secara refleks pria itu mengambil kemoceng dari dalam laci meja kemudian mengusapkanya pada permukaan layar tivi sambil terbatuk-batuk kecil. Menurut Yoo Ran, cara Kai memperhatikan tempat di sekelilingnya memang sedikit tidak biasa. Yoo Ran selalu menikmati pemandangan yang ditunjukkan pria itu saat melakukan hal-hal yang kadang tidak orang lain pikirkan. Dan dilihat dari sisi samping saja, Yoo Ran bisa menilai ketampanan wajah Kai berada pada level angka 9. Yang artinya mungkin Chanyeol masih sedikit lebih unggul dengan nilai 9,2. Tapi bagi Yoo Ran, Sehun yang akan tetap menduduki peringkat pertama dari 3 laki-laki dengan visual terbaik yang kini dikenalnya. Nilainya 9,6 mendekati sempurna secara keseluruhan.
"Apa ada yang aneh dengan wajahku atau....kau mulai menyukaiku?"
Yoo Ran berubah gugup begitu Kai memergokinya yang terus tersenyum mengagumi rahang wajah Kai yang tegas. Detik berikutnya Yoo Ran mulai berpikir bagaimana jika dia memilih Kai sebagai kandidat utama yang bersedia mendonorkan sperma di rahimnya. Kai termasuk bibit unggul sampai-sampai puluhan gadis rela bersaing demi untuk mendapatkan cintanya. Yoo Ran memang tidak termasuk dari sekumpulan wanita bodoh itu tapi dia butuh seorang anak. Sungguh, Yoo Ran takut ucapan Kai ataupun Chanyeol mengenai monepouse dini benar-benar akan terjadi pada dirinya.
"Kai..." panggil Yoo Ran setelah dia berhasil menetralkan ekspresinya. "Kalau boleh aku tahu, berapa kira-kira jumlah anak yang kau inginkan suatu saat nanti, hmm?" Yoo Ran mengambil setoples cookies yang dia peluk erat di dada selagi Kai kembali duduk menyebelahinya.
"Berapa ya...," Kai menatap ke atas, menghitung dengan jari jumlah anak yang ingin dia miliki. "3 atau 4 boleh juga."
"Boleh tidak aku meminta salah satu dari anakmu untukku?" Yoo Ran meletakan kembali toples cookies-nya di atas meja.
"Memangnya anak itu sejenis barang yang bisa kita berikan pada siapa saja dengan mudah? Kau ini bodoh atau apa, kau sudah mabuk ya?" jari telunjuk Kai menoyor dahi Yoo Ran lalu kemudian menyuruh kepala wanita itu untuk bersandar di pahanya. Yoo Ran menurut saja.
"Maksudku, aku juga kan ingin memiliki seorang anak," Yoo Ran cemberut, kepalanya sedikit pusing karena dia sudah banyak minum sebelum Kai datang kemari.
"Tapi kau bilang aku ini lelaki dekil. Kalau lahir nanti warna kulit anakku sehitam pantat kuali, bagaimana, apa kau mau?" Kai menanggapi ucapan Yoo Ran yang dia pikir hanya candaan saja.
"Asalkan hidungnya tidak pesek, aku si tidak masalah," Yoo Ran merajuk seperti anak kecil, membuat Kai memutuskan mendorong tubuh Yoo Ran untuk duduk kembali seperti semula.
Yoo Ran itu pemabuk yang tidak pandang bulu. Kalau tidak bersikap seperti anak kecil, Yoo Ran bisa berubah sangat liar. Dan Kai ingat saat kejadian Yoo Ran mengamuk di sebuah bar hingga hampir memporak-porandakan seluruh isi ruangan kalau saja Kai dan Chanyeol tidak cepat-cepat menyeretnya untuk pulang. Entah berapa ribu won yang sudah dua pria itu keluarkan sebagai uang ganti rugi. Anehnya Yoo Ran tidak pernah bertanya dan bersikap seakan dia lupa apa yang sudah terjadi.
"Jangan pergi, tolong temani aku malam ini," Yoo Ran terus mericuh tak jelas hingga Kai harus dikejutkan dengan jeratan lengan Yoo Ran yang tiba- mengungkung tengkuk lehernya.
"Berapa botol soju yang sudah kau minum sih? Aku ini kan seharusnya masih ada di kantor untuk lembur," Kai berusaha melepas jeratan tangan Yoo Ran tapi usahanya gagal. Bahkan Yoo Ran semakin kuat menarik wajah Kai untuk mendekat hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
Bersumpah ini pertama kalinya mereka berhadapan sedekat ini. Mata Kai nyaris tidak berkedip memandangi sorot sendu dari bola mata Yoo Ran yang bulat. Menurutnya Yoo Ran memang cantik, menarik, dan dia wanita yang sangat mandiri. Kai hanya mengagumi sebatas itu sebelum akhirnya bibir Yoo Ran lebih dulu menempel di bibirnya. Kai mematung sepersekian detik, tapi pria itu sudah terlambat untuk menghindar. Bibir mereka yang bersentuhan berlangsung cukup lama hingga tanpa sadar Kai mulai bergerak lamban membalas kecupan itu dan menikmati apa yang dia dan Yoo Ran lakukan.
Kai pikir ini hal gila. Apalagi dengan gerakan bibir Yoo Ran yang lembut yang membuat kecupan - kecupan kecil mereka semakin dalam. Berawal hanya dari saling memagut, Yoo Ran memberi celah dengan membuka sedikit mulutnya hingga lidah Kai berhasil menyusup dan menemukan lidahnya di dalam sana. Pria itu mengabsen deretan gigi Yoo Ran yang rapi dan akhirnya lidah mereka saling bertemu, lalu beradu dengan serakah.
Butuh waktu bagi Kai meyakinkan diri bahwa ini semua bukanlah mimpi. Kai memang tidak punya pilihan lain, dia tetap menduga ketidakwarasan antara dirinya dan Yoo Ran kali ini terjadi akibat emosi sesaat.
Dan selagi ciuman mereka berlangsung, Yoo Ran mulai membayangkan suatu hari dirinya bisa hamil lalu membeli baju-baju apa yang pantas untuk perutnya yang akan membesar nanti. Yoo Ran akan rajin bertanya pada rekan-rekan kerjanya yang lebih berpengalaman mengenai merk susu apa saja yang bagus untuk dia konsumsi dan olah raga apa yang cocok untuk wanita hamil. Dia juga akan meminta ditemani oleh ibunya saat menjalani persalinan di sebuah Rumah Sakit. Yoo Ran tidak mempermasalahkan jenis kelamin apa anaknya nanti. Jika lahir perempuan, Yoo Ran akan mengajari putrinya untuk bersikap layaknya wanita kelas atas yang tidak mudah tergoda oleh rayuan pria-pria hidung belang. Atau jika yang lahir adalah anak laki-laki....
Yoo Ran seketika membuka mata, mendapati wajah Kai hampir tak ada jarak dengan wajahnya. Deru nafas memburu pria itu pun terus berhembus menerpanya hangat.
Apa yang sedang terjadi? Apa aku sedang berciuman dengan teman masa kecilku sendiri? kesadaran Yoo Ran perlahan mulai kembali. Jantungnya mendadak berdetak hebat dan ada rasa jijik sekaligus geli saat bibir Kai merambah ke permukaan kulit lehernya. Yoo Ran jelas tahu fakta bahwa dirinya yang bercumbu dengan Kai adalah sebuah kesalahan dan tidak seharusnya hal-hal semacam ini terjadi diantara mereka.
Malu atas tindakannya yang murahan, Yoo Ran langsung menjejak perut Kai sekuat mungkin hingga tubuh pria itu terjungkal ke belakang.
"Tidak mau, aku tidak mau melahirkan seorang anak dari pria playboy sepertimu!" jerit Yoo Ran keras sementara Kai mencoba bangkit sembari mengusap bagian perutnya yang terasa sakit.
"Kau gila ya?! Kita ini kan hanya teman!" panik karena baju atasannya berantakan, Yoo Ran segera merapikannya kembali. Wanita itu kelabakan turun dari sofa kemudian berjalan kesana-kemari seperti gosokan usang.
"Kau sendiri yang memulainya, kenapa jadi menyalahkanku?" Kai membela diri karena jelas Yoo Ran lah yang lebih dulu mengajaknya berciuman. Pria itu kembali menerima tendangan dan hanya bisa duduk tersudut menghimpit pada sisi meja ketika Yoo Ran memukuli wajah serta kepalanya berulang kali.
"Kau ini pria brengsek, demi apapun aku tidak mau ada benih tidak baik yang menurun pada anakku nanti. Pergi kau dari sini, lupakan apa yang sudah terjadi, pergi!!!" Yoo Ran menarik Kai untuk berdiri, lalu mendorong punggung lelaki itu menuju ke arah pintu. Sesekali Yoo Ran menendang pantat Kai, meluapkan emosinya karena menyesal.
Pintu apartemen terbuka lebar. Kai hampir terjatuh ketika sekali itu Yoo Ran kembali mendorong tubuhnya serta melempar tas kerjanya secara kasar. Kai tidak mendapatkan sedikitpun kesempatan untuk menjelaskan duduk perkara kenapa dia mau melakukannya. Pria itu masih bingung bercampur kesal kenapa dirinya selalu dijadikan sasaran kemarahan Yoo Ran.
"Lupakan yang terjadi malam ini dan anggap kita tidak pernah melakukan apapun!"
"Berciuman itu hal biasa, santai sedikit bisa tidak? Aku juga tidak pernah menganggapmu sebagai wanita, dadamu itu rata," Kai tak mau kalah berdebat, toh ini murni bukan kesalahannya.
"Mati saja kau!"
Kemudian disaat keduanya kembali saling menyerang, suara pintu apartemen sebelah yang tiba-tiba terbuka membuat Kai dan Yoo Ran sama-sama menoleh menghentikan aksinya.
Sehun mendengar samar-samar adanya keributan di sebelah tempat tinggalnya. Jadi dia bermaksud keluar untuk mencari tahu barangkali seseorang membutuhkan bantuan. Sayangnya pemandangan yang tersaji di depannya sukses membuat matanya menyipit curiga.
Pertama, dia melihat pria yang dikenalnya 3 atau 4 minggu lalu sedang sibuk merapikan kemejanya yang kusut selagi rambutnya acak-acakan disertai dengan bekas memerah akibat tamparan maupun pukulan keras dikedua pipinya.
Hal berikutnya yang bisa Sehun lihat adalah sosok Yoo Ran denggan penampilan yang tidak lebih baik dari Kai. Lipstiknya belepotan disekitarnya bibir, juga rambutnya yang biasanya rapi kini berubah seperti lilitan benang woll kusut.
"Kalian...?" Sehun menatap dua orang itu secara bergantian.
.
.
TBC