Between

Between
Bab 57 Paparazi



Kyoya memandangi gadis yg sedang tertidur lelap di kursi penumpang. Menahan gejolak amarah sekaligus rindu yg bercampur menjadi sensasi aneh.


Kyoya sangat marah, ingin rasanya berteriak di hadapan gadis ini, menyalahkannya mengapa tidak bisa menjaga diri. Mengapa begitu impulsif, seakan tidak peduli bahaya yg hampir saja menerkamnya.


Jika saja Kyoya tidak muncul, entah bencana apa yg akan terjadi. Tapi gadis ini sekarang tak sadarkan diri, percuma juga Kyoya marah.


Lelaki itu akhirnya menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil hitam itu menuju Five Star Hotel. Hanya berjarak lima menit saja.


Mobil berhenti di depan pintu masuk hotel, petugas valley dengan sigap langsung mendatangi.


"Lana, bangun. Lana." Kyoya menggoyang-goyangkan pelan lengan Lana tapi gadis itu hanya melenguh.


Petugas valley sudah berdiri tepat di samping Kyoya, siap membukakan pintu.


Kyoya berdecak. Kesal pada dirinya sendiri kenapa fokus nya menurun, ia lupa resiko dan situasi apa yg bisa terjadi jika memilih menyelamatkan gadis mabuk ini.


Kyoya menekan pengamanan mobil ke mode off sehingga petugas valley bisa membuka pintu mobil, langsung memasang senyum ramah.


Kyoya keluar. Petugas itu menutup pintu sopan dan dengan sigap berpindah ke sisi pintu Lana, membukakannya untuk Kyoya.


Kyoya menatap sekilas Lana yg bersandar lunglai di kursi, tampak menggenaskan.


Kyoya menunduk, menyelipkan tangan di bahu dan paha Lana. Lalu menggendongnya keluar dari mobil dengan hati-hati agar tidak terbentur.


"Kamar paling atas." ujar Kyoya. Petugas itu berkata siap pak, masih tersenyum ramah.


Kyoya berjalan melewati pintu besar yg terbuka otomatis, dengan Lana yg tertidur nyenyak di gendongannya.


Lelaki itu terus berjalan dengan langkah lebar dan cepat menyeberangi lobi menuju lift. Berharap keberuntungan berpihak padanya malam ini.


Tapi Kyoya salah. Tanpa ia sadari, tak jauh dari meja penerimaan, sebuah kamera menyembul keluar dari balik sofa. Sejak Kyoya menginjakkan kaki memasuki ruangan, kamera itu mengabadikan semua momen.


Ckrik ckrik ckrik..


Dengan background tulisan ornamen Five Star Hotel, sosok Kyoya yg memakai setelan jas resmi sedang menggendong seorang gadis terekam sudah.


...***...


Lampu temaram, sengaja tidak Kyoya nyalakan semuanya agar tak mengganggu Lana karena kesilauan.


Ia berjalan menuju kasur super besar di kamar indah itu, Kyoya dengan hati-hati meletakkan Lana di atas kasur yg empuk.


Gadis itu bergumam tak jelas.


Kyoya duduk perlahan di tepi tempat tidur. Ia menatap Lana yg kembali diam. Lega karena gadis yg disayanginya itu kini aman. Berada di tempat yg nyaman, di sisinya.


"Nhhgg.. yyya.. ouya.. " Lana kembali bergumam.


"Ouya.. Kouya.. Kyoya.."


Kyoya menjauh, lalu menatap Lana yg masih terpejam. Kyoya mengusap lembut pipi Lana.


"Ya sayang, aku di sini." bisik Kyoya mesra.


"Jangan.. pergi.. maafkan.. aku.. Kyoya.. " Dalam tidurnya, entah bermimpi apa, raut wajah Lana tampak sedih.


Tes, tiba-tiba airmata mengalir dari sudut mata kanannya. Kyoya tercekat.


Saat itu juga semua pertahanan nya selama ini runtuh sudah. Kyoya mengusap airmata itu, lalu mendekatkan diri. Dia mencium lembut bibir Lana.


Satu sentuhan itu, langsung menyalakan api gairah di sekujur tubuhnya. Kyoya tahu, saat Lana mabuk berat, dia hanya akan terbaring lemas, tak sadarkan diri. Seperti sekarang ini.


Rasanya Kyoya ingin menyalurkan hasrat liarnya yg terpendam, mengabaikan hati kecilnya yg memaki bajingan. Kyoya sangat merindukan sentuhan ini, bibir ini, tubuh ini, aroma gadis ini..


Jadi kamu akan histeris saat melakukannya dalam keadaan sadar?


Sejujurnya aku juga baru tahu hari ini tadi, aku akan bereaksi histeris seperti itu jika melakukan hubungan badan. Itu diluar kendali ku, Kyoya. Tolong mengertilah, saat ini aku belum siap memberitahu siapapun.


Tiba-tiba kenangan saat mereka bertengkar melintas di pikiran Kyoya, membuatnya sadar. Hati nuraninya malu karena sempat berpikiran seperti pria brengsek.


Kyoya melepaskan diri. Ditatap nya Lana yg tetap terpejam. Bagai putri tidur yg menawan dan menggoda.


"Rahasia apa yg kamu simpan Lana? Kamu tahu aku akan tetap mencintai mu apapun yg terjadi."


Kyoya menunduk lalu mengecup kening gadis itu penuh sayang.


Kyoya bangkit, lalu melepas sepatu kets Lana dan meletakkannya di bawah kasur. Kyoya menarik selimut yg terlipat rapi di ujung tempat tidur lalu menutupi Lana sampai ke dada. Ia merapikan selimut dan bantal Lana, berusaha agar gadis itu merasa senyaman mungkin.


Kyoya menatap Lana sekilas lalu berjalan keluar kamar. Ia menuju kulkas besar dua pintu, mengeluarkan satu kaleng kopi dingin. Lalu menghempaskan diri di sofa hitam yg empuk.


Ruangan itu temaram, dengan dinding kaca yg menampilkan langit malam dihiasi hamparan kerlap-kerlip lampu kota yg indah. Kyoya menyeruput kopi sambil menikmati pemandangan itu. Menghela nafas panjang.


Menimbang malam ini sebaiknya dia tidur dimana.


Dengan Lana di kamar utama, haruskah Kyoya pergi dari Presidential Suite Room ini agar esok pagi Lana tidak kaget melihat sosok Kyoya? Atau pilihan lain yaitu mengungsi di kamar Roger dan membuat ajudannya itu canggung semalaman? Kyoya agak geli memikirkannya.


Tiba-tiba Kyoya jadi penasaran, dimana Roger sekarang? Apa dia sudah selesai membereskan sahabat Lana?


Kyoya sangat tahu karakter Roger, ajudannya itu tidak suka cara yg mudah dan lembut. Mendadak dia jadi sedikit kasihan pada Cika. Semoga gadis itu baik-baik saja.


...***...