Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 99



Saat ini Anggun masih tidak percaya apa yang di ucapkan oleh abangnya Dika.


“Abang bercanda kan?” tanyanya masih memastikan jika yang di ucapkan oleh abangnya itu bohong.


Dika masih terduduk lemas di lantai, kepalanya masih bertumpu pada kedua tangan ia tidak menggubris ucapkan adiknya tersebut.


“Tidak, Abang pasti bercanda!”


Anggun beranjak dari tempat tidur dan bergegas keluar dari kamar.


Anggun melihat sekeliling yang ada di lantai bawah, ada beberapa pekerja rumah itu merapikan bekas tamu yang hadir.


Anggun setengah berlari menuruni tangga, ia membuka kasar pintu kamar yang di tempati oleh orang tuanya yang ada di lantai bawah.


Ceklek!


Icha yang masih menyusui putranya langsung terkejut, bahkan ia masih belum mengenakan penutup kepalanya, beruntung tamu sudah pulang dari rumah tersebut.


“Ada apa kak?” tanya Icha mencoba menutupi kepalanya dengan menggunakan hijabnya.


Azam yang masih fokus menyusui pun ikut menangis karena ulahnya.


Icha berusaha untuk menenangkannya dan memberikan putranya asi lagi.


“Dimana Papa?” tanya Anggun dengan suara yang bergetar.


“Untuk apa kamu menanyakan Papa?” tanya bu Sintya yang baru datang dari arah dapur.


“Ma,” lirihnya.


“Papa sudah pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah bisa kembali lagi.”


“Sudah puas menyakiti Papamu,” ujar Bu Sintya masih dengan nada lembut.


“Ma, Kita ke kamar saja,” ajak Indah menarik pelan lengan ibu mertuanya, karena melihat situasinya yang tidak baik.


Bu Sintya mengusap air matanya dan mengikuti apa yang di ucapkan oleh menantunya untuk pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Sementara Anggun seperti orang tidak waras, masih belum percaya apa yang di ucapkan oleh ibu dan abangnya.


Bahkan ia kembali bertanya pada semua yang bekerja di rumah tersebut.


“Dimana Papaku Bi, dimana?” yang Anggun dengan air mata yang mengalir.


“Maaf, Nona. Tuan sudah meninggal, bahkan semua orang baru saja pulang dari pemakamannya.”


“Hiks ... hiks ... Papa!” histeris Anggun terduduk lemas di lantai.


Indah baru saja mengantar ibu mertuanya, lalu kembali menuruni tangga untuk menghampiri adik iparnya yang tengah menangis histeris.


“Anggun, jangan seperti ini. Papa sudah tenang,” tutur Indah lembut menarik Anggun untuk duduk di sofa.


“Kakak. Aku anak yang tidak berguna,” ujar Anggun memeluk Kaka iparnya tersebut.


“Aku anak durhaka!”


“Sudah! Jangan seperti ini, itu tidak akan bisa mengembalikan semuanya pada sedia kala. Yang terpenting sekarang kamu harus berubah,” tutur Indah dengan suara lembutnya mengusap punggung adik iparnya tersebut.


“Kenapa tidak ada yang membangunkan ku?” masih belum menyadari apa yang ia lakukan tadi pagi pada Icha.


“Icha berusaha membangunkan mu dek, sepertinya tidurmu lebih penting dan menganggap dia mengganggu tidurmu! Anggun, kamu kenapa berubah seperti ini? Icha bahkan selalu memikirkan mu, tapi kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang adikmu? Kecemburuan berlebihan pada adik sendiri itu tidak baik dek,” tutur Indah lembut.


“Huhuhu maafkan aku, Kak. Hidupku kacau! Hidupku sudah hancur!”


“Itu karena Anggun jauh dari Allah. Jika Anggun mendekatkan diri pada Allah dan menyerahkan semua lalu berserah diri padanya. Anggun tidak akan seperti ini, bertobatlah Sayang.”


Anggun masih memeluk Kakak iparnya, masih dengan tangis yang sesenggukan.


Icha baru keluar dari kamar sambil menggendong putranya untuk keluar kamar, lalu mendekati mereka yang sedang berpelukan.


Anggun berhenti menangis saat mendengar suara Azam tertawa, entah apa yang membuatnya tiba-tiba tertawa.


Anggun mengusap air matanya yang masih basah akibat menangis, Icha melihat jelas mata sembab Kakaknya.


“Icha, aku kakak yang tidak berguna! Aku banyak dosa, maafkan aku Icha. Karena keegoisanku, kamu jadi ikut menanggung akibat. Maafkan aku Icha,” tuturnya sambil menangis tersedu-sedu.


“Kak jangan seperti ini. Ayo berdiri kak,” Ujar Icha mencoba melepaskan kakaknya dari dekapan Anggun.


“Aku minta maaf, Dek. Aku ....”


Indah mengambil alih Azam dari gendongan Icha, lalu membawa Azam ke teras. Agar tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


Icha menarik pelan bahu kakak perempuannya, lalu berpelukan erat.


Mereka sama-sama menangis tanpa suara, hingga berpelukan cukup lama.


*


*


*


Keesokan hari, semua orang kembali berkunjung ke makam pak Heri, kali ini mereka datang dengan anggota keluarga yang lengkap bersama Anggun.


Anggun terduduk di samping nisan pak Heri, ia menangis sambil memeluk nisan sang papa.


“Pa, Maafin Anggun. Anggun sangat menyesali perbuatan Anggun pada Papa, Maafin Anggun,” lirihnya.


“Sudah Sayang, Papa sudah tenang di sana. Kita berdoa untuk Papa,” ujar bu Sintya mengusap bahu putrinya.


Anggun mengangguk.


Cukup lama mereka di makam tersebut, mereka akhirnya pulang karena awan sudah mulai gelap seperti akan turun hujan lebat.


30 menit melakukan perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumah orang tua mereka.


Saat hendak memasuki rumah, mereka melihat ada pengacara yang berkunjung ke rumah mereka.


“Pak Dika, selamat siang. Maaf, saya baru datang kemari,” ujarnya mengulurkan tangan pada Dika.


“Iya, Pak. Siang juga, silahkan duduk.”


Dika mengajak pengacara tersebut duduk di sofa, Dika sangat mengenali pengacara tersebut dia adalah pengacara kepercayaan papanya.


“Sebelumnya, saya ikut berduka cita atas meninggalnya pak Heri. Semoga amal ibadahnya di terima sang maha kuasa dan keluarga di tinggalkan di beri kesabaran.”


“Iya, Pak. Terima kasih banyak atas doanya.”


Bu Sintya hendak mengajak anak dan menantunya untuk masuk ke dalam dan membiarkan pengacara tersebut berbicara pada Dika dan Fahry.


Namun, langkah mereka terhenti karena pengacara tersebut ingin berbicara pada mereka semua.


“Bu Sintya tolong tetaplah di sini, pak Heri sudah meninggalkan wasiat beberapa bulan terakhir ini dan ia mempercayakannya kepada saya. Saya diminta memberikan ini sehari setelah ia di makamkan,” ujar pengacara tersebut.


Bu Sintya mengernyit heran, sama halnya dengan Dika.


“Maksudnya Pak, kami kurang mengerti?”


Semua orang di minta untuk duduk untuk mendengarkan dirinya berbicara.


Pengacara tersebut mengeluarkan beberapa berkas dari tas miliknya, lalu mulai membacakannya.


“Tiga bulan dirinya mencari keberadaan istrinya yaitu Ibu Sintya. Bulan pertama beliau datang ke rumah saya, beliau menyerahkan semua uang hasil tabungannya yang ia simpan. Semua uang ini ia berikan untuk istrinya, yaitu Ibu Sintya,” ujar pengacara tersebut menyerahkan satu berkas kepada Dika.


Dika membacanya dengan teliti, ia sedikit terkejut melihat nominal yang tertera dalam berkas tersebut.


“Bulan kedua, beliau juga memberikan santunan kepada anak yatim piatu dan Fakir miskin di beberapa tempat lainnya.”


Pengacara itu memberikan lagi berkas tersebut pada Dika anak tertua mereka, di berkas tersebut tertera nominal yang ia sedekahkan pada anak yatim piatu dan Fakir miskin.


“Dan ini terakhir, di awal bulan ketiga. Untuk pertama kalinya, saya melihat beliau menangis di hadapan saya, beliau mengatakan jika ia saat itu sangat kehilangan kalian bahkan sangat menyesali perbuatannya. Ini adalah salah satu bisnis yang baru ia bangun untuk ketiga anaknya, ia membagikannya semua bagi rata untuk ketiga anaknya yaitu Pak Dika, Nona Anggun dan juga Nona Icha.”


“Sebentar, bisnis? Bukankah bisnis Papa sudah di ambil alih oleh mantan suami adik saya, Anggun. Bisnis dimana yang anda bicarakan?”


Dika masih belum mengerti apa yang di ucapkan oleh pengacara tersebut, sama halnya pada ibu Sintya.