Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 44



Fahry membonceng istrinya menggunakan motor baru yang di berikan oleh Dika, sedangkan Ifan pergi sendiri menggunakan motor lama milik Fahry.


Mereka melaju ke tempat terjadinya kebakaran di rumah singgah mereka.


Setibanya disana, Fahry menatap rumah yang setengah jadi hangus terbakar tak bersisa. Masih terlihat sisa asap api di kayu pembangunan.


Sama halnya dengan Icha, tak lama datang sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan mereka.


Icha sangat kenal mobil tersebut, yaitu milik Abangnya.


Icha turun dari motor menghampiri Abangnya dan kakak iparnya yang baru keluar dari mobil.


“Assalamualaikum ... kalian baru datang juga? Aku baru ingin menghubungi kalian,” tanya Dika baru keluar mobil.


“Waalaikumsalam ...” sahut mereka bersamaan.


“Iya, Bang. Kami baru saja tiba,” sahut Icha.


Ia mencium punggung tangan kedua kakaknya, begitupun dengan Fahry.


Fahry menggelengkan kepalanya melihat rumah singgah yang hangus terbakar tanpa sisa, melihat materialnya juga sebagian hilang dan bahkan ada yang ikut terbakar juga.


“Astaghfirullahalazim ... siapa yang tega membakarnya?” gumam Dika mengusap wajahnya dengan kasar.


“Abang mengetahui ini dari mana?” tanya fahry yang berdiri sejajar di sampingnya.


“Dari pihak kepolisian, mereka menghubungi Abang pagi ini,” sahut Dika.


“Apa Kamu mencurigai seseorang, Fahry?” tanya Dika.


Fahry menelan salivanya kasar, ia bingung menjawab pertanyaan dari Dika yang baru saja menjadi Kaka iparnya tersebut.


“Sepertinya ini murni sengaja di bakar. Tidak mungkin dari aliran listrik,” gumam Dika lagi.


Fahry hanya bungkam, begitupun dengan Icha tidak berani mengatakan yang sebenarnya, siapa dalang semua itu.


“Iya, Pak. Bapak benar, ini sepertinya di sengaja. Saya terkejut setelah melihat api sudah sangat besar, alhamdulillah warga sekitar disini sigap menghubungi pemadam,” sahut Ifan, karena ia belum mengetahui siapa dalang pembakaran rumah singgah mereka.


“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa dan tidak ada rumah warga yang ikut terbakar,” sela Fahry.


“Iya, Alhamdulillah. Keselamatan warga sekitar itu yang terpenting,” sahut Dika.


Ada beberapa warga juga yang ikut melihat rumah mereka, mereka bercerita sambil menunjuk arah rumah yang ludes terbakar. Namun, Fahry dan yang lainnya tidak mendengar apa yang di bicarakan oleh orang-orang tersebut yang ada di sekitar.


“Setelah seminggu, kita akan membangun kembali rumah ini. Namun, sebelum itu kita harus membersihkan tempat ini dulu dan kita sepertinya harus memasang cctv di sekitar tempat ini,” tutur Dika melihat sekelilingnya.


“Iya,” sahut Fahry.


Cukup lama mereka berdiri di tempat tersebut, mereka memutuskan untuk pulang. Namun, bukan ke hotel melainkan ke rumah Fahry dan Icha.


Sementara Ifan pulang ke kosnya yang ada di dekat tempat tersebut.


Icha tidak ikut bersama Abangnya di mobil, ia lebih memilih ikut bersama suaminya naik motor.


Indah menatap Icha dan Fahry dari dalam mobil, karena mereka mobil mereka mengikuti belakang motor Fahry.


“Sayang. Mereka sangat serasi ya, semoga mereka bisa menerima satu sama lain.”


“Aamiin ...” sahut Dika.


Saat menyetir, Dika masih memikirkan tentang rumah singgah yang kebakaran. Bukan karena kerugiannya, melainkan motif sang pelaku jika benar ini adalah di sengaja.


“Abang kenapa?” tanya Indah memegang bahu suaminya.


Dika menggelengkan kepalanya.


“Abang memikirkan musibah ini ya?”


Dika tersenyum kembali menggelengkan kepalanya.


“Indah turut berduka. Abang jangan khawatir, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.”


“Iya, sayang. Terima kasih ya,” tutur Dika sambil mengelus pelan kepalanya istrinya.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di tempat tinggal Icha dan Fahry.


Mereka keluar mobil dan melangkah masuk ke dalam.


Dika memang pernah datang ke rumah Fahry walaupun hanya sekali, akan tetapi ia tidak pernah masuk ke dalamnya. Ia berbicara pada Fahry saat itu hanya di teras saja.


“Assalamualaikum ...” ucap Dika dan Indah.


“Waalaikumsalam ... masuk Bang,” sahut Icha dan kebetulan Fahry juga baru keluar dari kamar. Karena sebelumnya mereka lebih dulu tiba ketimbang Dika.


Dika melirik rumah Fahry yang kecil dan hanya memiliki satu kamar saja.


“Fahry, aku ingin bicara serius denganmu! Hanya kita berdua,” Ujar Dika.


Fahry mengangguk, mereka keluar dan berbicara di teras kebetulan di teras rumah mereka ada kursi kayu buatan sendiri ala kadarnya.


Sementara Indah dan Icha berbincang di dalam rumah, Icha juga meminta maaf kepada Indah sudah mengacaukan acara pernikahan mereka karena ulah Papanya.


“Fahry. Maaf ini bukan maksud untuk merendahkanmu ...” tutur Dika menggantungkan ucapannya.


“Apa itu Bang?” tanya Fahry dengan panggilan yang berubah mengikuti panggilan istrinya.


“Sebenarnya, aku sudah menyiapkan hadiah rumah untuk pernikahan Icha. Aku berharap kamu mau menerimanya,” ujar Dika menatap Fahry.


Fahry terdiam.


Fahry tersenyum.


“Terima kasih Bang. Aku akan membicarakan ini pada Istriku, aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan Istriku.”


Dika mengangguk.


“Terima kasih,” sahut Dika tersenyum seraya menepuk lembut bahu Fahry.


“Bang, kita mau keluar dulu, boleh?” tanya Indah menghampiri mereka.


“Kemana?” tanya Dika.


“Ke minimarket sebentar,” sahut Indah.


“Iya, boleh. Aku akan mengantarmu,” sahut Dika.


“Aku ingin bersama Icha. Apakah kami boleh pergi berdua? Hanya ke minimarket yang terdekat.”


“Oh sama Icha. Iya, hati-hati di jalan.”


Icha hanya diam di belakang kakak iparnya, namun ia menatap Fahry seakan meminta izin. Beruntung Fahry mengerti, dan langsung mengangguk pelan.


Icha tersenyum.


Dika memperhatikan adiknya yang masih malu-malu pada Fahry, ia bernafas lega karena melihat adiknya bertemu dengan orang yang tepat dan perhatian seperti Fahry.


“Hati-hati,” ujar Fahry menatap istrinya dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Icha mengangguk.


Indah dan Dika menahan senyumnya melihatnya mereka.


“Apa kalian ingin membawa mobil?” tanya Dika.


“Sepertinya, kami ingin membawa motor saja. Apa aku boleh meminjam motormu, Fahry?” tanya Indah.


“Boleh sekali. Sebentar aku akan mengambil kuncinya,” ujarnya hendak beranjak.


“Biar aku saja,” sela Icha menahan suaminya untuk beranjak dari duduknya.


“Iya, baiklah.”


Setelah mendapatkan kunci motor tersebut, Icha menghidupkan motornya dan segera membawa kakak iparnya yang ingin berbelanja.


Tidak lupa berpamitan dan memberi salam pada suaminya mereka masing-masing.


Drrtt! Drrtt!


Suara getar ponsel milik Dika.


“Mama,” gumamnya.


“Sebentar Fahry. Mama menghubungiku,” pamit Dika.


“Iya, Bang.”


Dika sedikit menjauh dari Fahry.


“Assalamualaikum ... halo Ma.”


“Waalaikumsalam ... Dika, kamu dimana?”


“Ada di rumah Fahry, Ma.”


“Di rumah Icha? Apa kamu bisa jemput Mama sekarang? Mama ingin ke rumah mereka juga.”


“Iya. Mama tunggu, Dika akan jemput.”


Klik !


Dika memutuskan panggilan telepon.


“Fahry, aku akan menjemput Mama. Jika Istriku bertanya, katakan saja.”


“Iya, Bang.”


“Oh, ya satu lagi. Tentang musibah kebakaran ini, jangan sampai Mama mengetahui hal ini.”


“Bagaimana bisa Bang. Justru Mama yang memberitahu kami,” sahut Fahry dalam hati.


Ingin Fahry berkata seperti itu.


“Fahry. Apa kamu mendengarku?” tanya Dika melihat adik iparnya melamun.


“Hah! Eh maaf. Iya Bang,” sahut Fahry.


Fahry berdiri melihat Dika melangkah menuju ke mobil, setelah melihat Dika pergi, Fahry masuk ke dalam rumah.


Karena dirinya belum sempat mandi, ia berniat ingin membersihkan dirinya. Namun, setelah masuk ke kamar miliknya, Fahry melihat pakaian istrinya yang masih berada di koper.


“Sepertinya aku harus membeli lemari lagi,” gumamnya.


Fahry duduk di tepi kasur sejenak, bukan tidak ingin menerima hadiah rumah pemberian kakak iparnya. Akan tetapi masih belum bisa menyesuaikan dirinya, ia juga tidak bisa melihat istri tinggal di tempat yang sempit. Bahkan tempat tidurpun hanya cukup untuk satu orang.


Fahry menghela nafas, lalu melangkah keluar menuju kamar mandi.