Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 9



Pagi hari yang cerah, matahari sudah menampakkan dirinya. Icha sudah bersiap, karena hari ini adalah hari pertamanya masuk bekerja.


“Icha,” panggil Dika sambil mengetuk pintu kamarnya.


“Iya, Bang.”


Icha langsung membuka pintunya.


“Mau kemana?” tanya Dika melihat adiknya sudah berpakaian rapi.


“Mau kerja. Icha lupa memberitahu Abang, kalau Icha sudah di terima bekerja. Semalam Icha ketiduran, selepas Shalat isya!”


“Tidak apa-apa dek. Kamu bekerja dimana?” tanyanya sambil meletakkan ponsel yang ia pegang di nakas, lalu mengeluarkan dompet dari saku celananya.


“Di toko buku, yang cukup terkenal Bang. Selama dua Minggu, masa percobaan Icha bekerja.”


“Baiklah, berhati-hati kalau bekerja.”


“Iya, Bang.”


Icha tersenyum, karena sangat beruntung selalu di perhatiin oleh Abannya.


“Ini,” ujar Dika menyerahkan beberapa lembar uang.


“Ini untuk apa Bang?” tanya Icha.


“Ini untuk Icha. Jangan menolak!” ujarnya karena melihat adiknya tidak ingin mengambil uangnya tersebut.


“Tapi, Icha sudah kerja Bang.”


“Ya, memangnya kenapa? tidak salahkan Seorang Abang memberi adik perempuannya Uang?”


Icha menggelengkan kepalanya.


“Terima kasih ya Bang,” ujar Icha mengambil uang tersebut.


“Iya, sama-sama. Abang berangkat kerja dulu, Icha mau sekalian Abang antar?”


“Enggak Bang, Icha mau naik motor saja,” tolaknya dengan nada lembut.


“Hati-hati, Jangan ngebut bawa motor.”


Icha mengangguk, Dika langsung berpamitan pergi. Sementara itu, Icha juga mengambil tas kecil miliknya.


Ia melangkah keluar kamar, menuju tangga. Namun, langkahnya terhenti ketika melewati kamar Anggun samar-samar ia mendengar suara isak tangis dari dalam kamar tersebut.


Ia mendekatkan daun telinganya ke pintu kamar tersebut, memang benar suara isak tangis tersebut dari arah kamar Kakak perempuannya.


Ia memutar kenop pintu, kebetulan kamar tersebut tidak di kunci.


“Kakak. Kakak kenapa?” tanya Icha melihat Anggun yang terduduk di lantai dengan kacau, rambut yang acak-acakan.


“Kenapa kamu bisa masuk? Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke kamarku?!” Anggun menatap tajam adiknya tersebut.


“Maaf, aku mendengar suara isak tangis. Aku pikir terjadi sesuatu dengan kakak,” sahut Icha.


“Keluar!” bentaknya.


Icha masih mematung di tempatnya.


“Apa yang kamu lihat?! Keluar dari kamarku sekarang!” bentaknya lagi sambil menatapnya tajam.


Icha berbalik badan, melihat sang kakak begitu marah.


Saat hendak melangkah keluar, tidak sengaja ia menangkap benda yang tidak asing, bahkan ia tahu jika benda tersebut adalah alat tes kehamilan.


Ia mengambilnya, melihat tespack tersebut garis dua, menandakan bahwa positif hamil.


“Kakak, ini...”


Icha membalikkan badannya memperlihatkan alat tersebut kepada kakaknya.


Anggun tampak terkejut, melihat benda itu ada di tangan adiknya. Ia bergegas berdiri dari duduknya, hendak mengambil di tangan adiknya.


Namun, naas. Sang papa lebih dulu masuk ke kamar, karena mendengar keributan.


“Ada apa ini?” tanya papanya langsung masuk.


Pak Heri melihat tespack ada di tangan Icha.


“Apa ini?” tanyanya langsung mengambil benda tersebut.


Ia melihat dengan teliti, benda tersebut menandakan hasil positif.


“Apa ini Icha. Apa kamu hamil?!” tanyanya menatap Icha dengan tajam.


“Bukan, Pa. Itu bukan milik Icha,” sahut Icha karena memang benar benda tersebut bukan miliknya.


“Lalu, ini punya siapa?” tanyanya menatap kedua putrinya secara bergantian.


“Anggun, apa ini milikmu?”


Anggun tidak menjawab.


“Anggun!” teriaknya.


“Bu-bukan Pa. Itu milik Icha,” ujarnya tidak berani menatap Papanya.


“Kak,” lirih Icha menatap kakak perempuannya tersebut.


“Apa benar itu, Icha?!” tanya papanya menatapnya dengan kemarahan.


“Iya, itu memang benar punya Icha, Pa!” ujar Anggun dengan lantang.


“Kakak,” lirihnya menatap kakaknya sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Anggun langsung membuang wajahnya tidak berani menatap adiknya.


Plak!


Tamparan keras di pipi Icha, sehingga tubuh kecilnya sedikit terpental ke lantai.


“Anak tidak tahu diri!” bentaknya.


Ia menarik baju putrinya agar berdiri.


Plak!


Lagi-lagi tamparan itu mendarat ke pipi yang sama hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


“Ini kamu bilang lulusan pesantren, hah?! Kamu sudah membuat malu keluarga ini!” bentaknya lagi.


Ia mendorong tubuh putrinya, beruntung Dika langsung menangkapnya.


Anggun yang melihat kemarahan Papanya, tangannya hingga gemetar tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada dirinya.


“Ada apa ini, Pa? Belum puas Papa menyakiti putri kandung Papa sendiri!” ujar Dika masih menahan emosinya.


“Jangan tanya kepadaku! Tanya pada adikmu yang tidak tahu diri itu!” bentaknya lagi.


Bu Sintya juga baru tiba di kamar tersebut, karena mendengar keributan.


Icha hanya diam, bahkan air matanya pun tidak keluar sama sekali.


“Ada apa Icha?” tanya Dika lembut.


Dika melihat sudut bibir adiknya mengeluarkan darah.


“Kenapa Pa?” tanya istrinya.


“Lihat ini!” melempar benda tersebut hingga mendarat di depan Dika.


“Icha, ini...”


Menatap adiknya untuk meminta penjelasan.


.


.


.