Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 28



“Ayo,” ajak Dika.


“Ma, Indah pulang dulu. Terima kasih sudah menyambut Indah dengan baik,” pamit Indah mencium tangan sang calon mertua, setelah itu Bu Sintya memeluknya.


“Iya sama-sama. Kapan-kapan, berkunjung lagi ke rumah Mama.”


“Insya Allah, Ma.”


Bu Sintya mengantar Indah hingga ke teras rumah.


“Assalamualaikum Ma.”


“Waalaikumsalam,” sahut Bu Sintya sambil melambaikan tangannya.


Melihat mobil Dika menghilang, Bu Sintya kembali masuk ke dalam rumah.


Putrinya Icha baru datang dengan membawa segelas kopi di tangannya.


“Ma, Kak Indah sudah pulang?” tanya Icha melihat sekelilingnya tidak menemukan calon kakak iparnya.


“Iya. Baru saja, entah kenapa Abang Dika sepertinya terburu-buru. Sehingga lupa berpamitan denganmu.”


“Oh ...” Icha mengangguk mengerti.


“Apa itu kopi untuk Papa?” tanya Bu Sintya.


“Iya, Ma.”


“Kemari. Biarkan Mama yang mengantarnya.” Mengambil gelas di tangan Icha.


“Terima kasih Ma.”


“Sama-sama sayang,” sahutnya.


Lalu melangkah menuju ruang kerja suaminya.


Ceklek!


Pintu tersebut terbuka, pak Heri tampak menoleh sekilas lalu kembali lagi menatap layar laptopnya.


“Apa wanita itu sudah pulang?” tanya suaminya datar.


“Wanita siapa? Indah yang mas maksud?” tanya istrinya sambil meletakkan gelas kopi di mejanya.


“Hm ...” dehamnya.


“Sudah pulang, baru saja di antar oleh Dika.”


“Oh ...” sahut Pak Heri singkat.


Bu Sintya memegang bahu suaminya dan memberi pijatan lembut. Terlihat pak Heri menikmati pijatan lembut istrinya.


“Nyaman sekali. Ada apa ini? Tiba-tiba memijatku?” tanya pak Heri menaruh curiga pada istrinya.


“Tidak apa-apa. Apa tidak boleh aku memijat suamiku sendiri, akhir-akhir ini aku melihatmu terlihat tertekan. Apa ada masalah di kantor?” tanya Bu Sintya Lembut masih dengan memijat bahu suaminya.


“Banyak sekali. Aku mengerjakan semuanya sendiri, lihat putramu itu tidak mau membantu Papanya mengelola bisnis. Ck ... ke mana jalan pikirannya!” kesal Pak Heri.


“Apa perlu aku membantumu seperti dulu. Aku masih mampu bekerja,” usul istrinya.


“Hm ... lain kali saja,” sahut Pak Heri menyeruput kopi panasnya sedikit demi sedikit.


“Bagaimana menurutmu mas. Apakah wanita yang datang bersama putra kita? Sangat cantik, bukan?”


“Biasa saja. Cantik istriku,” goda pak Heri.


“Istrimu memang cantik dari dulu,” sahut Bu Sintya memukul pelan bahu suaminya.


“Maksudnya, mereka sangat serasi bukan? Rencananya Dika akan melamarnya beberapa hari lagi. Bagaimana mas, apakah kamu setuju?”


“Kenapa bertanya kepada ku? Biasanya Dika selalu mengambil keputusan sendiri!” ketus pak Heri.


Bu Sintya sudah tahu sifat suami dan putra tersebut.


“Tapi mas, Dika itu putra pertama kita. Apa Mas tidak ingin melihat Dika menikah dan mempunyai anak, di usiaku saat ini aku harusnya sudah mempunyai cucu.”


“Tidak!” pungkasnya.


“Sebentar lagi aku juga akan mempunyai cucu dari Anggun,” tambahnya lagi.


Bu Sintya berhenti melakukan aktivitas memijat suaminya tersebut, beralih duduk di depan suaminya.


“Jangan mencoba merayuku!” tambah suaminya lagi.


“Mas, Kenapa kamu pilih kasih? Dika juga anak kita, kenapa sulit sekali kamu mengizinkannya untuk menikah!” tutur sang istri dengan nada suara sedikit tinggi, akan tetapi masih bisa menahan amarahnya.


“Terserah dia mau menikah atau tidak. Aku tidak peduli! Kamu lihat sendiri, dia bahkan tidak mau berhenti dari tempat pekerjaannya.”


“Jika Mas tidak keras kepala dan mau membicarakan ini dengan putra kita secara baik-baik, Dika juga pasti akan mau!”


“Katanya Mas akan berubah! Mana buktinya? Mana janjimu akan berubah saat ingin menjemput kami?!”


“Aku tidak akan seperti ini, jika Dika mau mendengarkan Papanya.”


“Tega kamu mas, kamu berbohong!” imbuhnya sambil meneteskan air mata.


Huftt ...!


“Hah ... syarat?”


“Iya. Jika dia ingin menikah, maka Dika harus kembali ke kantor untuk bekerja dengan Papa dan merelakan adiknya menikah dengan Aditya,” ujarnya memberi kesepakatan.


“Astaghfirullahalazim ... istigfar Mas! Kamu sudah tua, jangan menuruti ambisi hingga mengorbankan anak kita lagi.”


“Lihat Anggun, itu semua karena ulahmu yang terlalu memanjakan dia!” tambah Bu Sintya yang tidak bisa menahan amarahnya lagi.


“Ini bukan ambisi! Aku hanya ingin yang terbaik untuk mereka, Aditya itu sudah mapan. Hidup Icha akan terjamin jika bersamanya!” menatap istrinya tajam.


“Aku tidak akan menyerahkan putriku pada pria itu! Tidak akan ...”


“Berarti, jangan harap Dika dapat restu dariku.” Pak Heri bersikukuh dengan pendiriannya.


“Kamu egois mas!”


Bu Sintya sangat kecewa kepada suaminya, ia tidak habis pikir jika keinginannya untuk berubah waktu itu hanya dusta belaka.


Bu Sintya beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan tersebut dengan sedikit menutup pintu keras.


“Ada apa Ma?” tanya Dika yang baru saja tiba setelah mengantar sang kekasih pulang.


“Dika. Kamu sudah pulang? Mama tidak mendengar suara mobilmu,” tanya Bu Sintya dengan tersenyum paksa.


“Sudah, Ma. Baru saja,” sahutnya.


“Mama kenapa?” tanya Dika melihat sendiri sedikit basah si sudut mata Mamanya.


“Tidak ada sayang. Mama cape, Mama istirahat dulu ya.”


Dika mengangguk, ia sudah tahu pasti Mamanya menyembunyikan sesuatu.


🌹🌹🌹


Di meja makan, Anggun hanya mengaduk-ngaduk makanan yang ada di piringnya.


Lagi-lagi ia di tinggal oleh suaminya, bahkan seharian Dino tidak memberinya kabar.


Apalagi tadi pagi ia tidak sengaja melihat ponsel suaminya yang tergeletak di nakas. Tertera nama dengan tulisan sayangku dengan emoji love.


Arrgghh ... mengacak rambutnya.


“Mama, Anggun merindukan Mama!” lirihnya.


Ia beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan meja makan dengan piring makanan yang masih tak di sentuh sama sekali.


Ia masuk ke kamar mengambil ponselnya, ia berniat ingin menghubungi orang tuanya sambil duduk di balkon.


Namun, setibanya di balkon. Ia melihat suaminya ternyata sudah pulang. Ia seperti masih berbicara dengan seseorang di telepon.


“Dino ternyata sudah pulang. Kenapa dia tidak masuk? Kenapa harus berbicara di luar,” gumamnya menaruh curiga.


Niatnya ingin menghubungi orang tuanya, kini di urungkannya. Yang menarik perhatiannya saat ini adalah, melihat Dino yang sedang berbicara serius dengan seseorang di telepon.


Ia bergegas keluar kamarnya, ia melangkah menuju pintu keluar. Ia perlahan membuka pintu agar tidak terdengar oleh Dino, samar-samar Anggun mendengar suaminya memanggil seseorang di dalam telepon tersebut dengan panggilan sayang.


“I love You sayang ...” ujar Dino sebelum mengakhiri panggilan suaranya.


Mendengar itu, darah Anggun seakan mendidih. Ia melipat tangannya menatap Dino yang masih membelakanginya.


Saat berbalik badan, Dino terkejut melihat Anggun berada di belakangannya.


“Sa-ya-ng, kamu kenapa ada di sini? Udaranya sangat dingin, ayo masuk?” ajak Dino yang terlihat gugup.


Anggun menepis kasar tangan suaminya.


“Siapa dia? Siapa yang kamu panggil sayang? Dino, jawab!” geram Anggun yang mengepal kuat tangannya.


“Si-a-pa? Kamu ini bicara apa? Jangan mengada-ngada!” bentak Dino.


“Aku tidak berbicara kalau tidak mendengarnya sendiri. Siapa dia? Apa kekasihmu? Apa kamu sekarang sedang berselingkuh di belakang ku?!” Anggun menghujani suaminya dengan begitu banyak pertanyaan.


“Aku bisa jelaskan ini, kita masuk dulu. Udara sangat dingin,” ajak Dino lembut ingin menarik tangan istrinya, akan tetapi Anggun menepisnya dan melangkah lebih dulu meninggalkan suaminya.


Dino menghela napas kasar, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Jelaskan!” pekik Anggun ketika sudah tiba di kamar mereka.


“Duduk dulu kita ...”


“Jelaskan sekarang, aku tidak ingin duduk sebelum kamu menjelaskan semuanya!” sela Anggun.


“Oke, oke baiklah. Aku harap setelah mendengar ini, jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah ini.”


Anggun hanya diam. Sebelum berbicara, Dino menghela nafas kasar.


“Sebenarnya, yang aku hubungi tadi adalah ... istriku. Lebih tepatnya istri pertamaku,” ujar Dino berbicara dengan hati-hati.


Deg!


Jantung Anggun terasa berhenti berdetak, mendengar pernyataan suaminya.


Ia bahkan tidak mampu berkata-kata, hanya air mata yang mengalir di pipinya.